Atraksi16 Februari 2026

Gunung Tambora: Menjelajahi Peninggalan Letusan Dahsyat di NTB

Pendahuluan

Terletak di jantung Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), berdiri megah Gunung Tambora, sebuah gunung berapi yang namanya bergema dalam sejarah dunia. Lebih dari sekadar puncak gunung yang indah, Tambora adalah saksi bisu salah satu letusan gunung berapi paling dahsyat dalam catatan sejarah manusia. Pada tahun 1815, Tambora meletus dengan kekuatan luar biasa, membentuk kembali lanskap sekitarnya dan bahkan memicu perubahan iklim global yang dikenal sebagai 'Tahun Tanpa Musim Panas'.

Bagi para petualang sejati dan pencari pengetahuan, Tambora menawarkan pengalaman yang unik dan mendalam. Ini bukan sekadar destinasi wisata biasa; ini adalah perjalanan kembali ke masa lalu, sebuah eksplorasi ilmiah, dan kesempatan untuk menyaksikan keindahan alam yang luar biasa yang lahir dari kehancuran. Dari kawah raksasanya yang dramatis hingga lanskap savana yang unik, Tambora memanggil para penjelajah untuk mengungkap lapisan-lapisan sejarah dan geologinya yang memukau. Artikel ini akan memandu Anda untuk menjelajahi peninggalan letusan dahsyat Gunung Tambora, mulai dari sejarahnya yang kelam hingga keindahan alamnya yang mempesona, serta tips praktis untuk merencanakan petualangan Anda ke salah satu permata tersembunyi NTB ini.

Sejarah & Latar Belakang

Sejarah Gunung Tambora identik dengan letusan kataklismiknya pada bulan April 1815. Sebelum peristiwa monumental ini, Tambora adalah gunung berapi kerucut yang tinggi, diperkirakan mencapai ketinggian sekitar 4.000 meter di atas permukaan laut. Namun, pada tanggal 10 April 1815, Tambora terbangun dari tidurnya dengan amukan yang mengerikan. Letusan ini dikategorikan sebagai VEI 7 (Volcanic Explosivity Index), menjadikannya salah satu letusan terbesar dalam sejarah yang tercatat. Abu vulkanik dan gas disemburkan hingga puluhan kilometer ke atmosfer, menciptakan kegelapan yang menyelubungi sebagian besar wilayah nusantara dan bahkan berdampak global.

Dampak Letusan 1815:

  • Lokal: Letusan Tambora menyebabkan kehancuran total di pulau-pulau sekitarnya, terutama di Pulau Sumbawa dan Lombok. Lebih dari 10.000 orang tewas seketika akibat aliran piroklastik, tsunami, dan keruntuhan bangunan. Ribuan lainnya meninggal menyusul akibat kelaparan dan penyakit yang disebabkan oleh gagal panen dan rusaknya infrastruktur.
  • Regional: Abu vulkanik menyelimuti sebagian besar wilayah Indonesia, menyebabkan kegelapan selama berhari-hari, hujan abu yang merusak, dan gangguan transportasi laut.
  • Global: Dampak paling signifikan adalah 'Tahun Tanpa Musim Panas' pada tahun 1816. Partikel abu yang mencapai stratosfer memantulkan sinar matahari, menyebabkan penurunan suhu global yang drastis. Ini memicu gagal panen massal di Eropa dan Amerika Utara, yang menyebabkan kelaparan, kerusuhan, dan migrasi besar-besaran. Peristiwa ini juga dikaitkan dengan munculnya penyakit seperti kolera.

Penemuan Kembali dan Penelitian:

Selama berabad-abad, keberadaan peradaban kuno yang terkubur oleh letusan Tambora menjadi misteri. Baru pada tahun 2004, tim arkeolog yang dipimpin oleh Dr. Haraldur Sigurdsson dan Dr. Dedi S. Sastra menemukan 'Pompeii dari Timur' – sisa-sisa desa yang terkubur di bawah lapisan abu tebal. Penemuan ini memberikan gambaran yang luar biasa tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Tambora sebelum letusan, serta skala kehancuran yang ditimbulkannya. Artefak seperti rumah, perabotan, patung, dan bahkan mayat ditemukan dalam kondisi yang cukup baik, memberikan wawasan mendalam tentang budaya dan masyarakat Tambora pra-letusan.

Saat ini, Gunung Tambora adalah situs penelitian geologi dan arkeologi yang penting. Taman Nasional Gunung Tambora didirikan untuk melestarikan ekosistem uniknya dan warisan sejarahnya. Bagi pengunjung, Tambora menawarkan kesempatan langka untuk menyaksikan langsung bukti fisik dari salah satu peristiwa alam paling dramatis di planet ini.

Main Attractions

Gunung Tambora bukan hanya tentang kawahnya yang megah, tetapi juga tentang lanskap unik yang terbentuk oleh letusan dahsyatnya. Pengalaman menjelajahi Tambora sangat beragam, mulai dari pendakian yang menantang hingga observasi alam yang menakjubkan.

1. Kawah Tambora (The Caldera)

Ini adalah daya tarik utama dan tujuan utama bagi sebagian besar pendaki. Kawah Tambora adalah salah satu kawah gunung berapi terbesar di dunia, dengan diameter sekitar 7 kilometer dan kedalaman sekitar 1 kilometer. Pemandangan dari bibir kawah sungguh menakjubkan. Anda akan disuguhi panorama luas yang meliputi lanskap vulkanik yang tandus, formasi batuan unik, dan terkadang kabut yang menambah kesan mistis. Di dasar kawah, seringkali terlihat danau kawah kecil yang berwarna hijau atau biru, menambah keindahan dramatisnya.

  • Akses: Pendakian ke kawah biasanya dimulai dari Desa Pancasila atau Desa Pekat. Terdapat dua rute utama: rute pendek (sekitar 3-4 jam pendakian) dan rute panjang (sekitar 6-8 jam pendakian) yang menawarkan pemandangan lebih bervariasi.
  • Pengalaman: Pendakian ini menantang namun sangat memuaskan. Anda akan melewati berbagai zona vegetasi, dari hutan lebat hingga padang savana terbuka, sebelum akhirnya tiba di lanskap vulkanik yang gersang di dekat puncak.

2. Savana Doro Ncanga & Padang Savana Lainnya

Di lereng bawah Gunung Tambora, terhampar padang savana yang luas dan mempesona, yang dikenal sebagai Doro Ncanga. Lanskap ini, yang dulunya tertutup hutan lebat sebelum letusan, kini dipenuhi dengan rumput sabana yang bergoyang tertiup angin, dihiasi bunga-bunga liar dan pohon-pohon akasia yang tersebar. Savana ini menjadi rumah bagi berbagai jenis satwa liar, termasuk rusa, babi hutan, dan berbagai jenis burung.

  • Aktivitas: Doro Ncanga adalah tempat yang ideal untuk berjalan-jalan santai, berkemah, atau sekadar menikmati matahari terbenam yang spektakuler dengan latar belakang siluet Gunung Tambora.
  • Fotografi: Cahaya keemasan saat matahari terbit dan terbenam membuat savana ini menjadi surga bagi para fotografer.

3. Desa Wisata Adat Pekat dan Mara

Untuk memahami dampak letusan Tambora dan kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya, kunjungi desa-desa adat seperti Pekat dan Mara. Di sini, Anda dapat melihat sisa-sisa kehidupan masyarakat yang terkubur oleh abu vulkanik, serta mempelajari tentang budaya lokal yang telah beradaptasi dengan lingkungan vulkanik ini.

  • Situs Arkeologi: Beberapa situs arkeologi yang ditemukan dari letusan 1815 dapat diakses di sekitar area ini, memberikan gambaran nyata tentang 'Pompeii dari Timur'.
  • Interaksi Lokal: Berinteraksi dengan penduduk setempat untuk memahami cerita mereka, tradisi, dan bagaimana mereka hidup berdampingan dengan gunung berapi yang dahsyat ini.

4. Danau Tambora

Di dalam kawah utama, terdapat danau kawah yang tenang, meskipun ukurannya dapat bervariasi tergantung musim dan aktivitas vulkanik. Keindahan danau ini, dikelilingi oleh dinding kawah yang curam, menawarkan kontras yang menarik dengan lanskap vulkanik yang lebih luas.

  • Akses Terbatas: Akses langsung ke danau kawah biasanya sulit dan hanya direkomendasikan bagi pendaki yang berpengalaman dengan pemandu.

5. Taman Nasional Gunung Tambora

Seluruh area Gunung Tambora kini dilindungi sebagai Taman Nasional. Kawasan ini kaya akan keanekaragaman hayati, dengan ekosistem unik yang telah berevolusi pasca-letusan. Pengunjung dapat menemukan berbagai spesies flora dan fauna endemik, menjadikannya tempat yang menarik bagi para pecinta alam dan ekowisata.

  • Perlindungan: Taman nasional ini bertujuan untuk melindungi ekosistem, sumber daya alam, dan warisan budaya yang terkait dengan Tambora.

Menjelajahi Tambora adalah sebuah petualangan yang menggabungkan keindahan alam yang dramatis dengan pelajaran sejarah yang mendalam. Setiap sudut menawarkan pemandangan baru dan cerita yang belum terungkap.

Travel Tips & Logistics

Merencanakan perjalanan ke Gunung Tambora membutuhkan persiapan yang matang, terutama karena lokasinya yang relatif terpencil dan medan yang menantang. Berikut adalah panduan logistik dan tips untuk memastikan perjalanan Anda aman dan menyenangkan.

1. Waktu Terbaik untuk Berkunjung

Waktu terbaik untuk mengunjungi Gunung Tambora adalah selama musim kemarau, yaitu antara bulan April hingga September. Selama periode ini, cuaca cenderung cerah, kering, dan minim hujan, yang sangat penting untuk pendakian dan eksplorasi. Hindari musim hujan (Oktober hingga Maret) karena jalanan bisa menjadi berlumpur dan licin, serta meningkatkan risiko badai.

2. Cara Mencapai Tambora

Perjalanan ke Tambora biasanya dimulai dari kota-kota besar di Indonesia.

  • Terbang ke Sumbawa: Cara tercepat adalah dengan terbang ke Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III di Bima, NTB, atau Bandara Sultan Hasanuddin di Mataram, Lombok, lalu melanjutkan perjalanan darat ke Sumbawa Besar atau Dompu. Dari Bima atau Dompu, Anda perlu menggunakan transportasi darat (mobil sewaan atau angkutan umum) menuju kaki Gunung Tambora, biasanya ke Desa Pekat atau Desa Pancasila yang menjadi titik awal pendakian.
  • Transportasi Darat & Laut: Alternatifnya, Anda bisa menggunakan kapal feri dari Bali ke Lombok, lalu menyeberang lagi ke Sumbawa. Perjalanan darat menggunakan bus atau mobil pribadi juga memungkinkan, tetapi memakan waktu lebih lama.

3. Akomodasi

Pilihan akomodasi di sekitar Tambora masih terbatas, terutama di dekat titik pendakian.

  • Desa Pekat/Pancasila: Anda dapat menemukan penginapan sederhana (losmen atau homestay) yang dikelola oleh penduduk lokal. Penginapan ini biasanya bersih dan nyaman, menawarkan pengalaman menginap yang otentik.
  • Bima/Dompu/Sumbawa Besar: Jika Anda ingin akomodasi yang lebih lengkap sebelum atau sesudah pendakian, kota-kota ini menawarkan hotel dan penginapan dengan berbagai pilihan fasilitas.
  • Berkemah: Banyak pendaki memilih untuk berkemah di lereng gunung atau di area savana yang indah. Pastikan Anda membawa perlengkapan berkemah yang memadai atau menyewanya dari penyedia lokal.

4. Persiapan Pendakian & Peralatan

  • Pemandu (Porter/Guide): Sangat disarankan untuk menyewa pemandu lokal. Mereka tidak hanya mengenal medan dengan baik dan dapat memastikan keselamatan Anda, tetapi juga dapat membantu membawa barang bawaan (porter) dan berbagi informasi menarik tentang sejarah dan alam Tambora.
  • Perlengkapan:
  • Sepatu Gunung: Wajib untuk medan yang berbatu dan licin.
  • Pakaian Lapisan: Bawa pakaian yang bisa dilapis untuk menyesuaikan dengan perubahan suhu, terutama saat mendaki ke puncak.
  • Jas Hujan/Jaket Tahan Air: Cuaca di gunung bisa berubah cepat.
  • Topi & Kacamata Hitam: Melindungi dari sinar matahari yang terik.
  • Tabir Surya: Penting untuk melindungi kulit.
  • Obat-obatan Pribadi: Bawa perlengkapan P3K dasar.
  • Senter/Headlamp: Sangat berguna jika mendaki di pagi atau malam hari.
  • Air Minum & Makanan Ringan: Bawa persediaan yang cukup, meskipun beberapa warung kecil mungkin ada di desa awal.
  • Tongkat Pendakian: Membantu mengurangi beban pada lutut.
  • Kondisi Fisik: Pendakian ke kawah Tambora cukup menantang. Pastikan Anda dalam kondisi fisik yang baik dan siap untuk berjalan kaki dalam waktu yang lama di medan yang curam.

5. Izin dan Biaya

  • Tiket Masuk & Izin: Anda perlu mendapatkan izin pendakian dan membayar tiket masuk Taman Nasional Gunung Tambora. Informasi ini biasanya tersedia di pos penjagaan di desa awal pendakian.
  • Biaya Tambahan: Biaya akan mencakup sewa pemandu, porter (jika diperlukan), transportasi lokal, dan akomodasi.

6. Keselamatan

  • Informasikan Rencana Perjalanan: Beritahu seseorang tentang rencana pendakian Anda, termasuk rute dan perkiraan waktu kembali.
  • Jaga Kebersihan: Bawa kembali sampah Anda dan jangan meninggalkan jejak. Hormati lingkungan alam.
  • Hormati Budaya Lokal: Berinteraksi dengan penduduk setempat dengan sopan dan hormati adat istiadat mereka.

Dengan perencanaan yang tepat, petualangan ke Gunung Tambora akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan, penuh dengan keindahan alam dan pelajaran sejarah yang berharga.

Cuisine & Local Experience

Perjalanan ke Gunung Tambora bukan hanya tentang keindahan alam dan sejarah, tetapi juga tentang merasakan kekayaan budaya dan kuliner lokal masyarakat Nusa Tenggara Barat, khususnya di Pulau Sumbawa. Meskipun fokus utama banyak pengunjung adalah pendakian, meluangkan waktu untuk menikmati hidangan khas dan berinteraksi dengan penduduk setempat akan memperkaya pengalaman Anda.

Kuliner Khas Sumbawa

Masyarakat Sumbawa memiliki cita rasa kuliner yang khas, banyak dipengaruhi oleh hasil laut dan pertanian lokal. Berikut beberapa hidangan yang patut Anda coba:

  • Ayam Taliwang: Ini adalah hidangan paling terkenal dari Lombok dan Sumbawa. Ayam bakar yang dibumbui dengan rempah-rempah kaya, cabai, dan terasi, menghasilkan rasa pedas gurih yang menggugah selera. Biasanya disajikan dengan plecing kangkung dan sambal khas.
  • Ikan Bakar/Seafood: Dengan garis pantai yang panjang, hasil laut segar melimpah di NTB. Ikan bakar dengan bumbu rempah sederhana namun lezat adalah pilihan yang wajib dicoba. Anda bisa menemukan berbagai jenis ikan segar, udang, cumi, dan kerang yang dibakar langsung di tepi pantai atau warung makan lokal.
  • Sate Rembiga: Sate sapi khas Sumbawa ini memiliki keunikan pada bumbunya yang kaya rempah dan sedikit manis. Daging sapi yang empuk dibakar dengan arang dan disajikan dengan bumbu kacang atau kecap yang khas.
  • Ayam Rarang: Mirip dengan Ayam Taliwang, namun biasanya memiliki bumbu yang lebih meresap dan sedikit berbeda cita rasanya. Ayam ini juga dibakar dan memiliki rasa pedas yang nendang.
  • Jagung Bakar/Rebus: Jagung manis seringkali menjadi camilan atau pendamping makanan. Jagung bakar dengan sedikit mentega dan garam memberikan aroma yang harum dan rasa yang manis.

Pengalaman Lokal yang Tak Terlupakan

Selain mencicipi kuliner, berinteraksi dengan masyarakat lokal adalah kunci untuk memahami jiwa dari destinasi ini.

  • Kopi Lokal: Nikmati secangkir kopi khas NTB yang diseduh langsung oleh penduduk lokal. Kopi di daerah ini seringkali memiliki rasa yang kuat dan aroma yang khas, menjadi teman yang sempurna saat menikmati pagi atau senja di kaki gunung.
  • Berinteraksi dengan Pemandu Lokal: Pemandu Anda bukan hanya penunjuk jalan, tetapi juga penjaga cerita. Mereka dapat berbagi legenda lokal, cerita tentang letusan Tambora dari perspektif turun-temurun, serta memberikan wawasan tentang kehidupan sehari-hari masyarakat adat.
  • Mengunjungi Pasar Tradisional: Jika Anda berada di kota seperti Bima atau Dompu, kunjungi pasar tradisional untuk melihat berbagai macam hasil bumi, rempah-rempah, dan kerajinan tangan lokal. Ini adalah kesempatan bagus untuk merasakan denyut nadi kehidupan sehari-hari masyarakat.
  • Mempelajari Kerajinan Tangan: Beberapa daerah di Sumbawa dikenal dengan kerajinan tenun ikatnya. Jika ada kesempatan, kunjungi pengrajin tenun dan pelajari proses pembuatannya yang rumit dan bernilai seni tinggi.
  • Mengamati Kehidupan Desa: Luangkan waktu untuk berjalan-jalan santai di desa-desa sekitar kaki gunung. Amati aktivitas penduduk, cara mereka bertani, dan kehidupan mereka yang harmonis dengan alam. Kesederhanaan dan keramahan mereka seringkali meninggalkan kesan mendalam bagi para pengunjung.

Menjelajahi kuliner dan budaya lokal di sekitar Gunung Tambora akan memberikan dimensi yang lebih kaya pada petualangan Anda. Ini adalah kesempatan untuk terhubung dengan orang-orang, merasakan cita rasa otentik, dan membawa pulang kenangan yang lebih dari sekadar pemandangan alam yang menakjubkan.

Kesimpulan

Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat adalah lebih dari sekadar gunung berapi; ia adalah monumen alam dan sejarah yang monumental. Peninggalan letusan dahsyat tahun 1815 telah menciptakan lanskap yang unik, dari kawah raksasa yang menganga hingga padang savana yang luas, serta meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah global. Bagi para petualang, Tambora menawarkan tantangan pendakian yang memuaskan dan pemandangan yang spektakuler.

Lebih dari itu, Tambora adalah tempat untuk belajar. Ia mengajarkan kita tentang kekuatan alam yang luar biasa, ketahanan manusia dalam menghadapi bencana, dan kemampuan alam untuk pulih dan menciptakan keindahan baru dari kehancuran. Pengalaman mendaki hingga ke bibir kawah, melintasi savana Doro Ncanga, dan mungkin menemukan sisa-sisa desa kuno yang terkubur, memberikan perspektif yang mendalam tentang hubungan antara manusia dan bumi.

Dengan perencanaan logistik yang cermat dan kesiapan fisik, menjelajahi Gunung Tambora adalah investasi pengalaman yang tak ternilai. Ini adalah kesempatan untuk melangkah keluar dari jalur wisata biasa dan menemukan permata tersembunyi yang menawarkan petualangan, edukasi, dan keindahan alam yang tak tertandingi. Gunung Tambora menunggu untuk dijelajahi, siap untuk menceritakan kisahnya yang epik kepada setiap pengunjung yang berani datang.

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?