---
title: "Pempek Udang Sungsang"
type: "TouristAttraction"
lang: "id"
canonical: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/banyuasin/pempek-udang-sungsang"
html_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/banyuasin/pempek-udang-sungsang"
category: "Kuliner Legendaris"
located_in: "Banyuasin"
located_in_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/banyuasin"
province: "Sumatera Selatan"
updated: "2026-02-15T08:38:27.10368+00:00"
publisher: "GeoKepo"
license: "Editorial content © GeoKepo. Cite the canonical URL."
---
# Pempek Udang Sungsang

Berbeda dengan pempek Palembang yang menggunakan ikan belida atau gabus, versi khas Banyuasin ini menggunakan udang segar hasil tangkapan laut setempat. Cita rasanya yang manis-gurih dengan aroma udang yang kuat menjadikannya kuliner wajib yang sulit ditemukan di daerah lain.

## Key facts

- **address**: Sentra Kuliner Desa Sungsang, Banyuasin II
- **entrance fee**: Mulai dari Rp 2.000 per buah
- **opening hours**: Setiap hari, 08:00 - 20:00

# Menelusuri Jejak Rasa Pempek Udang Sungsang: Mahakarya Kuliner dari Pesisir Banyuasin

Sumatera Selatan identik dengan pempek ikan, namun bagi para petualang rasa, perjalanan belum dianggap lengkap sebelum menginjakkan kaki di Desa Sungsang, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin. Di titik pertemuan antara sungai dan laut ini, lahir sebuah varian legendaris yang mendobrak pakem kuliner Palembang pada umumnya: Pempek Udang Sungsang. Bukan sekadar makanan, Pempek Udang adalah identitas kultural, simbol kemakmuran pesisir, dan warisan turun-temurun yang telah bertahan selama puluhan tahun.

## Filosofi Pesisir dalam Butiran Adonan

Keberadaan Pempek Udang Sungsang tidak bisa dilepaskan dari letak geografis Desa Sungsang yang berada di muara Sungai Musi yang berhadapan langsung dengan Selat Bangka. Sebagai desa nelayan tertua di Sumatera Selatan, Sungsang dianugerahi hasil laut yang melimpah, terutama udang jerbung dan udang satang. Jika masyarakat Palembang pedalaman menggunakan ikan sungai seperti Belida atau Gabus, masyarakat Sungsang memanfaatkan kekayaan terdekat mereka: udang segar yang baru turun dari kapal.

Secara historis, Pempek Udang muncul sebagai bentuk kearifan lokal dalam mengawetkan hasil tangkapan. Ketika tangkapan udang melimpah dan harga pasar menurun, para ibu rumah tangga di Sungsang mengolahnya menjadi pempek. Teksturnya yang lebih kenyal dan warnanya yang kemerahan alami memberikan karakter yang kontras dengan pempek ikan yang cenderung berwarna putih keabuan.

## Keunikan Bahan: Rahasia Udang Satang dan Jerbung

Apa yang membuat Pempek Udang Sungsang begitu istimewa? Jawabannya terletak pada kesegaran bahan bakunya. Berbeda dengan pempek udang yang mungkin ditemukan di supermarket, Pempek Sungsang menggunakan udang yang tidak pernah masuk ke dalam lemari pendingin (freezer). Udang kupas yang digunakan biasanya adalah jenis Udang Jerbung (udang putih) yang memberikan rasa manis alami, atau Udang Dogol yang memberikan aroma laut yang kuat.

Selain udang, komponen krusial lainnya adalah tepung tapioka atau yang oleh masyarakat lokal disebut "sagu". Penggunaan sagu kualitas premium dari pohon rumbia atau sagu tani lokal menjadi penentu tekstur. Komposisi antara udang dan sagu biasanya sangat tinggi—seringkali 1:1 atau bahkan lebih banyak udang—sehingga rasa gurih udang sangat mendominasi setiap gigitan.

## Teknik Pengolahan Tradisional: Warisan Tangan Dingin

Proses pembuatan Pempek Udang Sungsang masih mempertahankan teknik manual. Udang tidak diblender halus menggunakan mesin, melainkan digiling menggunakan gilingan tradisional atau dicincang halus. Hal ini bertujuan untuk menjaga serat udang tetap terasa, sehingga memberikan sensasi *crunchy* atau tekstur yang unik saat dikunyah.

Adonan dicampur dengan bumbu sederhana namun presisi: garam, sedikit penyedap rasa, dan air es untuk menjaga suhu adonan agar tetap kenyal. Teknik mengadon (menguleni) dilakukan dengan perasaan agar adonan tidak menjadi keras atau "bantat". Setelah kalis, adonan dibentuk menjadi berbagai varian seperti Pempek Lenjer (lonjong), Pempek Telur, dan yang paling ikonik adalah Pempek Adaan Udang yang berbentuk bulat.

## Varian yang Memanjakan Lidah

Di Sungsang, Anda akan menemukan beberapa jenis pempek udang yang masing-masing memiliki karakteristik unik:

1.  **Pempek Lenjer Udang:** Berbentuk silinder panjang, menonjolkan tekstur udang yang padat. Biasanya diiris miring sebelum digoreng.
2.  **Pempek Telur Udang:** Diisi dengan telur ayam atau bebek, memberikan perpaduan rasa gurih udang dan *creamy* dari kuning telur.
3.  **Pempek Kulit Udang:** Berbeda dengan pempek kulit ikan yang berwarna gelap, pempek kulit udang menggunakan campuran daging udang dan sedikit kulit yang digiling halus, menghasilkan rasa yang lebih tajam dan tekstur yang lebih garing.
4.  **Kemplang Udang:** Versi kerupuk dari pempek udang yang dikeringkan dan dipanggang atau digoreng. Sungsang adalah produsen kemplang udang terbesar di Sumatera Selatan.

## Cuko Sungsang: Pendamping dengan Karakter Berbeda

Tak ada pempek tanpa *cuko*. Namun, cuko di Sungsang memiliki sedikit perbedaan dengan cuko Palembang. Karena masyarakat pesisir cenderung menyukai rasa yang tajam, cuko Sungsang biasanya memiliki tingkat kepedasan yang lebih tinggi dan aroma bawang putih yang lebih menyengat. Penggunaan asam jawa (tamarin) dan gula merah (gula batok) berkualitas tinggi dari daerah Lubuk Linggau memberikan warna hitam pekat dan tekstur kental yang sempurna untuk membalut pempek udang yang hangat.

Beberapa kedai legendaris di Sungsang bahkan menambahkan sedikit ebi (udang kering) halus ke dalam cuko mereka untuk semakin memperkuat tema laut dalam hidangan tersebut.

## Tokoh dan Kedai Legendaris di Sungsang

Perjalanan kuliner ke Sungsang belum lengkap tanpa mengunjungi deretan warung pempek di sepanjang dermaga. Nama-nama seperti **Pempek Cek Nur**, **Pempek Wak Alen**, atau **Pempek Mak Itam** telah menjadi legenda lokal. Usaha-usaha ini umumnya adalah bisnis keluarga yang resepnya dijaga ketat selama tiga hingga empat generasi.

Di warung-warung ini, pengunjung tidak hanya makan, tetapi juga menyaksikan aktivitas nelayan yang membongkar muatan udang, menciptakan atmosfer *farm-to-table* yang sesungguhnya. Para ibu di Sungsang seringkali menjadi "chef" utama, di mana keahlian membentuk pempek dilakukan dengan kecepatan tangan yang luar biasa, sebuah pemandangan budaya yang menarik bagi wisatawan.

## Tradisi Makan dan Etika Lokal

Di Desa Sungsang, makan pempek bukan sekadar sarapan atau camilan sore, melainkan bagian dari keramah-tamahan sosial. Ada tradisi "Ngidang" atau penyajian secara komunal dalam acara adat, di mana pempek udang seringkali hadir sebagai hidangan pembuka yang bergengsi.

Bagi masyarakat setempat, cara terbaik menikmati pempek udang adalah dengan "nyruput" cuko langsung dari mangkuk kecil setelah pempeknya habis. Ada kebanggaan tersendiri bagi warga Sungsang saat menyuguhkan pempek udang kepada tamu, karena ini adalah simbol penghormatan dan penyajian hasil alam terbaik yang mereka miliki.

## Destinasi Wisata Kuliner dan Dampak Ekonomi

Kehadiran Pempek Udang Sungsang telah mengubah wajah ekonomi Banyuasin. Kini, Sungsang bukan sekadar desa nelayan, melainkan destinasi wisata kuliner unggulan. Ribuan orang dari Palembang dan luar provinsi rela menempuh perjalanan darat sekitar 2-3 jam atau melalui jalur perairan demi merasakan keaslian rasa di tempat asalnya.

Pemerintah Kabupaten Banyuasin pun secara rutin menggelar festival kuliner yang menonjolkan pempek udang sebagai daya tarik utama. Hal ini membuktikan bahwa pempek udang bukan hanya soal rasa, tapi juga penggerak roda ekonomi kreatif bagi pengrajin sagu, nelayan udang, hingga pengusaha transportasi air.

## Penutup: Sebuah Warisan yang Harus Dijaga

Pempek Udang Sungsang adalah bukti nyata bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungannya tanpa meninggalkan akar budayanya. Ia adalah perpaduan antara teknik kuliner Tionghoa yang berasimilasi dengan budaya lokal Melayu pesisir, diolah dengan bahan baku lokal yang melimpah.

Menikmati Pempek Udang di tepian dermaga Sungsang, sambil menghirup aroma laut dan melihat matahari terbenam, adalah pengalaman sensorik yang tak terlupakan. Ini bukan sekadar tentang rasa gurih udang yang meledak di mulut, tapi tentang menghargai sejarah panjang sebuah desa nelayan yang berhasil mengangkat derajat udang menjadi mahakarya kuliner yang mendunia. Bagi siapa pun yang mencari jati diri kuliner Sumatera Selatan yang sesungguhnya, Pempek Udang Sungsang adalah jawaban yang mutlak.
