Situs Sejarah

Masjid Tegalsari

di Ponorogo, Jawa Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Agung Peradaban Islam: Sejarah dan Kemegahan Masjid Tegalsari Ponorogo

Masjid Tegalsari bukan sekadar bangunan peribadatan; ia adalah monumen hidup yang merekam jejak penyebaran Islam, pusat intelektualisme tradisional, dan simbol perlindungan politik di Jawa Timur. Terletak di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, masjid ini merupakan jantung dari Pesantren Tegalsari yang legendaris, sebuah institusi pendidikan yang pernah menjadi kiblat keilmuan di Nusantara pada abad ke-18 hingga ke-19.

#

Asal-Usul dan Pendirian: Hadiah Sultan Pakubuwono II

Sejarah Masjid Tegalsari bermula pada pertengahan abad ke-18, tepatnya sekitar tahun 1742. Tokoh sentral di balik berdirinya situs ini adalah Kyai Ageng Mohammad Besari, seorang ulama kharismatik keturunan dari Kerajaan Majapahit melalui jalur Raden Patah.

Pendirian masjid ini berkaitan erat dengan peristiwa politik "Geger Pecinan" di Keraton Kartasura. Saat itu, Sultan Pakubuwono II terpaksa melarikan diri dari serangan pemberontak dan mencari suaka ke wilayah Ponorogo. Dalam pelariannya, Sultan berguru dan memohon doa restu kepada Kyai Ageng Mohammad Besari. Setelah berhasil merebut kembali takhtanya, Sultan memberikan tanah perdikan (tanah bebas pajak) kepada Kyai Ageng sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur. Di atas tanah inilah, Kyai Ageng Mohammad Besari mendirikan Masjid Tegalsari dan pesantren yang kemudian menjadi pusat penyebaran agama Islam terbesar di wilayah tersebut.

#

Arsitektur: Harmoni Tradisional Jawa dan Filosofi Sufistik

Secara visual, Masjid Tegalsari menampilkan karakteristik arsitektur Jawa kuno yang kental, serupa dengan Masjid Agung Demak namun memiliki keunikan lokal Ponorogo yang spesifik. Struktur utamanya didominasi oleh kayu jati pilihan yang tetap kokoh meski telah berusia ratusan tahun.

Salah satu ciri paling mencolok adalah atap tumpang tiga yang berbentuk tajug. Arsitektur ini tidak hanya berfungsi sebagai estetika, tetapi mengandung filosofi mendalam mengenai tingkatan spiritual dalam Islam: Iman, Islam, dan Ihsan, atau Syariat, Thariqat, dan Hakikat. Puncak atap dihiasi dengan mustaka (memolo) yang khas.

Interior masjid ditopang oleh 36 tiang kayu jati tanpa paku (sistem bongkar pasang atau knock-down). Yang paling istimewa adalah keberadaan tiang utama atau Soko Guru yang berjumlah empat, melambangkan empat sahabat Nabi atau empat mazhab besar dalam Islam. Di bagian depan, terdapat serambi luas yang dahulu digunakan sebagai tempat mengajar santri. Keunikan lainnya terletak pada liwan (ruang utama) yang memiliki lantai lebih tinggi, memberikan kesan sakral dan agung.

#

Pusat Intelektual dan Tokoh Bangsa

Masjid Tegalsari adalah saksi bisu lahirnya pemikir-pemikir besar yang membentuk wajah Indonesia. Di kompleks inilah, tokoh sastra Jawa terbesar, Raden Ngabehi Ronggowarsito, menimba ilmu. Konon, sebelum menjadi pujangga termasyhur, ia adalah santri yang nakal namun mendapatkan pencerahan spiritual di bawah bimbingan keturunan Kyai Ageng Besari.

Selain Ronggowarsito, tokoh pergerakan nasional H.O.S. Tjokroaminoto juga memiliki akar keturunan dan ikatan intelektual dengan Tegalsari. Kedalaman ilmu agama yang diajarkan di sini menggabungkan aspek syariat dan tasawuf, menciptakan karakter santri yang moderat namun teguh dalam memegang prinsip kebenaran. Pengaruh intelektual Tegalsari meluas hingga ke luar Jawa, menjadikannya prototipe pesantren modern (seperti Pondok Modern Darussalam Gontor yang didirikan oleh keturunan Tegalsari).

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Salah satu fakta sejarah yang unik adalah status "Perdikan" yang disandang Tegalsari. Selama masa kolonial Belanda, wilayah ini memiliki otonomi khusus. Pemerintah kolonial tidak berani mengusik Tegalsari karena pengaruh sosial-keagamaan Kyai Ageng Besari yang sangat kuat di mata masyarakat dan keraton. Hal ini menjadikan Masjid Tegalsari sebagai zona aman bagi para pejuang dan ulama untuk menyusun strategi tanpa pengawasan ketat penjajah.

Setiap sudut masjid menyimpan cerita. Misalnya, keberadaan bedug besar yang masih asli, yang suaranya dahulu konon terdengar hingga berkilo-kilometer jauhnya sebagai penanda waktu salat sekaligus pemanggil warga saat terjadi keadaan darurat.

#

Pelestarian dan Restorasi

Sebagai Situs Cagar Budaya, Masjid Tegalsari telah melalui beberapa tahap konservasi. Pemerintah Kabupaten Ponorogo bersama Balai Pelestarian Kebudayaan terus berupaya menjaga keaslian struktur bangunan. Restorasi dilakukan dengan sangat hati-hati, terutama pada bagian kayu-kayu penyangga yang mulai dimakan usia.

Meskipun telah mengalami perbaikan, elemen-elemen asli seperti mimbar kayu yang penuh ukiran, ornamen dinding, dan soko guru tetap dipertahankan. Area sekitar masjid kini juga telah ditata menjadi kawasan wisata religi yang representatif, dengan pemisahan area ziarah (makam Kyai Ageng Besari yang terletak di belakang masjid) dan area ibadah utama untuk menjaga kekhusyukan.

#

Makna Budaya dan Religius Hari Ini

Hingga saat ini, Masjid Tegalsari tetap menjadi pusat gravitasi spiritual bagi masyarakat Ponorogo dan sekitarnya. Setiap malam Jumat Legi atau pada bulan Ramadan (terutamanya malam Likuran atau 21 Ramadan), ribuan peziarah dari berbagai penjuru daerah memadati kompleks ini. Mereka datang untuk melakukan i'tikaf, berdoa, dan mengenang jasa Kyai Ageng Mohammad Besari.

Tradisi "Buka Luwur" atau penggantian kelambu makam dan pembersihan pusaka peninggalan kyai menjadi agenda tahunan yang menarik ribuan wisatawan budaya. Masjid ini bukan sekadar fosil sejarah yang beku, melainkan institusi yang masih aktif memberikan pendidikan moral dan spiritual bagi masyarakat modern.

Masjid Tegalsari adalah bukti nyata bahwa integrasi antara kekuasaan politik (Keraton), otoritas keagamaan (Ulama), dan kearifan lokal (Arsitektur Jawa) dapat menghasilkan sebuah warisan yang abadi. Ia berdiri teguh sebagai pengingat bahwa di tanah Ponorogo, pernah lahir sebuah peradaban besar yang mengedepankan ilmu pengetahuan dan kesalehan sosial.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Ponorogo
entrance fee
Gratis / Donasi
opening hours
Setiap hari, 24 Jam (Waktu Shalat)

Tempat Menarik Lainnya di Ponorogo

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Ponorogo

Pelajari lebih lanjut tentang Ponorogo dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Ponorogo