Kulinerβ€’17 Februari 2026

Jelajah Rasa Akulturasi: Dari Peranakan Medan hingga Tradisi Ternate

Pendahuluan

Indonesia adalah sebuah simfoni rasa yang tak berujung, sebuah kanvas gastronomi yang dilukis oleh ribuan tahun perdagangan, migrasi, dan interaksi budaya. Menjelajahi kuliner Nusantara bukan sekadar memuaskan rasa lapar, melainkan sebuah perjalanan melintasi waktu untuk memahami bagaimana identitas bangsa terbentuk di atas piring. Artikel ini akan membawa Anda menelusuri dua titik ekstrem gastronomi Indonesia: Medan di barat dengan pengaruh Peranakan yang kuat, dan Ternate di timur dengan warisan rempah yang legendaris.

Di Medan, Sumatera Utara, kita melihat bagaimana budaya Tionghoa, Melayu, dan India berpadu menciptakan harmoni rasa yang kompleks. Sementara itu, di Ternate, Maluku Utara, kita akan menemukan akar dari sejarah dunia dalam bentuk cengkih dan pala yang diolah menjadi hidangan eksotis yang tak ditemukan di belahan dunia lain. Akulturasi ini bukan sekadar pencampuran bahan, melainkan manifestasi dari toleransi dan sejarah panjang bangsa Indonesia. Dari gurihnya Mie Balap di jalanan Medan hingga manisnya Gohu Ikan di pesisir Ternate, setiap suapan menceritakan kisah tentang pelaut, pedagang, dan leluhur kita. Mari kita memulai ekspedisi rasa ini, membedah setiap bumbu dan teknik memasak yang menjadikan kuliner Indonesia salah satu yang paling beragam di dunia.

Sejarah & Latar Belakang

Sejarah kuliner Medan tidak dapat dipisahkan dari statusnya sebagai kota perkebunan pada masa kolonial Belanda. Pada akhir abad ke-19, pembukaan perkebunan tembakau Deli menarik ribuan imigran dari Tiongkok, India, dan Jawa. Interaksi antara etnis Tionghoa (Hokkien dan Teochew) dengan penduduk asli Melayu melahirkan apa yang kita kenal sebagai Kuliner Peranakan Medan. Berbeda dengan Peranakan di Jawa atau Malaka, Peranakan Medan memiliki karakter yang lebih berani dalam penggunaan rempah dan santan, dipengaruhi oleh selera lokal Sumatera yang menyukai pedas dan gurih. Tokoh sejarah seperti Tjong A Fie memainkan peran penting dalam integrasi budaya ini, di mana rumahnya kini menjadi monumen akulturasi budaya yang juga mencakup tradisi jamuan makan lintas etnis.

Beralih ke timur, Ternate memiliki sejarah yang jauh lebih tua sebagai bagian dari 'The Spice Islands' atau Kepulauan Rempah. Sejak abad ke-15, Ternate adalah pusat perdagangan global untuk cengkih. Bangsa Arab, Tiongkok, Portugis, Spanyol, dan Belanda datang silih berganti untuk memperebutkan emas hitam ini. Pengaruh kuliner di Ternate merupakan perpaduan unik antara tradisi Austronesia asli dengan pengaruh pedagang Muslim dari Arab dan Gujarat, serta sentuhan kuliner Eropa. Di Ternate, rempah-rempah tidak hanya digunakan sebagai bumbu, tetapi juga sebagai simbol status dan obat-obatan. Penggunaan kenari (Canarium indicum) sebagai pengganti santan atau kacang adalah ciri khas yang membedakan kuliner Maluku Utara dengan wilayah lain di Indonesia. Sejarah panjang persaingan kolonial meninggalkan jejak dalam teknik pengawetan makanan dan penggunaan bahan-bahan impor yang kini telah menjadi komoditas lokal.

Daya Tarik Utama

Medan: Episentrum Peranakan dan Multikultural

1. Kawasan Kesawan: Jantung sejarah Medan di mana arsitektur kolonial bertemu dengan kedai kopi legendaris. Di sini, Anda harus mengunjungi Tip Top Restaurant yang telah berdiri sejak 1934, menyajikan menu yang tidak berubah sejak zaman Belanda dengan teknik memasak menggunakan tungku kayu bakar.

2. Jalan Semarang (Pasar Malam): Pusat kuliner malam yang menawarkan berbagai hidangan Peranakan dan Tionghoa. Dari Martabak Piring yang tipis renyah hingga Kwetiau Medan yang kaya akan 'wok hei' (napas wajan).

3. Mie Aceh dan Kari Kambing: Menunjukkan pengaruh kuat budaya Islam dan India. Restoran seperti Mie Aceh Titi Bobrok menjadi bukti bagaimana pengaruh Aceh terintegrasi dalam lanskap kuliner Medan.

4. Bolu Meranti: Meskipun modern, bolu ini telah menjadi ikon oleh-oleh yang melambangkan adaptasi teknik baking Barat dengan selera lokal yang menyukai tekstur lembut dan rasa manis yang pas.

Ternate: Kejayaan Rempah dan Laut

1. Pasar Gamalama: Tempat terbaik untuk melihat langsung kekayaan rempah Ternate. Di sini, Anda bisa menemukan pala, cengkih, dan kenari segar yang baru dipanen dari kaki Gunung Gamalama.

2. Benteng Tolukko dan Oranje: Di sekitar situs sejarah ini, banyak penjual makanan tradisional yang menyajikan Gohu Ikan (sashimi khas Ternate) dan Papeda. Menikmati makanan dengan pemandangan benteng tua dan laut biru memberikan pengalaman sensorik yang luar biasa.

3. Air Guraka: Minuman hangat yang terbuat dari jahe, gula merah, dan taburan kenari. Ini adalah minuman penyambut tamu yang melambangkan kehangatan masyarakat Ternate.

4. Kue-Kue Tradisional: Seperti Kue Pelita dan Lalampa, yang menunjukkan pengaruh teknik memasak Melayu dan Bugis yang telah berakulturasi dengan bahan lokal Ternate.

Tips Perjalanan & Logistik

  • Transportasi: Bandara Internasional Kualanamu (KNO) adalah pintu gerbang utama. Gunakan kereta bandara (Railink) untuk mencapai pusat kota dalam 45 menit untuk menghindari kemacetan.
  • Waktu Terbaik: Medan dapat dikunjungi sepanjang tahun, namun festival kuliner sering diadakan menjelang Imlek atau Ramadhan.
  • Anggaran: Medan sangat ramah kantong. Makanan kaki lima berkisar antara Rp 15.000 - Rp 30.000, sementara restoran menengah berkisar Rp 50.000 - Rp 150.000.
  • Transportasi: Bandara Sultan Babullah (TTE) melayani penerbangan dari Jakarta, Makassar, dan Manado. Transportasi lokal di Ternate didominasi oleh ojek dan mobil sewa karena ukuran pulau yang kecil.
  • Waktu Terbaik: Bulan September hingga November adalah waktu terbaik untuk menghindari musim hujan dan gelombang laut yang tinggi jika ingin menyeberang ke pulau Tidore.
  • Anggaran: Harga makanan di Ternate sedikit lebih tinggi daripada di Medan karena ketergantungan pada logistik laut, namun tetap terjangkau. Siapkan Rp 30.000 - Rp 70.000 per porsi makan besar.

Etika Kuliner

  • Di Medan, perhatikan label 'Halal' dan 'Non-Halal' karena keberagaman etnis di sana.
  • Di Ternate, mayoritas kuliner adalah halal, namun sangat disarankan untuk mencoba makan dengan tangan (tradisi lokal) saat menyantap hidangan laut.

Kuliner & Pengalaman Lokal

Menu Wajib Coba di Medan:

  • Soto Medan: Berbeda dengan soto lainnya, Soto Medan menggunakan santan kental berwarna kuning dengan bumbu rempah yang sangat kuat, biasanya disajikan dengan perkedel kentang dan rempeyek.
  • Bika Ambon: Kue berongga dengan aroma daun jeruk dan serai yang kuat. Nama 'Ambon' berasal dari Jalan Ambon di Medan tempat kue ini pertama kali populer.
  • Lontong Medan: Hidangan sarapan yang meriah dengan tambahan tauco, teri kacang, dan rendang.

Menu Wajib Coba di Ternate:

  • Gohu Ikan: Sering disebut sebagai 'Sashimi Ternate', terbuat dari tuna segar yang dipotong dadu, dicampur dengan garam, lemon cui, bawang merah, cabai rawit, dan disiram minyak kelapa panas serta taburan kenari sangrai.
  • Ikan Kuah Kuning: Ikan segar yang dimasak dengan kunyit, kemangi, dan jeruk nipis, biasanya menjadi pendamping setia Papeda (bubur sagu).
  • Popeda/Papeda: Makanan pokok dari sagu yang memiliki tekstur kenyal, melambangkan ketahanan pangan lokal Maluku.

Pengalaman Unik:

Cobalah mengikuti 'Coffee Hopping' di Medan untuk merasakan budaya kopi yang sangat kental, mulai dari kopi tradisional di Sidikalang hingga cafe modern. Di Ternate, luangkan waktu untuk mengunjungi perkebunan cengkih di lereng Gunung Gamalama untuk mencium aroma rempah langsung dari pohonnya sebelum diolah menjadi bumbu masakan.

Kesimpulan

Perjalanan dari Medan ke Ternate adalah sebuah narasi tentang bagaimana makanan menjadi benang merah yang menyatukan keberagaman Indonesia. Melalui akulturasi rasa, kita belajar bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan bumbu yang memperkaya identitas kita. Medan mengajarkan kita tentang harmoni dalam heterogenitas urban, sementara Ternate mengingatkan kita pada akar sejarah dunia yang tersimpan dalam sepiring hidangan rempah. Menjelajahi kedua destinasi ini bukan hanya tentang memanjakan lidah, tetapi tentang menghargai warisan budaya yang tak ternilai harganya. Jadi, siapkan paspor kuliner Anda dan mulailah petualangan rasa di Nusantara yang menakjubkan ini.

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?