Pendahuluan
Selamat datang di sebuah perjalanan menembus lorong waktu, menuju jantung peradaban Majapahit yang legendaris. Mojokerto, Jawa Timur, menyimpan jejak-jejak kejayaan masa lalu yang memukau, salah satunya adalah Candi Tikus di Trowulan. Lebih dari sekadar tumpukan batu kuno, Candi Tikus adalah jendela menuju kehidupan, kepercayaan, dan arsitektur Kerajaan Majapahit yang pernah menjadi kekuatan dominan di Nusantara. Nama "Candi Tikus" sendiri mungkin terdengar unik, bahkan sedikit menggelitik, namun di balik nama tersebut tersembunyi sebuah situs bersejarah yang kaya akan makna dan keindahan. Situs ini bukan hanya penting bagi para sejarawan dan arkeolog, tetapi juga menawarkan pengalaman mendalam bagi setiap pengunjung yang ingin merasakan denyut nadi sejarah Indonesia. Dalam panduan komprehensif ini, kita akan menjelajahi setiap sudut Candi Tikus, menggali sejarahnya yang kaya, mengagumi arsitekturnya yang khas, serta merasakan atmosfer magisnya. Bersiaplah untuk terpesona oleh warisan Majapahit yang masih lestari di Trowulan, Mojokerto.
History & Background
Candi Tikus, yang terletak di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, merupakan salah satu peninggalan arkeologi paling signifikan dari masa Kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit, yang berkuasa sekitar abad ke-13 hingga ke-15 Masehi, dikenal sebagai salah satu imperium maritim terbesar dalam sejarah Indonesia, dengan pengaruh yang meluas hingga ke seluruh penjuru Nusantara dan bahkan hingga ke Asia Tenggara. Trowulan sendiri merupakan ibukota Majapahit yang strategis, sebuah pusat pemerintahan, perdagangan, dan kebudayaan yang ramai.
Penemuan Candi Tikus terjadi secara tidak sengaja pada tahun 1914 oleh para petani setempat yang sedang menggarap lahan. Saat itu, candi ini tertimbun tanah dan ditumbuhi vegetasi, sehingga penampakannya tidak begitu jelas. Upaya pemugaran dan penggalian awal dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1924, yang kemudian dilanjutkan oleh Dinas Purbakala Indonesia pasca-kemerdekaan. Nama "Candi Tikus" sendiri muncul karena saat pertama kali ditemukan, situs ini banyak dihuni oleh tikus, yang menjadikan reruntuhan batu sebagai sarang mereka. Nama ini, meskipun terdengar sederhana, justru menjadi penanda identitas situs bersejarah ini hingga kini.
Berdasarkan analisis arsitektur dan temuan artefak, para ahli memperkirakan bahwa Candi Tikus dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit, kemungkinan sekitar abad ke-15 Masehi. Fungsi pasti candi ini masih menjadi subjek perdebatan di kalangan arkeolog. Beberapa teori menyebutkan bahwa Candi Tikus berfungsi sebagai tempat pemujaan, tempat peristirahatan raja atau anggota keluarga kerajaan, atau bahkan sebagai pura (tempat ibadah Hindu) yang memiliki fungsi spesifik dalam ritual keagamaan. Keberadaan kolam air di sekeliling candi juga menguatkan dugaan bahwa candi ini memiliki kaitan dengan unsur air, yang seringkali diasosiasikan dengan kesucian dan ritual pembersihan dalam kepercayaan Hindu.
Struktur Candi Tikus yang unik, yaitu berada di bawah permukaan tanah dan dikelilingi oleh parit atau kolam, menjadikannya berbeda dari candi-candi lain yang umumnya didirikan di atas bukit atau permukaan tanah yang lebih tinggi. Desain ini menunjukkan tingkat kecanggihan teknik konstruksi dan perencanaan tata ruang pada masa Majapahit. Penemuan berbagai fragmen arca, relief, dan struktur bata yang teratur semakin memperkaya pemahaman kita tentang kompleksitas situs ini. Candi Tikus bukan hanya saksi bisu kejayaan Majapahit, tetapi juga bukti nyata dari kemampuan arsitektur, seni, dan spiritualitas masyarakatnya yang luar biasa. Memahami sejarahnya adalah langkah awal untuk menghargai nilai warisan budaya yang terkandung di dalamnya.
Main Attractions
Memasuki kompleks Candi Tikus di Trowulan Mojokerto adalah seperti melangkah mundur ke zaman keemasan Majapahit. Pesona utama situs ini terletak pada desain arsitekturnya yang unik dan filosofi di baliknya, yang mencerminkan pandangan dunia masyarakat Majapahit. Mari kita selami daya tarik utama yang membuat Candi Tikus begitu istimewa:
1. Kompleks Kolam dan Struktur Bawah Tanah
Daya tarik paling mencolok dari Candi Tikus adalah lokasinya yang berada di bawah permukaan tanah, dikelilingi oleh sebuah kolam luas yang kini sebagian telah terisi tanah namun masih menyisakan bentuknya. Kolam ini, yang dulunya kemungkinan terisi air, memberikan kesan sebuah "taman air" atau "danau suci" yang mengelilingi bangunan utama candi. Struktur candi itu sendiri terbuat dari susunan batu bata merah yang kokoh, khas arsitektur Majapahit. Bagian tengah candi memiliki denah persegi, dengan tangga-tangga yang mengarah ke puncak. Keunikan ini seringkali diinterpretasikan sebagai representasi dari gunung suci (Mahameru) yang dikelilingi oleh lautan kosmik, sebuah konsep umum dalam kosmologi Hindu.
2. Arsitektur Khas Majapahit
Arsitektur Candi Tikus menampilkan ciri khas Majapahit yang halus dan terperinci. Dinding-dinding candi dihiasi dengan ukiran-ukiran yang sederhana namun elegan, meskipun banyak yang telah terkikis oleh waktu. Anda akan menemukan ornamen-ornamen seperti kepala kala (makhluk mitologis pengusir roh jahat), motif geometris, dan terkadang fragmen relief yang menggambarkan kehidupan sehari-hari atau cerita mitologi. Bentuk candi yang lebih menyerupai teras bertingkat, dengan panggung-panggung yang semakin kecil ke atas, menunjukkan kemahiran para arsitek Majapahit dalam menciptakan struktur yang harmonis dan proporsional. Penggunaan batu bata merah sebagai material utama memberikan nuansa hangat dan otentik pada keseluruhan bangunan.
3. Fragmen Arca dan Relief
Meskipun tidak banyak arca utuh yang ditemukan di Candi Tikus, situs ini menyimpan berbagai fragmen arca dan relief yang memberikan gambaran tentang seni patung Majapahit. Beberapa fragmen arca dewa-dewi Hindu, seperti Ganesha atau Durga, mungkin pernah menghiasi candi ini. Selain itu, temuan-temuan seperti fragmen relief yang menggambarkan motif tumbuhan, hewan, atau bahkan figur manusia, menunjukkan kualitas artistik yang tinggi. Fragmen-fragmen ini kini sebagian disimpan di museum arkeologi Trowulan untuk preservasi dan studi lebih lanjut, namun keberadaannya di situs asli tetap memberikan konteks sejarah yang penting.
4. Sumur Tertutup (Sumur Gumuling)
Salah satu fitur menarik lainnya yang sering dikaitkan dengan Candi Tikus, meskipun lokasinya sedikit terpisah namun masih dalam kawasan situs arkeologi Trowulan yang lebih luas, adalah "Sumur Gumuling". Struktur ini memiliki bentuk seperti sumur terowongan yang dihiasi dengan ukiran-ukiran dan memiliki lorong-lorong di sekelilingnya. Fungsinya diperkirakan sebagai tempat penyimpanan air suci, tempat meditasi, atau bahkan sebagai bagian dari ritual keagamaan yang lebih kompleks. Meskipun bukan bagian integral dari bangunan candi utama, Sumur Gumuling menambah kekayaan makna spiritual dan arsitektur kawasan ini.
5. Suasana Spiritual dan Historis
Lebih dari sekadar batu dan bata, Candi Tikus memancarkan aura spiritual dan historis yang kuat. Berdiri di tengah reruntuhan candi yang pernah menjadi pusat peradaban, Anda dapat merasakan bisikan masa lalu. Ketenangan suasana, dikombinasikan dengan keindahan arsitektur kuno, menciptakan pengalaman yang meditatif. Pengunjung seringkali merasa terhubung dengan sejarah, membayangkan kehidupan para raja, pendeta, dan rakyat Majapahit yang pernah beraktivitas di tempat ini. Keberadaan pepohonan rindang dan udara yang sejuk menambah kenyamanan saat menjelajahi situs ini.
6. Pusat Arkeologi Trowulan
Candi Tikus merupakan bagian dari Kompleks Situs Arkeologi Trowulan yang sangat luas, yang mencakup berbagai situs penting lainnya seperti Candi Brahu, Candi Bajang Ratu, dan Museum Majapahit. Dengan mengunjungi Candi Tikus, Anda berkesempatan untuk menjelajahi lebih banyak lagi warisan Majapahit, mendapatkan pemahaman yang lebih holistik tentang kerajaan yang gemilang ini. Lokasinya yang strategis membuatnya mudah dijangkau dari situs-situs lain di Trowulan.
Menjelajahi Candi Tikus adalah pengalaman yang kaya akan pengetahuan, keindahan, dan spiritualitas. Setiap detail arsitektur, setiap fragmen sejarah, mengundang kita untuk merenungkan kejayaan masa lalu Indonesia.
Travel Tips & Logistics
Merencanakan kunjungan ke Candi Tikus di Trowulan, Mojokerto, adalah langkah penting untuk memastikan pengalaman yang lancar dan menyenangkan. Agar perjalanan Anda berkesan dan informatif, berikut adalah beberapa tips perjalanan dan logistik yang perlu Anda perhatikan:
1. Waktu Terbaik untuk Berkunjung
- Hari Biasa (Weekday): Candi Tikus cenderung lebih sepi pada hari-hari biasa (Senin-Jumat). Ini memberikan kesempatan bagi Anda untuk menikmati situs dengan lebih tenang, mengambil foto tanpa gangguan, dan meresapi suasana sejarah dengan lebih leluasa.
- Pagi Hari atau Sore Hari: Kunjungan di pagi hari (sekitar jam 08.00-11.00) atau sore hari (sekitar jam 15.00-17.00) sangat direkomendasikan. Pada waktu-waktu ini, suhu udara lebih sejuk dan sinar matahari tidak terlalu terik, sehingga lebih nyaman untuk berjalan-jalan dan menjelajahi kompleks candi.
- Hindari Cuaca Ekstrem: Musim hujan (sekitar Oktober-April) dapat menyebabkan hujan deras yang mungkin mengganggu kunjungan. Musim kemarau (sekitar Mei-September) umumnya lebih ideal, namun tetap siapkan diri untuk panas matahari.
2. Akses Transportasi
- Dari Surabaya atau Malang: Candi Tikus dapat dicapai dari kota-kota besar seperti Surabaya (sekitar 1-1.5 jam perjalanan) atau Malang (sekitar 1.5-2 jam perjalanan) melalui jalan darat. Gunakan kendaraan pribadi, taksi, atau layanan penyewaan mobil.
- Dari Mojokerto Kota: Jika Anda berada di Mojokerto Kota, jaraknya lebih dekat (sekitar 30-45 menit). Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi atau ojek.
- Transportasi Lokal: Setibanya di area Trowulan, Anda mungkin perlu menggunakan transportasi lokal seperti ojek atau becak untuk mencapai lokasi candi yang sebenarnya dari jalan utama.
- Navigasi: Gunakan aplikasi peta digital seperti Google Maps untuk panduan arah yang lebih akurat. Cari "Candi Tikus Trowulan".
3. Tiket Masuk dan Jam Operasional
- Harga Tiket: Harga tiket masuk ke Candi Tikus umumnya sangat terjangkau, biasanya berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per orang untuk wisatawan domestik. Harga dapat sedikit berbeda untuk wisatawan mancanegara.
- Jam Buka: Candi Tikus biasanya buka setiap hari, mulai dari pagi hingga sore hari, sekitar pukul 08.00 hingga 17.00 atau 18.00.
- Informasi Lebih Lanjut: Selalu baik untuk memeriksa informasi terbaru mengenai harga tiket dan jam operasional di situs resmi dinas pariwisata setempat atau melalui sumber terpercaya sebelum berkunjung.
4. Fasilitas dan Kesiapan
- Toilet dan Tempat Istirahat: Tersedia fasilitas toilet umum di dekat area candi. Ada juga beberapa area untuk beristirahat atau duduk-duduk.
- Air Minum: Bawa persediaan air minum yang cukup, terutama jika berkunjung pada siang hari yang terik. Anda juga bisa membeli air minum kemasan di warung-warung kecil di sekitar lokasi.
- Pakaian: Kenakan pakaian yang nyaman, menyerap keringat, dan sopan. Sepatu yang nyaman untuk berjalan juga sangat disarankan.
- Perlengkapan Tambahan: Bawa topi atau payung untuk melindungi dari terik matahari. Kacamata hitam juga bisa membantu.
- Penjaga Situs: Akan ada petugas atau penjaga situs yang siap membantu dan memberikan informasi dasar. Jangan ragu untuk bertanya.
5. Etika dan Keamanan
- Hormati Situs Sejarah: Jaga kebersihan kompleks candi. Jangan membuang sampah sembarangan, merusak struktur bangunan, atau mengambil artefak apa pun.
- Berpakaian Sopan: Meskipun tidak seketat di tempat ibadah aktif, mengenakan pakaian yang sopan tetap dihargai sebagai bentuk penghormatan terhadap situs bersejarah.
- Keamanan Barang Pribadi: Seperti di tempat wisata pada umumnya, selalu jaga barang-barang berharga Anda.
- Informasi dari Pemandu Lokal: Pertimbangkan untuk menyewa pemandu lokal (jika tersedia) untuk mendapatkan penjelasan yang lebih mendalam tentang sejarah dan makna Candi Tikus.
6. Menjelajahi Sekitar
- Museum Majapahit: Sangat disarankan untuk mengunjungi Museum Majapahit yang berlokasi tidak jauh dari Candi Tikus. Museum ini menyimpan banyak artefak penting yang ditemukan di Trowulan, termasuk fragmen dari Candi Tikus sendiri, yang akan memberikan konteks visual yang lebih kaya.
- Situs Arkeologi Lain: Manfaatkan kunjungan Anda untuk menjelajahi situs-situs arkeologi Majapahit lainnya di Trowulan seperti Candi Brahu, Candi Bajang Ratu, dan Kolam Segaran.
Dengan persiapan yang matang, kunjungan Anda ke Candi Tikus akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan, penuh dengan wawasan sejarah dan keindahan budaya Indonesia.
Cuisine & Local Experience
Perjalanan ke Candi Tikus Trowulan Mojokerto tidak hanya tentang menelusuri jejak sejarah, tetapi juga tentang merasakan kekayaan budaya lokal, termasuk kulinernya. Setelah puas menjelajahi keagungan Majapahit, saatnya memanjakan lidah dengan hidangan khas Mojokerto yang lezat dan otentik.
1. Kulinari Khas Mojokerto
Mojokerto memiliki beragam kuliner yang patut dicoba, banyak di antaranya merupakan hidangan tradisional yang telah diwariskan turun-temurun. Beberapa yang paling populer antara lain:
- Nasi Goreng Jariyah: Ini adalah salah satu ikon kuliner Mojokerto. Nasi goreng ini memiliki cita rasa yang khas, seringkali dimasak dengan bumbu rahasia yang membuatnya berbeda dari nasi goreng biasa. Keunikan lainnya adalah penyajiannya yang terkadang masih menggunakan alat masak tradisional.
- Onde-onde Ketawa: Jangan lewatkan onde-onde khas Mojokerto yang terkenal dengan teksturnya yang renyah di luar dan lembut di dalam, serta rasa manisnya yang pas. Bentuknya yang seperti "tertawa" membuatnya mudah dikenali.
- Gethuk Pisang: Camilan manis yang terbuat dari pisang yang dihaluskan, dicampur dengan gula dan kelapa parut, kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus. Rasanya legit dan aromanya harum.
- Ayam Panggang Trawulan: Di sekitar kawasan Trowulan, Anda bisa menemukan warung-warung yang menyajikan ayam panggang dengan bumbu khas yang meresap sempurna. Disajikan dengan nasi hangat dan sambal, ini adalah pilihan makan siang yang lezat.
- Sate & Bakso: Seperti di banyak daerah di Jawa Timur, sate dan bakso juga sangat populer di Mojokerto. Anda bisa menemukan berbagai varian sate ayam, sate kambing, dan bakso dengan kuah yang gurih.
2. Pengalaman Lokal di Sekitar Trowulan
Selain kuliner, ada beberapa pengalaman lokal yang bisa Anda dapatkan di sekitar Candi Tikus dan Trowulan:
- Berinteraksi dengan Penduduk Lokal: Masyarakat di sekitar Trowulan umumnya ramah dan terbuka. Jangan ragu untuk bertanya tentang sejarah situs atau kehidupan sehari-hari mereka. Anda mungkin akan mendapatkan cerita-cerita menarik yang tidak tercatat dalam buku sejarah.
- Membeli Oleh-oleh Khas: Di beberapa titik di Trowulan, Anda dapat menemukan warung atau toko yang menjual oleh-oleh khas Mojokerto, seperti kerajinan tangan sederhana, jajanan tradisional, atau produk lokal lainnya. Onde-onde ketawa adalah oleh-oleh yang paling sering dicari.
- Mengunjungi Pasar Tradisional: Jika waktu memungkinkan, kunjungi pasar tradisional setempat untuk merasakan suasana kehidupan sehari-hari masyarakat Mojokerto. Anda bisa melihat berbagai macam hasil bumi, jajanan pasar, dan berinteraksi langsung dengan para pedagang.
- Menyaksikan Kehidupan Pedesaan: Trowulan adalah daerah pedesaan yang masih kental dengan nuansa agraris. Berjalan-jalan santai di sekitar area candi dapat memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat pedesaan di Jawa Timur.
- Mempelajari Kerajinan Lokal (jika ada): Terkadang, di daerah wisata budaya seperti Trowulan, ada komunitas atau individu yang memproduksi kerajinan tangan. Jika Anda berkesempatan, kunjungi dan dukung mereka.
3. Rekomendasi Tempat Makan
Di sekitar Candi Tikus dan Trowulan, Anda akan menemukan warung-warung makan sederhana yang menyajikan hidangan lokal. Beberapa restoran atau rumah makan yang lebih besar juga terdapat di pusat kota Mojokerto. Untuk pengalaman otentik, carilah warung makan pinggir jalan yang ramai dikunjungi penduduk lokal. Tanyakan rekomendasi dari penjaga situs atau penduduk setempat untuk menemukan permata kuliner tersembunyi.
Menyantap kuliner khas Mojokerto setelah menjelajahi Candi Tikus akan melengkapi pengalaman budaya Anda. Ini adalah cara yang sempurna untuk mengapresiasi warisan Majapahit sekaligus menikmati cita rasa lokal yang kaya.
Conclusion
Candi Tikus di Trowulan, Mojokerto, adalah permata bersejarah yang tak ternilai harganya. Lebih dari sekadar reruntuhan kuno, situs ini adalah bukti nyata dari kejayaan Kerajaan Majapahit, sebuah peradaban yang pernah mendominasi Nusantara. Dari arsitekturnya yang unik dengan kolam mengelilingi struktur bawah tanah, hingga makna spiritual yang terkandung di dalamnya, Candi Tikus menawarkan pengalaman yang mendalam bagi setiap pengunjung. Menjelajahi situs ini memberikan kesempatan untuk terhubung langsung dengan masa lalu, membayangkan kehidupan di era Majapahit, dan mengagumi kecanggihan teknologi serta seni masyarakatnya. Kunjungan ke Candi Tikus juga merupakan pintu gerbang untuk memahami lebih jauh kompleks situs arkeologi Trowulan yang luas, yang menyimpan begitu banyak rahasia sejarah. Dengan tips perjalanan yang tepat dan apresiasi terhadap budaya lokal, termasuk kulinernya, perjalanan Anda ke Candi Tikus akan menjadi pengalaman yang utuh dan memuaskan. Candi Tikus adalah pengingat abadi akan warisan besar Indonesia, sebuah destinasi yang wajib dikunjungi bagi siapa saja yang tertarik pada sejarah, budaya, dan keajaiban masa lalu.