Tangga Raja
di Tulang Bawang, Lampung
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Menelusuri Jejak Kejayaan Tangga Raja: Pintu Gerbang Peradaban Tulang Bawang
Tangga Raja bukan sekadar struktur fisik berupa anak tangga yang menjorok ke perairan, melainkan sebuah monumen hidup yang merekam denyut nadi kekuasaan, perdagangan, dan diplomasi di tanah Lampung. Terletak di tepi Way Tulang Bawang, tepatnya di Kota Menggala, Kabupaten Tulang Bawang, Situs Tangga Raja merupakan saksi bisu masa keemasan Kerajaan Tulang Bawang hingga era kolonialisme Belanda. Situs ini menjadi representasi penting dari identitas masyarakat Pepadun dan keterhubungan Lampung dengan jaringan maritim Nusantara.
#
Asal-Usul Historis dan Periode Pembentukan
Asal-usul Tangga Raja berakar kuat pada masa keberadaan Kerajaan Tulang Bawang, salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang jejaknya telah dicatat oleh peziarah Tiongkok, I-Tsing, pada abad ke-7 dengan sebutan To-Lang P'o-Huang. Namun, struktur Tangga Raja yang kita kenal hari ini lebih erat kaitannya dengan periode abad ke-17 hingga ke-19, saat Menggala menjadi pusat pemerintahan dan pelabuhan sungai yang sangat sibuk.
Nama "Tangga Raja" secara harfiah berarti "Tangga Sang Raja". Secara historis, tempat ini merupakan dermaga khusus yang digunakan sebagai pintu masuk utama bagi para raja, bangsawan, dan tamu agung yang berkunjung ke wilayah Tulang Bawang. Wilayah ini dahulu merupakan titik pertemuan strategis antara pedalaman Lampung yang kaya akan lada dengan jalur perdagangan internasional melalui Laut Jawa.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi
Secara arsitektural, Tangga Raja memiliki karakteristik yang unik karena memadukan fungsionalitas dermaga sungai dengan estetika simbolis kekuasaan. Struktur aslinya dibangun menggunakan material lokal yang tahan lama, seperti kayu unglen (kayu besi) dan batu kali. Anak-anak tangga disusun sedemikian rupa untuk menyesuaikan dengan fluktuasi permukaan air Way Tulang Bawang yang seringkali meluap saat musim penghujan dan menyusut drastis saat kemarau.
Desain Tangga Raja mencerminkan kearifan lokal dalam menghadapi ekosistem sungai. Tangga ini memiliki lebar yang cukup untuk menampung rombongan besar dan protokol penyambutan adat. Pada masa lampau, di sekitar tangga ini terdapat ornamen-ornamen kayu ukir khas Lampung yang melambangkan status sosial dan kebesaran kerajaan. Meskipun sebagian besar struktur kayu asli telah mengalami pelapukan, pola dasar peletakan batu dan tata letak situs ini tetap terjaga, menunjukkan presisi teknik sipil tradisional masyarakat Menggala dalam mengelola tepian sungai.
#
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting
Tangga Raja memegang peranan vital sebagai "Gerbang Diplomatik". Salah satu peristiwa bersejarah yang paling menonjol adalah penggunaan situs ini sebagai tempat penyambutan para penguasa dari Kesultanan Banten dan utusan-utusan dari Palembang. Mengingat lada merupakan komoditas emas pada masa itu, Tangga Raja menjadi titik pengawasan distribusi hasil bumi sebelum dibawa menuju pelabuhan besar.
Pada masa kolonial Belanda, Tangga Raja tetap mempertahankan fungsinya. Pemerintah Hindia Belanda menjadikan Menggala sebagai Afdeeling (wilayah administratif) penting. Para pejabat Belanda yang datang dari Batavia (Jakarta) akan turun di Tangga Raja sebelum menuju kantor residen. Keberadaan situs ini membuktikan bahwa Way Tulang Bawang adalah jalur transportasi utama (highway) sebelum pembangunan jalan darat lintas Sumatera dilakukan secara masif.
#
Tokoh dan Periode Terkait
Situs ini berkaitan erat dengan tokoh-tokoh pemimpin adat Tulang Bawang, yang dikenal dengan sebutan Penyimbang. Para Penyimbang dari empat marga besar (Margo Pak) secara berkala menggunakan tempat ini dalam upacara adat Begawi. Selain itu, nama-nama seperti Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten tercatat memiliki hubungan diplomatik yang kuat dengan wilayah ini, di mana utusannya seringkali berlabuh di Tangga Raja untuk memperkuat aliansi perdagangan.
Pada masa perjuangan kemerdekaan, wilayah sekitar Tangga Raja juga menjadi titik mobilisasi pejuang lokal dalam memantau pergerakan kapal-kapal patroli Belanda yang menyusuri Way Tulang Bawang. Hal ini menambah dimensi kepahlawanan pada situs yang awalnya bersifat seremonial ini.
#
Status Pelestarian dan Upaya Restorasi
Saat ini, Tangga Raja telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya oleh Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang. Kesadaran akan pentingnya nilai sejarah ini mendorong dilakukannya beberapa kali upaya restorasi. Pemerintah daerah telah membangun infrastruktur pendukung di sekitar situs, seperti penataan taman, pembangunan dermaga modern yang berdampingan dengan situs asli, serta pemasangan papan informasi sejarah.
Namun, tantangan pelestarian tetap ada, terutama terkait erosi sungai dan pendangkalan Way Tulang Bawang. Upaya restorasi terbaru difokuskan pada penguatan fondasi tangga agar tidak tergerus arus sungai, tanpa menghilangkan fasad asli yang menjadi ciri khasnya. Masyarakat lokal juga dilibatkan dalam menjaga kebersihan area situs sebagai bagian dari kampanye wisata sejarah.
#
Kepentingan Budaya dan Religi
Bagi masyarakat Menggala dan Lampung pada umumnya, Tangga Raja memiliki nilai sakral dalam konteks adat. Situs ini sering menjadi bagian dari prosesi adat pernikahan atau pemberian gelar (Adok). Calon pengantin atau tokoh yang akan diberi gelar terkadang melakukan ritual simbolis di tepi sungai ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan alam.
Secara religi, kedekatan Tangga Raja dengan Masjid Kibang (salah satu masjid tertua di Menggala) menunjukkan integrasi antara kekuasaan politik, adat, dan agama. Para pemuka agama yang menyebarkan Islam di pedalaman Lampung seringkali memulai perjalanannya dari titik ini, menjadikan Tangga Raja sebagai titik awal penyebaran nilai-nilai spiritual baru di tanah Tulang Bawang.
#
Fakta Unik: "Sumur Tua" dan Mitos Sungai
Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah keberadaan titik-titik mata air atau "sumur" di sekitar Tangga Raja yang diyakini masyarakat memiliki khasiat tertentu jika digunakan untuk membasuh muka sebelum acara adat dimulai. Selain itu, terdapat kepercayaan lokal bahwa Way Tulang Bawang dijaga oleh sosok mitologi "Buaya Putih", dan Tangga Raja dianggap sebagai area yang paling terlindungi karena nilai sejarah dan penghormatan manusia terhadap situs tersebut.
#
Kesimpulan
Tangga Raja bukan sekadar tumpukan batu dan semen di pinggir sungai. Ia adalah episentrum sejarah yang menghubungkan masa lalu kejayaan maritim Tulang Bawang dengan masa kini. Sebagai simbol kedaulatan dan keterbukaan, Tangga Raja terus berdiri menantang arus waktu, mengingatkan setiap generasi akan kebesaran nenek moyang mereka yang mampu membangun peradaban besar di tepian sungai yang megah. Melalui upaya pelestarian yang berkelanjutan, Tangga Raja diharapkan tetap menjadi ikon kebanggaan Provinsi Lampung dan destinasi edukasi sejarah yang tak ternilai bagi bangsa Indonesia.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Tulang Bawang
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Tulang Bawang
Pelajari lebih lanjut tentang Tulang Bawang dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Tulang Bawang