---
title: "Benteng Keraton Buton"
type: "TouristAttraction"
lang: "id"
canonical: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/buton/benteng-keraton-buton"
html_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/buton/benteng-keraton-buton"
category: "Situs Sejarah"
located_in: "Buton"
located_in_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/buton"
province: "Sulawesi Tenggara"
updated: "2026-02-15T08:36:18.227446+00:00"
publisher: "GeoKepo"
license: "Editorial content © GeoKepo. Cite the canonical URL."
---
# Benteng Keraton Buton

Dikenal sebagai benteng terluas di dunia oleh Guinness World Records, situs ini merupakan saksi bisu kejayaan Kesultanan Buton. Pengunjung dapat menyusuri dinding batu kapur yang kokoh sambil menikmati panorama Kota Baubau dan Selat Buton yang memukau dari ketinggian.

## Key facts

- **address**: Melai, Kec. Murhum, Kota Baubau, Pulau Buton
- **entrance fee**: Rp 10.000 - Rp 20.000
- **opening hours**: Setiap hari, 24 jam

# Benteng Keraton Buton: Mahakarya Pertahanan dan Simbol Peradaban Kesultanan Buton

Benteng Keraton Buton, atau yang secara lokal dikenal sebagai Benteng Wolio, bukan sekadar tumpukan batu karang yang membentengi sebuah bukit. Situs ini merupakan manifestasi dari kejayaan Kesultanan Buton di masa lampau, sebuah simbol kedaulatan yang pernah diakui sebagai benteng terluas di dunia oleh Guinness Book of World Records pada tahun 2006. Berlokasi di Kota Baubau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, benteng ini berdiri kokoh di atas puncak bukit setinggi 100 meter di atas permukaan laut, memberikan sudut pandang strategis untuk mengawasi Selat Buton yang menjadi jalur perdagangan vital.

## Asal-Usul Historis dan Periode Pembangunan

Sejarah berdirinya Benteng Keraton Buton tidak terlepas dari proses transisi Kerajaan Buton menjadi Kesultanan Buton. Pembangunan awal struktur pertahanan ini dimulai pada masa pemerintahan Sultan Buton ke-3, La Sangaji (Sultan Kaimuddin) pada abad ke-16 (sekitar tahun 1591-1596). Namun, bentuk megah yang kita saksikan hari ini merupakan hasil penyempurnaan yang dilakukan secara bertahap selama puluhan tahun.

Puncak pembangunan struktural terjadi pada masa Sultan Buton ke-6, Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Oputa Yi Koo) pada abad ke-18. Pembangunan benteng ini merupakan respon defensif terhadap ancaman dari luar, terutama serangan dari bajak laut dan persaingan kekuasaan antara kerajaan-kerajaan besar di Nusantara seperti Gowa-Tallo, Ternate, serta tekanan ekspansi kolonial Belanda (VOC). Uniknya, pembangunan benteng ini dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat dari berbagai distrik di bawah kekuasaan kesultanan, di mana setiap kelompok bertanggung jawab atas segmen dinding tertentu.

## Arsitektur dan Detail Konstruksi yang Unik

Secara arsitektural, Benteng Keraton Buton memiliki karakteristik yang membedakannya dari benteng-benteng peninggalan Eropa di Indonesia. Material utamanya bukanlah batu bata atau beton modern, melainkan batu gunung dan batu karang yang disusun sedemikian rupa. Perekat yang digunakan adalah campuran putih telur, kapur, dan cairan pelepah pohon tertentu yang terbukti mampu bertahan selama ratusan tahun tanpa retakan berarti.

Benteng ini memiliki keliling sepanjang 2.740 meter dengan luas mencapai 23,375 hektar. Struktur dindingnya memiliki ketebalan bervariasi antara 1 hingga 2 meter dengan ketinggian yang mencapai 2 hingga 8 meter. Benteng ini dilengkapi dengan 12 pintu gerbang yang disebut *Lawa* dan 16 pos penjagaan atau bastion yang disebut *Baluarte*. Angka-angka ini tidak sembarangan; 12 pintu gerbang melambangkan jumlah lubang pada tubuh manusia, yang secara filosofis bermakna bahwa benteng ini adalah "tubuh" dari kesultanan yang harus dijaga kesucian dan kekuatannya.

## Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Benteng Keraton Buton memegang peranan krusial dalam peta politik Nusantara. Selama berabad-abad, kesultanan ini berhasil mempertahankan kemerdekaannya dari dominasi kolonial secara penuh. Benteng ini merupakan tempat perlindungan yang sangat efektif sehingga pasukan Belanda pun kesulitan untuk menembusnya melalui jalur militer.

Salah satu peristiwa sejarah yang paling menonjol adalah peran benteng ini sebagai basis perlawanan Sultan Himayatuddin terhadap VOC. Sultan ini dikenal sebagai satu-satunya Raja Buton yang secara terang-terangan mengangkat senjata melawan Belanda dan memilih turun tahta untuk bergerilya di hutan sebelum akhirnya kembali ke benteng. Keberadaan benteng ini memastikan bahwa pusat pemerintahan Kesultanan Buton tetap stabil meskipun di tengah gejolak perang di wilayah Sulawesi lainnya.

## Tokoh Penting dan Periode Kepemimpinan

Nama-nama seperti Murhum (Sultan Buton I) sering disebut sebagai peletak dasar nilai-nilai Islam di Buton yang berpusat di dalam benteng. Namun, dalam konteks pembangunan fisik benteng, Sultan La Elangi (Sultan Dayanu Ikhsanuddin) adalah sosok yang menetapkan batas-batas wilayah keraton secara permanen. Selain itu, sistem pemerintahan yang dijalankan di dalam benteng ini sangat maju pada masanya, di mana Sultan tidak dipilih berdasarkan keturunan semata, melainkan melalui proses demokratis oleh Dewan Siolimbona. Hal ini menjadikan Benteng Keraton Buton sebagai pusat intelektual dan politik yang unik di Timur Indonesia.

## Nilai Budaya dan Keagamaan

Di dalam kawasan benteng, terdapat Masjid Agung Keraton Buton yang merupakan salah satu masjid tertua di Sulawesi Tenggara. Masjid ini menjadi pusat spiritual di mana hukum-hukum Islam dipadukan dengan kearifan lokal (Adat yang bersendikan Syara, Syara yang bersendikan Kitabullah). Terdapat pula *Kasulana Tombi*, sebuah tiang bendera kayu yang telah berdiri sejak abad ke-17 yang digunakan untuk mengibarkan bendera kesultanan, *Longa-Longa*.

Masyarakat yang tinggal di dalam benteng (Masyarakat Wolio) hingga kini masih mempertahankan tradisi tutur dan upacara adat seperti *Santiago* (ziarah makam leluhur) dan *Posuo* (pingitan bagi gadis yang beranjak dewasa). Benteng ini bukan sekadar monumen mati, melainkan sebuah "living monument" di mana kehidupan sosial-budaya masyarakat tetap berdenyut di dalam tembok bersejarahnya.

## Status Konservasi dan Restoran

Saat ini, Benteng Keraton Buton dikelola oleh Pemerintah Kota Baubau dan Balai Pelestarian Kebudayaan. Upaya restorasi terus dilakukan untuk memperbaiki bagian dinding yang mulai ditumbuhi lumut atau mengalami pelapukan alami. Tantangan utama dalam pelestarian adalah menjaga integritas struktur asli di tengah pemukiman warga yang padat di dalam benteng. Pemerintah setempat telah menetapkan regulasi ketat mengenai bentuk bangunan rumah warga agar tetap selaras dengan estetika tradisional Buton.

Sebagai situs warisan dunia (dalam daftar sementara UNESCO), benteng ini menjadi daya tarik wisata sejarah utama. Pengunjung dapat menyusuri dinding benteng dan melihat meriam-meriam kuno peninggalan Portugis dan Belanda yang masih terpasang di bastion-bastionnya, mengarah ke laut sebagai pengingat akan masa-masa kewaspadaan tinggi di masa lalu.

## Fakta Sejarah Unik

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa setiap gerbang (*Lawa*) di benteng ini memiliki nama dan fungsi spesifik, serta dijaga oleh kelompok masyarakat tertentu dengan gelar adat yang berbeda. Selain itu, tata letak benteng ini konon dirancang mengikuti formasi huruf Arab yang membentuk nama "Muhammad", melambangkan ketaatan kesultanan terhadap ajaran Islam. Bentangannya yang sangat luas memungkinkan seluruh penduduk kota pada masa itu masuk ke dalam benteng saat terjadi serangan, menjadikannya salah satu sistem pertahanan sipil paling efisien di zamannya.

Dengan segala kemegahan arsitektur, kedalaman nilai filosofis, dan ketangguhan sejarahnya, Benteng Keraton Buton berdiri sebagai saksi bisu keperkasaan bangsa Indonesia dalam mengelola kedaulatan dan diplomasi di panggung sejarah dunia.
