---
title: "Desa Wisata Poto"
type: "TouristAttraction"
lang: "id"
canonical: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/sumbawa/desa-wisata-poto"
html_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/sumbawa/desa-wisata-poto"
category: "Pusat Kebudayaan"
located_in: "Sumbawa"
located_in_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/sumbawa"
province: "Nusa Tenggara Barat"
updated: "2026-02-15T09:00:58.29685+00:00"
publisher: "GeoKepo"
license: "Editorial content © GeoKepo. Cite the canonical URL."
---
# Desa Wisata Poto

Desa ini merupakan sentra kerajinan tenun khas Sumbawa yang dikenal dengan nama Kre' Alang, dihiasi motif benang emas yang rumit. Selain melihat proses menenun, pengunjung juga bisa menyaksikan atraksi pacuan kerbau (Barapan Kebo) yang kerap diselenggarakan di area persawahan sekitar desa.

## Key facts

- **address**: Desa Poto, Kec. Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat
- **entrance fee**: Gratis (Biaya workshop tersedia)
- **opening hours**: Setiap hari, 08:00 - 17:00

# Menelusuri Jejak Peradaban Tau Samawa di Desa Wisata Poto: Episentrum Kebudayaan Sumbawa

Desa Wisata Poto, yang terletak di Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, bukan sekadar destinasi liburan biasa. Desa ini merupakan sebuah "laboratorium hidup" bagi kebudayaan suku Samawa. Sebagai pusat kebudayaan (Cultural Center), Desa Poto memegang peranan krusial dalam menjaga nyala api tradisi di tengah arus modernisasi. Dengan karakteristik masyarakat yang masih memegang teguh nilai-nilai leluhur, desa ini menawarkan pengalaman imersif bagi siapa pun yang ingin mendalami filosofi hidup masyarakat Sumbawa.

### Warisan Tenun: Kriya Khas Sesek dan Kre Alang
Salah satu identitas paling kuat dari Desa Wisata Poto adalah kerajinan tenunnya. Di sini, aktivitas menenun bukan sekadar mata pencaharian, melainkan ritual budaya yang diwariskan secara turun-temurun melalui garis perempuan. Produk unggulannya adalah *Kre Alang*, kain tenun khas Sumbawa yang menggunakan benang emas atau perak dengan motif-motif filosofis.

Motif yang paling ikonik adalah *Gajah Ngilar* (gajah menari) dan *Bunga Teratai*, yang melambangkan kemuliaan serta hubungan manusia dengan alam. Wisatawan tidak hanya melihat hasil jadi, tetapi dapat mengikuti program workshop menenun, mulai dari proses memintal benang, pewarnaan alami menggunakan kulit kayu dan akar tanaman, hingga teknik *nyungkit* (mengangkat benang untuk membentuk motif). Keunikan Desa Poto terletak pada konsistensi para perajinnya dalam menggunakan pewarna alami yang ramah lingkungan, sebuah praktik yang kini menjadi daya tarik wisata berkelanjutan.

### Revitalisasi Sastra Lisan: Sakeco dan Ngumang
Desa Wisata Poto adalah benteng pertahanan bagi sastra lisan Sumbawa yang kaya. Program kebudayaan di sini sangat menekankan pada pelestarian *Sakeco*. Sakeco adalah kesenian tutur yang dibawakan oleh dua orang laki-laki menggunakan alat musik rebana. Lirik-lirik yang dibawakan (disebut *Lawas*) mengandung pesan moral, kritik sosial, hingga petuah agama.

Selain Sakeco, pengunjung dapat menyaksikan tradisi *Ngumang*, yaitu ekspresi kejantanan dan kegembiraan yang biasanya ditampilkan dalam ritual pasca-panen atau festival kerbau. Ngumang melibatkan gerakan tari yang menyerupai burung elang, diiringi dengan teriakan-teriakan puitis yang membangkitkan semangat. Pusat kebudayaan di desa ini secara rutin mengadakan latihan bagi generasi muda, memastikan bahwa ritme rebana dan bait-bait Lawas tidak hilang ditelan zaman.

### Arsitektur dan Tata Ruang Berbasis Budaya
Sebagai pusat kebudayaan, struktur fisik Desa Poto juga mencerminkan identitas lokal. Di desa ini, masih terdapat rumah panggung kayu khas Sumbawa yang berfungsi sebagai ruang publik dan tempat penyimpanan hasil bumi. Balai desa dan sanggar-sanggar seni dibangun dengan mengikuti pola arsitektur tradisional, menciptakan atmosfer yang autentik.

Salah satu program unik di sini adalah "Live-in Culture", di mana pengunjung tinggal bersama penduduk lokal di rumah-rumah panggung tersebut. Hal ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang tata krama (adab) masyarakat Samawa, seperti tradisi *Basiru* (gotong-royong) dan cara penyambutan tamu yang menghormati privasi namun tetap hangat.

### Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional: Karapan Kerbau (Barapan Kebo)
Tradisi yang paling dinantikan di Desa Poto adalah *Barapan Kebo* atau Karapan Kerbau. Berbeda dengan balapan kerbau di daerah lain, Barapan Kebo di Sumbawa memiliki komponen magis dan ketangkasan yang unik. Di tengah sawah yang berlumpur, sepasang kerbau dipacu untuk menabrak *Saka* (tonggak kayu) yang dipasang di ujung lintasan.

Peran Desa Poto sebagai pusat kebudayaan terlihat dari bagaimana mereka mengemas festival ini. Barapan Kebo bukan hanya soal kompetisi, tetapi juga ritual syukur atas kesuburan tanah. Sebelum balapan dimulai, dilakukan ritual oleh *Sandro* (dukun adat) untuk memberkati kerbau dan lahan. Wisatawan diajak untuk memahami simbolisme di balik alat-alat Barapan Kebo, seperti *Noga* (kayu penghubung leher kerbau) dan *Kareng* (tempat berpijak joki).

### Program Edukasi dan Keterlibatan Masyarakat
Pusat Kebudayaan Desa Poto berfungsi sebagai sekolah alam bagi anak-anak setempat. Melalui program "Sekolah Warisan", para tetua desa (Tokoh Adat) memberikan pelajaran rutin mengenai etika, sejarah lokal, dan keterampilan tradisional. Keterlibatan masyarakat sangat masif; setiap rumah tangga memiliki peran, mulai dari penyedia kuliner tradisional seperti *Sepat* dan *Singang*, hingga pemandu wisata yang tersertifikasi secara lokal tentang sejarah desa.

Pemerintah desa dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) juga aktif menjalin kerja sama dengan akademisi untuk mendokumentasikan pengetahuan tradisional (Traditional Ecological Knowledge). Hal ini mencakup cara masyarakat Poto mengelola sumber daya air dan sistem pertanian yang sinkron dengan kalender adat.

### Festival Budaya Poto: Puncak Perayaan Tradisi
Setiap tahun, Desa Wisata Poto menyelenggarakan festival budaya berskala besar yang menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Festival ini biasanya dirangkaikan dengan kalender pertanian. Dalam perhelatan ini, seluruh potensi desa ditampilkan: parade tenun kolosal, kompetisi Sakeco antar-dusun, hingga pameran kuliner langka yang hanya muncul saat upacara adat.

Festival ini bukan sekadar tontonan, melainkan ajang konsolidasi budaya. Di sinilah proses transfer pengetahuan terjadi secara organik antara generasi tua dan muda. Wisatawan yang hadir diperlakukan sebagai bagian dari keluarga besar desa, diajak ikut menari dan mencicipi hidangan dalam tradisi *Beguru* (makan bersama secara lesehan).

### Pelestarian Warisan dan Tantangan Masa Depan
Sebagai pusat kebudayaan, Desa Poto menghadapi tantangan besar dalam menjaga orisinalitas di tengah tuntutan komersialisasi pariwisata. Namun, kekuatan desa ini terletak pada prinsip "Pariwisata Berbasis Komunitas". Keputusan mengenai pengembangan desa diambil melalui musyawarah adat, sehingga setiap inovasi pariwisata tidak boleh mencederai nilai-nilai luhur.

Upaya digitalisasi kebudayaan juga mulai dilakukan. Dokumentasi motif tenun dan rekaman audio sastra lisan mulai diarsipkan secara digital agar bisa dipelajari oleh dunia luar tanpa harus merusak esensi aslinya. Desa Poto menjadi bukti bahwa sebuah desa di pelosok Sumbawa mampu menjadi mercusuar peradaban yang memadukan masa lalu yang megah dengan masa depan yang berkelanjutan.

### Penutup: Peran Desa Poto dalam Pembangunan Lokal
Keberadaan Desa Wisata Poto sebagai pusat kebudayaan telah mengubah lanskap ekonomi dan sosial di Moyo Hilir. Budaya tidak lagi dipandang sebagai peninggalan usang, melainkan aset berharga yang mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat. Dengan konsistensi dalam menjaga tradisi tenun, sastra lisan, dan permainan rakyat, Desa Poto memastikan bahwa identitas Tau Samawa akan tetap tegak berdiri, menjadi kebanggaan bagi Nusa Tenggara Barat dan Indonesia di mata dunia.

Kunjungan ke Desa Poto adalah sebuah perjalanan spiritual dan intelektual. Di sini, setiap jengkal tanah bercerita, setiap helai benang bermakna, dan setiap irama rebana adalah doa bagi keseimbangan alam dan manusia. Desa Poto adalah jantung kebudayaan Sumbawa yang terus berdenyut, mengundang siapa saja untuk pulang dan mengenali kembali jati diri kemanusiaan melalui kearifan lokal.
