Situs Sejarah

Museum Nasional Ketransmigrasian

di Pesawaran, Lampung

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul Historis dan Periode Pendirian

Akar sejarah museum ini tidak lepas dari kebijakan Kolonisatie yang dicetuskan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Pada tanggal 12 Desember 1905, sebanyak 155 keluarga (sekitar 815 jiwa) dari Kedu, Jawa Tengah, diberangkatkan menuju Gedong Tataan, Lampung. Peristiwa ini menandai dimulainya sejarah transmigrasi di nusantara.

Gagasan untuk mendirikan museum ini muncul sebagai bentuk penghormatan terhadap para pionir tersebut. Pembangunan fisik museum dimulai pada tahun 2004 di atas lahan seluas kurang lebih lima hektar. Lokasi di Desa Bagelen dipilih secara strategis karena desa ini merupakan pemukiman pertama hasil program kolonisasi Belanda. Nama "Bagelen" sendiri diambil dari nama daerah asal para transmigran di Jawa Tengah untuk mengobati kerinduan mereka pada kampung halaman. Museum ini secara resmi dibuka untuk umum guna mendokumentasikan transformasi Lampung dari hutan belantara menjadi lumbung pangan dan pusat multikulturalisme.

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Museum Nasional Ketransmigrasian menampilkan megahnya bangunan utama yang memadukan unsur modern dengan simbolisme lokal. Gedung utama berlantai dua ini memiliki atap yang mengadopsi bentuk Siger, mahkota pengantin wanita Lampung yang melambangkan kehormatan dan status sosial. Penggunaan ornamen Siger ini menegaskan bahwa meskipun sejarah yang diangkat adalah tentang perpindahan penduduk dari luar pulau, situs ini tetap berpijak teguh pada identitas bumi Lampung sebagai tuan rumah.

Kompleks museum dirancang dengan konsep ruang terbuka yang luas. Interior gedung utama dibagi menjadi beberapa galeri tematik yang mengikuti alur kronologis. Konstruksi bangunan menggunakan material beton yang kokoh namun tetap memberikan sirkulasi udara yang baik melalui jendela-jendela besar, menciptakan suasana yang reflektif bagi pengunjung. Di area luar, terdapat replika rumah-rumah transmigran dari berbagai periode, yang memberikan gambaran visual tentang evolusi standar hidup para pemukim.

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait

Signifikansi utama museum ini terletak pada kemampuannya memotret tiga era besar transmigrasi: Era Kolonisasi (1905-1941), Era Transmigrasi Awal Kemerdekaan (1950-an), dan Era Transmigrasi Orde Baru. Museum ini mencatat bagaimana program ini bukan hanya soal pemindahan manusia untuk mengurangi kepadatan penduduk di Pulau Jawa, tetapi juga strategi pertahanan keamanan dan pemerataan pembangunan ekonomi.

Salah satu peristiwa bersejarah yang terekam adalah "Transmigrasi Bedol Desa", di mana seluruh penduduk satu desa dipindahkan akibat pembangunan bendungan besar atau bencana alam di Jawa. Museum ini menyimpan data mengenai bagaimana ribuan orang harus meninggalkan tanah leluhur mereka demi kepentingan nasional dan memulai hidup baru di tengah belantara Lampung dengan alat-alat pertanian sederhana.

Tokoh Penting dan Koleksi Unik

Sejarah museum ini berkaitan erat dengan tokoh-tokoh seperti H.G. Heyting, asisten residen Belanda yang memprakarsai pemindahan pertama tahun 1905. Di era kemerdekaan, kebijakan ini diteruskan oleh Presiden Soekarno yang memandang transmigrasi sebagai alat untuk memperkuat persatuan nasional melalui semboyan "Bhinneka Tunggal Ika".

Koleksi unik yang menjadi daya tarik utama meliputi:

  • Alat Transportasi: Replika kapal uap dan gerobak sapi yang digunakan transmigran untuk mencapai pelosok Lampung.
  • Peralatan Rumah Tangga: Lampu tempel (teplok), setrika arang, dan peralatan dapur dari tahun 1900-an.
  • Dokumen Otentik: Daftar nama penumpang (passanger list) kapal kolonisasi pertama dan peta tata ruang pemukiman awal.
  • Alat Pertanian: Luku (bajak kayu) dan alat penumbuk padi yang menjadi saksi bisu perjuangan transmigran membuka lahan.

Status Pelestarian dan Upaya Restorasi

Museum Nasional Ketransmigrasian dikelola di bawah naungan Pemerintah Provinsi Lampung dengan dukungan dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Sebagai situs sejarah yang relatif muda dalam hal usia bangunan namun tua dalam hal narasi, upaya pelestarian difokuskan pada digitalisasi arsip-arsip tua agar tidak rusak dimakan usia.

Restorasi dilakukan secara berkala pada replika bangunan tradisional di area outdoor yang sering terpapar cuaca. Selain itu, pemerintah daerah terus berupaya memperkaya koleksi dengan menelusuri benda-benda peninggalan keluarga transmigran generasi pertama yang masih tersisa di desa-desa sekitar Pesawaran.

Kepentingan Budaya dan Integrasi Sosial

Museum ini memiliki nilai budaya yang sangat tinggi karena merepresentasikan proses "Lampungisasi" yang dialami oleh masyarakat keturunan Jawa, Sunda, dan Bali. Di sini diperlihatkan bagaimana asimilasi budaya terjadi; misalnya penggunaan bahasa Jawa dialek Lampung atau perpaduan kuliner.

Secara religius, museum ini juga mencatat perkembangan tempat ibadah di daerah transmigrasi. Seringkali, pembangunan masjid, gereja, atau pura merupakan prioritas utama para transmigran setelah mereka membangun rumah, yang menunjukkan bahwa spiritualitas adalah fondasi kekuatan mereka dalam menghadapi kerasnya lingkungan baru.

Fakta Sejarah Unik

Satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa Desa Bagelen di Pesawaran merupakan desa pertama di luar Pulau Jawa yang memiliki sistem irigasi teknis yang menyerupai sistem di Jawa, yang dibangun oleh para transmigran awal dengan bantuan pemerintah kolonial. Museum ini mendokumentasikan bagaimana keahlian bertani sawah yang dibawa dari Jawa berhasil mengubah ekosistem Lampung yang tadinya didominasi oleh perkebunan lada dan hutan menjadi sawah-sawah produktif.

Selain itu, museum ini mencatat fenomena "Jawa-Lampung" atau Jadel (Jawa Kelahiran Lampung), sebuah identitas budaya baru yang lahir dari rahim program transmigrasi. Museum Nasional Ketransmigrasian bukan sekadar tempat menyimpan barang antik, melainkan monumen penghormatan bagi mereka yang telah menukar kemapanan di tanah kelahiran dengan ketidakpastian di tanah harapan, demi membangun masa depan Indonesia yang lebih luas.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Ahmad Yani, Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Pesawaran
entrance fee
Rp 5.000 - Rp 10.000
opening hours
Senin - Jumat, 08:00 - 15:30

Tempat Menarik Lainnya di Pesawaran

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Pesawaran

Pelajari lebih lanjut tentang Pesawaran dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Pesawaran