Situs Sejarah

Pulau Doom

di Sorong, Papua Barat Daya

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menelusuri Jejak Sejarah Pulau Doom: Permata Kolonial di Jantung Papua Barat Daya

Pulau Doom berdiri sebagai sebuah anomali sejarah di tengah gugusan pulau di perairan Sorong, Papua Barat Daya. Meskipun luasnya hanya sekitar 5 kilometer persegi, pulau kecil ini menyimpan narasi besar mengenai transisi kekuasaan, modernitas awal di tanah Papua, dan sisa-sisa kemegahan kolonial yang hampir mustahil ditemukan di tempat lain di wilayah timur Indonesia. Dikenal sebagai "Kota Bintang" atau "Kota Lampu" pada masa kejayaannya, Pulau Doom adalah saksi bisu transformasi dari pusat pemerintahan Belanda hingga menjadi basis pertahanan krusial selama Perang Dunia II.

#

Asal-Usul dan Pembentukan Pusat Pemerintahan

Nama "Doom" berasal dari bahasa setempat suku Malamoi (suku asli Sorong) yang berarti "pulau yang ditumbuhi banyak pohon buah". Sebelum kedatangan bangsa Eropa, pulau ini merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore. Namun, signifikansi historis Doom mulai memuncak pada awal abad ke-20, tepatnya sekitar tahun 1906, ketika pemerintah Hindia Belanda memilihnya sebagai pusat pemerintahan (bestuur) untuk wilayah Sorong dan sekitarnya.

Pemilihan Doom bukan tanpa alasan. Secara geografis, letaknya sangat strategis karena terlindung dari ombak besar Samudra Pasifik oleh daratan utama Papua dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Hal ini menjadikan perairannya tenang, sangat ideal untuk pelabuhan alami. Sejak tahun 1935, Belanda secara resmi menjadikan Doom sebagai ibu kota administratif Onderafdeling (sub-divisi) Sorong, menjadikannya pusat peradaban modern pertama di wilayah kepala burung Papua, jauh sebelum Kota Sorong di daratan utama berkembang.

#

Arsitektur dan Tata Kota: "Nederland di Timur"

Salah satu aspek yang paling mencolok dari Pulau Doom adalah gaya arsitekturnya. Belanda merancang pulau ini dengan konsep tata kota Eropa yang sangat teratur. Jalan-jalan di pulau ini dibuat lurus dan dilapisi aspal—sebuah kemewahan yang sangat jarang ditemukan di Papua pada awal 1900-an.

Bangunan-bangunan di Pulau Doom mencerminkan gaya Indische Empire yang disesuaikan dengan iklim tropis. Ciri khasnya meliputi plafon yang tinggi, jendela besar untuk sirkulasi udara (krepyak), dan dinding beton yang tebal. Salah satu struktur paling ikonik adalah gedung bekas kantor residen dan rumah dinas pejabat Belanda yang kini masih berdiri, meski sebagian telah beralih fungsi. Uniknya, di pulau ini pernah berdiri fasilitas yang sangat maju untuk zamannya, seperti pembangkit listrik tenaga diesel yang membuat pulau ini terang benderang di malam hari, sehingga pelaut-pelaut masa lalu menyebutnya sebagai "Pulau Bintang".

#

Peran Strategis dalam Perang Dunia II

Kejayaan kolonial Belanda di Pulau Doom sempat terhenti ketika pecah Perang Pasifik. Pada tahun 1942, tentara Kekaisaran Jepang berhasil merebut pulau ini dari tangan Belanda. Di bawah pendudukan Jepang, fungsi Doom berubah drastis dari pusat administratif menjadi benteng pertahanan militer yang sangat kuat.

Jepang menyadari posisi strategis Doom untuk memantau pergerakan sekutu di Pasifik. Mereka membangun jaringan bunker bawah tanah dan koridor pertahanan yang saling terhubung di bawah bukit-bukit kecil pulau. Beberapa bunker ini masih dapat ditemukan hingga kini, dengan konstruksi beton yang sangat kokoh. Jepang juga menempatkan meriam-meriam pantai untuk mengamankan jalur laut menuju Halmahera dan Filipina. Peristiwa serangan udara sekutu yang gencar di wilayah Sorong menjadikan Doom salah satu titik paling panas dalam palagan Perang Dunia II di Papua.

#

Tokoh dan Periode Penting

Selain para pejabat Controleur Belanda, Pulau Doom juga terkait erat dengan tokoh-tokoh lokal dan pergerakan nasional. Setelah Jepang menyerah dan Belanda kembali melalui NICA, Doom menjadi pusat penting dalam upaya Belanda mempertahankan Papua melalui pembentukan negara-negara boneka. Namun, sejarah juga mencatat bahwa melalui pelabuhan Doom-lah, arus informasi mengenai kemerdekaan Indonesia mulai merembes masuk ke kalangan elit terpelajar Papua.

Pada periode 1950-an, sebelum integrasi Papua ke Indonesia, Doom masih berfungsi sebagai pusat pendidikan dan kesehatan. Banyak dokter dan guru dari berbagai daerah di Indonesia (seperti Maluku dan Sulawesi) yang ditempatkan di sini, menciptakan struktur masyarakat yang sangat kosmopolitan dan multikultural sejak dini.

#

Signifikansi Budaya dan Religi

Secara budaya, Pulau Doom adalah kuali peleburan (melting pot). Kehadiran Gereja Tua peninggalan Belanda dan Masjid Jami yang telah berdiri puluhan tahun menunjukkan harmoni religi yang kuat. Masyarakat Doom dikenal memiliki dialek dan tradisi yang unik, perpaduan antara budaya asli Moi dengan pengaruh migran yang dibawa oleh aktivitas perdagangan kolonial.

Setiap sudut pulau ini memancarkan aura nostalgia. Bagi masyarakat Sorong, Doom bukan sekadar tempat tinggal, melainkan simbol identitas sejarah. Ada kebanggaan kolektif bahwa peradaban modern, sistem sekolah formal, dan birokrasi pemerintahan di Papua Barat Daya berakar dari pulau kecil ini.

#

Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Saat ini, Pulau Doom dikategorikan sebagai Situs Sejarah yang dilindungi, meskipun tantangan pelestariannya cukup besar. Banyak bangunan peninggalan Belanda yang kini telah dihuni oleh penduduk setempat atau mengalami kerusakan akibat faktor usia dan cuaca laut yang korosif. Beberapa upaya restorasi telah dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mempertahankan fasad asli bangunan-bangunan utama.

Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya mulai melirik potensi Doom sebagai destinasi wisata sejarah (heritage tourism). Penataan jalan lingkar pulau dan perawatan bunker-bunker Jepang menjadi prioritas agar nilai sejarahnya tidak hilang ditelan pemukiman padat. Upaya ini penting untuk memastikan bahwa narasi mengenai "Kota Bintang" tetap hidup bagi generasi mendatang.

#

Fakta Unik Pulau Doom

Ada beberapa fakta unik yang membedakan Doom dari situs sejarah lainnya di Indonesia:

1. Transportasi Tanpa Mobil: Hingga saat ini, hampir tidak ada mobil di Pulau Doom. Transportasi utama adalah becak dan motor, yang memberikan suasana tenang layaknya kota tua di masa lalu.

2. Penjara Bawah Tanah: Terdapat sisa-sisa sel penjara peninggalan Belanda yang konon digunakan untuk menahan tawanan politik dan kriminal sebelum dipindahkan ke Manokwari atau Makassar.

3. Sistem Drainase Kolonial: Meskipun berada di pulau kecil, sistem drainase yang dibangun Belanda terbukti sangat efektif mencegah banjir, sebuah bukti keunggulan rekayasa sipil masa itu.

Sebagai kesimpulan, Pulau Doom adalah kapsul waktu. Di sini, sejarah kolonialisme, militerisme Jepang, dan perjuangan integrasi Papua berkumpul dalam satu ruang yang sempit namun bermakna dalam. Memahami Pulau Doom bukan hanya tentang melihat bangunan tua, tetapi tentang menghargai titik awal modernitas di ufuk timur nusantara.

📋 Informasi Kunjungan

address
Distrik Sorong Kepulauan, Kota Sorong (Akses via kapal rakyat dari Pelabuhan Rakyat)
entrance fee
Biaya penyeberangan Rp 5.000 - Rp 10.000
opening hours
24 Jam

Tempat Menarik Lainnya di Sorong

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Sorong

Pelajari lebih lanjut tentang Sorong dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Sorong