---
title: "Habitat Penyu Belimbing Pantai Jamursba Medi"
type: "TouristAttraction"
lang: "id"
canonical: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/tambrauw/pantai-jamursba-medi"
html_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/tambrauw/pantai-jamursba-medi"
category: "Wisata Alam"
located_in: "Tambrauw"
located_in_url: "https://www.geokepo.id/id/lokasi/tambrauw"
province: "Papua Barat Daya"
updated: "2026-02-15T08:33:08.410715+00:00"
publisher: "GeoKepo"
license: "Editorial content © GeoKepo. Cite the canonical URL."
---
# Habitat Penyu Belimbing Pantai Jamursba Medi

Destinasi konservasi kelas dunia ini merupakan lokasi peneluran penyu belimbing terbesar di kawasan Pasifik. Wisatawan dapat menyaksikan fenomena alam yang luar biasa saat penyu-penyu raksasa ini mendarat di pantai untuk meletakkan telur mereka di bawah perlindungan petugas konservasi.

## Key facts

- **address**: Kampung Hopmare, Distrik Sausapor, Kabupaten Tambrauw
- **entrance fee**: Perlu izin khusus dan pemandu lokal
- **opening hours**: Setiap hari (Sesuai musim bertelur)

# Menelusuri Jejak Sang Raksasa Samudra di Pantai Jamursba Medi, Tambrauw

Terletak di garis pantai utara semenanjung Kepala Burung Papua, tepatnya di Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya, terbentang sebuah destinasi yang bukan sekadar objek wisata biasa. Pantai Jamursba Medi (atau yang dikenal oleh masyarakat lokal sebagai Pantai Wermon) adalah situs keramat bagi keanekaragaman hayati global. Tempat ini memegang predikat sebagai lokasi peneluran penyu belimbing (*Dermochelys coriacea*) terbesar di kawasan Pasifik Barat, menjadikannya destinasi wisata alam yang menawarkan perjumpaan intim dengan salah satu reptil purba tertua di dunia yang masih bertahan hidup.

## Bentang Alam: Harmoni Pesisir dan Hutan Hujan Tropis

Pantai Jamursba Medi memiliki karakteristik geografis yang unik dan dramatis. Pantai ini membentang sepanjang kurang lebih 18 kilometer, terbagi dalam beberapa sektor utama yang didominasi oleh pasir kuarsa berwarna abu-abu gelap kehitaman. Tekstur pasir di sini cenderung kasar namun sangat mendukung proses inkubasi telur penyu karena kemampuannya menyerap panas matahari secara optimal.

Di balik garis pantainya, pengunjung akan disuguhi pemandangan hutan hujan tropis dataran rendah yang masih perawan. Pegunungan Tambrauw yang menjulang di latar belakang memberikan kontras hijau yang pekat terhadap birunya Samudra Pasifik. Vegetasi pantai didominasi oleh pohon pandan laut (*Pandanus tectorius*) dan ketapang (*Terminalia catappa*) yang menjadi benteng alami dari abrasi sekaligus tempat berteduh bagi berbagai fauna darat Papua. Aliran sungai-sungai kecil yang jernih dari pegunungan bermuara di beberapa titik pantai, menciptakan ekosistem estuari mini yang kaya akan nutrisi.

## Ekosistem dan Biodiversitas: Rumah Sang Penyu Belimbing

Daya tarik utama Jamursba Medi terletak pada statusnya sebagai "rahim" bagi penyu belimbing. Penyu ini merupakan spesies penyu terbesar di dunia, yang beratnya bisa mencapai 600 hingga 900 kilogram dengan panjang karapas melebihi dua meter. Berbeda dengan penyu lain, penyu belimbing tidak memiliki cangkang keras, melainkan karapas kulit yang fleksibel dengan garis-garis punggung yang menonjol.

Keunikan ekosistem di sini dipengaruhi oleh arus laut Pasifik yang membawa kelimpahan ubur-ubur—makanan utama penyu belimbing. Selain penyu belimbing, pantai ini juga menjadi lokasi peneluran bagi spesies penyu lain seperti penyu hijau (*Chelonia mydas*) dan penyu sisik (*Eretmochelys imbricata*). Di wilayah hutannya, pengunjung yang beruntung dapat menjumpai burung Cenderawasih, kakatua raja, dan berbagai spesies reptil endemik Papua yang menjadikan Tambrauw sebagai salah satu titik *hotspot* biodiversitas dunia.

## Pengalaman Wisata Terbatas dan Aktivitas Outdoor

Berwisata ke Jamursba Medi menuntut kesadaran lingkungan yang tinggi. Aktivitas utama di sini adalah pengamatan penyu bertelur (*Turtle Watching*) yang dilakukan pada malam hari. Di bawah bimbingan pemandu lokal dan petugas konservasi, pengunjung dapat menyaksikan secara langsung proses heroik penyu betina mendarat dari samudra, menggali lubang, hingga mengeluarkan puluhan butir telur. Pengalaman ini seringkali menjadi momen spiritual bagi banyak wisatawan saat melihat perjuangan makhluk purba ini menyambung keturunan.

Selain pengamatan penyu, pengunjung dapat melakukan aktivitas *trekking* ringan menyusuri garis pantai atau mengeksplorasi pinggiran hutan untuk pengamatan burung (*birdwatching*). Fotografi alam merupakan aktivitas favorit lainnya, mengingat lanskap matahari terbenam di ufuk Pasifik yang berpadu dengan siluet pegunungan memberikan komposisi visual yang luar biasa. Namun, perlu diingat bahwa penggunaan lampu lampu kilat (flash) sangat dilarang saat pengamatan penyu malam hari agar tidak mengganggu insting navigasi mereka.

## Waktu Terbaik dan Variasi Musim

Waktu kunjungan sangat krusial di Jamursba Medi. Penyu belimbing memiliki dua puncak musim peneluran. Puncak pertama terjadi antara bulan Mei hingga September, di mana intensitas penyu mendarat di area Jamursba sangat tinggi. Musim kedua terjadi sekitar bulan Oktober hingga Februari, namun biasanya lebih banyak terkonsentrasi di sisi Pantai Wermon yang letaknya berdekatan.

Secara klimatologis, bulan April hingga Juni adalah waktu yang paling disarankan karena kondisi laut cenderung lebih tenang, memudahkan akses transportasi laut menuju lokasi. Pada bulan-bulan tertentu, ombak Samudra Pasifik bisa menjadi sangat ganas, menciptakan tantangan tersendiri bagi kapal-kapal kecil yang ingin merapat.

## Status Konservasi dan Perlindungan Lingkungan

Jamursba Medi bukan sekadar destinasi rekreasi, melainkan kawasan konservasi yang dikelola secara ketat. Pemerintah daerah Tambrauw telah menetapkan wilayah ini sebagai bagian dari Kawasan Konservasi Perairan Daerah. Upaya perlindungan melibatkan masyarakat adat lokal yang berperan sebagai penjaga pantai (*rangers*). Mereka melakukan patroli rutin untuk melindungi telur penyu dari predator alami seperti babi hutan dan biawak, serta dari ancaman perburuan liar.

Wisatawan yang berkunjung diwajibkan mematuhi kode etik konservasi, seperti menjaga jarak minimal dari penyu, tidak menyentuh penyu, dan meminimalisir penggunaan cahaya buatan. Keberlangsungan pariwisata di sini bergantung sepenuhnya pada kelestarian habitat ini; jika habitat rusak, maka daya tarik utamanya akan hilang selamanya.

## Aksesibilitas dan Fasilitas

Menuju Pantai Jamursba Medi adalah sebuah petualangan tersendiri. Akses utama biasanya dimulai dari Kota Sorong atau Manokwari. Dari Sorong, pengunjung dapat menempuh perjalanan darat menggunakan kendaraan 4WD menuju Sausapor, ibu kota sementara Tambrauw, yang memakan waktu sekitar 3-5 jam. Dari Sausapor, perjalanan dilanjutkan dengan menyewa *speedboat* atau kapal kayu nelayan selama 1-2 jam menyusuri pesisir utara tergantung kondisi cuaca.

Fasilitas di sekitar lokasi masih sangat terbatas dan bersifat ekologis. Terdapat *basecamp* peneliti dan pondok pengamatan sederhana yang dikelola oleh masyarakat lokal atau lembaga konservasi. Pengunjung disarankan untuk membawa perlengkapan logistik mandiri, obat-obatan, dan perlengkapan tidur jika berencana menginap. Ketiadaan sinyal seluler yang kuat dan listrik yang terbatas justru menambah esensi wisata alam yang otentik, di mana pengunjung benar-benar terputus dari dunia luar dan menyatu dengan alam Tambrauw yang megah.

Pantai Jamursba Medi adalah pengingat bahwa di sudut terpencil Papua Barat Daya, keajaiban prasejarah masih berlangsung hingga hari ini. Mengunjungi tempat ini adalah sebuah penghormatan terhadap alam, memberikan kesempatan bagi setiap jiwa untuk menghargai pentingnya menjaga setiap jengkal habitat yang tersisa bagi penghuni samudra.
