---
title: "Makam Sultan Said Syarif Ali"
type: "TouristAttraction"
lang: "id"
canonical: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/aceh-timur/makam-sultan-said-syarif-ali"
html_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/aceh-timur/makam-sultan-said-syarif-ali"
category: "Situs Sejarah"
located_in: "Aceh Timur"
located_in_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/aceh-timur"
province: "Aceh"
updated: "2026-02-15T09:17:37.564026+00:00"
publisher: "GeoKepo"
license: "Editorial content © GeoKepo. Cite the canonical URL."
---
# Makam Sultan Said Syarif Ali

Situs religi dan sejarah ini merupakan persemayaman terakhir dari salah satu sultan terkemuka di Kerajaan Peureulak. Makam ini menjadi bukti sejarah kejayaan Islam di masa lampau dan hingga kini masih ramai dikunjungi peziarah yang ingin memberi penghormatan sekaligus mempelajari silsilah kesultanan.

## Key facts

- **address**: Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur
- **entrance fee**: Donasi Sukarela
- **opening hours**: Setiap hari, 08:00 - 17:00

# Jejak Peradaban Islam Timur Aceh: Sejarah dan Signifikansi Makam Sultan Said Syarif Ali

Makam Sultan Said Syarif Ali merupakan salah satu situs sejarah paling krusial di wilayah Aceh Timur, Provinsi Aceh. Terletak di kawasan pesisir yang dulunya merupakan pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam, situs ini bukan sekadar kompleks pemakaman, melainkan monumen hidup yang merekam jejak kekuasaan, spiritualitas, dan hubungan diplomatik internasional pada masa lampau. Sebagai bagian dari warisan kebudayaan Aceh, makam ini menjadi bukti otentik mengenai eksistensi kepemimpinan keturunan Sayyid (Syarif) di tanah Serambi Mekkah.

### Asal-Usul Historis dan Era Pembentukan

Sultan Said Syarif Ali bin Usman Al-Aidid hidup pada era di mana Kesultanan Aceh Darussalam mengalami dinamika politik yang kompleks, khususnya di wilayah pesisir timur. Beliau merupakan sosok pemimpin yang memiliki garis keturunan langsung dari Hadhramaut, Yaman, yang berakulturasi dengan budaya lokal Aceh. Pembangunan kompleks makam ini diperkirakan terjadi pada masa transisi antara akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19.

Eksistensi Sultan Said Syarif Ali di Aceh Timur berkaitan erat dengan upaya penguatan administrasi kesultanan di wilayah taklukan. Pada masa itu, wilayah Aceh Timur merupakan daerah penghasil lada dan komoditas hutan yang sangat berharga bagi pasar global. Kehadiran beliau sebagai penguasa lokal (uleebalang atau sultan bawahan) mencerminkan kebijakan integrasi antara otoritas keagamaan (sadah) dan otoritas politik dalam struktur pemerintahan Aceh.

### Arsitektur dan Detail Konstruksi Situs

Secara arsitektural, Makam Sultan Said Syarif Ali menampilkan keunikan yang menggabungkan estetika Islam klasik dengan kearifan lokal Aceh. Nisan yang terdapat pada makam utama memiliki tipologi "Nisan Aceh" (Aceh Stones) yang sangat khas. Batu nisan ini terbuat dari batu sungai atau batu karang yang dipahat dengan tingkat presisi tinggi.

Bentuk nisan cenderung pipih dengan bagian atas yang menyerupai mahkota, menunjukkan kasta sosial dan jabatan tinggi sang tokoh semasa hidup. Terdapat ukiran kaligrafi Arab yang memuat ayat-ayat suci Al-Qur'an serta petuah sufistik. Motif hiasan sulur-suluran (foliage) dan bunga-bungaan pada badan nisan mencerminkan pengaruh seni hias masa peralihan, di mana pengaruh seni Mughal dari India dan pengaruh lokal menyatu dalam harmoni visual. Struktur jirat (badan makam) disusun menggunakan blok-blok batu yang direkatkan dengan campuran kapur dan putih telur, sebuah teknik konstruksi tradisional yang terbukti tahan terhadap cuaca ekstrem pesisir selama berabad-abad.

### Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait

Situs ini memiliki signifikansi yang luar biasa dalam konteks sejarah maritim Aceh Timur. Sultan Said Syarif Ali dikenal sebagai pemimpin yang mampu menjaga stabilitas keamanan di Selat Malaka dari gangguan perompak serta intervensi awal kekuatan kolonial Eropa. Keberadaan makam ini menjadi penanda bahwa wilayah Aceh Timur bukan sekadar daerah pinggiran, melainkan pusat otoritas yang diakui oleh pusat kesultanan di Banda Aceh.

Salah satu fakta sejarah yang unik adalah peran Sultan dalam memediasi konflik antar-uleebalang di wilayah Peureulak dan sekitarnya. Makam ini menjadi saksi bisu dari akhir sebuah era kepemimpinan yang mengedepankan hukum Islam dalam penyelesaian sengketa wilayah. Signifikansi lainnya berkaitan dengan jalur perdagangan; posisi makam yang berada di dekat aliran sungai atau pesisir menunjukkan bahwa mobilitas manusia pada masa itu sangat bergantung pada akses perairan.

### Tokoh dan Periodisasi Keemasan

Sultan Said Syarif Ali terhubung dengan jaringan ulama dan bangsawan dari klan Al-Aidid, salah satu marga Sayyid yang paling berpengaruh di Nusantara. Kehadirannya menandai periode di mana pengaruh kaum Sayyid mencapai puncaknya dalam struktur politik Kesultanan Aceh. Beliau sezaman dengan periode di mana Aceh mulai menghadapi tekanan dari traktat-traktat internasional antara Belanda dan Inggris terkait kendali atas wilayah Sumatera.

Situs ini juga merepresentasikan masa keemasan pelabuhan-pelabuhan kecil di Aceh Timur yang menjadi titik penjemputan komoditas ekspor. Pengaruh Sultan Said Syarif Ali melampaui batas wilayah administratifnya, mencakup hubungan kekerabatan dengan kesultanan-kesultanan di Semenanjung Malaya, yang memperkuat posisi Aceh dalam diplomasi regional.

### Kepentingan Budaya dan Religi

Bagi masyarakat Aceh Timur, Makam Sultan Said Syarif Ali adalah "paku bumi" spiritual. Situs ini sering menjadi tujuan ziarah, terutama pada hari-hari besar Islam atau sebelum pelaksanaan tradisi adat seperti kenduri blang (syukuran turun ke sawah). Masyarakat setempat memandang Sultan sebagai sosok waliyullah (kekasih Allah) yang memiliki karamah dan jasa besar dalam memperkuat akidah Islam di wilayah tersebut.

Tradisi lisan yang berkembang di sekitar makam mencakup cerita-cerita tentang kearifan Sultan dalam memimpin rakyatnya. Hal ini membentuk identitas budaya masyarakat lokal yang religius dan bangga akan sejarahnya. Situs ini juga menjadi pusat pembelajaran bagi para peneliti sejarah dan santri untuk memahami silsilah penyebaran Islam melalui jalur keturunan Nabi Muhammad SAW di Aceh.

### Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Saat ini, Makam Sultan Said Syarif Ali berada di bawah perlindungan Undang-Undang Cagar Budaya. Meskipun telah berusia ratusan tahun, keaslian nisan-nisan di kompleks ini masih terjaga dengan baik berkat inisiatif masyarakat lokal dan perhatian dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK). Upaya restorasi yang dilakukan cenderung bersifat konservatif, yakni mempertahankan material asli tanpa mengubah struktur dasar.

Pemerintah Kabupaten Aceh Timur telah mengidentifikasi situs ini sebagai salah satu destinasi wisata religi unggulan. Pembangunan fasilitas pendukung seperti akses jalan, pagar pengaman, dan papan informasi sejarah terus ditingkatkan agar pengunjung dapat memahami konteks sejarah makam secara komprehensif. Ke depan, tantangan utama dalam preservasi adalah mitigasi terhadap laju abrasi atau perubahan lingkungan di sekitar situs yang berada di wilayah dataran rendah.

### Kesimpulan dan Warisan

Makam Sultan Said Syarif Ali bukan sekadar tumpukan batu nisan tua; ia adalah narasi visual tentang kejayaan masa lalu Aceh Timur. Keberadaannya mengingatkan generasi masa kini tentang pentingnya integritas kepemimpinan, kedalaman ilmu agama, dan keteguhan dalam menjaga kedaulatan tanah air. Sebagai situs sejarah, ia berdiri tegak menantang zaman, menyerukan pesan tentang identitas Aceh yang tak terpisahkan dari nilai-nilai Islam dan semangat juang yang tinggi. Menjaga kelestarian makam ini berarti menjaga memori kolektif bangsa agar tidak hilang ditelan arus modernitas.
