Situs Sejarah

Bendung Benteng

di Pinrang, Sulawesi Selatan

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Agung Irigasi Kolonial: Sejarah dan Signifikansi Bendung Benteng Pinrang

Bendung Benteng bukan sekadar konstruksi beton yang membelah aliran sungai, melainkan sebuah monumen hidup yang menjadi saksi bisu transformasi sosiologis dan agraris di Sulawesi Selatan. Terletak di Desa Benteng, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, situs sejarah ini merupakan salah satu infrastruktur pengairan tertua dan terbesar yang dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda di wilayah timur Indonesia. Keberadaannya telah mengubah wajah Kabupaten Pinrang dari kawasan hutan belantara menjadi lumbung pangan nasional yang vital hingga hari ini.

#

Asal-Usul dan Periode Pembangunan

Pembangunan Bendung Benteng berakar pada kebijakan Ethische Politiek (Politik Etis) yang dicanangkan pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20. Fokus utama kebijakan ini adalah irigasi, emigrasi, dan edukasi. Di Sulawesi Selatan, kebutuhan akan sistem pengairan yang teratur muncul karena potensi lahan pertanian yang luas namun sangat bergantung pada curah hujan (tadah hujan).

Proyek ambisius ini mulai dirancang pada tahun 1927 di bawah pengawasan teknis Departemen Pekerjaan Umum Belanda (Burgerlijke Openbare Werken). Pembangunan fisiknya sendiri memakan waktu yang cukup lama, yakni dimulai pada tahun 1936 dan baru diresmikan secara penuh pada tahun 1939. Pilihan lokasi di Desa Benteng didasarkan pada posisi strategis hulu Sungai Saddang yang memiliki debit air stabil sepanjang tahun, menjadikannya sumber utama bagi sistem irigasi teknis yang dikenal dengan nama Daerah Irigasi (DI) Saddang.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Bendung Benteng mengusung gaya Nieuwe Zakelijkheid atau modernisme fungsional yang populer di Eropa pada awal abad ke-20. Struktur ini menekankan pada kekuatan beton massa dan efisiensi bentuk tanpa banyak ornamen dekoratif yang tidak perlu. Bendung ini memiliki panjang sekitar 150 meter dengan konstruksi yang sangat kokoh, dirancang untuk menahan tekanan debit air Sungai Saddang yang sangat besar, terutama saat musim penghujan.

Salah satu keunikan konstruksinya adalah penggunaan teknologi pintu air manual dengan sistem gir raksasa yang masih orisinal hingga saat ini. Material beton yang digunakan didatangkan khusus dan dicampur dengan standar kualitas tinggi masa itu, sehingga meskipun telah berusia hampir satu abad, struktur utamanya tidak menunjukkan keretakan yang signifikan. Pintu-pintu air ini mengatur distribusi aliran ke saluran primer yang kemudian memasok air ke ribuan hektar sawah di Pinrang, Sidrap, hingga sebagian wilayah Wajo.

#

Signifikansi Historis dan Peran Strategis

Bendung Benteng memiliki nilai historis yang mendalam karena menjadi titik balik modernisasi pertanian di Sulawesi Selatan. Sebelum adanya bendung ini, masyarakat setempat hanya mampu menanam padi sekali setahun. Namun, setelah sistem irigasi Saddang beroperasi, intensitas tanam meningkat menjadi dua hingga tiga kali setahun. Hal ini memicu migrasi penduduk dari berbagai daerah (program kolonisasi Belanda) untuk menjadi petani di wilayah Pinrang.

Secara politis, bendung ini juga menjadi objek vital selama masa pergolakan kemerdekaan dan masa pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan. Lokasinya yang strategis di kaki perbukitan menjadikannya titik pantau yang diperebutkan. Siapa pun yang menguasai Bendung Benteng, secara efektif menguasai "keran" kehidupan ekonomi rakyat di tiga kabupaten sekaligus.

#

Tokoh dan Masa Penting

Nama Ir. H. M. Burkli sering dikaitkan dengan perancangan teknis awal sistem irigasi di wilayah ini. Selain itu, dalam catatan sejarah lokal, pembangunan bendung ini melibatkan ribuan tenaga kerja lokal melalui sistem kerja paksa (heerendienst), yang menyisakan memori kolektif tentang kerja keras dan pengorbanan masyarakat Pinrang dalam membangun infrastruktur raksasa ini.

Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), Bendung Benteng tetap difungsikan secara maksimal untuk mendukung suplai logistik pangan tentara Jepang di Pasifik. Setelah kemerdekaan, Presiden Soekarno dan kemudian Presiden Soeharto menaruh perhatian besar pada situs ini dalam program Swasembada Pangan. Bendung Benteng menjadi tulang punggung keberhasilan Indonesia meraih penghargaan dari FAO pada tahun 1984.

#

Status Pelestarian dan Restorasi

Saat ini, Bendung Benteng ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya oleh pemerintah daerah dan berada di bawah pengawasan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang. Upaya pelestarian difokuskan pada pemeliharaan pintu-pintu air dan penguatan tebing sungai untuk mencegah erosi.

Meskipun telah dilakukan beberapa kali rehabilitasi pada saluran irigasinya (seperti proyek pada era 1980-an dengan bantuan dana internasional), struktur utama bendung tetap dipertahankan keasliannya. Pemerintah Kabupaten Pinrang juga mulai mengembangkan kawasan ini sebagai objek wisata sejarah dan edukasi. Wisatawan dapat melihat langsung bagaimana sistem mekanik peninggalan Belanda masih berfungsi dengan presisi tinggi dalam membagi arus air.

#

Dimensi Budaya dan Keunikan Lokal

Bagi masyarakat Pinrang, Bendung Benteng bukan sekadar bangunan teknis, melainkan simbol kemakmuran. Secara budaya, terdapat tradisi lokal yang sering dilakukan masyarakat di sekitar sungai, seperti ritual syukur saat musim tanam tiba. Keberadaan bendung ini juga menciptakan ekosistem sosial baru; pasar-pasar tradisional tumbuh di sekitar saluran irigasi, dan pola hidup masyarakat sangat ditentukan oleh jadwal pembukaan pintu air.

Fakta unik lainnya adalah pola aliran air dari Bendung Benteng yang menggunakan prinsip gravitasi murni. Tanpa bantuan pompa listrik modern, air mampu mengalir sejauh puluhan kilometer menjangkau lahan-lahan kering di pelosok desa. Kehebatan rekayasa teknik masa lalu ini menjadikannya salah satu mahakarya teknik sipil kolonial yang paling efisien di Indonesia.

#

Kesimpulan

Bendung Benteng adalah monumen yang menghubungkan masa lalu kolonial dengan ketahanan pangan masa depan. Sebagai sebuah situs sejarah, ia mengajarkan tentang visi jangka panjang dalam pembangunan infrastruktur. Melalui beton-beton tua dan derasnya aliran air Sungai Saddang, Bendung Benteng terus bercerita tentang kerja keras, transformasi lahan, dan keberlanjutan hidup masyarakat Sulawesi Selatan yang hingga kini masih menggantungkan nasib pada setiap tetes air yang dialirkannya.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Desa Benteng, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 18:00

Tempat Menarik Lainnya di Pinrang

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Pinrang

Pelajari lebih lanjut tentang Pinrang dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Pinrang