Situs Sejarah

Situs Ratu Ebhu

di Sampang, Jawa Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Agung Madura Barat: Sejarah dan Eksistensi Situs Ratu Ebhu di Sampang

Situs Ratu Ebhu merupakan salah satu monumen sejarah paling signifikan di Pulau Madura, khususnya di Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Terletak di Dusun Madegan, Kelurahan Polagan, situs ini bukan sekadar kompleks pemakaman kuno, melainkan sebuah prasasti bisu yang merekam transisi kekuasaan, penyebaran agama Islam, dan penghormatan mendalam terhadap figur ibu dalam struktur sosial politik Madura masa lalu.

#

Asal-Usul Historis dan Era Pendirian

Situs Ratu Ebhu berakar pada abad ke-16 dan ke-17, periode di mana Madura berada di bawah pengaruh kuat Kerajaan Mataram Islam sekaligus sedang mengukuhkan identitas lokalnya. Nama "Ratu Ebhu" secara harfiah berarti "Ratu Ibu". Sosok utama yang dimakamkan di sini adalah Syarifah Ambami, istri dari Raden Praseno yang bergelar Panembahan Cakraningrat I, penguasa Madura Barat pertama yang diangkat oleh Sultan Agung dari Mataram pada tahun 1624.

Pembangunan kompleks ini berkaitan erat dengan masa pemerintahan Cakraningrat I. Syarifah Ambami sendiri merupakan keturunan dari Sunan Giri, yang memberikan dimensi spiritual yang kuat pada situs ini. Sejarah mencatat bahwa kompleks Madegan (lokasi situs) dulunya merupakan pusat pemerintahan atau keraton sebelum akhirnya berpusat di Bangkalan. Pembangunan awal situs ini diperkirakan berlangsung pada pertengahan abad ke-17, menyusul wafatnya Ratu Ebhu yang meninggalkan duka mendalam bagi rakyat Madura.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Situs Ratu Ebhu menampilkan perpaduan unik antara estetika Hindu-Jawa (Majapahit) dan pengaruh Islam awal. Kompleks ini menggunakan material batu putih dan batu andesit yang dipahat dengan tingkat presisi tinggi. Salah satu ciri khas yang paling menonjol adalah struktur gapura paduraksa dan bentar yang membagi kompleks menjadi beberapa halaman (jaba, tengahan, dan jeroan), sebuah tata ruang yang mengadopsi konsep Songo Pandhopo.

Nisan-nisan di Situs Ratu Ebhu, khususnya nisan Syarifah Ambami, memiliki ornamen ukiran yang sangat detail. Motif sulur-suluran, bunga teratai, dan kaligrafi Arab yang stilistik menghiasi jirat makam. Konstruksi makam menggunakan teknik susun batu tanpa perekat modern, melainkan mengandalkan sistem pengunci (interlock) yang umum ditemukan pada bangunan candi. Keberadaan ukiran sayap pada beberapa nisan menunjukkan pengaruh gaya seni transisi yang berkembang pesat di pesisir utara Jawa dan Madura pada masa itu.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait

Situs Ratu Ebhu menjadi saksi bisu dari loyalitas dan pengabdian seorang istri terhadap suaminya yang sedang menjalankan tugas negara di Mataram. Terdapat narasi sejarah populer yang menyebutkan bahwa Syarifah Ambami melakukan tapa brata (mediasi) di tempat ini untuk memohon agar keturunannya tetap menjadi penguasa di Madura. Legenda setempat menceritakan tentang air mata Ratu Ebhu yang terus mengalir karena kerinduan dan keprihatinan politik, yang kemudian dikaitkan dengan sumber air suci di sekitar lokasi.

Secara politik, keberadaan situs ini menegaskan posisi Sampang sebagai titik awal kekuasaan Dinasti Cakraningrat. Sebelum pusat kekuasaan bergeser ke arah barat (Bangkalan), Sampang wilayah Madegan adalah episentrum administrasi. Peristiwa-peristiwa diplomatik antara utusan Mataram dan penguasa lokal sering kali terjadi di kawasan yang sekarang menjadi situs sejarah ini.

#

Tokoh-Tokoh Penting dan Periode Terkait

Selain Syarifah Ambami atau Ratu Ebhu, kompleks ini juga menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi beberapa bangsawan dan ulama penting Madura. Tokoh-tokoh seperti Panembahan Lembu Purworo dan kerabat dekat Dinasti Cakraningrat dimakamkan di area yang sama. Kaitan erat dengan Sunan Giri menempatkan tokoh-tokoh di situs ini sebagai jembatan antara kekuasaan politik (Mataram) dan otoritas keagamaan (Giri Kedaton).

Periode keemasan situs ini terjadi selama abad ke-17, di mana Madegan berfungsi sebagai pusat spiritual bagi keluarga kerajaan. Pengaruh Raden Praseno (Cakraningrat I) sangat krusial di sini, karena meskipun beliau lebih banyak menghabiskan waktu di istana Mataram untuk membantu Sultan Agung dalam ekspansi militer, beliau tetap memberikan perhatian besar terhadap pembangunan infrastruktur religi dan pemakaman di tanah kelahirannya.

#

Status Pelestarian dan Upaya Restorasi

Saat ini, Situs Ratu Ebhu telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya yang dilindungi oleh Undang-Undang Republik Indonesia. Pengelolaannya berada di bawah naungan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sampang. Upaya restorasi telah dilakukan beberapa kali, terutama pada bagian pagar keliling dan penguatan struktur gapura yang sempat mengalami pelapukan akibat faktor cuaca dan usia.

Pemerintah setempat terus berupaya menjaga keaslian batu-batu nisan dari ancaman lumut dan erosi. Selain itu, penataan lingkungan sekitar situs dilakukan untuk memfasilitasi wisatawan tanpa merusak kesakralan area inti. Zonasi dilakukan secara ketat untuk memisahkan area peziarah aktif dengan area penelitian arkeologi.

#

Kepentingan Budaya dan Religi

Bagi masyarakat Madura, Situs Ratu Ebhu bukan sekadar objek wisata sejarah, melainkan tempat ziarah yang sakral. Nilai budaya yang paling menonjol adalah penghormatan terhadap "Ibu". Ratu Ebhu dipandang sebagai simbol kesetiaan, kesabaran, dan kekuatan spiritual perempuan Madura. Setiap tahun, ribuan peziarah datang untuk melakukan tahlil dan doa bersama, terutama pada bulan-bulan tertentu dalam kalender Hijriah.

Secara religi, situs ini merepresentasikan wajah Islam yang moderat dan adaptif terhadap budaya lokal. Keberadaan nisan dengan ukiran indah membuktikan bahwa pada masa itu, seni rupa tetap berkembang seiring dengan syiar agama. Situs ini juga menjadi media edukasi bagi generasi muda tentang silsilah panjang kepemimpinan di Madura dan bagaimana nilai-nilai luhur masa lalu tetap relevan untuk dijaga di tengah modernitas.

#

Fakta Sejarah Unik

Salah satu fakta unik dari Situs Ratu Ebhu adalah adanya "Batu Menangis" atau bagian dari reruntuhan yang konon selalu lembap. Secara geologis dan arkeologis, hal ini berkaitan dengan struktur tanah dan jenis batu kapur yang menyerap air, namun secara folklor, masyarakat mengaitkannya dengan kesedihan abadi sang Ratu. Selain itu, Situs Ratu Ebhu memiliki kemiripan pola ukiran dengan Makam Sendang Duwur di Lamongan, menunjukkan adanya jaringan seniman ukir batu yang sama di sepanjang pesisir utara pada abad ke-16.

Dengan kekayaan narasi dan integritas fisiknya, Situs Ratu Ebhu tetap menjadi salah satu permata sejarah Jawa Timur yang menawarkan wawasan mendalam tentang kemegahan peradaban Madura di masa lampau.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Desa Madegan, Kelurahan Polagan, Kecamatan Sampang
entrance fee
Sukarela / Donasi
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Sampang

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Sampang

Pelajari lebih lanjut tentang Sampang dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Sampang