---
title: "Huma Betang Sei Pasah"
type: "TouristAttraction"
lang: "id"
canonical: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/kapuas/huma-betang-sei-pasah"
html_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/kapuas/huma-betang-sei-pasah"
category: "Pusat Kebudayaan"
located_in: "Kapuas"
located_in_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/kapuas"
province: "Kalimantan Tengah"
updated: "2026-02-15T08:55:30.454314+00:00"
publisher: "GeoKepo"
license: "Editorial content © GeoKepo. Cite the canonical URL."
---
# Huma Betang Sei Pasah

Replika rumah tradisional suku Dayak Ngaju ini merupakan pusat pelestarian budaya yang memamerkan struktur bangunan panggung khas Kalimantan yang tahan banjir. Di sini, pengunjung bisa melihat langsung ukiran-ukiran kayu yang rumit serta mempelajari filosofi kebersamaan dalam kehidupan masyarakat Dayak.

## Key facts

- **address**: Desa Sei Pasah, Kecamatan Kapuas Hilir, Kabupaten Kapuas
- **entrance fee**: Rp 5.000 - Rp 10.000
- **opening hours**: Setiap hari, 08:00 - 17:00

# Menyingkap Megahnya Falsafah Budaya di Huma Betang Sei Pasah

Huma Betang Sei Pasah bukan sekadar bangunan kayu yang menjulang tinggi di tepian sungai; ia adalah jantung peradaban suku Dayak Ngaju di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Terletak di Desa Sei Pasah, Kecamatan Kapuas Hilir, pusat kebudayaan ini berdiri sebagai replika megah dari rumah tradisional Dayak yang merepresentasikan semangat *Belom Bahadat* (hidup beradat) dan kerukunan antar sesama. Sebagai lokomotif pelestarian budaya di Kalimantan Tengah, Huma Betang Sei Pasah memainkan peran krusial dalam menjembatani warisan masa lalu dengan dinamika kehidupan modern.

## Arsitektur sebagai Simbol Kehidupan Komunal

Secara fisik, Huma Betang Sei Pasah menampilkan karakteristik arsitektur Dayak yang autentik. Dibangun dengan struktur panggung menggunakan kayu ulin (kayu besi) yang tahan ratusan tahun, bangunan ini memiliki panjang yang mencolok untuk menampung banyak keluarga. Keberadaan *Sandung* (tempat penyimpanan tulang leluhur) dan patung *Sapundu* di halaman depan menegaskan bahwa tempat ini adalah ruang sakral sekaligus ruang sosial.

Filosofi Betang yang menekankan pada kebersamaan, kejujuran, dan musyawarah tercermin dalam tata ruangnya. Aula utamanya yang luas kini difungsikan sebagai pusat aktivitas kebudayaan, di mana lantai kayu yang mengkilap menjadi saksi bisu regenerasi nilai-nilai leluhur kepada generasi muda Kapuas.

## Program Pelestarian Seni Pertunjukan dan Musik Tradisional

Sebagai pusat kebudayaan, Huma Betang Sei Pasah menyelenggarakan program rutin latihan seni pertunjukan. Fokus utamanya adalah pelestarian Tari Karungut dan Tari Mandau. Karungut, yang merupakan kesenian vokal berupa pantun yang dilagukan, diajarkan dengan sangat spesifik di sini. Para praktisi budaya di Sei Pasah memastikan bahwa pesan-pesan moral dalam lirik Karungut tetap relevan dengan isu sosial saat ini.

Setiap akhir pekan, dentuman instrumen *Garantung* (gong khas Dayak) dan petikan *Kecapi* bergema dari dalam Betang. Program pelatihan musik ini tidak hanya terbuka bagi warga lokal, tetapi juga bagi wisatawan yang ingin mendalami ritme magis Kalimantan. Keunikan program di sini terletak pada metode pengajarannya yang masih menggunakan tradisi lisan, di mana murid belajar merasakan getaran musik sebelum menghafal nadanya.

## Kriya dan Kerajinan Tangan: Menenun Identitas

Huma Betang Sei Pasah juga berfungsi sebagai bengkel kerja (*workshop*) bagi para pengrajin lokal. Salah satu program unggulannya adalah pengembangan kerajinan rotan dan serat nanas. Pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan *Lanjung* (keranjang punggung) dan *Topi Caping* dengan motif-motif khas Dayak Ngaju seperti motif *Batang Garing* (Pohon Kehidupan).

Selain rotan, pusat kebudayaan ini menghidupkan kembali seni ukir kayu. Para pemuda desa dilatih untuk mengukir ornamen pada perisai (*Talawang*) dan gagang pedang (*Mandau*). Fokusnya bukan sekadar nilai estetika, melainkan pemahaman mendalam tentang makna simbolis di balik setiap ukiran, seperti simbol perlindungan, keberanian, dan hubungan manusia dengan alam semesta.

## Edukasi Budaya dan Keterlibatan Masyarakat

Pusat kebudayaan ini menjalankan peran edukatif melalui program "Betang Goes to School" dan kunjungan sekolah terintegrasi. Siswa-siswi dari berbagai sekolah di Kabupaten Kapuas secara rutin mengunjungi Sei Pasah untuk belajar tentang tata krama Dayak dan sejarah lokal. 

Masyarakat Desa Sei Pasah terlibat aktif dalam pengelolaan tempat ini melalui konsep pariwisata berbasis komunitas (*Community Based Tourism*). Ibu-ibu di sekitar Betang mengelola demonstrasi kuliner tradisional, seperti pengolahan *Juhu Singkah* (rotan muda) dan ikan bakar khas sungai Kapuas. Hal ini memastikan bahwa keberadaan Huma Betang memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga sekitar, sekaligus memperkuat rasa kepemilikan mereka terhadap warisan budaya tersebut.

## Festival dan Perayaan Ikonik

Huma Betang Sei Pasah menjadi titik pusat bagi berbagai festival budaya tahunan. Salah satu momen paling dinantikan adalah perayaan pasca-panen atau ritual syukur yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Dalam acara-acara besar, Betang ini menjadi panggung bagi kompetisi olahraga tradisional seperti *Manyumpit* (menyumpit), *Manggasing*, dan *Lomba Balogo*.

Kehadiran festival-festival ini bukan hanya menarik wisatawan domestik dan mancanegara, tetapi juga menjadi ajang bagi para seniman dari berbagai pelosok Kalimantan Tengah untuk bertukar pikiran. Di bawah atap Huma Betang, perbedaan sub-suku melebur dalam semangat *Huma Betang* yang inklusif.

## Peran dalam Pengembangan Budaya Lokal dan Lingkungan

Di tengah arus modernisasi dan perubahan lanskap hutan Kalimantan, Huma Betang Sei Pasah berdiri sebagai benteng pertahanan kearifan lokal. Pusat kebudayaan ini aktif mengampanyekan pentingnya menjaga sungai dan hutan, karena kebudayaan Dayak tidak dapat dipisahkan dari alam. Program-program di sini seringkali mengintegrasikan pesan lingkungan, mengajarkan bahwa merusak alam berarti merusak fondasi kebudayaan itu sendiri.

Selain itu, pusat kebudayaan ini bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mendokumentasikan tradisi-tradisi lisan yang mulai punah. Digitalisasi naskah-naskah kuno dan perekaman audio visual tentang ritual-ritual adat menjadi prioritas dalam lima tahun terakhir untuk memastikan bahwa pengetahuan ini tidak hilang ditelan zaman.

## Menatap Masa Depan: Inovasi dan Relevansi

Tantangan terbesar bagi Huma Betang Sei Pasah adalah menjaga relevansinya bagi generasi Z dan Alpha. Untuk itu, pusat kebudayaan ini mulai mengadopsi teknologi dalam penyampaian kontennya. Penggunaan media sosial untuk mempromosikan kegiatan seni dan penyediaan informasi melalui kode QR di area pameran adalah langkah nyata menuju pusat kebudayaan yang modern namun tetap berakar kuat pada tradisi.

Huma Betang Sei Pasah telah membuktikan bahwa rumah tradisional bukan sekadar artefak masa lalu yang beku. Ia adalah organisme yang hidup, yang terus bernapas melalui tarian anak-anak, denting musik para orang tua, dan jemari para pengrajin. Sebagai mercusuar budaya di Kabupaten Kapuas, Huma Betang Sei Pasah akan terus memancarkan cahaya kearifan Dayak, mengingatkan setiap orang yang berkunjung bahwa dalam kebersamaan dan penghormatan terhadap leluhur, terdapat kekuatan besar untuk menghadapi masa depan.

Dengan segala aktivitas dan dedikasinya, Huma Betang Sei Pasah bukan hanya milik warga Desa Sei Pasah atau masyarakat Kapuas saja, melainkan warisan berharga bagi bangsa Indonesia yang memperkaya mozaik kebhinekaan nusantara. Mengunjungi tempat ini adalah sebuah perjalanan spiritual dan intelektual untuk memahami esensi manusia yang hidup selaras dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta.
