Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
di Yogyakarta, Yogyakarta
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-Usul Historiografi dan Perjanjian Giyanti
Sejarah berdirinya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tidak dapat dilepaskan dari peristiwa politik besar yang memecah Kerajaan Mataram Islam. Ketegangan internal di dalam istana Surakarta, yang diperburuk oleh campur tangan VOC, memicu perang saudara yang dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi melawan kakaknya, Sunan Pakubuwono II, dan kemudian Pakubuwono III.
Puncak dari konflik ini adalah ditandatanganinya Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Perjanjian ini secara resmi membagi Mataram menjadi dua wilayah: Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta. Pangeran Mangkubumi kemudian naik takhta dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Beliau segera mencari lokasi strategis untuk membangun ibu kota baru. Pilihan jatuh pada sebuah kawasan bernama Hutan Pabringan, sebuah lokasi yang secara historis pernah menjadi tempat peristirahat jenazah raja-raja Mataram sebelum dibawa ke Imogiri. Konstruksi keraton dimulai pada tahun 1755 dan Sultan mulai menempati istana tersebut pada 7 Oktober 1756.
Arsitektur: Manifestasi Kosmologi dan Filosofi Jawa
Secara arsitektural, Keraton Yogyakarta dianggap sebagai salah satu contoh terbaik arsitektur istana Jawa. Perancang utamanya adalah Sri Sultan Hamengku Buwono I sendiri, yang dikenal memiliki keahlian tinggi dalam bidang arsitektur (dikenal dengan sebutan Arsitek Mataram).
Struktur keraton membentang dari utara ke selatan dengan pola linear yang sangat simbolis. Tata ruangnya mengikuti konsep Sumbu Filosofi yang menghubungkan Gunung Merapi di utara, Keraton di tengah, dan Laut Selatan di ujung selatan. Garis imajiner ini melambangkan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan (Hablum Minallah), manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam.
Kompleks istana dibagi menjadi beberapa area utama yang dipisahkan oleh gerbang besar (Regol) dan halaman luas (Patanahan). Bagian-bagian penting tersebut meliputi:
1. Alun-alun Utara: Ruang publik luas yang melambangkan keterbukaan raja kepada rakyat.
2. Siti Hinggil Ler: Tempat upacara resmi kerajaan, yang secara harfiah berarti "Tanah Tinggi".
3. Bangsal Kencana: Paviliun utama yang berfungsi sebagai tempat singgasana raja dan pusat kegiatan upacara sakral. Bangsal ini memiliki detail ukiran yang rumit dengan dominasi warna emas dan merah, mencerminkan kejayaan.
4. Keputren: Wilayah khusus bagi putri-putri raja.
5. Alun-alun Kidul: Wilayah belakang yang lebih bersifat privat dan penuh dengan nuansa mistis.
Material bangunan didominasi oleh kayu jati berkualitas tinggi dari hutan-hutan di Jawa Tengah, dengan penggunaan sengkalan (kronogram) pada berbagai ukiran untuk menandai waktu pembangunan.
Signifikansi Historis dan Peran dalam Kemerdekaan
Keraton Yogyakarta memiliki kedudukan unik dalam sejarah Indonesia karena perannya yang krusial selama masa perjuangan kemerdekaan. Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II pada tahun 1948, Yogyakarta menjadi ibu kota sementara Republik Indonesia.
Sri Sultan Hamengku Buwono IX menunjukkan sikap patriotisme yang luar biasa dengan menyatakan bahwa wilayah Kasultanan adalah bagian dari Republik Indonesia segera setelah proklamasi 17 Agustus 1945. Beliau bahkan memberikan dukungan finansial dari kas pribadi keraton untuk menjalankan roda pemerintahan Republik yang saat itu masih sangat baru dan belum stabil. Di dalam tembok keraton inilah, para pemimpin bangsa seperti Soekarno, Hatta, dan Sudirman sering berkoordinasi. Fakta unik menunjukkan bahwa keraton menjadi satu-satunya wilayah yang tidak berani dimasuki secara paksa oleh tentara Belanda karena penghormatan internasional terhadap kedaulatan Sultan.
Pusat Kebudayaan dan Religi
Hingga saat ini, Keraton Yogyakarta tetap menjalankan fungsinya sebagai penjaga api budaya Jawa. Istana ini merupakan lembaga adat yang memelihara berbagai warisan takbenda, mulai dari tari-tarian sakral seperti Bedhaya Semang, musik gamelan, hingga upacara adat seperti Sekaten dan Grebeg.
Upacara Sekaten, yang diadakan untuk memperingati mauled Nabi Muhammad SAW, menunjukkan perpaduan harmonis antara ajaran Islam dengan tradisi Jawa. Penggunaan gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilaga dalam prosesi ini adalah strategi dakwah yang diwariskan sejak zaman Wali Songo dan dipertahankan dengan ketat oleh keraton. Hal ini mempertegas posisi Sultan sebagai Sayidin Panatagama Khalifatullah, pemimpin urusan agama sekaligus wakil Tuhan di dunia.
Pelestarian dan Status Warisan Dunia
Upaya pelestarian Keraton Yogyakarta dilakukan secara intensif melalui lembaga Tepas (departemen istana). Restoran dan pemeliharaan fisik bangunan dilakukan dengan tetap mempertahankan teknik tradisional agar tidak mengurangi nilai historisnya. Selain bangunan fisik, ribuan manuskrip kuno yang berisi catatan sejarah, pengobatan, dan sastra Jawa disimpan dan didigitalisasi untuk kepentingan ilmu pengetahuan.
Pada tahun 2023, Sumbu Filosofi Yogyakarta, yang mana Keraton adalah komponen utamanya, secara resmi ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO. Pengakuan internasional ini membuktikan bahwa nilai-nilai tata kota dan filosofi yang diusung oleh istana ini memiliki nilai universal yang luar biasa bagi kemanusiaan.
Kesimpulan
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat bukan sekadar artefak masa lalu. Ia adalah sebuah entitas yang dinamis, tempat di mana sejarah masa lalu bersinggungan dengan realitas modern. Dari perjuangan Sultan Hamengku Buwono I membangun identitas baru pasca-Giyanti, hingga pengabdian Sultan Hamengku Buwono IX bagi NKRI, keraton telah membuktikan dirinya sebagai pilar stabilitas dan identitas bagi masyarakat Yogyakarta dan Indonesia. Mengunjungi keraton adalah perjalanan melintasi waktu, memahami bagaimana estetika, kekuasaan, dan spiritualitas dapat menyatu dalam harmoni yang sempurna.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Yogyakarta
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Yogyakarta
Pelajari lebih lanjut tentang Yogyakarta dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Yogyakarta