Situs Sejarah

Gereja Tua Sikka

di Sikka, Nusa Tenggara Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

#

Jejak Abadi Iman dan Budaya: Sejarah Lengkap Gereja Tua Sikka

Gereja Santo Ignatius Loyola, yang lebih dikenal sebagai Gereja Tua Sikka, berdiri sebagai monumen bisu yang merangkum pertemuan antara kolonialisme Portugis, tradisi lokal kerajaan Sikka, dan penyebaran agama Katolik di Flores, Nusa Tenggara Timur. Terletak di Desa Sikka, Kecamatan Laga, Kabupaten Sikka, gereja ini bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan sebuah mahakarya arsitektur yang menyimpan memori kolektif masyarakat Flores Timur selama lebih dari satu abad.

##

Asal-Usul dan Latar Belakang Sejarah

Akar sejarah Gereja Tua Sikka tidak dapat dipisahkan dari peran para misionaris Jesuit (Serikat Yesus) dan pengaruh sosiopolitik Kerajaan Sikka. Pembangunannya dimulai pada tahun 1893 dan selesai pada tahun 1899, menjadikannya salah satu gereja tertua di wilayah Flores. Namun, benih iman di Sikka sudah tertanam jauh sebelumnya, sejak kedatangan bangsa Portugis pada abad ke-16 yang membawa misi perdagangan cendana sekaligus evangelisasi.

Tokoh sentral di balik pendirian gereja ini adalah Pastor Antonius Jacobus van Baars, SJ, seorang arsitek sekaligus pastor Jesuit asal Belanda. Ia tidak bekerja sendirian; pembangunan gereja ini merupakan hasil kolaborasi erat dengan Raja Sikka saat itu, Raja Joseph Mbako II da Silva. Sang raja memiliki visi untuk membangun pusat peribadatan yang megah guna memperkuat identitas Katolik di kerajaannya sekaligus sebagai simbol persahabatan dengan bangsa Eropa.

##

Arsitektur: Perpaduan Barok Eropa dan Kearifan Lokal

Secara arsitektural, Gereja Tua Sikka menampilkan gaya Renaissance-Baroque yang diadaptasi dengan kondisi tropis Indonesia. Bangunan ini memiliki bentuk dasar salib (cruciform) dengan panjang sekitar 47 meter dan lebar 12 meter. Salah satu ciri khas yang paling mencolok dan menjadi keunikan dunia adalah motif dinding interiornya.

Berbeda dengan gereja-gereja Eropa yang menggunakan lukisan dinding (fresco) bertema alkitabiah klasik, dinding bagian dalam Gereja Tua Sikka dihiasi dengan lukisan motif tenun ikat khas Sikka. Motif-motif seperti Wuran (bulan) dan Mawarani (bintang kejora) dilukis secara teliti pada dinding kayu, menciptakan harmoni yang luar biasa antara teologi Kristiani dan estetika budaya lokal. Penggunaan motif tenun ini merupakan ide jenius dari Pastor van Baars untuk membuat umat merasa memiliki gereja tersebut secara emosional dan budaya.

Konstruksi bangunan didominasi oleh kayu jati berkualitas tinggi yang didatangkan khusus untuk menopang atap yang tinggi. Interiornya tidak menggunakan pilar tengah yang masif, sehingga memberikan kesan ruang yang luas dan megah. Jendela-jendela besar dengan bentuk busur runcing memungkinkan sirkulasi udara yang baik dan pencahayaan alami yang dramatis, yang sangat penting bagi kenyamanan jemaat di daerah pesisir yang panas.

##

Signifikansi Historis dan Peristiwa Penting

Gereja Tua Sikka merupakan saksi bisu masa transisi kekuasaan di Flores dari pengaruh Portugis ke Belanda (VOC hingga pemerintah Hindia Belanda). Meski dibangun pada masa kolonial Belanda, pengaruh budaya Portugis tetap kental terasa, terutama dalam nama keluarga (marga) masyarakat Sikka yang banyak menggunakan nama belakang Portugis seperti Da Silva, Da Lopez, dan Diaz.

Selama Perang Dunia II, gereja ini secara ajaib selamat dari kerusakan besar, meskipun wilayah sekitarnya mengalami guncangan akibat konflik. Keberadaan gereja ini juga menandai pergeseran struktur kepemimpinan di Sikka, di mana Gereja dan Kerajaan berjalan beriringan dalam mengatur tatanan sosial masyarakat. Hingga saat ini, kursi khusus yang dahulu digunakan oleh Raja Sikka saat mengikuti misa masih tersimpan dengan baik sebagai artefak sejarah.

##

Tokoh dan Warisan Kepemimpinan

Selain Pastor van Baars dan Raja Joseph Mbako II, nama Pastor Le Cocq d'Armandville, SJ juga sering dikaitkan dengan perkembangan iman di wilayah ini. Para misionaris ini tidak hanya membangun fisik bangunan, tetapi juga sistem pendidikan dan kesehatan yang menjadi fondasi kemajuan masyarakat Sikka di awal abad ke-20.

Gereja ini juga menjadi pusat dari tradisi religius yang unik, seperti prosesi Logu Se'u yang dilakukan pada hari raya besar. Tradisi ini melibatkan ritual berjalan di bawah usungan patung Yesus atau Maria, sebuah praktik yang menggabungkan devosi Katolik dengan penghormatan tradisional yang mendalam.

##

Pelestarian dan Upaya Restorasi

Sebagai situs cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, Gereja Tua Sikka terus mendapatkan perhatian khusus. Mengingat usianya yang telah melewati satu abad, ancaman utama bagi bangunan ini adalah pelapukan kayu akibat kelembapan udara laut dan serangan rayap.

Restorasi besar-besaran pernah dilakukan untuk memperkuat struktur bangunan tanpa menghilangkan keaslian materialnya. Pemerintah Provinsi NTT dan Keuskupan Maumere bekerja sama untuk memastikan bahwa setiap elemen, mulai dari mimbar kayu yang diukir halus hingga ubin lantai asli, tetap terjaga. Uniknya, meskipun telah berusia tua, gereja ini masih berfungsi aktif sebagai pusat paroki dan tempat ibadah rutin umat setempat, menjadikannya "living monument" (monumen yang hidup).

##

Makna Budaya dan Religi bagi Masyarakat

Bagi masyarakat Sikka, gereja ini adalah jantung dari identitas mereka. Ia adalah simbol kebanggaan yang menunjukkan bahwa masyarakat Flores mampu menyerap pengaruh luar (Eropa) tanpa harus kehilangan jati diri lokalnya. Motif tenun pada dinding gereja adalah pernyataan tegas bahwa Tuhan hadir dalam budaya mereka, bukan sebagai entitas asing.

Keberadaan Gereja Tua Sikka juga mendorong sektor pariwisata religi dan sejarah di Nusa Tenggara Timur. Wisatawan dari berbagai penjuru dunia datang bukan hanya untuk mengagumi arsitekturnya, tetapi untuk merasakan atmosfer spiritualitas yang kental dan mempelajari bagaimana rekonsiliasi budaya dapat diwujudkan dalam bentuk arsitektur permanen.

##

Kesimpulan

Gereja Tua Sikka adalah permata sejarah di pesisir selatan Flores. Melalui perpaduan kayu jati, motif tenun ikat, dan semangat pengabdian para pendahulunya, bangunan ini berhasil melampaui batas zaman. Sebagai situs sejarah, ia mengajarkan tentang ketahanan, adaptasi, dan penghormatan terhadap akar budaya. Menjaga Gereja Tua Sikka berarti menjaga memori tentang bagaimana iman dan budaya dapat berdansa dalam harmoni yang abadi di bumi Flobamora.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka
entrance fee
Sukarela/Donasi
opening hours
Setiap hari, 07:00 - 18:00

Tempat Menarik Lainnya di Sikka

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Sikka

Pelajari lebih lanjut tentang Sikka dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Sikka