Situs Sejarah

Makam Syekh Burhanuddin

di Padang Pariaman, Sumatera Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Agung Islam di Minangkabau: Sejarah dan Makna Makam Syekh Burhanuddin

Makam Syekh Burhanuddin merupakan salah satu situs sejarah dan religi paling berpengaruh di Sumatera Barat. Terletak di Ulakan, Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, situs ini bukan sekadar kompleks pemakaman, melainkan simbol transformasi spiritual dan intelektual masyarakat Minangkabau dari kepercayaan lama menuju ajaran Islam. Sebagai pusat penyebaran Islam aliran Syathariyah, makam ini menjadi titik simpul sejarah yang menghubungkan tradisi lokal dengan jaringan keislaman global pada abad ke-17.

#

Asal-Usul Historis dan Sosok Syekh Burhanuddin

Syekh Burhanuddin, yang lahir dengan nama Pono sekitar tahun 1646, adalah tokoh kunci dalam islamisasi di pedalaman Minangkabau. Beliau merupakan murid kesayangan dari Syekh Abdururrauf as-Singkili, seorang ulama besar dari Aceh yang memiliki silsilah keilmuan hingga ke Timur Tengah. Setelah berguru selama kurang lebih sepuluh tahun di Aceh, Burhanuddin kembali ke tanah kelahirannya di Ulakan atas perintah gurunya untuk menyebarkan agama Islam.

Pendirian pusat dakwah di Ulakan dimulai sekitar tahun 1680-an. Beliau mendirikan Surau Gadang Ulakan yang menjadi institusi pendidikan Islam pertama yang terorganisir dengan sistematis di wilayah tersebut. Syekh Burhanuddin wafat pada tahun 1704 (10 Safar 1111 Hijriah menurut penanggalan lokal), dan jasadnya dimakamkan di tempat yang kini menjadi kompleks makam ini. Keberhasilan beliau dalam mengislamkan masyarakat tanpa menghapus tradisi lokal secara frontal menjadikan sosoknya sangat dihormati oleh berbagai lapisan masyarakat, dari kalangan bangsawan hingga rakyat jelata.

#

Karakteristik Arsitektur dan Detail Konstruksi

Kompleks Makam Syekh Burhanuddin menampilkan perpaduan estetika arsitektur tradisional Minangkabau dengan pengaruh Islam. Struktur utama makam berada di dalam sebuah bangunan pelindung (gedung makam) yang telah mengalami beberapa kali renovasi tanpa meninggalkan pakem aslinya.

Salah satu ciri khas arsitekturnya adalah atap berundak-undak yang mencerminkan pengaruh arsitektur masjid kuno di Nusantara, yang serupa dengan gaya Masjid Agung Demak namun disesuaikan dengan kearifan lokal Sumatera Barat. Konstruksi bangunan makam menggunakan material kayu berkualitas tinggi pada bagian pilar-pilar penyangganya, sementara bagian dindingnya kini telah diperkuat dengan beton dan hiasan kaligrafi yang halus.

Di dalam area utama, makam Syekh Burhanuddin diletakkan di tengah-tengah ruangan, dikelilingi oleh pagar pembatas yang sering kali dihiasi dengan kain putih atau kuning sebagai bentuk penghormatan. Lantai kompleks menggunakan tegel yang memberikan kesan sejuk bagi para peziarah. Keunikan lain terletak pada keberadaan beberapa makam pengikut setia dan anggota keluarga beliau yang berada di sekitar bangunan utama, menciptakan tata ruang pemakaman yang hierarkis namun harmonis.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Secara historis, Makam Syekh Burhanuddin adalah pusat dari gerakan pembaruan sosial di Minangkabau. Sebelum kedatangan beliau, praktik keagamaan di wilayah Pariaman masih sangat dipengaruhi oleh ajaran Hindu-Buddha dan animisme. Syekh Burhanuddin memperkenalkan konsep "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" (Adat bersendi Syariat, Syariat bersendi Kitab Allah) dalam bentuknya yang paling awal, yang kemudian menjadi fondasi identitas orang Minangkabau.

Situs ini juga menjadi saksi bisu perlawanan kultural terhadap kolonialisme. Ulakan di bawah pengaruh ajaran Syekh Burhanuddin menjadi basis kekuatan moral yang sulit ditembus oleh pengaruh Belanda pada masa itu. Jaringan surau yang berpusat di Ulakan menciptakan sistem komunikasi antar-nagari yang efektif, yang di kemudian hari berperan dalam dinamika politik di Sumatera Barat.

#

Tradisi Basapa: Warisan Budaya Tak Benda

Salah satu fakta sejarah unik yang melekat pada situs ini adalah tradisi "Basapa". Nama Basapa diambil dari bulan Safar. Setiap tahun, ribuan peziarah dari berbagai penjuru Sumatera Barat, Riau, bahkan Malaysia, berkumpul di Ulakan pada hari Rabu setelah tanggal 10 Safar.

Tradisi ini dilakukan untuk memperingati hari wafatnya Syekh Burhanuddin sekaligus sebagai bentuk "ziarah kenangan" atas jasa-jasa beliau. Secara historis, Basapa berfungsi sebagai ajang konsolidasi para penganut tarekat Syathariyah untuk memperkuat tali silaturahmi dan memperdalam kajian keagamaan. Peristiwa ini mengubah kawasan Ulakan menjadi pusat aktivitas ekonomi dan budaya yang luar biasa besar dalam siklus tahunan.

#

Status Pelestarian dan Restorasi

Pemerintah Indonesia melalui Balai Pelestarian Kebudayaan telah menetapkan Makam Syekh Burhanuddin sebagai Cagar Budaya. Pentingnya situs ini terlihat dari upaya pemugaran yang dilakukan secara berkala. Salah satu tantangan terbesar dalam pelestariannya adalah posisi geografis Ulakan yang berada di dekat pesisir pantai, menjadikannya rentan terhadap ancaman bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami.

Pasca gempa besar tahun 2009 yang melanda Sumatera Barat, kompleks makam mengalami kerusakan signifikan. Namun, melalui kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, Pemerintah Provinsi, dan swadaya masyarakat, situs ini dipulihkan kembali. Renovasi dilakukan dengan tetap mempertahankan elemen-elemen sakral dan historis, sembari meningkatkan fasilitas penunjang bagi wisatawan religi, seperti area parkir yang luas, selasar untuk beristirahat, dan perbaikan sanitasi.

#

Keutamaan Religi dan Sosial

Bagi masyarakat Minangkabau, Makam Syekh Burhanuddin adalah "Tanah Suci" kedua setelah Mekkah dalam konteks lokalitas sejarah. Keberadaan situs ini menegaskan bahwa proses islamisasi di Minangkabau dilakukan melalui jalan pendidikan dan pendekatan tasawuf yang moderat. Syekh Burhanuddin berhasil mengintegrasikan sistem pendidikan surau dengan pola hidup masyarakat agraris, sehingga Islam tidak dianggap sebagai ancaman bagi struktur adat, melainkan sebagai penyempurna.

Hingga hari ini, situs Makam Syekh Burhanuddin terus berfungsi sebagai pusat gravitasi spiritual. Nilai-nilai yang ditinggalkan oleh sang Syekh—seperti toleransi, keteguhan hati dalam mencari ilmu, dan penghormatan terhadap guru—tetap hidup dan terpancar dari tiap sudut bangunan tua di Ulakan ini. Situs ini berdiri tegak sebagai monumen hidup yang menceritakan bagaimana sebuah bangsa bertransformasi melalui kekuatan keyakinan dan kearifan budaya.

📋 Informasi Kunjungan

address
Ulakan, Kec. Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman
entrance fee
Donasi sukarela
opening hours
Setiap hari, 07:00 - 21:00

Tempat Menarik Lainnya di Padang Pariaman

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Padang Pariaman

Pelajari lebih lanjut tentang Padang Pariaman dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Padang Pariaman