---
title: "Pura Parahyangan Agung Jagatkartta"
type: "TouristAttraction"
lang: "id"
canonical: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/bogor/pura-parahyangan-agung-jagatkartta"
html_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/bogor/pura-parahyangan-agung-jagatkartta"
category: "Pusat Kebudayaan"
located_in: "Bogor"
located_in_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/bogor"
province: "Jawa Barat"
updated: "2026-02-15T08:46:27.499262+00:00"
publisher: "GeoKepo"
license: "Editorial content © GeoKepo. Cite the canonical URL."
---
# Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Merupakan pura terbesar di Jawa Barat yang terletak di lereng Gunung Salak, menawarkan pemandangan eksotis dan suasana spiritual yang tenang. Tempat ibadah ini juga diyakini sebagai tempat penghormatan bagi Prabu Siliwangi dari Kerajaan Sunda Pajajaran.

## Key facts

- **address**: Tamansari, Kec. Tamansari, Kabupaten Bogor
- **entrance fee**: Sukarela (Donasi)
- **opening hours**: Setiap hari, 09:00 - 16:00 (Hanya area luar untuk wisatawan)

# Pura Parahyangan Agung Jagatkartta: Episentrum Kebudayaan dan Spiritualitas di Kaki Gunung Salak

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta, yang terletak di Ciapus, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, berdiri megah sebagai simbol harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Sebagai salah satu pura terbesar di Indonesia setelah Pura Besakih di Bali, tempat ini bukan sekadar pusat peribadatan umat Hindu, melainkan telah bertransformasi menjadi pusat kebudayaan (Cultural Center) yang krusial bagi pelestarian warisan leluhur Nusantara, khususnya keterhubungan sejarah antara Kerajaan Sunda kuno dan nilai-nilai spiritualitas universal.

## Filosofi Nama dan Visi Kebudayaan
Nama "Parahyangan Agung Jagatkartta" membawa makna mendalam: *Parahyangan* berarti tempat tinggal para dewa atau leluhur, *Agung* berarti mulia, dan *Jagatkartta* berarti alam semesta yang sempurna. Secara kolektif, tempat ini dirancang sebagai wadah untuk menciptakan kesempurnaan dunia melalui pemeliharaan budaya dan spiritualitas. Di atas lahan seluas kurang lebih 10 hektar yang dipercaya sebagai situs keramat peninggalan Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran, pura ini menjadi jembatan budaya yang menyatukan identitas Sunda dan Hindu Nusantara.

## Program Pelestarian Seni Pertunjukan Tradisional
Sebagai pusat kebudayaan, Jagatkartta secara rutin menyelenggarakan pelatihan seni yang terbuka bagi masyarakat luas. Program yang paling menonjol adalah pelatihan Tari Bali dan Tari Sunda. Uniknya, di sini terjadi sinkretisme artistik di mana gerakan tari klasik Bali dipelajari berdampingan dengan irama Gamelan Degung khas Jawa Barat.

Setiap akhir pekan, pelataran pura sering menjadi ruang latihan bagi kelompok seni lokal. Pengunjung dapat menyaksikan latihan tari *Rejang Dewa* atau *Tari Pendet* yang dibawakan dengan latar belakang kabut Gunung Salak yang magis. Selain itu, seni vokal tradisional seperti *Kidung* dan *Pupuh* diajarkan sebagai bagian dari upaya menjaga tradisi oral agar tidak punah ditelan zaman.

## Pendidikan Nilai-Nilai Kemanusiaan dan Ekologi
Pura Parahyangan Agung Jagatkartta menjalankan program edukasi yang berfokus pada konsep *Tri Hita Karana*—tiga penyebab kebahagiaan yang bersumber dari hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam.

1.  **Edukasi Ekologi:** Mengingat lokasinya yang berada di lereng gunung, pengelola pura aktif mengedukasi masyarakat mengenai pelestarian lingkungan. Program penanaman pohon langka dan pengelolaan limbah organik menjadi bagian dari kurikulum budaya di sini.
2.  **Literasi Sejarah:** Melalui diskusi dan seminar terbatas, pura ini menjadi pusat studi bagi para peneliti yang tertarik pada sejarah Pajajaran. Edukasi mengenai kaitan sejarah antara tanah Pasundan dengan tradisi Hindu kuno diberikan untuk memperkuat akar identitas lokal bagi generasi muda Bogor.

## Kerajinan Tangan dan Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya
Di area sekitar pura, tumbuh ekosistem ekonomi kreatif yang berbasis pada kerajinan tangan tradisional. Para pengrajin lokal diberdayakan untuk memproduksi perlengkapan ritual dan suvenir budaya, seperti:
*   **Pembuatan Canang dan Gebogan:** Wisatawan atau pelajar dapat mengikuti lokakarya merangkai bunga dan janur, yang mengajarkan ketelitian serta makna filosofis di balik setiap simbol flora.
*   **Kerajinan Ukir Batu dan Kayu:** Arsitektur pura yang memadukan gaya ukiran Bali dengan sentuhan motif Sunda (seperti motif Kujang dan bunga teratai) menjadi inspirasi bagi pengrajin lokal untuk menghasilkan karya seni rupa yang bernilai tinggi.

## Perhelatan Festival dan Perayaan Besar
Pura Parahyangan Agung Jagatkartta menjadi tuan rumah bagi berbagai acara kebudayaan berskala nasional. Salah satu momen paling monumental adalah perayaan **Hari Raya Nyepi** dan **Piodalan** (ulang tahun pura).

Pada saat Piodalan, ribuan umat dan budayawan dari berbagai daerah berkumpul. Acara ini biasanya dimeriahkan dengan prosesi ritual yang sangat visual, melibatkan arak-arakan gebogan yang menjulang tinggi dan pementasan wayang kulit atau wayang golek semalam suntuk. Selain itu, festival budaya tahunan sering kali melibatkan komunitas lintas iman di Bogor, menjadikan pura ini sebagai simbol toleransi dan pluralisme di Jawa Barat.

## Arsitektur sebagai Simbolisme Budaya
Keunikan utama Jagatkartta terletak pada desain arsitekturnya yang spesifik. Pura ini dibangun tanpa menggunakan semen pada bagian-bagian tertentu, melainkan menggunakan teknik susun batu yang presisi, mengingatkan pada teknik pembangunan candi-candi kuno. 

Gerbang masuk atau *Candi Bentar* yang menjulang tinggi memberikan kesan megah, sementara di dalamnya terdapat pelataran luas yang berfungsi sebagai ruang publik untuk berinteraksi. Kehadiran patung harimau (simbol Prabu Siliwangi) yang berdampingan dengan arca-arca Hindu menegaskan bahwa pusat kebudayaan ini sangat menghormati kearifan lokal tanah Sunda.

## Peran dalam Pengembangan Budaya Lokal dan Komunitas
Jagatkartta tidak berdiri sebagai entitas yang eksklusif. Pengaruhnya terhadap pengembangan budaya lokal sangat signifikan melalui:
*   **Pemberdayaan Masyarakat Ciapus:** Masyarakat setempat, terlepas dari latar belakang agama mereka, banyak yang terlibat dalam pengelolaan area budaya, keamanan, dan penyediaan jasa pemandu budaya.
*   **Ruang Dialog Antarbudaya:** Pura ini sering menjadi destinasi studi banding bagi institusi pendidikan dan komunitas seni dari luar kota. Diskusi mengenai moderasi beragama dan pelestarian adat sering diadakan di balai-balai pertemuan yang ada di kompleks pura.

## Upaya Konservasi Warisan Budaya
Pelestarian di Jagatkartta dilakukan melalui pendekatan "Budaya Hidup" (*Living Heritage*). Warisan budaya tidak hanya dipandang sebagai benda mati dalam museum, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. 
*   **Konservasi Air:** Pura ini memiliki sistem pengelolaan mata air suci yang digunakan untuk ritual sekaligus menjaga ketersediaan air bagi ekosistem sekitar.
*   **Digitalisasi Tradisi:** Pengelola mulai mendokumentasikan ritual dan seni pertunjukan dalam bentuk digital sebagai arsip bagi masa depan, memastikan bahwa pengetahuan tentang tata cara budaya di Jagatkartta dapat diakses oleh peneliti global.

## Kesimpulan: Jantung Budaya di Tanah Bogor
Pura Parahyangan Agung Jagatkartta telah membuktikan diri sebagai pusat kebudayaan yang dinamis. Di tengah modernisasi yang pesat di wilayah Bogor, tempat ini tetap kokoh menjaga nafas tradisi. Ia adalah ruang di mana seni, sejarah, dan spiritualitas bertemu dalam balutan kabut Gunung Salak.

Melalui berbagai program edukasi, festival seni, dan praktik pelestarian alam, Jagatkartta bukan hanya milik satu golongan, melainkan aset kebudayaan Jawa Barat yang memperkaya khazanah nasional. Keberadaannya mengingatkan kita bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak boleh melepaskan akar budayanya, dan di lereng Gunung Salak inilah, akar tersebut dirawat dengan penuh kehormatan dan kasih sayang bagi seluruh umat manusia.
