---
title: "Klenteng Hok Lay Kiong"
type: "TouristAttraction"
lang: "id"
canonical: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/kota-bekasi/klenteng-hok-lay-kiong"
html_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/kota-bekasi/klenteng-hok-lay-kiong"
category: "Situs Sejarah"
located_in: "Kota Bekasi"
located_in_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/kota-bekasi"
province: "Jawa Barat"
updated: "2026-02-15T08:47:50.145779+00:00"
publisher: "GeoKepo"
license: "Editorial content © GeoKepo. Cite the canonical URL."
---
# Klenteng Hok Lay Kiong

Sebagai klenteng tertua di Bekasi yang diperkirakan berusia lebih dari 300 tahun, situs ini merupakan saksi bisu perkembangan komunitas Tionghoa di daerah tersebut. Arsitekturnya yang didominasi warna merah menyala menawarkan nuansa historis dan spiritual yang kental di kawasan Pasar Proyek.

## Key facts

- **address**: Jl. Kenari No.1, Margahayu, Kec. Bekasi Timur, Kota Bekasi
- **entrance fee**: Gratis (donasi sukarela)
- **opening hours**: Setiap hari, 24 jam untuk ibadah

# Jejak Abadi Klenteng Hok Lay Kiong: Simbol Akulturasi dan Sejarah Kota Bekasi

Di tengah hiruk-pikuk modernitas Kota Bekasi, tepatnya di kawasan Jalan Mayor Oking, Margahayu, berdiri sebuah monumen sejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang masyarakat Tionghoa di Tanah Patriot. Klenteng Hok Lay Kiong bukan sekadar tempat ibadah bagi penganut Konghucu, Taoisme, dan Buddhisme (Tri Dharma), melainkan sebuah situs sejarah yang merekam jejak sosial-budaya Bekasi selama ratusan tahun.

## Asal-Usul dan Periode Pendirian

Klenteng Hok Lay Kiong secara etimologis memiliki arti "Istana yang Mendatangkan Rezeki" (Hok: rezeki, Lay: datang, Kiong: istana). Meskipun catatan administratif yang pasti mengenai tanggal peletakan batu pertama sulit ditemukan karena keterbatasan dokumentasi pada masa kolonial, para sejarawan dan tokoh komunitas setempat meyakini bahwa klenteng ini telah berdiri sejak pertengahan abad ke-18. Beberapa sumber menyebutkan rentang waktu sekitar tahun 1700-an akhir hingga awal 1800-an.

Pendirian klenteng ini tidak lepas dari migrasi besar-besaran etnis Tionghoa ke wilayah pinggiran Batavia (sekarang Jakarta) akibat peristiwa "Geger Pacinan" tahun 1740. Masyarakat Tionghoa yang selamat dari pembantaian di Batavia melarikan diri ke arah timur, termasuk ke wilayah Bekasi yang saat itu masih didominasi oleh rawa dan lahan pertanian. Di tepi Sungai Bekasi, yang dahulu merupakan jalur transportasi air utama, mereka membangun pemukiman dan tempat peribadatan ini sebagai bentuk syukur dan permohonan perlindungan.

## Arsitektur dan Detail Konstruksi

Arsitektur Hok Lay Kiong mencerminkan gaya tradisional Tiongkok Selatan yang kental, khususnya pengaruh gaya Hokkien. Struktur bangunannya didominasi oleh warna merah yang melambangkan kebahagiaan dan keberuntungan, serta warna kuning emas yang melambangkan keagungan.

Salah satu ciri khas yang menonjol adalah bentuk atapnya yang melengkung (Nghia-A-Kha) dengan hiasan sepasang naga yang memperebutkan mustika (mutiara api). Naga dalam kosmologi Tionghoa dianggap sebagai pelindung dari roh jahat dan simbol kekuatan alam. Pintu utama klenteng dijaga oleh dua patung singa (Cioksai) yang dipahat dari batu utuh, berfungsi secara simbolis sebagai penjaga kesucian tempat ibadah.

Di bagian dalam, struktur bangunan didukung oleh tiang-tiang kayu jati kuno yang masih kokoh. Langit-langit klenteng dihiasi dengan ukiran kayu (Lau-Chuan) yang rumit, menggambarkan kisah-kisah mitologi Tiongkok. Di ruang utama, terdapat altar Dewa Tuan Rumah (Tuan Di Pong) dan berbagai dewa-dewi lainnya. Uniknya, meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi, tata letak ruang utama tetap dipertahankan sesuai prinsip Feng Shui aslinya, yang menghadap ke arah sungai sebagai sumber kehidupan.

## Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Klenteng Hok Lay Kiong bukan hanya saksi perkembangan agama, tetapi juga saksi perjuangan kemerdekaan. Pada masa revolusi fisik (1945-1949), wilayah Bekasi merupakan garis depan pertahanan Republik Indonesia melawan agresi militer Belanda. Klenteng ini konon pernah menjadi tempat perlindungan bagi warga sipil dari berbagai etnis saat terjadi kontak senjata di sekitar jembatan besi Bekasi.

Keberadaan klenteng ini juga berkaitan erat dengan sejarah ekonomi Bekasi sebagai pusat perdagangan hasil bumi. Karena lokasinya yang strategis di dekat Sungai Bekasi, klenteng ini menjadi titik kumpul para pedagang Tionghoa yang membawa komoditas dari pedalaman menuju pelabuhan di Batavia. Hal ini menjadikan Hok Lay Kiong sebagai pusat gravitasi sosial bagi komunitas "Cina Benteng" dan "Cina Kebun" yang menetap di Bekasi.

## Tokoh dan Hubungan Antar Zaman

Sepanjang sejarahnya, pengelolaan klenteng dilakukan secara turun-temurun oleh keluarga dan yayasan. Tokoh-tokoh dari Yayasan Pancaran Tridharma telah memainkan peran krusial dalam menjaga eksistensi bangunan ini. Pada masa Orde Baru, ketika ekspresi budaya Tionghoa dibatasi secara ketat, Klenteng Hok Lay Kiong tetap mampu berdiri tegak sebagai pusat kegiatan sosial yang inklusif, membuktikan ketahanan identitasnya di tengah tekanan politik.

Salah satu fakta unik adalah hubungan klenteng ini dengan situs sejarah lain di Bekasi. Terdapat kaitan historis antara komunitas di klenteng ini dengan para pejuang lokal di bawah pimpinan K.H. Noer Ali. Masyarakat Tionghoa di sekitar klenteng dikenal memiliki hubungan harmonis dengan warga pribumi, menciptakan solidaritas lintas etnis yang kuat dalam menghadapi penjajah.

## Upaya Pelestarian dan Restorasi

Sebagai salah satu bangunan tertua di Kota Bekasi, Hok Lay Kiong telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya oleh pemerintah daerah. Upaya restorasi besar terakhir dilakukan untuk memperbaiki bagian atap dan pengecatan ulang tanpa mengubah bentuk aslinya. Kayu-kayu penyangga yang sudah lapuk diganti dengan material serupa untuk menjaga otentisitas.

Pemerintah Kota Bekasi bersama pihak yayasan juga terus berupaya menjadikan kawasan ini sebagai destinasi wisata sejarah dan religi. Penataan kawasan sekitar klenteng, termasuk akses jalan dan kebersihan lingkungan, menjadi prioritas agar nilai estetik dan historis bangunan tetap terjaga di tengah kepungan bangunan modern dan pusat perbelanjaan.

## Peran Budaya dan Keagamaan Saat Ini

Setiap tahun, Klenteng Hok Lay Kiong menjadi pusat perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh di Bekasi. Tradisi "Gotong Toapekong" (mengarak patung dewa-dewi) merupakan acara yang paling dinanti, di mana ribuan warga dari berbagai latar belakang etnis dan agama berkumpul untuk menyaksikan atraksi Barongsai dan Liong.

Nilai penting dari klenteng ini terletak pada fungsinya sebagai perekat sosial. Di sini, nilai-nilai toleransi dipraktikkan secara nyata. Keberadaan klenteng di tengah lingkungan masyarakat yang mayoritas Muslim adalah bukti nyata dari semboyan "Bhinneka Tunggal Ika". Bagi Kota Bekasi, Hok Lay Kiong bukan sekadar tumpukan batu bata dan kayu tua; ia adalah identitas, memori kolektif, dan simbol harmoni yang tetap menyala di jantung kota.

Dengan usia yang mencapai ratusan tahun, Klenteng Hok Lay Kiong terus berdiri sebagai pengingat bahwa Bekasi memiliki akar sejarah yang majemuk. Melalui pemeliharaan yang berkelanjutan, situs ini diharapkan dapat terus memberikan edukasi bagi generasi mendatang tentang pentingnya menghargai warisan budaya dan sejarah bangsa.
