Budayaβ€’17 Februari 2026

Menelusuri Jejak Marapu: Kampung Megalitikum dan Makam Batu Kuno Sumba

Pendahuluan

Selamat datang di Sumba, sebuah pulau di Nusa Tenggara Timur yang sering dijuluki sebagai 'Pulau Terlupakan' namun menyimpan kekayaan budaya yang tak ternilai harganya. Di tengah arus modernisasi global, Sumba tetap teguh mempertahankan identitasnya melalui tradisi Marapu. Menelusuri jejak Marapu bukan sekadar perjalanan wisata biasa; ini adalah sebuah ziarah spiritual menuju masa lalu yang masih hidup hingga hari ini. Marapu adalah agama asli penduduk Sumba yang memuja nenek moyang dan roh-roh alam, yang menjadi fondasi utama dalam setiap aspek kehidupan masyarakat Sumba, mulai dari arsitektur rumah hingga tata cara pemakaman.

Salah satu ciri khas yang paling menonjol dari kebudayaan Sumba adalah keberadaan kampung-kampung adat megalitikum yang tersebar di perbukitan hijau. Di sini, Anda akan menemukan jajaran rumah adat beratap tinggi yang disebut 'Uma Mbatangu', yang melambangkan hubungan antara manusia dengan sang pencipta di langit. Namun, daya tarik yang paling mistis adalah keberadaan makam-makam batu raksasa yang terletak tepat di tengah kampung. Makam-makam ini bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, melainkan simbol status sosial, kekuatan spiritual, dan bukti nyata bahwa tradisi zaman batu besar (megalitikum) masih berlangsung di abad ke-21.

Artikel ini akan membawa Anda menyelami lebih dalam ke dalam jantung budaya Sumba, menjelajahi desa-desa seperti Ratenggaro, Prai Ijing, dan Tarung, serta memahami filosofi di balik batu-batu perkasa yang berdiri kokoh menantang zaman. Bersiaplah untuk terpesona oleh keindahan alam yang liar dan kearifan lokal yang mendalam di Pulau Sumba.

Sejarah & Latar Belakang

Sejarah Sumba sangat erat kaitannya dengan migrasi manusia purba dan perkembangan kebudayaan megalitikum di Asia Tenggara. Berbeda dengan banyak wilayah di Indonesia yang telah terpengaruh secara masif oleh agama-agama besar dari luar, Sumba berhasil mempertahankan inti dari kepercayaan animisme kuno mereka, yaitu Marapu. Marapu berasal dari kata 'Ma' (yang berarti yang terhormat) dan 'Rapu' (yang berarti yang disembunyikan atau leluhur). Bagi masyarakat Sumba, kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan transisi menuju alam roh di mana para leluhur terus mengawasi dan melindungi keturunan mereka.

Tradisi mendirikan makam batu besar dimulai ribuan tahun yang lalu sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada para bangsawan dan pemimpin adat. Proses pembuatan makam batu ini adalah upaya kolektif yang luar biasa. Batu-batu raksasa seberat puluhan ton ditarik dari perbukitan jauh menuju pusat kampung menggunakan tenaga manusia dan bantuan hewan kurban. Proses ini dikenal sebagai 'Tarik Batu', sebuah upacara yang melibatkan ratusan orang dan diiringi dengan nyanyian adat serta penyembelihan hewan sebagai persembahan kepada roh leluhur. Semakin besar batu yang digunakan, semakin tinggi status sosial keluarga yang membangunnya.

Secara administratif, Sumba terbagi menjadi empat kabupaten: Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, dan Sumba Timur. Masing-masing wilayah memiliki variasi dialek dan detail adat yang sedikit berbeda, namun semuanya dipersatukan oleh penghormatan terhadap Marapu. Di Sumba Barat, khususnya di daerah Waikabubak, konsentrasi kampung adat sangat padat karena topografinya yang berbukit-bukit memudahkan pertahanan di masa lalu saat perang antar-suku masih sering terjadi. Rumah-rumah adat dibangun di puncak bukit tidak hanya untuk alasan keamanan, tetapi juga agar lebih dekat dengan langit, tempat bersemayamnya para dewa.

Sejak tahun 1920-an, misionaris Kristen mulai masuk ke Sumba, namun uniknya, ajaran baru tersebut sering kali berasimilasi dengan tradisi lokal. Banyak orang Sumba saat ini yang secara resmi memeluk agama Kristen atau Katolik, namun dalam praktik keseharian, mereka tetap menjalankan ritual Marapu. Inilah yang membuat Sumba menjadi laboratorium antropologi yang hidup, di mana masa lalu dan masa kini berdampingan secara harmonis.

Daya Tarik Utama

1. Kampung Adat Ratenggaro (Sumba Barat Daya)

Ratenggaro adalah ikon pariwisata Sumba. Terletak di tepi pantai dengan muara sungai yang jernih, kampung ini memiliki rumah adat dengan atap menara tertinggi di seluruh Sumba, mencapai 15 hingga 20 meter. Keunikan utama Ratenggaro adalah jajaran makam batu kuno yang menghadap langsung ke Samudra Hindia. Suasana magis sangat terasa saat matahari terbenam, ketika siluet atap rumah yang menjulang tinggi berpadu dengan deburan ombak dan batu-batu megalitikum yang membisu.

2. Kampung Prai Ijing (Sumba Barat)

Terletak tidak jauh dari kota Waikabubak, Prai Ijing menawarkan tata letak kampung yang sangat rapi dan estetik. Rumah-rumah di sini tersusun memanjang mengikuti kontur bukit. Anda dapat melihat struktur rumah panggung yang terbagi menjadi tiga tingkat: bagian bawah untuk hewan ternak, bagian tengah untuk aktivitas manusia, dan bagian atas (menara) untuk menyimpan hasil panen serta tempat bersemayamnya roh leluhur. Di tengah kampung, terdapat jalan setapak berbatu yang diapit oleh makam-makam megalitikum yang dihiasi dengan ukiran simbolis seperti kerbau, kuda, dan manusia.

3. Kampung Tarung dan Waitabar (Waikabubak)

Kedua kampung ini terletak berdampingan di tengah kota Waikabubak. Meskipun berada di pusat keramaian, suasana di dalam kampung tetap terasa purba. Kampung Tarung merupakan pusat ritual penting, termasuk upacara Wulla Poddu, yaitu bulan suci bagi penganut Marapu. Di sini, Anda bisa melihat secara langsung aktivitas harian penduduk, mulai dari menenun kain tenun ikat hingga prosesi adat yang sering diadakan secara mendadak.

4. Situs Megalitikum Pasunga (Sumba Timur)

Bagi pecinta sejarah, Pasunga di Sumba Timur adalah tempat yang wajib dikunjungi. Di sini terdapat salah satu makam batu terbesar dan paling rumit ukirannya di Sumba. Ukiran pada batu-batu ini menceritakan silsilah keluarga dan pencapaian hidup tokoh yang dimakamkan di dalamnya. Berbeda dengan Sumba Barat yang lebih hijau, lanskap Sumba Timur yang sabana kering memberikan latar belakang yang dramatis bagi monumen-monumen batu ini.

5. Tradisi Pasola

Jika Anda berkunjung pada bulan Februari atau Maret, Anda mungkin berkesempatan menyaksikan Pasola. Ini adalah permainan ketangkasan melempar lembing kayu sambil memacu kuda, yang dilakukan oleh dua kelompok ksatria Sumba. Pasola bukan sekadar olahraga, melainkan ritual kesuburan untuk memohon restu leluhur agar panen melimpah. Darah yang tumpah ke tanah selama Pasola dianggap sebagai persembahan yang akan menyuburkan bumi.

Tips Perjalanan & Logistik

Transportasi

Cara terbaik untuk menjelajahi Sumba adalah dengan terbang ke Bandara Tambolaka (TMC) di Sumba Barat Daya atau Bandara Umbu Mehang Kunda (WGP) di Waingapu, Sumba Timur. Untuk berkeliling, sangat disarankan untuk menyewa mobil dengan pengemudi lokal (biaya sekitar Rp 700.000 - Rp 1.000.000 per hari termasuk BBM). Medan jalan di Sumba cukup menantang dengan tikungan tajam dan tanjakan curam, sehingga pengemudi berpengalaman sangat diperlukan.

Etika Berkunjung

Saat memasuki kampung adat, ada beberapa aturan penting yang harus dipatuhi:

1. Melapor ke Ketua Adat: Selalu minta izin atau mengisi buku tamu di pintu masuk kampung.

2. Pakaian Sopan: Kenakan pakaian yang tidak terlalu terbuka. Disarankan untuk melilitkan kain tenun Sumba sebagai bentuk penghormatan.

3. Pemberian (Sirih Pinang): Secara tradisional, tamu membawa sirih pinang sebagai simbol persahabatan. Namun, saat ini, uang donasi sukarela (biasanya Rp 20.000 - Rp 50.000) sudah umum diterima untuk membantu perawatan kampung.

4. Izin Memotret: Selalu minta izin sebelum memotret penduduk lokal atau area pemakaman yang dianggap sangat sakral.

Waktu Terbaik Berkunjung

Musim kemarau (Mei hingga Oktober) adalah waktu terbaik karena jalanan lebih aman dan cuaca cerah untuk fotografi. Namun, jika ingin melihat festival budaya seperti Pasola, datanglah pada bulan Februari atau Maret (tanggal pastinya ditentukan oleh para Rato/imam adat berdasarkan kemunculan nyale atau cacing laut).

Akomodasi

Di Waikabubak dan Tambolaka terdapat banyak pilihan hotel mulai dari kelas melati hingga resort mewah seperti Nihi Sumba yang terkenal di dunia. Untuk pengalaman yang lebih autentik, beberapa kampung adat mulai menawarkan homestay sederhana di dalam rumah adat.

Kuliner & Pengalaman Lokal

Menjelajahi Sumba tidak lengkap tanpa mencicipi kulinernya yang unik dan bersahaja. Makanan pokok masyarakat Sumba selain nasi adalah jagung dan ubi-ubian. Salah satu hidangan khas yang wajib dicoba adalah Manu Pata'u Ni, yaitu ayam kampung yang dimasak dengan santan dan rempah-rempah hingga sangat empuk. Rasanya gurih dan kaya akan aroma rempah lokal.

Selain itu, ada Ro'o Luwa, bubur daun singkong yang ditumbuk halus dan dimasak dengan santan. Hidangan ini biasanya disajikan bersama nasi panas dan ikan bakar segar dari pesisir Sumba. Bagi Anda yang menyukai kopi, jangan lewatkan Kopi Sumba yang memiliki aroma tanah (earthy) yang kuat dan rasa yang unik karena ditanam di tanah vulkanik tua.

Pengalaman lokal yang paling berkesan adalah berinteraksi dengan para perajin Tenun Ikat Sumba. Setiap motif pada kain tenun ini memiliki makna mendalam, seperti motif kuda yang melambangkan kepahlawanan, atau motif kura-kura yang melambangkan umur panjang. Proses pembuatan satu helai kain tenun bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga tahunan karena menggunakan pewarna alami dari akar pohon dan tanaman. Membeli kain tenun langsung dari pengrajin di kampung adat adalah cara terbaik untuk mendukung ekonomi lokal dan melestarikan seni tradisional yang mulai langka.

Kesimpulan

Sumba adalah destinasi yang menawarkan lebih dari sekadar pemandangan alam yang indah. Ia adalah pintu gerbang menuju masa lalu, di mana manusia hidup selaras dengan alam dan roh leluhur. Melalui kampung-kampung megalitikum dan makam batu kunonya, Sumba mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga akar budaya di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Menelusuri jejak Marapu akan memberikan Anda perspektif baru tentang hidup, mati, dan makna keberadaan kita di dunia ini. Jadikan perjalanan Anda ke Sumba sebagai momen untuk merenung, belajar, dan menghargai warisan dunia yang luar biasa ini. Sumba menanti untuk Anda jelajahi dengan rasa hormat dan kekaguman yang mendalam.

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?