Situs Sejarah

Masjid Agung Manonjaya

di Tasikmalaya, Jawa Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Agung Peradaban Sukapura: Sejarah dan Arsitektur Masjid Agung Manonjaya

Masjid Agung Manonjaya bukan sekadar tempat ibadah bagi masyarakat Tasikmalaya; ia adalah monumen hidup yang merekam kejayaan Kadipaten Sukapura di masa lampau. Berdiri kokoh di Desa Manonjaya, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, masjid ini menjadi saksi bisu perpindahan pusat pemerintahan serta transformasi sosial-budaya di Jawa Barat pada abad ke-19. Sebagai salah satu masjid tertua di Indonesia yang masih mempertahankan keaslian strukturnya, Masjid Agung Manonjaya telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya nasional yang memiliki nilai historis dan arsitektural yang tak ternilai.

#

Asal-Usul dan Periode Pendirian

Sejarah Masjid Agung Manonjaya berkelindan erat dengan sejarah Kadipaten Sukapura. Masjid ini dibangun pada tahun 1834, bertepatan dengan masa pemindahan ibu kota Kadipaten Sukapura dari Pasirpanjang ke Manonjaya. Pemindahan ini dilakukan di bawah kepemimpinan Bupati Raden Tumenggung Danuningrat (1832–1844). Nama "Manonjaya" sendiri diberikan untuk menggantikan nama daerah sebelumnya, yakni Harjawinangun, sebagai simbol harapan akan kejayaan yang terpancar.

Pembangunan masjid ini merupakan bagian dari konsep tata kota tradisional Jawa yang dikenal dengan istilah Mancapat. Dalam konsep ini, pusat kekuasaan (Alun-alun) dikelilingi oleh empat elemen utama: Pendopo (pusat pemerintahan) di sebelah utara, Masjid (pusat religi) di sebelah barat, serta pasar dan penjara di sisi lainnya. Pembangunan skala besar ini selesai sepenuhnya pada tahun 1837, menjadikannya sebagai landmark paling megah di wilayah Priangan Timur pada masanya.

#

Arsitektur: Perpaduan Tiga Budaya

Secara arsitektural, Masjid Agung Manonjaya adalah mahakarya yang memadukan elemen tradisional Jawa/Sunda, pengaruh Islam, dan sentuhan kolonial Neoklasik Eropa. Masjid ini berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 1.250 meter persegi dengan struktur utama yang didominasi oleh kayu jati berkualitas tinggi dan pasangan bata.

Ciri khas yang paling menonjol adalah atap tumpang tiga yang melambangkan filosofi Islam: Iman, Islam, dan Ihsan. Bentuk atap tajug ini merupakan warisan arsitektur masjid-masjid kuno di Nusantara, serupa dengan Masjid Agung Demak. Namun, yang membedakannya adalah keberadaan dua menara (minaret) di sisi depan masjid yang memiliki sentuhan arsitektur Eropa. Menara ini memiliki lubang-lubang jendela melengkung dan ornamen profil yang tegas, mencerminkan pengaruh gaya bangunan Belanda yang populer di abad ke-19.

Bagian serambi masjid (pendopo) didukung oleh puluhan tiang penyangga kayu jati yang besar dan kokoh. Interior masjid dihiasi dengan ukiran motif bunga dan sulur-suluran yang halus, mencerminkan estetika lokal Sunda. Salah satu elemen unik adalah keberadaan "Maksurah", yaitu tempat khusus yang dipagari untuk bupati atau pejabat tinggi saat melaksanakan salat, guna menjamin keamanan mereka di masa pergolakan politik kolonial.

#

Tokoh Penting dan Peristiwa Bersejarah

Masjid ini sangat identik dengan trah Wiradadaha, dinasti yang memerintah Kadipaten Sukapura selama berabad-abad. Raden Tumenggung Danuningrat adalah tokoh kunci yang memprakarsai pembangunannya. Selain itu, pada masa pemerintahan Bupati Raden Tumenggung Wirahadiningrat (1875–1901), masjid ini mengalami renovasi besar pertama untuk memperkuat struktur dan memperindah dekorasi bangunan tanpa mengubah bentuk aslinya.

Dalam catatan kolonial, Masjid Agung Manonjaya sering disebut sebagai salah satu masjid paling indah di Priangan. Keberadaannya menjadi simbol legitimasi religius bagi para menak (bangsawan) Sukapura dalam menjalankan roda pemerintahan. Masjid ini juga menjadi titik kumpul para ulama besar di tanah Sunda untuk mendiskusikan syiar Islam serta strategi menghadapi tekanan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

#

Signifikansi Budaya dan Keagamaan

Bagi masyarakat Tasikmalaya, Masjid Agung Manonjaya adalah pusat spiritualitas. Selama ratusan tahun, masjid ini menjadi tempat pelaksanaan upacara-upacara besar Islam seperti Idulfitri, Iduladha, dan Maulid Nabi. Uniknya, tradisi lokal seperti "Ngabungbang" atau ritual pembersihan diri di lingkungan masjid masih sering dilakukan oleh sebagian masyarakat sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.

Keberadaan makam para Bupati Sukapura yang terletak tidak jauh dari kompleks masjid menambah kesakralan situs ini. Masjid ini bukan hanya tempat bersujud, melainkan simbol identitas kolektif masyarakat Tasikmalaya yang religius namun tetap memegang teguh adat istiadat.

#

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Sebagai bangunan bersejarah yang telah berusia hampir dua abad, Masjid Agung Manonjaya tidak luput dari ancaman kerusakan alam. Ujian terberat terjadi pada 2 September 2009, ketika gempa bumi berkekuatan 7,3 SR mengguncang Tasikmalaya. Bencana tersebut mengakibatkan kerusakan parah; sebagian atap runtuh, dinding retak hebat, dan beberapa tiang penyangga miring.

Pemerintah melalui Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Barat segera melakukan langkah penyelamatan. Proses restorasi dilakukan dengan sangat hati-hati menggunakan prinsip "Anastilosis", yaitu mengembalikan bangunan ke bentuk aslinya dengan menggunakan material asli sebanyak mungkin. Kayu jati yang rusak diganti dengan kayu jati baru dengan kualitas yang setara, dan teknik penyambungan kayu tetap mempertahankan cara tradisional tanpa paku besi berlebih.

Kini, Masjid Agung Manonjaya telah kembali berdiri dengan megah. Statusnya sebagai Cagar Budaya berdasarkan Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 menjamin terlindunginya situs ini dari modernisasi yang dapat merusak nilai historisnya. Masjid ini tetap difungsikan secara penuh sebagai tempat ibadah, sekaligus menjadi destinasi wisata religi dan sejarah bagi wisatawan yang ingin mempelajari akar peradaban di Jawa Barat.

#

Fakta Unik dan Penutup

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa Masjid Agung Manonjaya memiliki sistem akustik alami yang sangat baik. Ruang utama yang luas dengan plafon tinggi dari kayu memungkinkan suara khatib terdengar jelas ke seluruh penjuru ruangan meskipun tanpa bantuan pengeras suara elektronik pada zaman dahulu. Selain itu, jumlah tiang penyangga di serambi masjid memiliki hitungan filosofis yang berkaitan dengan jumlah rukun salat dan hari dalam kalender Islam.

Masjid Agung Manonjaya adalah bukti nyata bahwa arsitektur dapat menjadi jembatan antara manusia, Tuhan, dan sejarah. Di bawah naungan atap tajugnya, tersimpan memori tentang kejayaan sebuah kadipaten, keteguhan iman para ulama, dan ketangguhan masyarakat Sunda dalam menjaga warisan leluhurnya agar tetap lestari di tengah arus zaman.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Masjid Agung, Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, 24 jam untuk ibadah

Tempat Menarik Lainnya di Tasikmalaya

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Tasikmalaya

Pelajari lebih lanjut tentang Tasikmalaya dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Tasikmalaya