Tangga Seratus
di Sibolga, Sumatera Utara
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Menelusuri Jejak Kolonial dan Keindahan Arsitektur Tangga Seratus Sibolga
Kota Sibolga, yang dikenal sebagai kota pelabuhan terkecil di Indonesia, menyimpan berbagai narasi sejarah yang terpatri dalam struktur bangunannya. Salah satu situs sejarah paling ikonik dan sarat akan nilai historis adalah Tangga Seratus. Terletak di Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sibolga Kota, situs ini bukan sekadar deretan anak tangga, melainkan saksi bisu transformasi Sibolga dari pusat perdagangan lokal menjadi titik strategis pertahanan dan administratif pada masa kolonial Hindia Belanda.
#
Asal-Usul Historis dan Masa Pembangunan
Pembangunan Tangga Seratus berakar pada awal abad ke-20, sekitar tahun 1900-an, ketika Pemerintah Hindia Belanda mulai memperkuat pengaruhnya di pesisir barat Sumatera. Sibolga, dengan teluknya yang tenang namun dalam, dipilih sebagai pusat administrasi Residensi Tapanuli (Residentie Tapanoeli).
Pembangunan tangga ini awalnya bukan ditujukan sebagai objek wisata, melainkan fasilitas infrastruktur vital bagi para pejabat kolonial. Tangga Seratus dibangun sebagai akses penghubung antara kawasan permukiman di kaki bukit dengan kantor-kantor pemerintahan serta rumah dinas pejabat Belanda yang terletak di dataran tinggi atau perbukitan. Lokasi perbukitan dipilih oleh Belanda karena faktor keamanan dan sirkulasi udara yang lebih sejuk dibandingkan area pantai yang panas.
#
Karakteristik Arsitektur dan Detail Konstruksi
Secara teknis, nama "Tangga Seratus" merupakan penyebutan lokal yang merujuk pada jumlah anak tangganya yang banyak. Meskipun dalam perhitungan aktual jumlahnya bisa sedikit melebihi atau kurang dari seratus tergantung pada titik awal penghitungan, angka "seratus" telah menjadi identitas budaya yang melekat.
Arsitektur Tangga Seratus mencerminkan gaya konstruksi kolonial yang mengutamakan ketahanan jangka panjang. Struktur utamanya menggunakan material batu alam dan beton cor yang sangat kokoh. Setiap anak tangga dirancang dengan lebar yang cukup luas, memungkinkan dua hingga tiga orang berjalan berdampingan. Salah satu ciri khas unik dari konstruksi ini adalah keberadaan beberapa pos pemberhentian atau selasar kecil di sela-sela tanjakan. Tempat ini dulunya berfungsi sebagai area peristirahat sejenak bagi orang-orang yang mendaki menuju kompleks perkantoran di atas bukit.
Dinding di sisi tangga seringkali dihiasi dengan lumut dan vegetasi tropis yang memberikan kesan kuno, namun struktur aslinya tetap menunjukkan presisi teknik sipil Belanda yang mampu bertahan melawan erosi tanah perbukitan Sibolga selama lebih dari satu abad.
#
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting
Tangga Seratus memiliki peran krusial dalam dinamika kekuasaan di Tapanuli. Di puncak tangga ini, dulunya berdiri kantor Assisten Resident yang mengawasi wilayah luas di pedalaman Sumatera Utara. Dari ketinggian ini, para penguasa kolonial dapat memantau aktivitas di Pelabuhan Sibolga yang menjadi pintu keluar utama bagi komoditas ekspor seperti karet, kopi, dan kemenyan.
Pada masa Perang Dunia II, fungsi Tangga Seratus mengalami pergeseran strategis. Ketika Jepang menduduki Sibolga pada tahun 1942, area perbukitan di sekitar tangga dialihfungsikan menjadi basis pertahanan militer. Jepang membangun gua-gua perlindungan (lubang Jepang) dan bunker di sekitar puncak bukit untuk memantau pergerakan kapal-kapal Sekutu di Samudera Hindia. Oleh karena itu, Tangga Seratus menjadi saksi transisi kekuasaan dari Belanda ke Jepang, hingga akhirnya menjadi bagian dari wilayah kedaulatan Republik Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan.
#
Tokoh dan Periode Terkait
Situs ini sangat erat kaitannya dengan periode Pax Nederlandica di Sumatera Utara. Tokoh-tokoh seperti para Residen Tapanuli dan Asisten Residen yang bertugas di Sibolga dipastikan menggunakan jalur ini sebagai akses harian mereka. Selain itu, dalam sejarah perjuangan lokal, kawasan ini menjadi area pengintaian bagi para pejuang kemerdekaan Sibolga yang memantau pergerakan tentara Belanda (NICA) saat terjadi Agresi Militer.
Keberadaan Tangga Seratus juga berkaitan dengan sejarah penyebaran agama di tanah Batak. Mengingat Sibolga adalah pintu masuk bagi para misionaris dan pedagang, tangga ini sering menjadi jalur yang dilewati oleh tokoh-tokoh lintas budaya yang ingin menemui pejabat administratif untuk urusan perizinan di wilayah Tapanuli.
#
Status Preservasi dan Upaya Restorasi
Saat ini, Tangga Seratus telah ditetapkan sebagai salah satu Situs Cagar Budaya oleh Pemerintah Kota Sibolga. Mengingat usianya yang sudah tua, beberapa upaya renovasi telah dilakukan untuk menjaga keamanan pengunjung tanpa menghilangkan nilai historisnya. Pemerintah daerah telah menambahkan lampu penerangan dekoratif dan pegangan tangga (handrail) di beberapa titik untuk memudahkan wisatawan.
Meskipun kantor-kantor kolonial di puncaknya sebagian besar sudah tidak utuh atau berganti fungsi menjadi bangunan lain, jalur tangganya sendiri tetap dipertahankan dalam bentuk aslinya. Tantangan utama dalam preservasi situs ini adalah faktor cuaca ekstrem dan kelembapan tinggi yang mempercepat pelapukan batu, sehingga pembersihan lumut dan penguatan struktur dilakukan secara berkala secara swadaya maupun melalui program dinas terkait.
#
Kepentingan Budaya dan Keunikan Fakta
Bagi masyarakat Sibolga, Tangga Seratus adalah simbol ketangguhan. Ada mitos lokal yang berkembang bahwa siapa pun yang mendaki tangga ini tanpa berhenti akan mendapatkan keberuntungan atau keinginannya terkabul—sebuah narasi rakyat yang menambah daya tarik magis situs ini.
Fakta unik lainnya adalah pandangan visual yang ditawarkan. Dari titik tertinggi Tangga Seratus, pengunjung dapat melihat panorama 180 derajat Kota Sibolga, termasuk garis pantai yang membentuk bulan sabit, Pulau Poncan, dan Pulau Sarudik. Ini menjadikan Tangga Seratus sebagai salah satu titik viewpoint tertua di Sumatera Utara yang menggabungkan nilai sejarah dengan keindahan lanskap alam.
Secara kultural, situs ini kini menjadi ruang publik tempat interaksi warga dari berbagai etnis di Sibolga—Batak, Pesisir, Minang, dan Tionghoa—bertemu. Tangga Seratus bukan lagi simbol pemisah antara penguasa kolonial dan rakyat jelata, melainkan jembatan sejarah yang menghubungkan masa lalu Sibolga yang kompleks dengan masa depan kota sebagai destinasi wisata sejarah yang unggul di Sumatera Utara.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Sibolga
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Sibolga
Pelajari lebih lanjut tentang Sibolga dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Sibolga