Pendahuluan
Di jantung Jawa Timur, tersembunyi sebuah permata arkeologis yang menawarkan jendela langka ke masa lalu gemilang Kerajaan Majapahit: Candi Tikus di Mojokerto. Bukan sekadar tumpukan batu kuno, Candi Tikus adalah saksi bisu kejayaan peradaban yang pernah menguasai Nusantara. Namanya yang unik, "Tikus", mungkin terdengar aneh untuk sebuah candi, namun cerita di baliknya justru menambah daya tarik situs bersejarah ini. Ditemukan secara tidak sengaja oleh para petani pada tahun 1914, candi ini kemudian digali dan dipugar, menampakkan keindahan arsitekturnya yang khas dan tata letaknya yang unik. Berlokasi di kawasan Trowulan, yang diyakini sebagai bekas ibu kota Majapahit, Candi Tikus Mojokerto menjadi destinasi wajib bagi para pecinta sejarah, budaya, dan siapa saja yang ingin merasakan aura megah kerajaan kuno Indonesia. Keberadaannya memberikan gambaran mendalam tentang sistem kepercayaan, teknik konstruksi, dan kehidupan masyarakat pada masa Majapahit, menjadikannya lebih dari sekadar situs wisata, melainkan sebuah kapsul waktu yang menyimpan warisan berharga.
Sejarah & Latar Belakang
Candi Tikus Mojokerto adalah salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit yang paling menarik dan misterius. Diduga kuat dibangun pada abad ke-14 atau ke-15 Masehi, pada puncak kejayaan Majapahit. Sejarah penemuannya sendiri cukup unik. Pada tahun 1914, sekelompok petani di Mojokerto secara tidak sengaja menemukan struktur batu yang terkubur di bawah lapisan tanah. Awalnya, mereka mengira itu adalah sarang tikus karena banyaknya hewan pengerat yang keluar dari area tersebut, sehingga candi ini mendapatkan nama "Candi Tikus". Penemuan ini kemudian dilaporkan kepada pemerintah Hindia Belanda, yang segera melakukan ekskavasi dan penelitian lebih lanjut. Upaya pemugaran dilakukan secara bertahap, dan pada tahun 1985, Candi Tikus Mojokerto ditetapkan sebagai cagar budaya.
Letak Candi Tikus di Trowulan, Mojokerto, sangat signifikan. Trowulan sendiri diyakini sebagai ibu kota Majapahit, pusat kekuasaan dan kebudayaan yang memengaruhi sebagian besar wilayah Nusantara dan Asia Tenggara. Penemuan candi-candi lain di sekitarnya, seperti Candi Brahu, Candi Bajang Ratu, dan Kolam Segaran, semakin memperkuat identifikasi Trowulan sebagai bekas ibu kota Majapahit. Candi Tikus diperkirakan memiliki fungsi sebagai tempat penyucian atau tempat ritual keagamaan, kemungkinan besar terkait dengan pemujaan terhadap air atau unsur alam lainnya, mengingat tata letaknya yang unik dan keberadaan kolam di sekitarnya.
Arsitektur Candi Tikus menunjukkan ciri khas Majapahit, dengan penggunaan bata merah sebagai material utama. Struktur candi ini tidak menjulang tinggi seperti candi-candi Hindu atau Buddha lainnya di Jawa Tengah, melainkan lebih menyerupai sebuah petirtaan atau kolam suci yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan pendukung. Tata letak ini memberikan kesan yang berbeda dan intim, jauh dari kemegahan candi-candi besar. Meskipun detail mengenai fungsi pastinya masih menjadi perdebatan di kalangan arkeolog, Candi Tikus tetap menjadi bukti nyata kecanggihan peradaban Majapahit dalam seni arsitektur, perencanaan tata kota, dan sistem kepercayaan mereka. Keberadaannya seolah mengundang kita untuk merefleksikan kembali kejayaan masa lalu dan merenungkan jejak-jejak peradaban yang telah membentuk Indonesia modern. Candi Tikus bukan hanya tentang batu dan bata, tetapi tentang cerita, filosofi, dan warisan yang tak ternilai harganya dari salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia.
Daya Tarik Utama
Candi Tikus Mojokerto menawarkan pengalaman yang unik dan mendalam bagi setiap pengunjungnya, jauh melampaui sekadar melihat reruntuhan kuno. Keajaiban utamanya terletak pada arsitekturnya yang tidak biasa dan tata letaknya yang fungsional, yang memberikan gambaran tentang kehidupan dan kepercayaan masyarakat Majapahit. Berikut adalah beberapa daya tarik utama yang membuat Candi Tikus begitu memikat:
- Arsitektur Unik Berbentuk Petirtaan: Berbeda dengan candi pada umumnya yang menjulang tinggi, Candi Tikus lebih menyerupai sebuah kolam atau petirtaan. Seluruh kompleks candi dikelilingi oleh tembok bata merah yang kokoh, membentuk sebuah area persegi panjang. Di tengahnya terdapat sebuah kolam yang dulunya mungkin dialiri air, dengan beberapa struktur batu di sekelilingnya. Tata letak ini sangat mencerminkan pentingnya air dalam kehidupan dan ritual masyarakat Majapahit, yang kemungkinan menggunakannya sebagai tempat penyucian atau ritual keagamaan yang berkaitan dengan unsur air.
- Replika Gunung Mahameru: Bagian tengah Candi Tikus, yang menjulang sedikit di atas permukaan kolam, diyakini sebagai replika Gunung Mahameru, gunung suci dalam mitologi Hindu yang dianggap sebagai pusat alam semesta. Struktur ini dikelilingi oleh patung-patung kecil yang menyerupai para dewa atau makhluk mitologis, serta ukiran-ukiran yang menambah nilai artistiknya. Keberadaan replika gunung ini menunjukkan kaitan erat antara kepercayaan Hindu-Buddha dengan kosmologi Majapahit.
- Kolam dan Sistem Pengairan: Kolam di tengah kompleks candi merupakan elemen sentral. Penggalian arkeologis menemukan adanya sistem saluran air yang kompleks di sekitarnya, mengindikasikan bahwa candi ini memiliki fungsi hidrolik yang penting. Kemungkinan, air digunakan untuk ritual pembersihan, irigasi, atau sekadar sebagai elemen estetika dan spiritual yang menenangkan. Keberadaan kolam ini juga memberikan kesan asri dan damai, kontras dengan kisah kerajaan yang penuh intrik.
- Ukiran dan Relief yang Detail: Meskipun tidak sebanyak candi-candi besar lainnya, Candi Tikus memiliki beberapa ukiran dan relief yang detail pada bagian-bagian strukturnya. Ukiran ini seringkali menggambarkan motif-motif alam, binatang, atau simbol-simbol keagamaan yang umum pada era Majapahit. Detail-detail kecil ini memberikan petunjuk berharga tentang seni pahat dan simbolisme yang digunakan pada masa itu.
- Lokasi Strategis di Kawasan Trowulan: Candi Tikus berada di Trowulan, yang merupakan pusat dari Kerajaan Majapahit. Mengunjungi Candi Tikus memberikan kesempatan untuk menjelajahi situs-situs arkeologi Majapahit lainnya yang berdekatan, seperti Museum Trowulan, Candi Brahu, Candi Bajang Ratu, dan Kolam Segaran. Pengalaman ini menjadi lebih komprehensif, memungkinkan pengunjung untuk memahami skala dan kompleksitas ibu kota Majapahit secara keseluruhan.
- Suasana yang Tenang dan Damai: Dibandingkan dengan situs-situs bersejarah yang lebih ramai, Candi Tikus seringkali menawarkan suasana yang lebih tenang dan damai. Hal ini menjadikannya tempat yang ideal untuk refleksi diri, meditasi, atau sekadar menikmati keindahan arsitektur kuno dalam ketenangan. Pepohonan rindang di sekitarnya menambah kenyamanan dan keasrian tempat ini.
- Nilai Edukasi Sejarah: Bagi para pelajar, peneliti, dan penggemar sejarah, Candi Tikus adalah sumber belajar yang luar biasa. Keunikan arsitekturnya, konteks lokasinya di bekas ibu kota Majapahit, dan bukti-bukti arkeologis yang ditemukan, semuanya berkontribusi pada pemahaman yang lebih kaya tentang salah satu kerajaan terpenting dalam sejarah Indonesia. Mengamati langsung peninggalan ini jauh lebih berkesan daripada sekadar membaca buku.
Setiap elemen di Candi Tikus, mulai dari struktur batanya hingga tata letak kolamnya, menceritakan sebuah kisah. Ia mengajak pengunjung untuk membayangkan kehidupan di masa Majapahit, memahami kepercayaan mereka, dan mengagumi warisan budaya yang luar biasa ini. Candi Tikus bukan hanya situs arkeologi, tetapi sebuah pengalaman transformatif yang menghubungkan kita dengan akar sejarah bangsa.
Travel Tips & Logistics
Untuk memastikan kunjungan Anda ke Candi Tikus Mojokerto berjalan lancar dan menyenangkan, berikut adalah beberapa tips perjalanan dan informasi logistik yang perlu Anda perhatikan:
1. Lokasi dan Akses:
- Alamat: Candi Tikus terletak di Dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Lokasinya berada di dalam kawasan situs arkeologi Trowulan yang luas.
- Akses dari Surabaya: Perjalanan dari Surabaya ke Mojokerto memakan waktu sekitar 1-1.5 jam menggunakan kendaraan pribadi atau bus umum. Dari pusat kota Mojokerto, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Trowulan.
- Akses dari Mojokerto: Dari Alun-alun Mojokerto, ikuti arah menuju Trowulan. Candi Tikus berdekatan dengan situs-situs arkeologi Majapahit lainnya seperti Museum Trowulan dan Candi Brahu. Anda bisa menggunakan peta atau aplikasi navigasi untuk memandu.
- Transportasi Lokal: Di area Trowulan, Anda dapat menggunakan becak, ojek, atau menyewa sepeda motor untuk berpindah antar situs arkeologi jika Anda tidak membawa kendaraan pribadi. Beberapa situs agak berjauhan satu sama lain.
2. Waktu Kunjungan Terbaik:
- Hari: Hindari akhir pekan dan hari libur nasional jika Anda menginginkan suasana yang lebih tenang. Kunjungan di hari kerja akan lebih nyaman.
- Jam: Candi Tikus umumnya buka dari pagi hingga sore hari. Jam operasional yang pasti sebaiknya dikonfirmasi sebelum kedatangan, namun biasanya sekitar pukul 08:00 hingga 17:00.
- Musim: Musim kemarau (sekitar April hingga Oktober) menawarkan cuaca yang lebih kering dan cerah, cocok untuk menjelajahi situs terbuka. Musim hujan (sekitar November hingga Maret) bisa membuat beberapa area menjadi becek.
- Waktu Terbaik dalam Sehari: Pagi hari (sekitar pukul 08:00-10:00) atau sore hari (sekitar pukul 15:00-17:00) adalah waktu yang ideal untuk menghindari panas terik matahari dan menikmati cahaya yang lebih lembut untuk fotografi.
3. Tiket Masuk dan Biaya:
- Harga Tiket: Harga tiket masuk ke Candi Tikus sangat terjangkau, biasanya hanya beberapa ribu rupiah per orang. Harga ini dapat berubah sewaktu-waktu, jadi siapkan sedikit uang tunai.
- Uang Tunai: Pastikan Anda membawa uang tunai secukupnya, karena tidak semua penjual tiket atau warung di sekitar situs menerima pembayaran digital.
4. Fasilitas dan Kenyamanan:
- Fasilitas: Di sekitar situs arkeologi Trowulan, termasuk Candi Tikus, biasanya tersedia fasilitas dasar seperti toilet umum dan beberapa warung makan atau pedagang suvenir. Namun, fasilitas ini mungkin terbatas, jadi bersiaplah.
- Air Minum: Bawa persediaan air minum yang cukup, terutama jika Anda berkunjung saat cuaca panas. Anda bisa membeli di warung sekitar, tetapi membawa dari rumah lebih terjamin.
- Pakaian: Kenakan pakaian yang nyaman, longgar, dan menyerap keringat. Gunakan topi atau payung untuk melindungi diri dari sinar matahari. Sepatu yang nyaman untuk berjalan juga sangat disarankan.
- Perlindungan dari Serangga: Karena namanya "Candi Tikus" dan lokasinya yang berdekatan dengan alam, disarankan membawa obat nyamuk atau losion anti-serangga, meskipun gangguan serangga biasanya tidak terlalu parah.
5. Pengalaman dan Etika Berkunjung:
- Libatkan Pemandu Lokal: Jika Anda ingin mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang sejarah dan makna Candi Tikus, pertimbangkan untuk menyewa pemandu lokal. Mereka biasanya tersedia di dekat pintu masuk situs utama atau Museum Trowulan.
- Hormati Situs Sejarah: Candi Tikus adalah situs bersejarah yang berharga. Jaga kebersihan, jangan membuang sampah sembarangan, dan jangan memanjat atau merusak struktur candi. Ikuti aturan yang berlaku di situs.
- Fotografi: Ambil foto untuk mengabadikan momen, tetapi hindari penggunaan flash yang berlebihan yang dapat merusak material kuno atau mengganggu pengunjung lain.
- Kombinasikan Kunjungan: Candi Tikus adalah bagian dari kompleks Trowulan yang luas. Rencanakan untuk mengunjungi beberapa situs arkeologi lainnya dalam satu hari untuk mendapatkan gambaran lengkap tentang kejayaan Majapahit.
6. Keamanan:
- Barang Bawaan: Jaga barang-barang berharga Anda. Meskipun area ini umumnya aman, tetaplah waspada.
- Informasi Kontak Darurat: Simpan nomor kontak penting seperti polisi atau layanan darurat lokal jika diperlukan.
Dengan perencanaan yang matang dan mengikuti tips-tips di atas, kunjungan Anda ke Candi Tikus Mojokerto akan menjadi pengalaman yang informatif, menyenangkan, dan tak terlupakan, sebuah perjalanan kembali ke masa kejayaan Majapahit.
Kuliner & Pengalaman Lokal
Menjelajahi Candi Tikus Mojokerto tidak hanya memanjakan mata dengan keindahan sejarah, tetapi juga menawarkan kesempatan untuk merasakan kekayaan kuliner dan pengalaman lokal Jawa Timur yang otentik. Setelah menyerap aura Majapahit, saatnya memanjakan lidah dan berinteraksi dengan budaya sekitar.
1. Kuliner Khas Mojokerto dan Sekitarnya:
- Gudeg Mojokerto: Berbeda dengan gudeg Yogyakarta yang lebih manis, Gudeg Mojokerto memiliki cita rasa yang lebih gurih dan pedas. Terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan dan bumbu rempah, disajikan dengan nasi putih, ayam kampung, dan sambal goreng krecek. Ini adalah hidangan yang wajib dicoba ketika berada di Mojokerto.
- Ayam Cungur: Hidangan khas lain yang patut dicicipi adalah Ayam Cungur. Ayam kampung yang diolah dengan bumbu khas pedas manis, biasanya disajikan dengan nasi dan lalapan segar. Rasanya yang gurih dan sedikit pedas sangat menggugah selera.
- Sate Khas Mojokerto: Sate di Mojokerto memiliki ciri khasnya sendiri, seringkali menggunakan bumbu kacang yang lebih encer dan sedikit manis, atau bumbu petis yang khas Jawa Timur. Sate ayam atau kambingnya selalu menjadi pilihan yang lezat.
- Nasi Goreng Jancuk: Meskipun namanya terdengar kasar, Nasi Goreng Jancuk adalah hidangan legendaris di Surabaya yang juga populer di Mojokerto. Nasi goreng porsi besar dengan rasa pedas yang bisa disesuaikan, biasanya disajikan dengan telur mata sapi dan kerupuk.
- Aneka Jajanan Pasar: Di pasar-pasar tradisional di Trowulan atau Mojokerto, Anda bisa menemukan berbagai macam jajanan pasar yang menggugah selera, seperti onde-onde (kue wijen berisi kacang hijau), getuk, klepon, dan berbagai macam kue basah lainnya. Ini adalah cara yang menyenangkan untuk mencicipi rasa lokal dengan harga terjangkau.
2. Pengalaman Lokal yang Menarik:
- Berinteraksi dengan Pedagang Lokal: Warung-warung di sekitar situs arkeologi Trowulan seringkali dikelola oleh penduduk lokal. Berinteraksi dengan mereka, bertanya tentang keseharian mereka atau sejarah lokal, dapat memberikan wawasan yang berharga dan pengalaman yang lebih personal.
- Mengunjungi Pasar Tradisional: Jika waktu memungkinkan, kunjungi pasar tradisional di Mojokerto atau desa-desa sekitar Trowulan. Anda bisa melihat berbagai macam hasil bumi, kerajinan tangan lokal, dan merasakan denyut nadi kehidupan sehari-hari masyarakat.
- Mencicipi Minuman Khas: Selain makanan, coba juga minuman lokal seperti wedang jahe atau berbagai macam minuman herbal yang dijual di warung-warung. Minuman ini tidak hanya menyegarkan tetapi juga memiliki khasiat kesehatan.
- Membeli Suvenir Lokal: Di beberapa area sekitar Trowulan, Anda mungkin menemukan pedagang yang menjual kerajinan tangan lokal atau replika kecil dari artefak Majapahit. Ini bisa menjadi buah tangan yang unik dan bermakna.
- Menikmati Suasana Pedesaan: Kawasan Trowulan masih memiliki nuansa pedesaan yang kental. Nikmati saja suasana tenang, melihat sawah terhampar, dan mendengarkan suara alam. Ini adalah pelarian yang sempurna dari hiruk pikuk kota.
Tips Tambahan:
- Tanya Penduduk Lokal: Jangan ragu untuk bertanya kepada penduduk lokal tentang rekomendasi tempat makan atau pengalaman menarik lainnya. Mereka biasanya sangat ramah dan senang berbagi informasi.
- Siapkan Uang Tunai: Sebagian besar warung makan kecil dan pedagang suvenir di area ini lebih memilih pembayaran tunai.
- Fleksibilitas: Datanglah dengan pikiran terbuka dan fleksibel. Pengalaman lokal seringkali datang dari momen-momen tak terduga.
Dengan memadukan eksplorasi sejarah Candi Tikus dengan petualangan kuliner dan interaksi lokal, kunjungan Anda ke Mojokerto akan menjadi lebih kaya, berkesan, dan memberikan gambaran utuh tentang keindahan Jawa Timur, baik dari masa lalu maupun masa kini.
Kesimpulan
Candi Tikus Mojokerto adalah lebih dari sekadar situs arkeologi; ia adalah jendela menuju kehebatan Kerajaan Majapahit, sebuah peradaban yang pernah mendominasi Nusantara. Dengan arsitekturnya yang unik berbentuk petirtaan, lokasinya yang strategis di bekas ibu kota Majapahit, serta cerita sejarahnya yang memikat, candi ini menawarkan pengalaman yang mendalam bagi setiap pengunjung. Dari mengagumi detail arsitektur hingga merenungkan filosofi di baliknya, Candi Tikus mengundang kita untuk terhubung dengan warisan leluhur bangsa. Pengalaman ini akan semakin lengkap dengan menjelajahi kuliner lokal yang lezat dan merasakan keramahan masyarakat sekitar. Mengunjungi Candi Tikus adalah sebuah perjalanan tak hanya melintasi ruang, tetapi juga waktu, sebuah pengingat abadi akan kejayaan masa lalu yang terus menginspirasi masa kini dan masa depan Indonesia. Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan sendiri keajaiban peninggalan Majapahit ini.