Bangunan Ikonik

Masjid Raya Sumatera Barat

di Padang, Sumatera Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Kemegahan Tanpa Kubah: Menelisik Arsitektur Filosofis Masjid Raya Sumatera Barat

Masjid Raya Sumatera Barat bukan sekadar tempat ibadah; ia adalah manifestasi fisik dari filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (Adat bersendikan syariat, syariat bersendikan Kitabullah). Berdiri megah di jantung Kota Padang, bangunan ini telah mendefinisikan ulang cakrawala Sumatera Barat dengan keberanian desain yang meninggalkan pakem kubah konvensional, menggantinya dengan narasi visual yang kental akan identitas Minangkabau.

#

Konteks Historis dan Kejeniusan Perancang

Pembangunan Masjid Raya Sumatera Barat dimulai dengan peletakan batu pertama pada 21 Desember 2007. Proyek ini lahir dari keinginan masyarakat Sumatera Barat untuk memiliki sebuah pusat religi yang mampu merepresentasikan kebesaran budaya lokal sekaligus ketangguhan menghadapi tantangan alam. Masjid ini dirancang oleh arsitek Rizal Muslimin dari firma Urbane, yang memenangkan sayembara desain internasional yang diikuti oleh 323 arsitek dari berbagai negara.

Rizal Muslimin tidak hanya merancang sebuah gedung, tetapi ia menciptakan dialog antara sejarah Islam dan tradisi lokal. Pembangunannya memakan waktu bertahun-tahun dengan total biaya mencapai ratusan miliar rupiah, melalui beberapa tahap pengerjaan yang sempat terkendala oleh gempa bumi besar tahun 2009. Justru peristiwa alam tersebut memperkuat urgensi pembangunan masjid yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga superior secara struktural.

#

Arsitektur Berbasis Budaya: Atas Tanpa Kubah

Fitur paling mencolok dari Masjid Raya Sumatera Barat adalah atapnya. Berbeda dengan mayoritas masjid di Indonesia yang mengadopsi kubah bawang atau atap tumpang Jawa, masjid ini menggunakan bentuk atap melengkung empat sudut yang menyerupai atap Rumah Gadang. Namun, secara filosofis, bentuk ini merujuk pada peristiwa peletakan batu Hajar Aswad oleh empat kabilah Quraisy di Mekkah.

Kisah tersebut menceritakan saat empat perwakilan suku memegang tiap sudut kain untuk mengusung Hajar Aswad secara bersama-sama. Kelengkungan atap masjid ini melambangkan kain tersebut, yang bermakna keadilan, persatuan, dan musyawarah. Secara visual, bentuk ini juga menyerupai bentangan layar kapal, merujuk pada sejarah masyarakat Minangkabau sebagai perantau dan pelaut yang tangguh.

#

Inovasi Struktur dan Ketahanan Gempa

Mengingat lokasinya yang berada di zona merah gempa (Ring of Fire), aspek struktural menjadi prioritas utama. Masjid ini didesain sebagai bangunan tahan gempa yang mampu menahan guncangan hingga magnitudo 10. Struktur utamanya menggunakan beton bertulang dengan sistem rangka pemikul momen.

Salah satu inovasi teknis yang menonjol adalah penggunaan sistem atap baja yang sangat ringan namun kokoh untuk menopang bentangan yang luas tanpa banyak kolom di tengah ruangan. Luas bangunan yang mencapai 18.000 meter persegi ini didukung oleh pondasi yang dirancang khusus untuk meredam getaran tanah. Pada saat terjadi bencana, masjid ini difungsikan sebagai titik evakuasi (shelter) bagi warga sekitar, menunjukkan bahwa arsitekturnya melayani fungsi kemanusiaan di atas fungsi estetika.

#

Detail Ornamen dan Estetika Interior

Dinding luar masjid dihiasi dengan ukiran kaligrafi Arab yang dipadukan dengan motif geometris khas Minangkabau. Teknik ukiran ini menggunakan panel Glass Reinforced Concrete (GRC) yang memungkinkan detail rumit namun tetap tahan terhadap cuaca tropis yang lembap dan asin karena kedekatannya dengan pantai.

Memasuki ruang utama, pengunjung akan disambut oleh mihrab yang dirancang menyerupai bentuk Hajar Aswad dengan atap yang dihiasi asmaul husna. Interiornya didominasi oleh nuansa perak dan putih, menciptakan suasana yang tenang dan agung. Pencahayaan alami dimaksimalkan melalui celah-celah di bawah atap yang melengkung, memberikan sirkulasi udara yang baik sehingga ruang shalat tetap sejuk meski tanpa penggunaan pendingin udara yang berlebihan.

#

Signifikansi Sosial dan Simbolisme "Luhak nan Tigo"

Masjid ini berdiri di lahan seluas 40.000 meter persegi di persimpangan jalan utama (Jalan Khatib Sulaiman dan Jalan Ahmad Dahlan). Lokasi ini strategis sebagai pusat gravitasi sosial masyarakat. Arsitektur masjid ini juga mencerminkan pembagian wilayah adat di Minangkabau yang dikenal sebagai Luhak nan Tigo (Luhak Tanah Datar, Luhak Agam, dan Luhak Lima Puluh Kota), yang direpresentasikan melalui elemen-elemen desain eksteriornya.

Secara budaya, Masjid Raya Sumatera Barat telah menjadi ikon "Wisata Halal" dunia. Desainnya yang unik sering kali menjadi subjek studi arsitektur internasional karena keberaniannya melakukan dekonstruksi terhadap bentuk masjid tradisional tanpa kehilangan nilai sakralitasnya. Pada tahun 2021, masjid ini mendapatkan penghargaan internasional Abdullatif Al Fozan Award for Mosque Architecture sebagai salah satu masjid dengan desain terbaik di dunia.

#

Pengalaman Pengunjung dan Fungsi Kontemporer

Pengunjung yang datang tidak hanya disuguhi tempat ibadah, tetapi juga ruang publik yang inklusif. Halaman masjid yang luas sering digunakan sebagai tempat berkumpulnya masyarakat, kegiatan edukasi, hingga pasar kreatif pada acara-acara tertentu. Menara masjid yang menjulang tinggi memberikan sudut pandang panorama Kota Padang dan Samudera Hindia bagi mereka yang ingin melihat keindahan kota dari ketinggian.

Aksesibilitas juga menjadi perhatian dalam desainnya. Masjid ini dilengkapi dengan jalur landai (ramp) untuk disabilitas, menunjukkan prinsip Islam yang inklusif bagi semua kalangan. Pada malam hari, sistem pencahayaan fasad mengubah masjid menjadi permata yang bersinar di tengah kegelapan, mempertegas kontur atapnya yang ikonik.

#

Kesimpulan

Masjid Raya Sumatera Barat adalah bukti nyata bahwa arsitektur modern dapat bersinergi dengan kearifan lokal tanpa harus mengabaikan aspek fungsional dan keamanan. Ia adalah sebuah monumen identitas bagi masyarakat Sumatera Barat—sebuah bangunan yang berakar kuat pada tradisi, namun menjangkau masa depan dengan inovasi. Melalui bentuk atapnya yang unik dan filosofi yang mendalam, masjid ini terus berdiri sebagai pengingat akan keharmonisan antara agama, adat, dan alam.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Khatib Sulaiman, Alai Parak Kopi, Kec. Padang Utara, Kota Padang
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, 24 jam (untuk ibadah)

Tempat Menarik Lainnya di Padang

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Padang

Pelajari lebih lanjut tentang Padang dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Padang