Kuliner Legendaris

Nasi Kuning Ijay

di Samarinda, Kalimantan Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Sejarah dan Legenda Jalan Lambung Mangkurat

Nasi Kuning Ijay memulai perjalanannya puluhan tahun lalu, berawal dari sebuah lapak sederhana yang dirintis oleh H. Ijay. Nama "Ijay" kini telah bertransformasi menjadi merek dagang yang identik dengan kualitas dan konsistensi rasa. Keunikan utama yang membedakannya dari nasi kuning di daerah lain seperti Jawa atau Manado adalah waktu operasionalnya. Jika di banyak wilayah Indonesia nasi kuning dianggap sebagai menu sarapan, Nasi Kuning Ijay justru berjaya di bawah lampu temaram malam hari hingga dini hari.

Kawasan Lambung Mangkurat sendiri, berkat kehadiran Nasi Kuning Ijay, telah berkembang menjadi sentra kuliner malam yang tak pernah tidur. Legenda kelezatan Ijay bermula dari resep keluarga yang dijaga ketat kerahasiaannya, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, memastikan bahwa butiran nasi yang tersaji hari ini memiliki rasa yang sama persis dengan apa yang dinikmati warga Samarinda tiga dekade silam.

Keunikan Tekstur dan Simfoni Rempah

Apa yang membuat Nasi Kuning Ijay begitu istimewa? Jawabannya terletak pada detail teknis pengolahannya. Beras yang digunakan dipilih secara khusus untuk menghasilkan tekstur yang pera namun tetap lembut saat dikunyah. Nasi tidak boleh terlalu lengket seperti nasi uduk, namun juga tidak boleh terlalu kering.

Warna kuning keemasan yang dihasilkan berasal dari kunyit tua pilihan yang diparut dan diperas secara manual, bukan menggunakan pewarna buatan atau bubuk instan. Proses pengukusan dilakukan dua kali (teknik diliwet dan kemudian dikukus dengan santan kental). Santan yang digunakan berasal dari kelapa tua yang diparut segar, memberikan aroma nutty dan gurih yang meresap hingga ke inti bulir beras. Daun pandan, serai, dan sedikit kayu manis ditambahkan dalam proses pengukusan untuk memberikan dimensi aroma yang menenangkan sekaligus menggugah selera.

Lauk Ikonik: Ikan Haruan dan Telur Masak Habang

Nasi Kuning Ijay tidak akan lengkap tanpa pendamping utamanya: Masak Habang. Ini adalah teknik memasak khas Banjar yang telah berakulturasi sempurna dengan lidah masyarakat Samarinda. Bumbu habang (merah) ini terbuat dari cabai merah kering yang dibuang bijinya, kemudian dihaluskan bersama bawang merah, bawang putih, dan sedikit kencur serta terasi. Meski warnanya merah menyala, rasanya cenderung manis-gurih dengan sensasi rempah yang hangat, bukan pedas yang menyengat.

Lauk primadona di Nasi Kuning Ijay adalah Ikan Haruan (ikan gabus). Ikan ini dipilih karena tekstur dagingnya yang padat dan kemampuannya menyerap bumbu habang dengan sempurna tanpa menjadi hancur. Selain Haruan, tersedia pula telur rebus masak habang, ayam, dan daging sapi. Keunikan lainnya adalah kehadiran mie goreng kampung yang tipis dan taburan bawang goreng melimpah yang memberikan tekstur renyah di setiap suapan. Tidak lupa, sejumput sambal goreng hati dan buncis seringkali diselipkan sebagai pelengkap nutrisi dan rasa.

Rahasia Dapur: Teknik Memasak Tradisional

Keluarga H. Ijay tetap mempertahankan penggunaan tungku kayu atau kompor bertekanan tinggi dalam skala besar untuk memastikan panas yang merata. Penggunaan santan yang tidak pecah (pecah minyak) dalam proses memasak bumbu habang adalah kunci mengapa lauk di warung ini memiliki daya tahan yang baik dan rasa yang mendalam. Bumbu habang ditumis dalam waktu yang lama hingga mengeluarkan minyak alaminya, sebuah proses yang dalam istilah kuliner lokal disebut "sampai tanak".

Proses "menanak" bumbu inilah yang menciptakan karamelisasi alami dari gula merah dan cabai, menghasilkan rasa umami yang tidak bisa ditiru oleh penyedap rasa instan. Konsistensi ini dijaga oleh para koki keluarga yang telah bekerja selama belasan tahun, memahami betul kapan bumbu sudah mencapai titik kematangan sempurna hanya dari aromanya.

Budaya Makan "Nasi Kuning Tengah Malam"

Menyambangi Nasi Kuning Ijay adalah sebuah pengalaman sosiologis. Di sini, batas-batas kelas sosial melebur. Anda akan melihat pejabat daerah, pekerja tambang yang baru pulang shift, mahasiswa yang sedang begadang, hingga wisatawan luar kota mengantri bersama di trotoar Jalan Lambung Mangkurat.

Ada kebiasaan unik di mana pelanggan seringkali memesan nasi kuning untuk dibawa pulang (bungkus). Membungkus Nasi Kuning Ijay memiliki seni tersendiri; penggunaan daun pisang sebagai lapisan dalam kertas pembungkus bukan sekadar tradisi, melainkan teknik untuk menjaga suhu nasi dan menambah aroma harum yang khas. Uap panas dari nasi yang bertemu dengan daun pisang akan melepaskan minyak esensial daun yang membuat aroma nasi kuning semakin semerbak saat dibuka di rumah.

Signifikansi Budaya dan Ekonomi Lokal

Nasi Kuning Ijay telah menjadi simbol ketahanan kuliner lokal di tengah gempuran makanan cepat saji global. Keberadaannya mendorong ekosistem ekonomi di sekitarnya; mulai dari pemasok ikan haruan lokal, petani kunyit, hingga juru parkir dan pedagang minuman di sekitar kedai.

Bagi masyarakat Samarinda, Nasi Kuning Ijay adalah "comfort food". Ia adalah pelarian saat lapar melanda di pukul dua pagi, atau tujuan utama saat ingin menjamu tamu dari luar Kalimantan Timur. Nama Ijay kini bukan sekadar nama orang, melainkan sebuah standar kualitas. Jika seseorang berkata "nasi kuning khas Samarinda", maka parameter yang digunakan hampir selalu merujuk pada profil rasa yang dipelopori oleh Ijay.

Penutup: Warisan yang Terus Mengepul

Hingga saat ini, Nasi Kuning Ijay terus berdiri tegak sebagai penjaga nyala api kuliner tradisi. Di tengah modernisasi kota Samarinda, kepulan asap dari dapur Ijay di Lambung Mangkurat adalah pengingat bahwa rasa yang otentik, kejujuran dalam penggunaan bahan, dan penghormatan terhadap resep leluhur akan selalu mendapatkan tempat di hati masyarakat.

Menikmati sepiring Nasi Kuning Ijay adalah menikmati sejarah panjang peradaban kuliner di tepian Mahakam. Setiap bulir nasinya bercerita tentang ketekunan, setiap suapan bumbu habangnya membawa kita pada kekayaan rempah nusantara, dan setiap keramaian di kedainya adalah bukti bahwa legasi kuliner yang dibangun dengan hati tidak akan pernah lekang oleh waktu. Bagi siapapun yang menginjakkan kaki di Samarinda, perjalanan Anda belum dianggap paripurna sebelum merasakan sensasi "Emas Cair" dari Nasi Kuning Ijay.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Lambung Mangkurat, Kec. Samarinda Kota, Kota Samarinda
entrance fee
Mulai dari Rp 15.000 per porsi
opening hours
Setiap hari, 24 Jam

Tempat Menarik Lainnya di Samarinda

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Samarinda

Pelajari lebih lanjut tentang Samarinda dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Samarinda