---
title: "Kawasan Wisata Banten Lama"
type: "TouristAttraction"
lang: "id"
canonical: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/serang/kawasan-wisata-banten-lama"
html_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/serang/kawasan-wisata-banten-lama"
category: "Situs Sejarah"
located_in: "Serang"
located_in_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/serang"
province: "Banten"
updated: "2026-02-15T08:43:45.807046+00:00"
publisher: "GeoKepo"
license: "Editorial content © GeoKepo. Cite the canonical URL."
---
# Kawasan Wisata Banten Lama

Menelusuri jejak kejayaan Kesultanan Banten di situs bersejarah ini, di mana pengunjung dapat menyaksikan kemegahan Masjid Agung Banten dan menara ikoniknya yang dirancang oleh arsitek Belanda. Kawasan ini merupakan jantung peradaban Islam di tanah Pasundan yang sarat akan nilai spiritual dan heroisme masa lalu.

## Key facts

- **address**: Kasemen, Kota Serang, Banten
- **entrance fee**: Gratis (Donasi sukarela)
- **opening hours**: Setiap hari, 24 Jam

# Jejak Kejayaan Maritim dan Syiar Islam: Sejarah Kawasan Wisata Banten Lama

Kawasan Wisata Banten Lama merupakan sebuah kompleks situs bersejarah yang terletak di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten. Kawasan ini bukan sekadar destinasi wisata religi, melainkan artefak raksasa yang menyimpan memori kolektif tentang kejayaan Kesultanan Banten sebagai salah satu pusat perdagangan maritim terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-16 hingga ke-17. Berdiri di delta Sungai Cibanten, situs ini menjadi saksi bisu transisi kebudayaan Hindu-Buddha menuju era Islamisasi di Nusantara.

## Asal-Usul dan Pendirian: Dari Banten Girang ke Pesisir

Sejarah Banten Lama tidak dapat dilepaskan dari pergeseran pusat kekuasaan dari Banten Girang (pedalaman) ke pesisir utara. Pada tahun 1526, Syarif Hidayatullah yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, bersama putranya Maulana Hasanuddin, merebut pelabuhan Banten dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran yang saat itu bersekutu dengan Portugis. 

Pendirian kota Banten Lama secara formal dilakukan pada 1 Syawal 933 Hijriah (sekitar tahun 1527 Masehi). Maulana Hasanuddin kemudian dinobatkan sebagai Sultan Banten pertama. Pemilihan lokasi di pesisir utara merupakan langkah strategis untuk menguasai jalur perdagangan lada yang sangat bernilai di Selat Sunda, sekaligus menjauhkan pengaruh politik dari pedalaman Jawa Barat.

## Arsitektur Akulturasi: Perpaduan Budaya Dunia

Salah satu keunikan utama Kawasan Banten Lama adalah gaya arsitekturnya yang mencerminkan kosmopolitanisme. Bangunan-bangunannya menunjukkan perpaduan harmonis antara elemen lokal Jawa, pengaruh Islam, gaya kolonial Eropa, hingga sentuhan Tionghoa.

1.  **Masjid Agung Banten:** Dibangun sekitar tahun 1552–1570, masjid ini memiliki atap tumpang lima yang menyerupai pagoda atau meru dari tradisi Hindu-Jawa. Namun, menara masjidnya yang ikonik—sering disebut sebagai "Menara Banten"—menampilkan pengaruh kuat arsitektur Belanda dan Mughal. Menara ini dirancang oleh Hendrik Lucasz Cardeel, seorang mualaf asal Belanda yang dianugerahi gelar Pangeran Wiraguna oleh Sultan.
2.  **Keraton Surosowan:** Berbeda dengan keraton di Jawa Tengah yang menggunakan kayu, Surosowan dibangun menggunakan batu bata dan batu karang dengan parit-parit pertahanan di sekelilingnya. Arsitekturnya mengadopsi sistem benteng pertahanan Eropa, mencerminkan kebutuhan keamanan terhadap ancaman dari laut.
3.  **Vihara Avalokitesvara:** Keberadaan rumah ibadah umat Buddha yang dibangun sejak abad ke-16 ini membuktikan bahwa Banten Lama adalah kota yang sangat toleran. Arsitekturnya didominasi warna merah dan kuning dengan ukiran naga khas Dinasti Ming.

## Signifikansi Historis dan Peran Strategis

Pada masa keemasannya, terutama di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1683), Banten Lama berfungsi sebagai emporium internasional. Pelabuhan Karangantu yang berada di kawasan ini menjadi titik temu pedagang dari Inggris, Belanda, Prancis, Denmark, Tiongkok, Arab, dan India.

Banten Lama menjadi pusat perlawanan terhadap monopoli VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie). Keberanian Sultan Ageng Tirtayasa dalam menantang dominasi Belanda menjadikan Banten sebagai simbol kedaulatan Nusantara. Namun, konflik internal antara Sultan Ageng dengan putranya, Sultan Haji, yang didukung oleh Belanda, menjadi awal keruntuhan kesultanan ini. Puncaknya terjadi pada tahun 1808, ketika Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels memerintahkan penghancuran Keraton Surosowan karena Sultan Muhammad bin Safiuddin menolak memindahkan ibu kota ke daerah pedalaman.

## Tokoh-Tokoh Sentral dan Warisan Intelektual

Selain Maulana Hasanuddin dan Sultan Ageng Tirtayasa, tokoh penting lainnya adalah Syekh Yusuf Al-Makassari. Beliau adalah mufti kesultanan sekaligus penasihat militer Sultan Ageng yang menyebarkan ajaran tasawuf dan menjadi simbol persatuan pejuang antardaerah di Nusantara.

Banten Lama juga dikenal sebagai pusat pendidikan Islam. Banyak ulama besar lahir dan menimba ilmu di sini sebelum melanjutkan studi ke Mekkah. Tradisi intelektual ini meninggalkan warisan berupa naskah-naskah kuno dan sistem pendidikan pesantren yang masih bertahan hingga saat ini di wilayah Banten.

## Konservasi, Restorasi, dan Revitalisasi Modern

Selama berabad-abad, Banten Lama sempat terlupakan dan tertutup semak belukar. Upaya pelestarian mulai dilakukan secara intensif sejak era kemerdekaan. Kawasan ini ditetapkan sebagai Cagar Budaya nasional yang dilindungi oleh undang-undang.

Pada tahun 2018, Pemerintah Provinsi Banten melakukan proyek revitalisasi besar-besaran. Area pelataran Masjid Agung Banten kini dilengkapi dengan payung-payung besar yang menyerupai Masjid Nabawi di Madinah, serta lantai marmer yang menggantikan tanah becek. Meskipun revitalisasi ini sempat menuai perdebatan mengenai keaslian sejarah (otentisitas), langkah ini berhasil meningkatkan kenyamanan bagi jutaan peziarah dan wisatawan yang datang setiap tahunnya.

Restorasi juga difokuskan pada Keraton Kaibon, tempat tinggal ibunda Sultan, yang reruntuhannya masih memperlihatkan keindahan struktur gerbang dan taman airnya. Penggalian arkeologis terus dilakukan untuk mengungkap tata kota kuno, termasuk sistem pengairan "Tasikardi" yang dahulu merupakan danau buatan untuk memasok air bersih ke keraton.

## Makna Religi dan Budaya Bagi Masyarakat

Hingga saat ini, Banten Lama tetap menjadi magnet spiritual. Makam para sultan yang berada di sisi utara Masjid Agung tidak pernah sepi dari peziarah. Kawasan ini menjadi simbol identitas masyarakat Banten yang religius namun terbuka terhadap perubahan. 

Keberagaman situs di satu kawasan—mulai dari masjid, keraton, benteng Speelwijk milik Belanda, hingga vihara—menjadikan Banten Lama sebagai laboratorium sejarah yang unik. Ia mengajarkan bahwa di masa lalu, Nusantara adalah bangsa yang besar karena kemampuannya dalam berdialog dengan berbagai peradaban dunia tanpa kehilangan jati diri lokalnya.

Kawasan Wisata Banten Lama kini berdiri sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu yang heroik dengan masa depan Banten. Dengan segala reruntuhan dan kemegahannya yang tersisa, ia tetap menjadi pengingat bahwa kejayaan sebuah bangsa sangat bergantung pada penguasaan maritim, kemandirian ekonomi, dan kerukunan antarumat beragama.
