Situs Sejarah

Benteng Portugis Pulau Cingkuak

di Pesisir Selatan, Sumatera Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul Historis dan Periode Pendirian

Keberadaan Benteng Pulau Cingkuak berkaitan erat dengan periode ekspansi bangsa Eropa di Nusantara pada abad ke-16 dan ke-17. Secara kronologis, pengaruh Portugis memang masuk lebih awal ke wilayah pesisir Sumatera Barat untuk mencari komoditas lada dan emas. Namun, struktur benteng yang sisa-sisanya dapat kita saksikan hari ini lebih dominan dipengaruhi oleh periode kedatangan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dari Belanda.

Pada pertengahan abad ke-17, tepatnya sekitar tahun 1662, VOC mulai membangun basis kekuatan di Pulau Cingkuak. Pemilihan lokasi ini sangat strategis karena posisi pulau yang terlindungi oleh teluk, menjadikannya pelabuhan alami yang aman bagi kapal-kapal besar dari hantaman ombak besar Samudera Hindia. Pulau ini berfungsi sebagai "loji" atau gudang penyimpanan barang dagangan sebelum dikirim ke Batavia atau langsung ke Eropa.

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Benteng Pulau Cingkuak mengikuti kaidah pertahanan militer Eropa abad pertengahan yang disesuaikan dengan kondisi tropis. Material utama yang digunakan dalam pembangunan benteng ini adalah batu karang, batu bata merah, dan spesi yang terbuat dari campuran kapur serta putih telur sebagai perekat. Penggunaan batu karang menunjukkan pemanfaatan sumber daya lokal yang melimpah di sekitar pulau.

Sisa-sisa reruntuhan saat ini menunjukkan adanya struktur dinding yang tebal dengan lubang-lubang pengintai (embrasures) yang dulunya digunakan untuk menempatkan meriam. Benteng ini dirancang untuk memberikan perlindungan 360 derajat, memantau pergerakan kapal yang masuk ke Teluk Painan maupun ancaman dari arah laut lepas. Selain bangunan utama benteng, di area ini juga ditemukan fondasi bangunan yang diduga kuat sebagai gudang lada dan emas, serta pemukiman kecil bagi para serdadu dan pegawai kompeni.

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Benteng Pulau Cingkuak memegang peranan vital dalam peta perdagangan dunia pada masanya. Pulau ini sempat menjadi pusat perdagangan emas terbesar di pantai barat Sumatera. Emas yang dihasilkan dari pedalaman Minangkabau, terutama dari wilayah Salido, dibawa turun ke pesisir dan dikumpulkan di Pulau Cingkuak sebelum diekspor.

Salah satu peristiwa bersejarah yang paling mencolok adalah peran pulau ini dalam "Perjanjian Painan" (Painan Tractaat) pada tahun 1663. Perjanjian ini merupakan kesepakatan antara para penguasa lokal di pesisir Sumatera Barat dengan VOC untuk mengusir pengaruh Kesultanan Aceh yang saat itu mendominasi perdagangan di wilayah tersebut. Sebagai imbalan atas perlindungan militer dan bantuan mengusir Aceh, VOC diberikan hak monopoli perdagangan lada dan emas. Pulau Cingkuak menjadi pusat operasional dari pelaksanaan perjanjian tersebut, menjadikannya saksi bisu peralihan kekuasaan dari hegemoni lokal ke dominasi kolonial.

Tokoh dan Periode Terkait

Beberapa nama besar dalam sejarah kolonial Belanda pernah menginjakkan kaki atau memiliki kaitan dengan Pulau Cingkuak. Salah satunya adalah Joan Maetsuycker, Gubernur Jenderal VOC yang menyetujui ekspansi ke pantai barat Sumatera. Selain itu, tenaga ahli pertambangan dari Jerman dan Belanda juga sering terlihat di sini, mengingat keterkaitan erat pulau ini dengan tambang emas Salido—tambang emas tertua di Indonesia yang dikelola secara modern oleh VOC.

Pada abad ke-18, peran Pulau Cingkuak mulai meredup seiring dengan kepindahan pusat administrasi dan ekonomi Belanda ke Padang. Namun, situs ini tetap digunakan sebagai pos pengamatan militer hingga masa pendudukan Inggris di bawah Thomas Stamford Raffles, sebelum akhirnya dikembalikan ke tangan Belanda melalui Traktat London tahun 1824.

Status Pelestarian dan Restorasi

Saat ini, Benteng Pulau Cingkuak telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya di bawah pengawasan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III Sumatera Barat. Secara fisik, kondisi benteng memang sudah banyak yang hancur dimakan usia dan faktor alam seperti abrasi serta pertumbuhan akar pohon besar. Namun, upaya ekskavasi arkeologi secara berkala terus dilakukan untuk mengungkap struktur yang masih tertimbun tanah.

Restorasi yang dilakukan sejauh ini lebih bersifat konservasi preventif, yakni memperkuat struktur yang tersisa tanpa mengubah bentuk aslinya. Pemerintah daerah Pesisir Selatan juga telah menata kawasan sekitar pulau agar lebih ramah bagi wisatawan sejarah tanpa merusak integritas situs. Papan informasi sejarah telah dipasang untuk memberikan edukasi kepada pengunjung mengenai pentingnya situs ini dalam narasi sejarah nasional.

Keunikan Fakta: Makam Madame van der Ven

Salah satu fakta unik dan menarik di kompleks situs ini adalah keberadaan sebuah makam kuno dengan batu nisan (stela) yang megah. Makam ini dikenal sebagai makam Madame van der Ven, istri dari seorang pejabat tinggi Belanda. Keberadaan makam ini membuktikan bahwa Pulau Cingkuak bukan sekadar pos militer, melainkan sebuah komunitas yang mapan di mana para pejabat kolonial membawa serta keluarga mereka. Inskripsi pada nisan tersebut menjadi sumber primer bagi para sejarawan untuk melacak silsilah dan periode hunian bangsa Eropa di pulau tersebut.

Makna Budaya dan Warisan

Bagi masyarakat lokal Pesisir Selatan, Benteng Pulau Cingkuak adalah simbol ketangguhan dan memori masa lalu. Meskipun merupakan peninggalan kolonial, keberadaannya mengingatkan pada masa ketika wilayah Painan menjadi pusat perhatian dunia karena kekayaan alamnya. Situs ini menjadi laboratorium sejarah bagi para pelajar dan peneliti untuk memahami bagaimana dinamika perdagangan global pada masa lalu telah membentuk tatanan sosial dan politik di Sumatera Barat hari ini.

Dengan latar belakang pemandangan laut yang biru dan kedekatannya dengan pusat kota Painan, Benteng Portugis Pulau Cingkuak terus berdiri sebagai monumen bisu yang menjembatani masa lalu dan masa kini, mengajak setiap pengunjung untuk merenungkan kembali perjalanan panjang bangsa ini di panggung sejarah dunia.

📋 Informasi Kunjungan

address
Pulau Cingkuak, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan
entrance fee
Gratis (Biaya perahu penyeberangan sekitar Rp 20.000)
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Pesisir Selatan

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Pesisir Selatan

Pelajari lebih lanjut tentang Pesisir Selatan dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Pesisir Selatan