Keraton Surakarta Hadiningrat
di Surakarta, Jawa Tengah
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-Usul Historis dan Perpindahan Takhta
Berdirinya Keraton Surakarta Hadiningrat erat kaitannya dengan peristiwa tragis Geger Pecinan pada tahun 1743. Saat itu, Keraton Kartasura hancur akibat pemberontakan, yang membuat Sunan Pakubuwana II merasa bahwa istana tersebut telah kehilangan "wahyu" atau kesuciannya. Berdasarkan tradisi Jawa, istana yang telah diduduki musuh harus ditinggalkan.
Pencarian lokasi baru dilakukan dengan pertimbangan spiritual dan geografis yang matang. Pilihannya jatuh pada Desa Sala, sebuah wilayah rawa di dekat aliran Sungai Bengawan Solo. Pada tanggal 17 Februari 1745 (Rabu Pahing, 14 Sura 1670 dalam penanggalan Jawa), dilakukan prosesi boyong kedhaton atau pemindahan istana dari Kartasura ke Surakarta. Nama "Surakarta Hadiningrat" sendiri memiliki arti simbolis: Sura (keberanian), Karta (kemakmuran), dan Hadiningrat (keindahan dunia).
Arsitektur: Perpaduan Kosmologi Jawa dan Pengaruh Eropa
Secara arsitektural, Keraton Surakarta merupakan mahakarya yang menggabungkan filosofi Jawa-Hindu dengan sentuhan neoklasik Eropa. Tata ruangnya mengikuti garis imajiner utara-selatan yang menghubungkan Gunung Merapi dan Laut Selatan, mencerminkan keseimbangan makrokosmos dan mikrokosmos.
Struktur utama keraton terdiri dari beberapa zona penting:
1. Gladag dan Pangurakan: Gerbang utama yang melambangkan pelepasan nafsu duniawi.
2. Alun-Alun Lor: Lapangan luas dengan dua pohon beringin kurung (Dewadaru dan Jayadaru) di tengahnya, tempat rakyat berkumpul dan upacara besar dilaksanakan.
3. Sasana Sumewa dan Pagelaran: Tempat para menteri dan pejabat menghadap raja.
4. Kori Kamandungan dan Pelataran Kedhaton: Area inti yang berlantai pasir hitam dari Pantai Parangtritis. Pasir ini diyakini sebagai pengingat bagi manusia agar selalu rendah hati.
5. Panggung Sanggabuwana: Menara ikonik setinggi 30 meter yang dibangun oleh Sri Susuhunan Pakubuwana III pada tahun 1782. Menara ini berfungsi sebagai tempat meditasi raja dan memantau posisi hilal, serta secara strategis digunakan untuk memata-matai gerakan Belanda di Benteng Vastenburg.
Unsur Eropa terlihat pada penggunaan pilar-pilar bergaya Korintia, patung-patung marmer bergaya Yunani, dan ornamen lampu gantung kristal yang banyak didatangkan dari Belanda dan Prancis, terutama selama masa pemerintahan Pakubuwana X yang dikenal sebagai masa keemasan ekonomi keraton.
Signifikansi Sejarah dan Tokoh Kunci
Peristiwa paling menentukan dalam sejarah keraton adalah Perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Perjanjian ini membagi wilayah Mataram menjadi dua: Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Sejak saat itu, Keraton Surakarta berperan sebagai pusat pengembangan kebudayaan yang lebih halus (alus) dibandingkan dengan gaya Yogyakarta yang cenderung lebih maskulin atau gagah.
Tokoh paling menonjol dalam sejarah keraton adalah Sri Susuhunan Pakubuwana X (bertakhta 1893–1939). Di bawah kepemimpinannya, Surakarta mengalami modernisasi pesat. Ia membangun Stasiun Balapan, Pasar Gede Hardjonagoro, dan Stadion Sriwedari. Beliau juga dikenal sebagai tokoh pergerakan nasional yang secara halus mendukung organisasi seperti Budi Utomo dan Sarekat Islam. Karena jasanya, beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia.
Keunikan Budaya dan Nilai Religiusitas
Keraton Surakarta bukan hanya kediaman raja, tetapi juga pusat spiritualitas Islam-Jawa. Salah satu fakta unik adalah peran keraton dalam menentukan kalender Jawa yang menggabungkan sistem penanggalan Hijriah dan Saka. Setiap tahun, keraton menyelenggarakan upacara Sekaten untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan membunyikan Gamelan Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari.
Puncak dari tradisi keraton adalah Kirab Pusaka 1 Sura. Dalam ritual ini, kerbau bule keturunan Kyai Slamet (hewan kesayangan Pakubuwana II) dikirab keliling kota sebagai pengawal pusaka-pusaka keraton. Ribuan orang dari berbagai daerah memadati jalanan untuk mencari berkah, menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kultural keraton terhadap masyarakat luas hingga saat ini.
Upaya Pelestarian dan Status Saat Ini
Pasca kemerdekaan Indonesia, Keraton Surakarta secara sukarela bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui Maklumat 1 September 1945. Meskipun kekuasaan politiknya telah beralih ke pemerintah sipil, peran budayanya tetap mutlak.
Status pelestarian keraton seringkali menghadapi tantangan besar. Pada tahun 1985, kebakaran hebat melanda bangunan inti keraton (Sasana Sewaka), yang menghancurkan banyak koleksi berharga. Namun, melalui upaya restorasi besar-besaran yang didukung oleh pemerintah dan bantuan internasional, bangunan tersebut berhasil dibangun kembali sesuai bentuk aslinya.
Saat ini, sebagian area keraton difungsikan sebagai museum yang menyimpan koleksi kereta kencana, senjata tradisional (keris), wayang kulit, dan naskah-naskah kuno. Keraton Surakarta Hadiningrat telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional. Meskipun dinamika internal keluarga kerajaan terkadang muncul, komitmen untuk menjaga tradisi seperti tari Bedhaya Ketawang—tarian sakral yang hanya dipentaskan setahun sekali saat peringatan naik takhta raja—tetap dipertahankan dengan sangat ketat sebagai bentuk dedikasi terhadap leluhur.
Dengan sejarahnya yang membentang lebih dari dua setengah abad, Keraton Surakarta Hadiningrat tetap berdiri sebagai saksi bisu kejayaan Nusantara, jembatan antara masa lalu yang agung dan masa depan Indonesia yang modern.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Surakarta
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Surakarta
Pelajari lebih lanjut tentang Surakarta dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Surakarta