---
title: "Masjid Agung Al-Karomah Martapura"
type: "TouristAttraction"
lang: "id"
canonical: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/banjar/masjid-agung-al-karomah-martapura"
html_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/banjar/masjid-agung-al-karomah-martapura"
category: "Bangunan Ikonik"
located_in: "Banjar"
located_in_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/banjar"
province: "Jawa Barat"
updated: "2026-02-15T08:25:40.7726+00:00"
publisher: "GeoKepo"
license: "Editorial content © GeoKepo. Cite the canonical URL."
---
# Masjid Agung Al-Karomah Martapura

Masjid terbesar di Kalimantan Selatan yang memiliki arsitektur megah dengan perpaduan gaya Eropa dan Timur Tengah. Sebagai pusat syiar Islam di 'Serambi Mekkah', masjid ini menjadi simbol religiusitas masyarakat Banjar yang sangat kental.

## Key facts

- **address**: Jl. Ahmad Yani, Pesayangan, Martapura, Kabupaten Banjar
- **entrance fee**: Gratis
- **opening hours**: 24 Jam (untuk ibadah)

# Kemegahan Arsitektur Masjid Agung Al-Karomah Martapura: Simbol Spiritual dan Kebanggaan Visual Kalimantan Selatan

Masjid Agung Al-Karomah Martapura bukan sekadar tempat ibadah bagi masyarakat Kabupaten Banjar; ia adalah monumen hidup yang merekam jejak sejarah, transformasi arsitektural, dan identitas sosial. Terletak strategis di pusat kota Martapura, Provinsi Kalimantan Selatan (catatan: Martapura secara administratif berada di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, bukan Jawa Barat sesuai konteks geografi aktual), masjid ini berdiri sebagai struktur paling ikonik yang memadukan estetika tradisional Banjar dengan kemegahan modernitas Timur Tengah.

## Akar Sejarah dan Evolusi Konstruksi

Masjid ini memiliki sejarah panjang yang bermula pada masa kepemimpinan Pangeran Muda Muhammad Arsyad (1863). Awalnya dikenal sebagai Masjid Jami’ Martapura, bangunan ini didirikan untuk memenuhi kebutuhan ruang ibadah yang semakin berkembang seiring pesatnya penyebaran Islam di wilayah Kesultanan Banjar. Pada masa kolonial Belanda, tepatnya tahun 1897, masjid ini mengalami renovasi besar-besaran yang diprakarsai oleh Haji Muhammad Nasir.

Nama "Al-Karomah" sendiri secara resmi disematkan pada tahun 1994, merujuk pada "kemuliaan" atau "karomah" yang sering dikaitkan dengan para ulama besar di Martapura, yang dikenal sebagai Kota Serambi Mekkah. Konstruksi masjid telah melewati beberapa fase renovasi signifikan, dengan perubahan paling drastis terjadi pada tahun 1990-an dan awal 2000-an, di mana struktur kayu tradisional mulai bertransformasi menjadi struktur beton bertulang yang megah tanpa menghilangkan esensi nilai historisnya.

## Filosofi Desain dan Gaya Arsitektur

Secara arsitektural, Masjid Agung Al-Karomah menampilkan gaya eklektik yang harmonis. Pengaruh arsitektur Mughal, Timur Tengah, dan tradisional Banjar melebur dalam satu kesatuan visual. Salah satu elemen yang paling mencolok adalah penggunaan lima kubah besar yang mendominasi cakrawala Martapura. Kubah utama yang berwarna biru cerah dengan aksen geometris emas melambangkan kemuliaan, dikelilingi oleh empat kubah pendamping yang lebih kecil di setiap sudut.

Struktur bangunan mengadopsi konsep tata ruang terbuka untuk memaksimalkan sirkulasi udara alami, sebuah adaptasi cerdas terhadap iklim tropis Kalimantan yang lembap. Fasad masjid dihiasi dengan lengkungan-lengkungan runcing khas arsitektur Islam (pointed arches) yang memberikan kesan vertikalitas dan keagungan. Penggunaan material marmer berkualitas tinggi pada lantai dan dinding tidak hanya memberikan kesan mewah, tetapi juga memberikan efek sejuk bagi para jamaah.

## Inovasi Struktural dan Detail Interior

Keunikan teknis dari Masjid Agung Al-Karomah terletak pada integrasi antara struktur lama dan baru. Saat renovasi besar-besaran dilakukan, empat tiang utama (soko guru) dari kayu ulin asli yang berasal dari bangunan lama tetap dipertahankan dan dibungkus dengan ukiran kaligrafi yang indah. Kayu ulin, atau kayu besi khas Kalimantan, dipilih karena kekuatannya yang mampu bertahan ratusan tahun, melambangkan kekokohan iman masyarakat Banjar.

Interior masjid menampilkan kemewahan visual melalui penggunaan ornamen kaligrafi yang dipahat secara mendalam (relief) pada dinding mihrab. Mihrab masjid dirancang dengan sangat detail, menggunakan dominasi warna emas yang kontras dengan latar belakang hijau atau putih, menciptakan titik fokus spiritual yang kuat. Lampu gantung kristal berukuran raksasa yang menggantung di tengah kubah utama menambah kesan dramatis sekaligus berfungsi sebagai sumber pencahayaan utama saat malam hari.

## Simbolisme Menara dan Ruang Publik

Masjid ini memiliki menara-menara tinggi yang menjulang, yang berfungsi tidak hanya sebagai tempat pengeras suara azan, tetapi juga sebagai penanda visual kota. Arsitektur menara ini mengadopsi gaya menara masjid di Madinah dengan sentuhan lokal pada bagian puncaknya. Di sekitar masjid, terdapat area plaza yang luas yang sering digunakan untuk kegiatan keagamaan massal, seperti peringatan Maulid Nabi atau Haul ulama besar.

Penataan lanskap di sekitar Masjid Agung Al-Karomah juga diperhatikan dengan seksama. Adanya ruang terbuka hijau dan area parkir yang tertata memberikan kenyamanan bagi pengunjung yang datang dari luar kota. Pola lantai di area luar masjid menggunakan paving block dengan motif geometris islami yang konsisten dengan tema arsitektur bangunan utama.

## Signifikansi Budaya dan Sosial

Bagi masyarakat Martapura, Masjid Agung Al-Karomah adalah jantung kehidupan sosial. Arsitekturnya mencerminkan status Martapura sebagai pusat pendidikan Islam di Kalimantan. Keberadaan masjid ini berkaitan erat dengan keberadaan Pondok Pesantren Darussalam dan makam-makam ulama besar, sehingga desain masjid harus mampu menampung ribuan peziarah dan penuntut ilmu setiap harinya.

Setiap elemen arsitektur, mulai dari pola ukiran kayu hingga pemilihan warna kubah, memiliki narasi tentang ketakwaan dan kearifan lokal. Masjid ini menjadi bukti bagaimana teknologi konstruksi modern dapat digunakan untuk melestarikan nilai-nilai tradisional tanpa membuat bangunan terasa tertinggal zaman.

## Pengalaman Pengunjung dan Penggunaan Saat Ini

Memasuki Masjid Agung Al-Karomah memberikan pengalaman sensorik yang menenangkan. Transisi dari kebisingan pasar Martapura yang sibuk menuju keheningan ruang utama masjid menciptakan atmosfer kontemplatif. Lantai marmer yang dingin, aroma wewangian khas, dan skala ruang yang masif membuat siapapun yang berkunjung merasakan kebesaran Sang Pencipta.

Saat ini, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat salat lima waktu, tetapi juga sebagai pusat kegiatan muamalah, pendidikan Al-Qur'an, dan destinasi wisata religi utama di Kalimantan Selatan. Fasilitas modern seperti lift untuk lansia, sistem tata suara mutakhir, dan area wudu yang higienis menunjukkan bahwa Masjid Agung Al-Karomah adalah bangunan yang dinamis dan adaptif terhadap kebutuhan zaman.

Sebagai sebuah karya arsitektur, Masjid Agung Al-Karomah Martapura adalah representasi dari jiwa masyarakat Banjar: kuat seperti kayu ulin, indah dalam keberagaman, dan selalu terpaut pada nilai-nilai ketuhanan. Ia tetap berdiri kokoh sebagai ikon kebanggaan, saksi bisu sejarah yang terus bersinar di tengah modernitas.
