Bangunan Ikonik

Taman Air Mancur Sri Baduga

di Purwakarta, Jawa Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Simfoni Arsitektur Air dan Cahaya: Taman Air Mancur Sri Baduga Purwakarta

Taman Air Mancur Sri Baduga bukan sekadar ruang publik biasa; ia adalah sebuah pencapaian arsitektur lanskap modern yang berakar kuat pada nilai-nilai kosmologi Sunda. Terletak di jantung Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, kawasan ini bertransformasi dari sebuah kolam bersejarah bernama Situ Buleud menjadi atraksi air mancur terbesar di Asia Tenggara. Secara arsitektural, Sri Baduga merepresentasikan dialog antara elemen air, teknologi digital mutakhir, dan narasi sejarah Kerajaan Pajajaran yang agung.

#

Konteks Historis: Dari Situ Buleud ke Ruang Ikonik

Tapak arsitektural Taman Air Mancur Sri Baduga menempati area yang secara historis dikenal sebagai Situ Buleud. Danau buatan berbentuk lingkaran ini dibangun pada masa kolonial Belanda sebagai area rekreasi dan sumber air bagi pusat pemerintahan Purwakarta. Namun, nilai historisnya jauh lebih dalam, karena secara filosofis, bentuk lingkaran (buleud) melambangkan kebulatan tekad dan kesatuan.

Transformasi menjadi Taman Air Mancur Sri Baduga dimulai pada tahun 2014 di bawah visi Bupati Dedi Mulyadi. Proyek ini bertujuan untuk merevitalisasi pusat kota dengan menciptakan tengara (landmark) yang mampu mengangkat identitas budaya lokal ke level internasional. Nama "Sri Baduga" sendiri diambil dari gelar Prabu Siliwangi, raja legendaris Pajajaran, yang menyiratkan kegagahan dan kemakmuran.

#

Prinsip Desain dan Estetika Arsitektur

Secara visual, desain Taman Air Mancur Sri Baduga mengadopsi prinsip simetri radial, mengikuti bentuk alami danau Situ Buleud. Di pusat kolam, berdiri sebuah panggung megah dengan arsitektur yang menyerupai singgasana atau gerbang kerajaan Sunda kuno. Desain panggung ini menggunakan material yang memberikan kesan kokoh namun tetap artistik, berfungsi sebagai titik fokus visual (focal point) dari seluruh area taman.

Salah satu elemen desain yang paling menonjol adalah integrasi patung harimau (maung) yang merupakan simbol keberanian masyarakat Sunda dan lambang Prabu Siliwangi. Patung-patung ini ditempatkan secara strategis untuk mengapit panggung utama, menciptakan aura sakral di tengah kemajuan teknologi. Arsitektur lanskap di sekeliling danau juga ditata dengan jalur pejalan kaki yang lebar, memungkinkan ribuan pengunjung untuk bergerak secara organik tanpa merusak integritas estetika kawasan.

#

Inovasi Struktural dan Teknologi Hidrolik

Keunikan arsitektural Sri Baduga terletak pada sistem mekanikal dan elektrikal yang tersembunyi di bawah permukaan air. Taman ini dilengkapi dengan lebih dari 2.000 nosel (lubang semburan) yang mampu memancarkan air hingga ketinggian puluhan meter. Inovasi struktural ini melibatkan pemetaan hidrolik yang kompleks untuk memastikan setiap semburan air dapat bergerak secara presisi mengikuti irama musik.

Sistem air mancur ini menggunakan teknologi Aqua Screen, di mana air disemprotkan membentuk tirai tipis yang berfungsi sebagai layar proyeksi. Di atas layar air inilah, video mapping dan laser berwarna-warni diproyeksikan, menciptakan ilusi tiga dimensi yang memukau. Integrasi antara sistem perpipaan bawah air yang rumit dengan perangkat lunak sinkronisasi digital menjadikan Sri Baduga sebagai mahakarya teknik sipil dan seni digital yang jarang ditemukan di Indonesia.

#

Simbolisme Budaya dalam Elemen Visual

Setiap aspek arsitektur di Taman Air Mancur Sri Baduga sarat dengan simbolisme. Penggunaan ornamen ukiran Sunda pada pagar dan pintu masuk taman mencerminkan ketelitian kriya lokal. Pilar-pilar lampu di sepanjang area pedestrian didesain menyerupai tiang-tiang keraton, memberikan suasana nostalgia masa kejayaan kerajaan Sunda.

Warna-warna cahaya yang dipilih—mulai dari emas, merah, hingga biru—bukan sekadar estetika, melainkan representasi elemen alam dalam filosofi Sunda. Air dipandang sebagai sumber kehidupan, dan api (yang disimbolkan oleh cahaya laser merah) sebagai energi. Pertemuan kedua elemen ini di tengah danau menciptakan harmoni yang menggambarkan keseimbangan alam semesta.

#

Dampak Sosial dan Ruang Publik Kreatif

Sebagai sebuah bangunan ikonik, Sri Baduga telah mengubah wajah sosial Purwakarta. Arsitektur taman ini dirancang bersifat inklusif, menyediakan ruang terbuka hijau bagi masyarakat dari berbagai lapisan ekonomi. Pada hari-hari biasa, kawasan ini berfungsi sebagai paru-paru kota dan tempat berolahraga, namun pada malam pertunjukan, ia berubah menjadi teater terbuka raksasa.

Dampak ekonominya pun signifikan. Kehadiran tengara arsitektural ini mendorong pertumbuhan UMKM di sekitarnya, menjadikan pariwisata sebagai pilar ekonomi baru bagi daerah yang sebelumnya lebih dikenal sebagai kawasan industri. Sri Baduga membuktikan bahwa investasi pada arsitektur publik berkualitas dapat menjadi katalisator bagi kemajuan sosial-ekonomi daerah.

#

Pengalaman Pengunjung dan Atmosfer Arsitektural

Saat memasuki kawasan Taman Air Mancur Sri Baduga, pengunjung disambut oleh gerbang yang megah namun tetap mempertahankan nuansa tradisional. Di malam hari, pantulan cahaya pada permukaan danau menciptakan efek visual yang memperluas ruang secara optis. Duduk di tribun penonton yang mengelilingi danau, pengunjung dapat merasakan skala masif dari proyek ini.

Pertunjukan air mancur dimulai dengan narasi yang menggema, perlahan-lahan air mulai "menari" seiring dengan permainan lampu LED. Pengalaman ini adalah bentuk "arsitektur pengalaman" (experience architecture), di mana batas antara struktur fisik dan elemen efemerel (seperti cahaya dan air) menjadi kabur. Keheningan malam Purwakarta pecah oleh simfoni air yang menciptakan memori visual yang mendalam bagi setiap orang yang menyaksikannya.

#

Penutup: Warisan Modernitas Purwakarta

Taman Air Mancur Sri Baduga adalah bukti nyata bahwa identitas lokal dapat bersanding harmonis dengan teknologi global. Melalui desain yang menghormati sejarah Situ Buleud namun tetap berani mengeksplorasi batas-batas teknologi hidrolik, taman ini berdiri sebagai monumen kebanggaan masyarakat Jawa Barat. Ia bukan hanya sebuah tempat wisata, melainkan sebuah pernyataan arsitektural tentang bagaimana sebuah kota kecil di Indonesia mampu menciptakan karya berskala dunia tanpa kehilangan ruh budayanya. Keberadaan Sri Baduga akan terus menjadi inspirasi bagi pengembangan arsitektur lanskap dan ruang publik di Indonesia untuk masa-masa yang akan datang.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. K.K Singawinata, Nagri Kidul, Kec. Purwakarta
entrance fee
Gratis (memerlukan reservasi/tiket khusus)
opening hours
Sabtu Malam (Jadwal pertunjukan berkala)

Tempat Menarik Lainnya di Purwakarta

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Purwakarta

Pelajari lebih lanjut tentang Purwakarta dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Purwakarta