Rumah Bolon Pematang Purba
di Simalungun, Sumatera Utara
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Menelusuri Jejak Kejayaan Dinasti Purba Pak-Pak: Sejarah dan Arsitektur Rumah Bolon Pematang Purba
Rumah Bolon Pematang Purba bukan sekadar bangunan kayu tua yang berdiri kokoh di dataran tinggi Kabupaten Simalungun; ia adalah manifesto fisik dari peradaban suku Simalungun yang telah bertahan melintasi abad. Terletak di Desa Pematang Purba, Kecamatan Purba, Provinsi Sumatera Utara, situs ini merupakan bekas istana atau pusat pemerintahan dari Kerajaan Purba, salah satu dari tujuh kerajaan (Raja Marpitu) yang pernah berdaulat di tanah Simalungun.
#
Asal-Usul Historis dan Pendirian Dinasti
Sejarah Rumah Bolon Pematang Purba berkelindan erat dengan silsilah Dinasti Purba Pak-Pak. Pembangunan kompleks istana ini diperkirakan dimulai pada masa pemerintahan Raja Pangultop-ultop, raja pertama dari dinasti ini, sekitar abad ke-16 atau awal abad ke-17. Raja Pangultop-ultop dikenal dalam tradisi lisan sebagai sosok yang memiliki kekuatan fisik luar biasa dan kebijaksanaan dalam menyatukan wilayah-wilayah di sekitarnya.
Pematang Purba dipilih sebagai pusat pemerintahan karena lokasinya yang strategis secara topografis, berada di punggung bukit yang memberikan perlindungan alami dari serangan musuh. Selama lebih dari 200 tahun, istana ini menjadi saksi bisu transisi kekuasaan 14 generasi Raja Purba, hingga puncaknya pada masa pemerintahan Raja Mogang Purba yang berakhir pada masa revolusi sosial di Sumatera Timur sekitar tahun 1946.
#
Keajaiban Arsitektur Simalungun Tanpa Paku
Salah satu aspek yang paling memukau dari Rumah Bolon Pematang Purba adalah integritas strukturalnya. Bangunan utama istana ini dibangun seluruhnya menggunakan material alam—kayu hutan berkualitas tinggi, bambu, dan atap ijuk—tanpa menggunakan satu buah paku besi pun. Seluruh sambungan kayu menggunakan teknik pasak kayu dan ikatan tali rotan yang sangat kuat, sebuah bukti kemajuan rekayasa sipil tradisional pada masa itu.
Rumah Bolon ini bertipe rumah panggung dengan tiang-tiang penyangga setinggi hampir dua meter. Tiang-tiang ini tidak ditanam ke dalam tanah, melainkan diletakkan di atas batu landasan (umpak) untuk mencegah pelapukan kayu akibat kelembapan tanah dan memberikan fleksibilitas saat terjadi gempa bumi.
Eksterior bangunan dihiasi dengan ornamen khas Simalungun yang disebut Pinar. Warna-warna dominan yang digunakan adalah merah (simbol keberanian), putih (simbol kesucian), dan hitam (simbol kewibawaan). Ornamen yang paling mencolok adalah kepala kerbau yang dipasang di puncak atap. Tanduk kerbau yang terpasang di sana bukanlah sekadar hiasan, melainkan tanduk asli dari kerbau-kerbau yang dikurbankan saat upacara pembangunan atau perayaan kerajaan, yang juga melambangkan kemakmuran dan perlindungan bagi penghuni istana.
#
Tata Ruang dan Signifikansi Fungsional
Interior Rumah Bolon dirancang dengan pembagian hierarkis yang ketat, mencerminkan struktur sosial kerajaan. Ruang utama yang luas tidak memiliki sekat permanen, namun dibagi secara fungsional berdasarkan adat. Terdapat area khusus untuk tempat tidur raja (Lopou), area untuk permaisuri dan selir, serta area untuk tamu agung.
Di bagian tengah ruangan terdapat Tataring atau perapian. Uniknya, perapian ini berada di dalam rumah kayu namun didesain sedemikian rupa dengan lapisan tanah liat tebal sehingga api tidak membakar lantai kayu. Asap dari perapian berfungsi sebagai pengawet alami bagi kayu dan atap ijuk, melindunginya dari serangan rayap dan pembusukan akibat jamur.
Selain bangunan utama (Rumah Bolon), di dalam kompleks ini juga terdapat bangunan pendukung seperti:
1. Lopou: Ruang pribadi raja dan tempat menerima tamu rahasia.
2. Bale: Tempat pengadilan adat dan pertemuan formal.
3. Suhu: Gudang penyimpanan senjata dan benda pusaka.
4. Jabu Bolon: Rumah bagi para istri raja.
5. Pattangan: Tempat menenun kain hiou bagi kaum perempuan kerajaan.
#
Peran Tokoh dan Peristiwa Penting
Nama Raja Mogang Purba tercatat sebagai raja terakhir yang menempati istana ini secara fungsional. Pada masa kolonial Belanda, Kerajaan Purba tetap mempertahankan otonomi internalnya melalui perjanjian Korte Verklaring. Namun, perubahan besar terjadi pasca-proklamasi kemerdekaan Indonesia. Revolusi sosial yang melanda wilayah Sumatera Timur pada tahun 1946 menyebabkan runtuhnya sistem kerajaan-kerajaan tradisional. Beruntung, masyarakat Pematang Purba memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga fisik bangunan ini sehingga tidak hancur terbakar seperti banyak istana lain di Sumatera Utara pada masa itu.
#
Makna Budaya dan Religi
Bagi masyarakat Simalungun modern, Rumah Bolon Pematang Purba adalah "Sumur Warisan" yang tidak pernah kering. Situs ini menjadi pusat identitas budaya. Secara religius, sebelum masuknya agama samawi, bangunan ini dipenuhi dengan simbol-simbol kepercayaan kuno yang menghormati leluhur dan roh pelindung alam. Struktur bangunan yang menghadap ke arah tertentu dan penempatan ornamen hewan seperti cecak dan kerbau dipercaya sebagai penolak bala dan pembawa keberuntungan bagi seluruh rakyat kerajaan.
#
Upaya Pelestarian dan Status Saat Ini
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan Rumah Bolon Pematang Purba sebagai Situs Cagar Budaya. Restoran dan pemugaran telah dilakukan beberapa kali untuk mengganti atap ijuk yang melapuk dan memperkuat tiang-tiang yang mulai termakan usia. Tantangan terbesar dalam pelestarian situs ini adalah ketersediaan material kayu hutan yang serupa dengan aslinya serta tenaga ahli yang memahami teknik ikat rotan kuno.
Saat ini, situs ini dikelola sebagai objek wisata sejarah. Pengunjung yang datang tidak hanya disuguhi pemandangan bangunan tua, tetapi juga suasana hening yang membawa mereka kembali ke masa kejayaan monarki Simalungun. Keunikan fakta bahwa kompleks ini tetap berdiri di lokasi aslinya (in situ) selama berabad-abad menjadikannya salah satu contoh arsitektur vernakular terbaik di Asia Tenggara.
#
Penutup Fakta Unik
Satu fakta unik yang jarang diketahui adalah adanya lubang-lubang kecil di lantai kayu di area tertentu yang disebut telaga. Lubang ini bukan karena kerusakan, melainkan sengaja dibuat sebagai saluran komunikasi atau untuk membuang sisa sirih. Selain itu, jumlah anak tangga menuju Rumah Bolon selalu berjumlah ganjil, sesuai dengan kepercayaan masyarakat setempat bahwa angka ganjil melambangkan keberuntungan dan pertumbuhan yang belum selesai, berbeda dengan angka genap yang dianggap statis atau mati.
Melalui keberadaan Rumah Bolon Pematang Purba, kita belajar bahwa keagungan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari luas wilayah kekuasaannya, tetapi dari seberapa kuat mereka memegang teguh nilai-nilai luhur dan kearifan lokal yang terpatri dalam setiap sendi bangunannya.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Simalungun
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Simalungun
Pelajari lebih lanjut tentang Simalungun dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Simalungun