Situs Sejarah

Pintu Gerbang Majapahit

di Pati, Jawa Tengah

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Pintu Gerbang Majapahit: Jejak Epik Kedigdayaan dan Diplomasi di Tanah Pati

Pintu Gerbang Majapahit merupakan salah satu artefak sejarah paling ikonik yang terletak di Desa Rendole, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Meskipun secara administratif berada di wilayah Pati, situs ini menyandang nama "Majapahit" karena asal-usulnya yang berkaitan erat dengan kemaharajaan terbesar di Nusantara tersebut. Keberadaannya bukan sekadar pintu fisik, melainkan simbol harga diri, pembuktian kesaktian, dan sisa-sisa peradaban masa lampau yang masih berdiri kokoh di tengah modernitas.

#

Asal-Usul dan Narasi Sejarah: Antara Fakta dan Legenda

Kemunculan Pintu Gerbang Majapahit di Bumi Mina Tani tidak lepas dari kisah kepahlawanan dan drama keluarga. Berdasarkan catatan tutur dan sejarah lokal, pintu ini merupakan bagian dari gerbang istana Majapahit yang dibawa oleh Raden Bambang Kebo Nyabrang sebagai pembuktian diri. Raden Kebo Nyabrang adalah putra dari Sunan Muria yang lahir dari hubungan sang wali dengan Dewi Roroyono.

Untuk diakui sebagai anak kandung oleh Sunan Muria, Kebo Nyabrang diberi syarat yang nyaris mustahil: ia harus memindahkan pintu gerbang autentik dari Kerajaan Majapahit di Jawa Timur menuju Gunung Muria. Dalam proses pemindahannya, Kebo Nyabrang berhasil membawa pintu kayu jati tersebut hingga sampai di wilayah Pati. Namun, di lokasi yang sekarang menjadi situs Rendole, ia dicegat oleh Raden Ronggo Joyokusumo, putra dari Ki Gede Sebeleh. Pertarungan hebat terjadi karena Raden Ronggo melarang pintu tersebut dibawa lebih jauh ke utara. Akibat kelelahan dan intervensi tersebut, pintu itu akhirnya tertahan di Desa Rendole dan tidak pernah sampai ke puncak Muria.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara fisik, Pintu Gerbang Majapahit menampilkan kemegahan teknik pertukangan kayu (woodworking) dari era klasik Nusantara. Pintu ini terbuat dari kayu jati kuno (Tectona grandis) yang sangat berkualitas, yang hingga saat ini masih menunjukkan ketahanan luar biasa terhadap cuaca dan hama.

Struktur pintu terdiri dari dua daun pintu dengan ukiran yang menunjukkan pengaruh transisi antara periode Hindu-Buddha menuju awal perkembangan Islam di Jawa. Ukirannya tidak terlalu menonjolkan figur makhluk hidup (sesuai ajaran Islam yang mulai masuk), melainkan lebih banyak menggunakan motif suluran, bunga, dan pola geometris yang rumit. Teknik sambungan kayu yang digunakan adalah sistem purus dan lubang tanpa menggunakan paku logam, yang merupakan ciri khas arsitektur vernakular Jawa zaman dulu. Dimensi pintu yang besar mencerminkan fungsinya sebagai gerbang utama (regol) yang dirancang untuk dilewati oleh kereta kuda atau gajah kerajaan.

#

Signifikansi Sejarah dan Tokoh Terkait

Situs ini memiliki signifikansi ganda dalam narasi sejarah Jawa. Pertama, ia merupakan bukti fisik sisa-sisa material Kerajaan Majapahit yang tersebar di luar pusat kekuasaannya di Trowulan. Pintu ini menjadi saksi bisu masa keruntuhan Majapahit dan bagaimana material bangunannya sering kali "diperebutkan" sebagai simbol legitimasi kekuasaan oleh penguasa-penguasa baru di Jawa.

Kedua, keterkaitan tokoh Sunan Muria (salah satu dari Walisongo) dan Raden Kebo Nyabrang memberikan dimensi religius-spiritual pada situs ini. Pintu ini menjadi simbol "syarat mental" dalam tradisi tasawuf Jawa, di mana keberhasilan membawa pintu tersebut dianggap sebagai bentuk penaklukan ego dan kekuatan fisik. Pertempuran antara Kebo Nyabrang dan Raden Ronggo Joyokusumo juga mencerminkan dinamika kekuasaan lokal di wilayah pesisir utara Jawa pada abad ke-15 hingga ke-16.

#

Pelestarian dan Status Cagar Budaya

Saat ini, Pintu Gerbang Majapahit telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya oleh Pemerintah Kabupaten Pati dan dilindungi di bawah pengawasan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX. Untuk menjaga keasliannya, pintu tersebut kini ditempatkan di dalam sebuah bangunan pelindung permanen yang berpagar besi. Hal ini dilakukan untuk mencegah kerusakan akibat tangan jahil maupun pelapukan alami.

Upaya restorasi telah dilakukan beberapa kali, terutama pada bagian engsel dan pembersihan lapisan kayu dari lumut atau jamur. Meskipun telah berusia ratusan tahun, tekstur kayu jati aslinya masih terlihat sangat jelas. Pemerintah daerah juga telah menata lingkungan sekitar situs menjadi area wisata religi dan sejarah yang lebih rapi, lengkap dengan papan informasi yang menjelaskan kronik perjalanan pintu tersebut.

#

Makna Budaya dan Religi bagi Masyarakat Pati

Bagi masyarakat lokal di Pati, Pintu Gerbang Majapahit bukan sekadar objek arkeologi. Tempat ini dianggap keramat dan sering dikunjungi oleh peziarah yang ingin melakukan "ngalap berkah" atau sekadar merenungi sejarah perjuangan leluhur. Keberadaan situs ini juga memperkuat jati diri warga Pati sebagai wilayah yang memiliki kaitan historis langsung dengan kebesaran Majapahit dan kewalian Sunan Muria.

Setiap tahunnya, situs ini menjadi titik fokus dalam berbagai kegiatan budaya lokal. Cerita tentang Kebo Nyabrang yang membawa pintu ini menjadi dongeng pengantar tidur sekaligus pelajaran moral tentang kegigihan dan bakti seorang anak kepada ayahnya. Pintu ini adalah monumen hidup yang menyatukan potongan-potongan sejarah dari era Hindu-Buddha menuju era Islam di tanah Jawa.

#

Fakta Unik dan Keistimewaan

Salah satu fakta unik dari Pintu Gerbang Majapahit di Pati adalah adanya kepercayaan bahwa kayu pintu tersebut memiliki energi tertentu. Beberapa peneliti sejarah amatir mencatat bahwa jenis kayu jati yang digunakan adalah jati "pendhem" yang sudah membatu sebagian, yang membuatnya sangat berat dan mustahil dipindahkan oleh manusia biasa tanpa kekuatan supranatural. Hal ini memperkuat narasi bahwa Kebo Nyabrang menggunakan kesaktiannya untuk menyeret pintu tersebut dari Jawa Timur hingga ke Jawa Tengah.

Selain itu, posisi pintu yang kini berada di Desa Rendole sering disebut sebagai "gerbang yang tak sampai," sebuah metafora tentang takdir dan batas kemampuan manusia. Meskipun tujuannya adalah Gunung Muria, namun sejarah menggariskan pintu tersebut berhenti di Pati untuk menjadi identitas dan kebanggaan masyarakat setempat hingga hari ini.

Dengan keberadaannya yang terjaga, Pintu Gerbang Majapahit terus berdiri sebagai pengingat akan kebesaran teknik arsitektur masa lalu dan kompleksitas perjalanan sejarah Nusantara yang tertanam kuat di jantung Kabupaten Pati.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Desa Rendole, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati
entrance fee
Gratis (Donasi sukarela)
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Pati

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Pati

Pelajari lebih lanjut tentang Pati dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Pati