Bangunan Ikonik

Masjid Jami' PITI Muhammad Cheng Hoo

di Purbalingga, Jawa Tengah

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menelusuri Keunikan Arsitektur Masjid Jami' PITI Muhammad Cheng Hoo Purbalingga

Masjid Jami' PITI Muhammad Cheng Hoo yang terletak di Desa Selaganggeng, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, bukan sekadar tempat ibadah biasa. Bangunan ini merupakan manifestasi fisik dari akulturasi budaya yang mendalam, mempertemukan estetika Tionghoa yang khas dengan nilai-nilai spiritual Islam. Sejak diresmikan pada tahun 2011, masjid ini telah menjadi ikon arsitektural di Jawa Tengah yang menarik perhatian wisatawan, arsitek, dan pemerhati sejarah.

#

Konteks Sejarah dan Inisiasi Pembangunan

Pembangunan Masjid Cheng Hoo Purbalingga diinisiasi oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) setempat. Sosok di balik kemegahan bangunan ini adalah H. Thohir (Liang Ghuat), seorang mualaf dan pengusaha lokal yang ingin menciptakan ruang ibadah yang merepresentasikan identitas komunitas Muslim Tionghoa sekaligus menghormati jasa Laksamana Cheng Hoo (Zheng He), pelaut besar asal Tiongkok yang menyebarkan perdamaian dan agama Islam di Nusantara.

Konstruksi masjid ini dimulai sekitar tahun 2010 dan selesai dalam waktu relatif singkat. Berbeda dengan Masjid Cheng Hoo di Surabaya atau Palembang yang berada di pusat kota, masjid di Purbalingga ini memiliki keunikan karena letaknya yang berada di kaki Gunung Slamet, memberikan latar belakang alam yang megah bagi bangunan yang sarat warna ini.

#

Karakteristik Arsitektur dan Stilistika Visual

Secara visual, Masjid Jami' PITI Muhammad Cheng Hoo Purbalingga segera dikenali melalui palet warna dominan: merah, kuning emas, dan hijau. Warna merah dalam tradisi Tionghoa melambangkan kebahagiaan dan keberuntungan, sementara kuning emas melambangkan kemuliaan. Penggunaan warna-warna kontras ini memberikan pernyataan visual yang kuat di tengah pemukiman warga yang cenderung bergaya arsitektur modern minimalis atau tradisional Jawa.

Struktur utama bangunan tidak mengadopsi kubah bawang yang umum pada masjid di Indonesia, melainkan menggunakan bentuk atap tumpang atau pagoda. Atap ini memiliki kemiringan yang curam dengan ujung-ujung yang melengkung ke atas, menyerupai gaya arsitektur Dinasti Tang atau bangunan klenteng tradisional. Konstruksi atap terdiri dari beberapa tingkat yang melambangkan tangga menuju spiritualitas yang lebih tinggi.

#

Detail Fasad dan Ornamen Simbolis

Keunikan arsitektural masjid ini terletak pada detail ornamennya. Pada bagian pintu masuk, terdapat lengkungan-lengkungan yang menyerupai gerbang Paifang. Dinding masjid dihiasi dengan ukiran-ukiran geometris yang dipadukan dengan kaligrafi Arab yang ditulis dengan gaya yang menyerupai karakter Mandarin, sebuah teknik yang dikenal sebagai Sini.

Salah satu fitur unik adalah keberadaan lampion-lampion merah yang menggantung di selasar masjid. Lampion ini bukan sekadar alat penerangan, melainkan simbol cahaya penuntun. Jendela-jendela masjid dibuat dengan bentuk lingkaran dan segi delapan (Ba Gua), yang dalam filosofi Tionghoa melambangkan keseimbangan dan harmoni alam semesta. Meskipun memiliki elemen Tionghoa yang kental, fungsi utama sebagai masjid tetap dijaga melalui keberadaan mihrab yang menghadap kiblat dengan desain yang lebih sederhana namun elegan.

#

Inovasi Struktur dan Tata Ruang

Secara struktural, masjid ini menggabungkan teknik beton bertulang modern dengan estetika tradisional. Ruang utama ibadah dirancang tanpa banyak pilar di tengah untuk memberikan kesan luas dan lega (spaciousness), memungkinkan jamaah memiliki pandangan tanpa penghalang ke arah khatib atau imam. Lantai masjid menggunakan marmer berkualitas yang memberikan sensasi dingin, sangat kontras dengan warna dinding yang hangat.

Ventilasi udara pada Masjid Cheng Hoo Purbalingga dirancang secara alami. Mengingat lokasinya yang berada di dataran tinggi, arsitek memanfaatkan bukaan-bukaan lebar pada sisi bangunan agar udara pegunungan yang sejuk dapat bersirkulasi dengan baik tanpa memerlukan pendingin udara elektrik secara berlebihan. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran akan arsitektur berkelanjutan yang beradaptasi dengan iklim setempat.

#

Signifikansi Sosial dan Simbolisme Akulturasi

Masjid ini bukan sekadar pencapaian estetika, tetapi juga simbol sosiologis. Keberadaannya di Purbalingga membuktikan bahwa Islam adalah agama yang universal dan dapat berpadu harmonis dengan identitas etnis apa pun. Masjid ini menjadi jembatan komunikasi budaya antara etnis Tionghoa dan masyarakat lokal Jawa di pedesaan Purbalingga.

Bagi masyarakat sekitar, masjid ini adalah kebanggaan. Ia berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan, pendidikan Al-Qur'an, dan tempat perayaan hari besar Islam. Di sisi lain, keberadaannya mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui sektor pariwisata religi. Pengunjung dari berbagai daerah datang bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk mempelajari bagaimana dua kebudayaan besar bisa bersatu dalam sebuah bentuk bangunan.

#

Pengalaman Pengunjung dan Fungsi Saat Ini

Saat ini, Masjid Jami' PITI Muhammad Cheng Hoo tetap berfungsi penuh sebagai masjid jami' (masjid utama untuk salat Jumat). Pengunjung yang datang akan disambut oleh suasana yang tenang dan religius namun tetap eksotis. Area parkir yang luas dan fasilitas pendukung seperti tempat wudu yang bersih dan tertata rapi menambah kenyamanan pengunjung.

Berjalan di selasar masjid memberikan pengalaman sensorik yang unik. Perpaduan antara aroma udara pegunungan, visual warna-warni pagoda, dan suara azan yang berkumandang menciptakan atmosfer yang menenangkan. Banyak mahasiswa arsitektur dan peneliti budaya mengunjungi tempat ini untuk mendokumentasikan bagaimana elemen oriental dapat diaplikasikan pada tipologi bangunan Islam tanpa menghilangkan esensi kesucian tempat ibadah tersebut.

#

Kesimpulan

Masjid Jami' PITI Muhammad Cheng Hoo Purbalingga adalah mahakarya arsitektur vernakular-kontemporer di Jawa Tengah. Ia berdiri tegak sebagai monumen toleransi dan kreativitas manusia dalam menginterpretasikan iman melalui seni bina bangunan. Melalui perpaduan atap pagoda, warna merah yang berani, dan nilai-nilai Islam yang luhur, masjid ini menegaskan bahwa keindahan arsitektur seringkali lahir dari keberanian untuk memadukan perbedaan menjadi sebuah harmoni yang utuh. Sebagai ikon Purbalingga, masjid ini akan terus menjadi destinasi yang menginspirasi siapa pun yang mengagumi keindahan dalam keberagaman.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Raya Purbalingga - Karangreja, Mrebet, Kabupaten Purbalingga
entrance fee
Gratis
opening hours
Terbuka untuk umum (Waktu Shalat)

Tempat Menarik Lainnya di Purbalingga

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Purbalingga

Pelajari lebih lanjut tentang Purbalingga dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Purbalingga