---
title: "Museum Konferensi Asia Afrika"
type: "TouristAttraction"
lang: "id"
canonical: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/bandung/museum-konferensi-asia-afrika"
html_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/bandung/museum-konferensi-asia-afrika"
category: "Situs Sejarah"
located_in: "Bandung"
located_in_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/bandung"
province: "Jawa Barat"
updated: "2026-02-15T08:46:18.366839+00:00"
publisher: "GeoKepo"
license: "Editorial content © GeoKepo. Cite the canonical URL."
---
# Museum Konferensi Asia Afrika

Museum ini merupakan saksi bisu peristiwa diplomatik bersejarah tahun 1955 yang menyatukan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika untuk melawan kolonialisme. Pengunjung dapat menyusuri jejak-jejak Dasasila Bandung di dalam Gedung Merdeka yang terawat apik dengan nuansa Art Deco yang kental.

## Key facts

- **address**: Jl. Asia Afrika No.65, Braga, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung
- **entrance fee**: Gratis
- **opening hours**: Selasa, Kamis, Sabtu, Minggu, 09:00 - 16:00

# Museum Konferensi Asia Afrika: Monumen Solidaritas Bangsa-Bangsa Selatan

Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA) bukan sekadar bangunan tua yang berdiri megah di jantung Kota Bandung. Ia adalah simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan saksi bisu lahirnya persatuan bangsa-bangsa di benua Asia dan Afrika. Terletak di Jalan Asia Afrika No. 65, gedung ini menjadi representasi fisik dari "Semangat Bandung" yang mengubah peta geopolitik dunia pada abad ke-20.

## Asal-Usul dan Sejarah Pendirian Gedung

Bangunan yang kini menjadi Museum Konferensi Asia Afrika awalnya bernama *Sociëteit Concordia*. Didirikan pada tahun 1895, gedung ini awalnya berfungsi sebagai tempat rekreasi dan pertemuan sosial bagi warga Eropa kelas atas yang menetap di Bandung, khususnya para pengusaha perkebunan (*Preangerplanters*) dan pejabat kolonial.

Pada tahun 1921, gedung ini mengalami renovasi besar-besaran oleh arsitek kenamaan Belanda, C.P. Wolff Schoemaker, yang memberikan sentuhan estetika modern pada masanya. Selama masa pendudukan Jepang (1942–1945), gedung ini berganti nama menjadi *Dai Toa Kaikan* dan digunakan sebagai pusat kebudayaan. Setelah Indonesia merdeka, gedung ini beralih fungsi menjadi markas pemuda setempat untuk menghadapi tentara Sekutu, hingga akhirnya resmi ditetapkan sebagai tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika (KAA) oleh Presiden Soekarno pada tahun 1955.

## Arsitektur Art Deco yang Megah

Secara arsitektural, Museum Konferensi Asia Afrika merupakan salah satu contoh terbaik langgam *Art Deco* di Indonesia. C.P. Wolff Schoemaker merancang gedung ini dengan menekankan garis-garis geometris yang tegas, struktur yang simetris, dan penggunaan material mewah pada masanya seperti lantai marmer yang didatangkan langsung dari Italia.

Interior gedung dicirikan oleh langit-langit yang tinggi untuk sirkulasi udara yang maksimal, mengingat iklim tropis Bandung. Ruang utamanya, yang dikenal sebagai Gedung Merdeka, memiliki tata ruang auditorium yang megah dengan lampu hias gantung yang ikonik. Pencahayaan alami diperoleh melalui jendela-jendela besar yang mengelilingi bangunan, menciptakan kesan luas dan berwibawa. Renovasi yang dilakukan pada tahun 1940 oleh perancang dari biro arsitek AFAL (Albert Aalbers) semakin memperkuat elemen *Streamline Moderne* pada fasad luar bangunan, memberikan kesan dinamis dan futuristik.

## Signifikansi Historis: Konferensi Asia Afrika 1955

Peristiwa paling monumental yang terjadi di situs ini adalah berlangsungnya Konferensi Asia Afrika pada 18 hingga 24 April 1955. Konferensi ini merupakan pertemuan antarnegara berkembang pertama dalam sejarah dunia yang tidak melibatkan negara-negara Barat (Blok Barat maupun Blok Timur). Sebanyak 29 negara mengirimkan delegasinya untuk membahas dekolonisasi, perdamaian dunia, dan kerja sama ekonomi-kebudayaan.

Di dalam aula utama gedung ini, lahir sepuluh poin kesepakatan yang dikenal sebagai **Dasasila Bandung**. Prinsip-prinsip ini menekankan pada penghormatan terhadap kedaulatan semua bangsa, kesetaraan ras, dan penyelesaian sengketa secara damai. Keberhasilan konferensi ini memicu gelombang kemerdekaan di puluhan negara Afrika dalam dekade berikutnya, menjadikan Bandung sebagai "Ibu Kota Asia-Afrika".

## Tokoh-Tokoh Penting dan Peran Global

Museum ini secara permanen mengabadikan peran tokoh-tokoh besar dunia. Presiden Soekarno merupakan inisiator utama yang memberikan pidato pembukaan legendaris berjudul *"Let a New Asia and a New Africa be Born"*. Selain Soekarno, tokoh-tokoh seperti Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri Tiongkok Zhou Enlai, Gamal Abdel Nasser dari Mesir, dan U Nu dari Myanmar adalah arsitek di balik keberhasilan diplomasi ini.

Keunikan sejarah lainnya adalah keterlibatan tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan yang saat itu negaranya belum merdeka secara penuh, seperti delegasi dari Sudan dan Aljazair. Kehadiran mereka di Bandung memberikan legitimasi internasional bagi perjuangan kemerdekaan bangsa mereka masing-masing.

## Pembentukan Museum dan Konservasi

Gagasan untuk menjadikan sebagian gedung *Sociëteit Concordia* sebagai museum dicetuskan oleh Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Menteri Luar Negeri RI saat itu. Keinginan ini muncul karena banyaknya pemimpin negara Asia dan Afrika yang berkunjung ke Bandung dan ingin melihat tempat bersejarah tersebut. Museum Konferensi Asia Afrika akhirnya diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 24 April 1980, tepat pada peringatan 25 tahun KAA.

Sebagai situs sejarah kategori cagar budaya peringkat nasional, upaya pelestarian dilakukan secara ketat. Struktur bangunan asli tetap dipertahankan, termasuk kursi-kursi kayu jati asli yang digunakan oleh para delegasi pada tahun 1955. Pemerintah Indonesia secara rutin melakukan restorasi minor untuk menjaga kualitas marmer, kayu, dan sistem tata suara di dalam Gedung Merdeka tanpa mengubah bentuk aslinya.

## Koleksi dan Nilai Edukasi

Museum ini menyimpan koleksi foto-foto dokumenter yang sangat detail mengenai persiapan dan pelaksanaan KAA. Pengunjung dapat melihat replika meja perundingan, mesin tik yang digunakan untuk menyusun draf Dasasila Bandung, serta bendera-bendera asli negara peserta. Salah satu spot paling ikonik adalah diorama yang menggambarkan suasana pembukaan konferensi lengkap dengan patung lilin para pemimpin negara.

Selain sebagai tempat penyimpanan artefak, MKAA juga berfungsi sebagai pusat penelitian melalui Perpustakaan Museum yang memiliki ribuan literatur mengenai sejarah, politik, dan budaya negara-negara Asia-Afrika. Museum ini secara aktif menjadi ruang diskusi bagi generasi muda melalui berbagai program edukasi seperti "Klub Sahabat Museum".

## Makna Budaya dan Warisan Dunia

Museum Konferensi Asia Afrika bukan hanya milik warga Bandung atau bangsa Indonesia, tetapi milik dunia. Pada tahun 2015, arsip dokumen Konferensi Asia Afrika resmi ditetapkan oleh UNESCO sebagai *Memory of the World*. Hal ini menegaskan bahwa nilai-nilai yang lahir dari gedung di Jalan Asia Afrika ini bersifat universal dan abadi.

Secara budaya, museum ini menjadi titik temu peradaban. Ia membuktikan bahwa perbedaan agama, budaya, dan ras bukan penghalang untuk mencapai tujuan bersama, yaitu perdamaian. Keberadaan museum ini terus mengingatkan dunia bahwa diplomasi lunak (*soft diplomacy*) yang dimulai dari sebuah kota sejuk di Jawa Barat mampu mengubah jalan sejarah umat manusia menuju dunia yang lebih adil dan setara.
