Lubang Mbah Soero
di Sawahlunto, Sumatera Barat
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Kelam dan Kejayaan Batubara: Sejarah Lengkap Lubang Mbah Soero
Lubang Mbah Soero bukan sekadar terowongan gelap di bawah tanah Sawahlunto; ia adalah saksi bisu dari ambisi kolonial, penderitaan ribuan nyawa, dan awal mula revolusi industri di Hindia Belanda. Terletak di Kelurahan Tanah Lapang, Lembah Segar, Sawahlunto, Sumatera Barat, situs ini merupakan bekas tambang batubara pertama di kawasan Ombilin yang kini bertransformasi menjadi museum bawah tanah yang menyimpan memori kolektif bangsa.
#
Asal-Usul dan Periode Pendirian
Eksplorasi batubara di Sawahlunto berawal dari penemuan kandungan emas hitam oleh geolog Belanda, Willem Hendrik de Greve, pada tahun 1867 di sepanjang aliran Sungai Ombilin. Penemuan ini memicu pemerintah kolonial Belanda untuk menginvestasikan modal besar guna membangun infrastruktur pertambangan. Lubang Mbah Soero sendiri secara resmi mulai dibuka dan beroperasi pada tahun 1898.
Nama "Mbah Soero" diambil dari sosok mandor legendaris yang ditugaskan oleh Belanda untuk mengawasi para pekerja tambang. Mbah Soero, yang diyakini berasal dari Jawa, dikenal sebagai figur yang disegani dan memiliki kekuatan spiritual. Ia bertugas memastikan target produksi terpenuhi sekaligus menjadi penengah di antara para pekerja. Makamnya kini dapat ditemukan di pemakaman umum tidak jauh dari lokasi lubang tambang tersebut.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi
Secara teknis, Lubang Mbah Soero adalah terowongan horizontal yang menembus perbukitan dengan kedalaman yang bervariasi. Pada masa kejayaannya, panjang terowongan ini diperkirakan mencapai ratusan meter, namun untuk kepentingan wisata sejarah, area yang direstorasi dan dapat diakses publik saat ini sepanjang kurang lebih 186 meter.
Konstruksi bagian dalam terowongan menggunakan teknik penyangga kayu jati dan dinding semen yang sangat tebal untuk menahan tekanan tanah di atasnya. Langit-langit terowongan memiliki ketinggian rata-rata 2 meter dengan lebar sekitar 2 meter. Salah satu keunikan arsitekturalnya adalah sistem ventilasi alami dan saluran air (drainase) yang dirancang sedemikian rupa agar para pekerja tetap bisa bernapas di dalam perut bumi yang panas dan lembap. Suhu di dalam lubang bisa mencapai 26-28 derajat Celcius dengan tingkat kelembapan tinggi, yang mencerminkan betapa beratnya kondisi kerja pada masa itu.
#
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait
Lubang Mbah Soero adalah jantung dari produksi batubara Ombilin yang memasok energi untuk kereta api dan kapal uap Belanda di seluruh Nusantara hingga Eropa. Keberangkatan kapal-kapal dari Pelabuhan Teluk Bayur (Emmahaven) sangat bergantung pada hasil galian dari lubang ini.
Namun, di balik kejayaan ekonomi tersebut, terdapat sejarah kelam mengenai "Orang Rantai" (Kettingganger). Mereka adalah narapidana politik maupun kriminal yang didatangkan dari berbagai penjuru Nusantara seperti Jawa, Sulawesi, dan Bali. Disebut Orang Rantai karena kaki dan leher mereka dibelenggu dengan rantai besi saat bekerja agar tidak melarikan diri. Mereka dipaksa bekerja berjam-jam dalam kondisi minim cahaya dan oksigen dengan jatah makan yang sangat terbatas. Banyak dari mereka yang tewas karena kelelahan, kecelakaan tambang, atau penyakit paru-paru, dan jasad mereka seringkali dikuburkan secara massal di sekitar lokasi tambang.
#
Tokoh dan Periode Penting
Selain Mbah Soero dan W.H. de Greve, situs ini berkaitan erat dengan periode kebijakan Ethical Policy (Politik Etis) Belanda yang ironisnya berjalan beriringan dengan eksploitasi tenaga kerja paksa. Pada awal abad ke-20, Sawahlunto menjadi kota paling modern di Sumatera Barat karena fasilitas yang dibangun Belanda—mulai dari rumah sakit, sekolah, hingga gedung pertemuan—semuanya dibiayai dari hasil keringat pekerja di Lubang Mbah Soero.
Situs ini ditutup pada tahun 1932 karena rembesan air tanah yang tinggi dan menipisnya cadangan batubara di lapisan tersebut, sehingga Belanda beralih ke lubang-lubang tambang baru yang lebih produktif.
#
Upaya Pelestarian dan Restorasi
Setelah terbengkalai selama puluhan tahun dan sempat tertimbun tanah serta air, Pemerintah Kota Sawahlunto memulai inisiatif restorasi pada tahun 2007. Langkah ini diambil sebagai bagian dari visi kota untuk beralih dari kota tambang mati menjadi kota wisata tambang yang berbudaya.
Restorasi dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menjaga keaslian struktur. Dinding-dinding yang rapuh diperkuat, sistem pencahayaan dipasang, dan blower oksigen ditambahkan untuk menjamin keamanan pengunjung. Pada tanggal 23 April 2008, Lubang Mbah Soero resmi dibuka kembali sebagai objek wisata sejarah. Upaya pelestarian ini membuahkan hasil besar ketika pada tahun 2019, UNESCO menetapkan "Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto" (termasuk Lubang Mbah Soero) sebagai Situs Warisan Dunia.
#
Makna Budaya dan Religi
Bagi masyarakat lokal, Lubang Mbah Soero bukan sekadar objek wisata, melainkan tempat penghormatan bagi leluhur. Seringkali dilakukan ritual doa bersama atau "ziarah" untuk mengenang para pekerja tambang yang telah tiada. Nama Mbah Soero sendiri telah menjadi simbol ketabahan dan kepemimpinan di tengah penindasan.
Secara budaya, situs ini menjadi pengingat akan keragaman etnis di Sawahlunto. Para pekerja yang didatangkan dari berbagai daerah menciptakan asimilasi budaya yang unik di Sawahlunto, yang sering disebut sebagai "Kota Arang" dengan dialek bahasa dan tradisi kuliner yang merupakan perpaduan berbagai suku di Indonesia.
#
Fakta Sejarah Unik
Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa batubara dari Lubang Mbah Soero dikenal memiliki kualitas "kalori tinggi" yang sangat dicari di pasar internasional pada masa itu. Selain itu, di dalam terowongan ini terdapat beberapa percabangan lubang yang sengaja dibuat buntu sebagai strategi keamanan jika terjadi reruntuhan mendadak. Pengunjung saat ini juga dapat melihat replika peralatan tambang kuno dan rantai asli yang dahulu melilit kaki para pekerja di Galeri Tambang yang terletak tepat di depan pintu masuk lubang.
Dengan mengunjungi Lubang Mbah Soero, kita tidak hanya diajak melihat kegelapan bawah tanah, tetapi juga diajak menghargai nilai kemanusiaan dan sejarah panjang yang membentuk identitas bangsa Indonesia di mata dunia.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Sawahlunto
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Sawahlunto
Pelajari lebih lanjut tentang Sawahlunto dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Sawahlunto