Pendahuluan
Selamat datang di panduan komprehensif untuk menjelajahi salah satu permata tersembunyi di Indonesia Timur: Keraton Kesultanan Buton di Pulau Sulawesi. Terletak di Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara, situs bersejarah ini bukan sekadar reruntuhan tua, melainkan jendela yang membuka pandangan luas ke masa lalu kejayaan sebuah kesultanan maritim yang pernah berpengaruh. Kesultanan Buton, yang berdiri kokoh selama berabad-abad, meninggalkan jejak peradaban yang kaya, mulai dari sistem pemerintahan yang unik, arsitektur megah, hingga tradisi luhur yang masih lestari hingga kini. Bagi para pecinta sejarah, budaya, dan petualangan, Keraton Buton menawarkan pengalaman yang tak terlupakan.
Artikel ini akan memandu Anda menelusuri lorong-lorong waktu, mengungkap kisah para sultan, memahami struktur sosial yang kompleks, dan mengapresiasi keunikan peninggalan arsitekturalnya. Bersiaplah untuk terpesona oleh benteng keraton terluas di dunia, menyingkap misteri di balik prasasti-prasasti kuno, dan merasakan denyut nadi kehidupan masyarakat Buton yang sarat akan warisan leluhur. Mari kita mulai perjalanan epik ini, menyelami kedalaman sejarah dan keindahan budaya Kesultanan Buton, sebuah warisan yang patut dijaga dan diceritakan.
Sejarah & Latar Belakang
Kesultanan Buton, sebuah entitas politik dan kebudayaan yang signifikan di Nusantara bagian timur, memiliki sejarah panjang yang berawal dari era pra-Islam. Pendiriannya secara tradisional dikaitkan dengan kedatangan empat orang bersaudara dari negeri Melayu pada abad ke-13, yang kemudian dikenal sebagai "Mia Patamiana" (Empat Orang yang Terhormat). Mereka inilah yang konon membentuk dasar-dasar tatanan masyarakat dan pemerintahan di Pulau Buton. Awalnya, Buton bukanlah sebuah kesultanan, melainkan sebuah sistem kepemimpinan yang disebut "Li Liwu " dan "Bhatara" yang bersifat federatif.
Proses Islamisasi Kesultanan Buton dimulai pada awal abad ke-16. Momen krusial terjadi pada tahun 1542 Masehi (atau 950 Hijriah), ketika Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis, sultan pertama yang memeluk Islam, secara resmi mendirikan Kesultanan Buton. Peristiwa ini menandai transisi penting dari sistem kepemimpinan tradisional ke sistem kesultanan yang berlandaskan ajaran Islam. Sejak saat itu, Buton berkembang menjadi pusat kekuatan maritim yang disegani, mengendalikan jalur perdagangan penting di Laut Banda dan sekitarnya. Wilayah kekuasaannya membentang luas, mencakup sebagian besar Pulau Buton, Muna, Kabaena, dan pulau-pulau sekitarnya, bahkan pengaruhnya terasa hingga ke daratan Sulawesi Tenggara.
Sistem pemerintahan Kesultanan Buton sangat unik dan kompleks. Kekuasaan tertinggi berada di tangan Sultan, namun dibantu oleh dewan penasihat yang terdiri dari para pejabat tinggi yang memiliki peran spesifik. Salah satu ciri khas yang paling menonjol adalah sistem "Batas" atau pembagian wilayah kekuasaan yang ketat, serta struktur birokrasi yang terorganisir. Kesultanan ini juga dikenal dengan sistem hukumnya yang tertulis, yang mencerminkan perpaduan antara hukum adat dan hukum Islam. Prasasti-prasasti kuno yang masih dapat ditemukan di kompleks keraton menjadi bukti otentik dari keberlangsungan sistem pemerintahan dan keagamaan ini.
Selama berabad-abad, Kesultanan Buton menghadapi berbagai tantangan, termasuk persaingan dagang dengan kekuatan asing dan intervensi kolonial Belanda. Meskipun demikian, kesultanan ini berhasil mempertahankan eksistensinya hingga awal abad ke-20. Akhirnya, pada tahun 1960, Kesultanan Buton secara resmi dibubarkan dan wilayahnya dimasukkan ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun, warisan budaya dan sejarahnya tetap hidup, terwujud dalam arsitektur megah keraton, tradisi yang dijaga ketat oleh masyarakat, serta identitas masyarakat Buton yang bangga akan akar kesultanan mereka. Situs Keraton Buton di Baubau kini menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu dan menjadi destinasi penting bagi siapa saja yang ingin memahami sejarah maritim Indonesia.
Daya Tarik Utama
Jantung dari sejarah Kesultanan Buton terletak di kompleks keratonnya yang megah di Kota Baubau. Situs ini menawarkan berbagai peninggalan yang memukau dan sarat makna sejarah. Berikut adalah daya tarik utama yang wajib Anda jelajahi:
1. Benteng Keraton Buton (Benteng Wolio)
Inilah mahkota dari seluruh kompleks. Benteng Keraton Buton, yang juga dikenal sebagai Benteng Wolio, dianugerahi gelar sebagai benteng terluas di dunia oleh UNESCO pada tahun 2006. Luasnya mencapai sekitar 45 hektar dengan keliling tembok yang membentang sepanjang lebih dari 2 kilometer. Dibangun secara bertahap dari abad ke-16 hingga abad ke-19, benteng ini bukan hanya berfungsi sebagai pertahanan fisik dari serangan musuh, tetapi juga sebagai pusat administrasi, keagamaan, dan kehidupan sosial Kesultanan Buton.
Struktur benteng ini sangat mengesankan, terbuat dari batu kapur yang ditata rapi tanpa menggunakan semen. Terdapat banyak menara pengawas, gerbang-gerbang kokoh, dan ruang-ruang internal yang dulunya digunakan untuk berbagai keperluan. Berjalan di sepanjang tembok benteng ini memberikan perspektif luar biasa tentang skala dan kekuatan kesultanan di masa lalu. Dari atas benteng, Anda dapat menikmati panorama Kota Baubau dan sebagian Selat Buton yang indah. Di dalam benteng ini terdapat permukiman masyarakat yang hingga kini masih dihuni, menunjukkan kontinuitas kehidupan yang terjalin dengan sejarah.
2. Masjid Agung Keraton Buton (Masjid Al-Amin)
Terletak di dalam kompleks benteng, Masjid Agung Keraton Buton, atau sering disebut Masjid Al-Amin, adalah pusat spiritual kesultanan. Dibangun pada masa awal kesultanan, masjid ini memiliki arsitektur yang memadukan gaya tradisional Buton dengan pengaruh Islam. Keunikan masjid ini terletak pada menaranya yang khas, yang tidak menyerupai menara masjid pada umumnya, melainkan lebih menyerupai menara pengawas benteng.
Interior masjid masih menyimpan nuansa kesederhanaan namun penuh kekhususan, dengan mimbar kayu ukir yang indah dan kaligrafi yang menghiasi dindingnya. Masjid ini menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting dalam sejarah kesultanan, mulai dari upacara penobatan sultan hingga pelaksanaan ibadah harian. Mengunjungi masjid ini memberikan kesempatan untuk merasakan ketenangan spiritual dan merenungkan sejarah panjang penyebaran Islam di Buton.
3. Istana Sultan (Badarudin)
Di dalam kompleks keraton, Anda akan menemukan sisa-sisa istana tempat para sultan Buton bersemayam dan menjalankan roda pemerintahan. Meskipun sebagian besar bangunan istana tidak lagi utuh seperti sedia kala, namun fondasi dan beberapa struktur yang tersisa masih memberikan gambaran tentang kemegahan dan tata letak istana pada masanya. Salah satu bagian yang masih dapat dilihat adalah ruang tahta dan area kediaman sultan.
Perhatikan detail ukiran dan tata ruangnya yang mencerminkan hierarki sosial dan budaya Buton. Meskipun tidak semegah istana kerajaan Eropa, istana Buton memiliki keunikan tersendiri yang merefleksikan kearifan lokal dan gaya arsitektur khas Sulawesi Tenggara. Saat ini, beberapa bagian dari kompleks istana telah direstorasi untuk dijadikan museum mini yang memamerkan artefak-artefak kesultanan.
4. Prasasti dan Artefak Sejarah
Salah satu harta karun terbesar di Keraton Buton adalah koleksi prasasti dan artefak sejarahnya. Prasasti-prasasti yang terbuat dari batu atau logam ini berisi tulisan dalam aksara Arab-Melayu (Jawi) dan aksara lokal Buton, yang mencatat berbagai peraturan, silsilah sultan, perjanjian, dan peristiwa penting lainnya. Prasasti "Wolio" yang terkenal merupakan sumber primer yang sangat berharga untuk memahami sejarah dan sistem pemerintahan kesultanan.
Selain prasasti, terdapat pula berbagai artefak seperti keris, perhiasan, peralatan rumah tangga kerajaan, naskah-naskah kuno, dan benda-benda pusaka lainnya yang dipamerkan di museum lokal atau di beberapa titik di dalam kompleks keraton. Benda-benda ini memberikan wawasan mendalam tentang kehidupan sehari-hari, teknologi, seni, dan kepercayaan masyarakat Buton pada masa kesultanan.
5. Makam Sultan dan Tokoh Penting
Di area sekitar keraton, terdapat makam-makam para sultan Buton dan tokoh-tokoh penting lainnya. Makam-makam ini seringkali memiliki nisan yang unik dengan ukiran-ukiran khas yang mengandung simbolisme tertentu. Keberadaan makam-makam ini menjadi pengingat akan para pemimpin yang telah membentuk sejarah Buton dan tempat untuk menghormati leluhur.
6. Museum Keraton
Untuk memudahkan pengunjung memahami sejarah dan koleksi yang ada, sebagian artefak dan informasi penting dikumpulkan di Museum Keraton. Museum ini menjadi pusat informasi yang sangat baik, menampilkan berbagai peninggalan kesultanan, mulai dari alat perang, pakaian adat, alat musik tradisional, hingga replika peta wilayah kekuasaan. Dengan panduan yang informatif, museum ini membantu pengunjung merangkai kepingan-kepingan sejarah menjadi gambaran yang utuh.
7. Kehidupan Masyarakat Lokal
Salah satu daya tarik yang tak kalah penting adalah berinteraksi dengan masyarakat yang masih mendiami area dalam benteng keraton. Mereka adalah keturunan langsung dari para bangsawan dan rakyat kesultanan. Mengamati kehidupan sehari-hari mereka, mendengarkan cerita dari tetua adat, dan melihat bagaimana tradisi masih dijaga memberikan pengalaman budaya yang otentik. Anda mungkin berkesempatan menyaksikan pertunjukan seni tradisional atau upacara adat jika beruntung.
Menjelajahi Keraton Buton adalah sebuah perjalanan multisensori. Setiap sudutnya menyimpan cerita, setiap batunya adalah saksi bisu, dan setiap tradisinya adalah warisan berharga. Pengalaman ini tidak hanya memberikan pengetahuan sejarah, tetapi juga apresiasi mendalam terhadap kekayaan budaya Indonesia.
Travel Tips & Logistics
Merencanakan perjalanan ke Keraton Kesultanan Buton di Baubau, Sulawesi Tenggara, memerlukan beberapa persiapan logistik agar pengalaman Anda lebih nyaman dan optimal. Berikut adalah panduan lengkapnya:
Cara Menuju Baubau
1. Pesawat Terbang: Cara paling efisien untuk mencapai Baubau adalah melalui udara. Bandara terdekat adalah Bandara Betoambari (BUW) di Baubau. Anda dapat terbang dari kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta (CGK), Makassar (UPG), atau Surabaya (SUB) dengan transit di kota-kota tersebut. Maskapai seperti Garuda Indonesia, Lion Air, dan Citilink biasanya melayani rute ini.
- Tips: Pesan tiket jauh-jauh hari, terutama saat musim liburan, untuk mendapatkan harga terbaik. Periksa jadwal penerbangan karena frekuensinya mungkin tidak setiap hari.
2. Transportasi Laut: Alternatif lain adalah menggunakan kapal laut dari pelabuhan besar seperti Makassar atau Kendari. Pelni (Pelayaran Nasional Indonesia) adalah operator utama yang melayani rute ini. Perjalanan laut menawarkan pemandangan yang berbeda namun memakan waktu lebih lama.
- Tips: Jika Anda memiliki waktu lebih dan ingin merasakan pengalaman perjalanan yang lebih santai, transportasi laut bisa menjadi pilihan menarik. Pastikan untuk memeriksa jadwal kapal di situs web Pelni.
Akomodasi di Baubau
Baubau menawarkan berbagai pilihan akomodasi, mulai dari hotel berbintang hingga penginapan yang lebih sederhana.
- Hotel: Terdapat beberapa hotel di pusat kota Baubau yang menawarkan fasilitas lengkap dan kenyamanan. Beberapa pilihan populer antara lain Hotel Mira, Plaza Inn, dan Hotel Nirwana.
- Kisaran Harga: Mulai dari Rp 300.000 hingga Rp 700.000 per malam, tergantung fasilitas dan tipe kamar.
- Penginapan/Losmen: Bagi pelancong dengan anggaran terbatas, tersedia pula penginapan atau losmen yang lebih terjangkau.
- Kisaran Harga: Mulai dari Rp 150.000 hingga Rp 300.000 per malam.
- Tips: Pesan akomodasi Anda terlebih dahulu, terutama jika Anda berkunjung saat musim ramai atau acara khusus. Lokasi yang strategis di dekat pusat kota atau dekat dengan akses transportasi akan memudahkan mobilitas Anda.
Transportasi Lokal
Di dalam Kota Baubau dan untuk mencapai Keraton Buton, Anda dapat menggunakan:
- Ojek (Motorcycle Taxi): Ini adalah moda transportasi paling umum dan fleksibel untuk jarak pendek hingga menengah. Anda dapat dengan mudah menemukan tukang ojek di hampir setiap sudut jalan.
- Tarif: Negosiasikan tarif sebelum naik. Perkiraan tarif ke Keraton Buton dari pusat kota sekitar Rp 15.000 - Rp 25.000.
- Becak Motor (Bentor): Mirip dengan becak namun menggunakan mesin motor, bentor cocok untuk perjalanan santai di dalam kota.
- Taksi: Ketersediaan taksi mungkin terbatas, namun beberapa hotel besar mungkin memiliki layanan taksi atau dapat membantu Anda memesannya.
- Sewa Kendaraan: Jika Anda berencana menjelajahi area yang lebih luas di sekitar Baubau atau ingin lebih leluasa, menyewa sepeda motor atau mobil bisa menjadi pilihan. Tanyakan ketersediaan di hotel atau agen lokal.
Waktu Terbaik Berkunjung
- Musim Kemarau (April - September): Periode ini umumnya memiliki cuaca yang lebih kering dan cerah, sangat ideal untuk eksplorasi situs outdoor seperti benteng.
- Hindari Musim Hujan (Oktober - Maret): Meskipun masih bisa dikunjungi, hujan yang intens dapat mengganggu aktivitas luar ruangan dan membuat beberapa area menjadi becek.
- Acara Khusus: Jika memungkinkan, rencanakan kunjungan Anda bertepatan dengan perayaan adat atau festival lokal yang biasanya diadakan pada bulan-bulan tertentu. Ini akan memberikan pengalaman budaya yang lebih kaya.
Tiket Masuk dan Jam Operasional
- Tiket Masuk Keraton: Biaya masuk ke kompleks Keraton Buton umumnya sangat terjangkau, biasanya sekitar Rp 5.000 - Rp 10.000 per orang. Biaya tambahan mungkin berlaku untuk museum atau area khusus.
- Jam Operasional: Kompleks keraton terbuka untuk umum sepanjang hari. Namun, museum dan beberapa bangunan pendukung biasanya memiliki jam operasional tertentu, umumnya dari pagi hingga sore hari (sekitar pukul 08:00 - 17:00 WITA).
- Tips: Sebaiknya kunjungi pada pagi hari atau sore hari untuk menghindari terik matahari yang menyengat, terutama saat menjelajahi benteng.
Etiket dan Pakaian
- Sopan Santun: Mengingat ini adalah situs bersejarah dan juga tempat tinggal sebagian masyarakat, berpakaianlah dengan sopan. Hindari pakaian yang terlalu terbuka.
- Menghormati Adat: Jika Anda berkesempatan berinteraksi dengan masyarakat lokal atau tokoh adat, tunjukkan rasa hormat. Mintalah izin sebelum mengambil foto orang atau tempat-tempat sakral.
- Kesehatan: Bawa perlengkapan P3K dasar, tabir surya, topi, dan air minum yang cukup, terutama saat menjelajahi benteng yang luas di bawah terik matahari.
Bahasa
Bahasa Indonesia adalah bahasa yang umum digunakan dan dimengerti. Masyarakat lokal juga menggunakan bahasa daerah Buton, namun Bahasa Indonesia sudah cukup memadai untuk komunikasi sehari-hari.
Dengan perencanaan yang matang, kunjungan Anda ke Keraton Kesultanan Buton akan menjadi pengalaman yang memuaskan dan penuh makna. Selamat menjelajahi warisan sejarah yang luar biasa ini!
Kuliner & Pengalaman Lokal
Perjalanan ke Keraton Kesultanan Buton tidak akan lengkap tanpa mencicipi kekayaan kuliner dan merasakan pengalaman lokal yang unik di Baubau. Masyarakat Buton memiliki tradisi kuliner yang lezat, dipengaruhi oleh hasil laut yang melimpah dan rempah-rempah khas Indonesia.
Kuliner Khas Buton
1. Ikan Bakar & Ikan Kuah Kuning: Sebagai daerah pesisir, ikan segar adalah hidangan utama di Buton. Ikan bakar dengan bumbu rempah yang meresap atau ikan kuah kuning yang gurih dengan cita rasa asam segar adalah favorit banyak orang. Sajian ini biasanya ditemani nasi putih hangat dan sambal dabu-dabu atau sambal colo-colo.
2. Kasoami: Ini adalah makanan pokok tradisional Buton yang terbuat dari singkong yang diparut, diperas airnya, lalu dikukus hingga matang. Kasoami memiliki tekstur yang padat dan rasa yang sedikit manis, seringkali disajikan sebagai pengganti nasi atau pendamping lauk pauk.
3. Kalo-Kalo: Mirip dengan kasoami, kalo-kalo juga terbuat dari singkong yang diparut, namun diolah dengan cara dibentuk seperti bola-bola kecil lalu digoreng atau direbus. Rasanya gurih dan cocok sebagai camilan atau makanan pendamping.
4. Kue Paranggi: Kue tradisional yang manis ini terbuat dari tepung beras ketan, gula merah, dan kelapa parut. Bentuknya yang unik menyerupai parang (pedang) memberikan nama tersendiri. Aromanya yang harum dan rasanya yang legit menjadikannya oleh-oleh yang populer.
5. Sate Banjar: Meskipun namanya "Banjar", sate ini cukup populer di Buton. Biasanya terbuat dari daging ayam atau kambing yang dibakar dengan bumbu khas yang kaya rempah.
Pengalaman Lokal yang Otentik
1. Berinteraksi dengan Masyarakat Lokal: Salah satu cara terbaik untuk memahami budaya Buton adalah dengan berbicara kepada penduduk setempat. Kunjungi pasar tradisional di Baubau, seperti Pasar Tradisional Laino, untuk melihat aktivitas sehari-hari dan mencicipi jajanan lokal. Tetua adat di sekitar keraton juga seringkali bersedia berbagi cerita tentang sejarah dan tradisi kesultanan.
2. Saksikan Pertunjukan Seni Budaya: Jika Anda beruntung, Anda mungkin dapat menyaksikan pertunjukan tari tradisional Buton, seperti Tari Lakoa atau Tari Praja. Tarian-tarian ini seringkali menceritakan kisah kepahlawanan atau kehidupan sehari-hari masyarakat Buton.
3. Kunjungi Pengrajin Lokal: Beberapa pengrajin di Baubau masih memproduksi kain tenun tradisional Buton yang indah dengan motif-motif khas. Mengunjungi workshop mereka dapat memberikan wawasan tentang proses pembuatan dan seni tenun Buton.
4. Nikmati Pemandangan dari Puncak Benteng: Selain nilai sejarahnya, benteng ini menawarkan pemandangan alam yang menakjubkan. Nikmati matahari terbenam dari atas benteng untuk pengalaman yang tenang dan romantis.
5. Belajar Sedikit Bahasa Lokal: Meskipun Bahasa Indonesia sangat umum, mencoba mengucapkan beberapa frasa dasar dalam bahasa Buton (misalnya, "terima kasih" - "terima kasi") akan sangat dihargai oleh penduduk setempat dan membuka pintu interaksi yang lebih hangat.
Mencicipi kuliner dan terlibat dalam kegiatan lokal akan memperkaya pengalaman Anda di Buton, menghubungkan Anda lebih dalam dengan jiwa dan warisan kesultanan yang megah ini.
Kesimpulan
Keraton Kesultanan Buton di Pulau Sulawesi adalah sebuah destinasi yang luar biasa, menawarkan perpaduan sempurna antara sejarah yang kaya, budaya yang mendalam, dan keindahan alam yang memukau. Situs ini bukan hanya sekadar bangunan tua, melainkan denyut nadi peradaban maritim yang pernah berjaya, meninggalkan warisan tak ternilai bagi Indonesia. Dari benteng terluas di dunia yang kokoh berdiri, hingga prasasti-prasasti kuno yang membisikkan kisah masa lalu, setiap elemen di Keraton Buton mengundang kita untuk merenung dan mengapresiasi kejayaan leluhur.
Perjalanan ke sini akan memberikan wawasan unik tentang sistem pemerintahan, kepercayaan, dan kehidupan masyarakat Buton. Dengan tips perjalanan yang tepat, Anda dapat menjelajahi situs bersejarah ini dengan nyaman, menikmati kuliner lokal yang lezat, dan merasakan keramahan penduduk setempat. Keraton Buton adalah bukti nyata bahwa sejarah dapat hidup dan terus menginspirasi. Mari jadikan kunjungan Anda sebagai momen untuk belajar, menghargai, dan melestarikan warisan budaya bangsa yang berharga ini.