---
title: "Museum Siraja"
type: "TouristAttraction"
lang: "id"
canonical: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/berau/museum-siraja"
html_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/berau/museum-siraja"
category: "Situs Sejarah"
located_in: "Berau"
located_in_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/berau"
province: "Kalimantan"
updated: "2026-02-15T08:29:11.585266+00:00"
publisher: "GeoKepo"
license: "Editorial content © GeoKepo. Cite the canonical URL."
---
# Museum Siraja

Museum ini menyimpan koleksi berharga dari Kesultanan Gunung Tabur, termasuk singgasana, pakaian kebesaran, dan senjata tradisional. Berlokasi di bekas istana kesultanan, museum ini menjadi pusat edukasi penting untuk memahami pembagian kekuasaan sejarah di Bumi Batiwakkal.

## Key facts

- **address**: Gunung Tabur, Kabupaten Berau
- **entrance fee**: Rp 5.000 - Rp 10.000
- **opening hours**: Senin - Jumat, 08:00 - 15:00

# Museum Siraja: Jejak Monumental Peradaban Kesultanan di Tanah Berau

Kabupaten Berau di Kalimantan Timur tidak hanya dikenal sebagai gerbang menuju eksotisme bawah laut Kepulauan Derawan, tetapi juga merupakan rumah bagi warisan sejarah yang mendalam melalui keberadaan Museum Siraja. Sebagai salah satu situs sejarah utama di Bumi Batiwakkal, Museum Siraja bukan sekadar bangunan penyimpan artefak, melainkan simbol kedaulatan, identitas budaya, dan titik temu antara tradisi lokal dengan pengaruh global di masa lampau.

## Akar Sejarah dan Pendirian

Museum Siraja berlokasi di Kelurahan Teluk Bayur, sebuah kawasan yang secara historis merupakan jantung industri pertambangan batu bara di masa kolonial Belanda. Berbeda dengan Museum Gunung Tabur atau Museum Sambaliung yang menempati bekas istana kesultanan, Museum Siraja memiliki keunikan tersendiri dalam asal-usulnya. Gedung ini pada mulanya merupakan hunian resmi bagi pejabat tinggi perusahaan pertambangan Belanda, *Steenkolen Maatschappij Parapattan* (SMP), yang beroperasi di Teluk Bayur sejak awal abad ke-20.

Pendirian bangunan ini diperkirakan terjadi pada dekade 1920-an, masa di mana Teluk Bayur bertransformasi menjadi kota modern atau "Little Europe" di tengah belantara Kalimantan. Setelah masa kemerdekaan dan nasionalisasi aset-aset Belanda, bangunan ini beralih fungsi menjadi kantor pemerintahan sebelum akhirnya ditetapkan sebagai museum untuk menampung benda-benda bersejarah milik keluarga kerajaan dan temuan arkeologis dari wilayah Berau. Nama "Siraja" sendiri diambil dari gelar kehormatan dan silsilah bangsawan lokal yang merujuk pada kepemimpinan tradisional di wilayah tersebut.

## Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Museum Siraja mengusung gaya *Indische Empire*, sebuah perpaduan antara gaya neoklasik Eropa yang disesuaikan dengan iklim tropis Indonesia. Struktur bangunannya didominasi oleh dinding tebal yang berfungsi sebagai isolator panas alami, plafon tinggi untuk sirkulasi udara yang maksimal, serta jendela-jendela besar dengan kisi-kisi kayu khas bangunan kolonial.

Konstruksi utamanya menggunakan material kelas satu pada zamannya, termasuk penggunaan kayu ulin (kayu besi) yang terkenal sangat kuat dan tahan terhadap cuaca ekstrem Kalimantan. Bagian atapnya memiliki kemiringan yang tajam untuk mengatasi curah hujan tinggi, sementara lantai ubin bermotif geometris masih dipertahankan di beberapa sudut ruangan, memberikan kesan estetis yang autentik. Tata letak interior Museum Siraja dibagi menjadi beberapa ruang pameran utama yang disusun secara kronologis, mulai dari era prasejarah, masa kejayaan kesultanan, hingga periode perjuangan kemerdekaan.

## Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Museum Siraja menjadi saksi bisu transisi kekuasaan di Berau. Lokasinya di Teluk Bayur menghubungkan narasi sejarah antara kekayaan sumber daya alam (batu bara) dengan kedaulatan politik Kesultanan Berau. Salah satu peristiwa penting yang dikaitkan dengan situs ini adalah proses negosiasi antara otoritas lokal dengan pihak Belanda terkait hak konsesi lahan.

Selain itu, museum ini menyimpan memori kolektif tentang masa pendudukan Jepang di Berau. Teluk Bayur, yang merupakan pelabuhan penting, pernah menjadi target serangan udara sekutu. Museum Siraja berhasil selamat dari kehancuran bom-bom tersebut, menjadikannya salah satu dari sedikit bangunan asli periode kolonial yang masih berdiri tegak tanpa kerusakan struktural yang berarti. Di dalam museum, pengunjung dapat menemukan koleksi berupa meriam kuno, naskah khotbah dari abad ke-18, serta berbagai peralatan upacara adat yang digunakan dalam ritual *Batiwakkal*.

## Tokoh dan Periodisasi Terkait

Narasi Museum Siraja tidak dapat dilepaskan dari peran Sultan-Sultan Berau, terutama setelah pembagian wilayah menjadi Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung. Benda-benda di dalam museum sering kali dikaitkan dengan kepemimpinan Sultan Aji Kuning dan keturunannya. Selain tokoh bangsawan, museum ini juga menyoroti peran para pekerja tambang (*koeli*) yang menjadi penggerak ekonomi di Teluk Bayur, memperlihatkan sisi sejarah sosial yang jarang dibahas di tempat lain.

Periodisasi yang dicakup dalam koleksi museum ini membentang dari masa pengaruh Hindu-Buddha di pedalaman Kalimantan, masuknya Islam yang dibawa oleh para pedagang Arab dan Melayu, hingga masa pergerakan nasional di mana tokoh-tokoh lokal Berau mulai menyuarakan integrasi dengan Republik Indonesia.

## Pelestarian dan Upaya Restorasi

Sebagai situs sejarah yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Cagar Budaya, Museum Siraja telah melalui beberapa tahap konservasi. Pemerintah Kabupaten Berau, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, secara rutin melakukan pemeliharaan terhadap struktur kayu dan penataan kembali tata pamer (display) koleksi agar lebih informatif bagi generasi muda.

Restorasi besar terakhir difokuskan pada penguatan fondasi dan penggantian bagian atap yang mengalami pelapukan. Tantangan utama dalam pelestarian ini adalah kelembapan tinggi yang dapat merusak artefak kain dan naskah kuno. Oleh karena itu, sistem kontrol suhu dan kelembapan mulai diperkenalkan di ruang-ruang penyimpanan tertentu. Selain fisik bangunan, upaya pelestarian juga dilakukan melalui digitalisasi naskah-naskah kuno Kesultanan Berau yang tersimpan di museum ini agar isinya dapat diakses oleh peneliti secara luas tanpa merusak fisik dokumen aslinya.

## Kepentingan Budaya dan Religi

Museum Siraja memegang peranan vital dalam kehidupan budaya masyarakat Berau. Tempat ini sering menjadi lokasi edukasi bagi pelajar untuk mempelajari kearifan lokal, seperti filosofi dibalik motif "Penyu" dan "Pari" yang menghiasi ukiran-ukiran kayu di museum. Secara religius, beberapa koleksi seperti Al-Qur'an tulis tangan kuno dan perangkat ibadah sultan menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Islam dalam membentuk struktur sosial di Berau.

Setiap tahun, saat perayaan hari jadi Kabupaten Berau, Museum Siraja menjadi bagian dari rute napak tilas sejarah. Keberadaannya mengingatkan warga Berau bahwa mereka adalah ahli waris dari sebuah peradaban besar yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan akar jati diri.

## Fakta Unik Museum Siraja

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah keberadaan bunker atau ruang bawah tanah kecil di sekitar area museum yang dulunya digunakan sebagai tempat perlindungan selama Perang Dunia II. Selain itu, Museum Siraja menyimpan koleksi piring-piring seladon dari Dinasti Ming yang ditemukan di dasar sungai Segah, membuktikan bahwa Berau telah menjadi bagian dari jalur perdagangan maritim global sejak berabad-abad silam.

Dengan segala kekayaan sejarah dan arsitekturnya, Museum Siraja berdiri bukan hanya sebagai penjaga masa lalu, tetapi juga sebagai kompas bagi masa depan pembangunan kebudayaan di Kalimantan Timur. Mengunjungi museum ini berarti menyelami kedalaman jiwa masyarakat Berau—sebuah perjalanan melintasi waktu di antara pilar-pilar ulin dan bayang-bayang kejayaan masa silam.
