Kuilβ€’16 Februari 2026

Menelusuri Jejak Kerajaan Majapahit di Petirtaan Jajag, Banyuwangi

Pendahuluan

Banyuwangi, permata di ujung timur Pulau Jawa, bukan hanya terkenal dengan keindahan alamnya yang memukau, tetapi juga menyimpan kekayaan sejarah yang tak ternilai. Di antara berbagai situs bersejarah yang tersebar di tanah Blambangan ini, Petirtaan Jajag menonjol sebagai saksi bisu kejayaan Kerajaan Majapahit. Terletak di Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, situs ini menawarkan pengalaman unik bagi para penjelajah sejarah dan pecinta budaya untuk menapaki jejak salah satu kerajaan terbesar di Nusantara. Lebih dari sekadar tumpukan batu kuno, Petirtaan Jajag adalah jendela menuju masa lalu, sebuah portal yang menghubungkan kita dengan peradaban Majapahit yang legendaris. Keberadaannya mengundang kita untuk merenung, belajar, dan mengapresiasi warisan leluhur yang telah membentuk identitas bangsa ini. Bagi para pengunjung, petirtaan ini bukan hanya destinasi wisata, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan edukatif yang mendalam, menggugah rasa ingin tahu dan kekaguman terhadap sejarah Majapahit.

Sejarah & Latar Belakang

Petirtaan Jajag, yang secara harfiah berarti 'tempat air suci' atau 'kolam pemandian suci', diperkirakan berasal dari masa kejayaan Kerajaan Majapahit, sekitar abad ke-14 hingga ke-15 Masehi. Keberadaan artefak dan struktur arkeologis di situs ini memberikan petunjuk kuat mengenai keterkaitannya dengan periode Majapahit, salah satu kerajaan Hindu-Buddha terbesar dan terkuat yang pernah menguasai Nusantara. Pada masanya, Majapahit, dengan ibu kotanya di Trowulan, Jawa Timur, memiliki pengaruh yang luas, mencakup hampir seluruh wilayah Indonesia modern serta sebagian wilayah Asia Tenggara. Peninggalan-peninggalan Majapahit, seperti candi, arca, prasasti, dan petirtaan, tersebar di berbagai wilayah bekas kekuasaannya, dan Petirtaan Jajag di Banyuwangi adalah salah satu bukti nyata dari jangkauan dan pengaruh kerajaan ini.

Lokasi Petirtaan Jajag di Kabupaten Banyuwangi, yang secara historis dikenal sebagai wilayah Blambangan, memiliki signifikansi tersendiri. Wilayah ini seringkali menjadi episentrum berbagai peristiwa penting dalam sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa Timur. Beberapa teori menyebutkan bahwa petirtaan ini mungkin berfungsi sebagai tempat ritual keagamaan, pemandian suci bagi para bangsawan atau pendeta, atau bahkan sebagai sumber air penting bagi pemukiman pada masa Majapahit. Air yang mengalir di petirtaan ini dipercaya memiliki kekuatan spiritual atau khasiat tertentu, sesuai dengan tradisi penggunaan petirtaan pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Jawa. Artefak-artefak yang ditemukan di sekitar situs, seperti fragmen keramik, batu berukir, dan struktur bangunan kuno, semakin memperkuat dugaan bahwa area ini merupakan kawasan penting pada masa lalu. Penelitian arkeologis yang berkelanjutan sangat penting untuk mengungkap lebih banyak detail mengenai fungsi, usia pasti, dan masyarakat yang membangun serta menggunakan petirtaan ini. Pemahaman yang mendalam tentang sejarah Petirtaan Jajag tidak hanya memperkaya khazanah sejarah Majapahit, tetapi juga memberikan wawasan tentang kehidupan sosial, keagamaan, dan budaya masyarakat Jawa Timur pada era kuno. Situs ini menjadi pengingat akan kejayaan masa lalu dan warisan budaya yang perlu dilestarikan.

Daya Tarik Utama

Petirtaan Jajag menawarkan pesona unik yang memikat para pengunjung, terutama bagi mereka yang memiliki ketertarikan mendalam pada sejarah dan budaya. Daya tarik utamanya terletak pada peninggalan arkeologis yang masih terawat dan memberikan gambaran nyata tentang kehidupan di masa Kerajaan Majapahit. Berikut adalah beberapa elemen yang membuat Petirtaan Jajag begitu istimewa:

  • Struktur Petirtaan Kuno: Inti dari situs ini adalah struktur petirtaan itu sendiri. Meskipun telah mengalami berbagai perubahan dan mungkin tidak dalam kondisi utuh seperti aslinya, sisa-sisa bangunan kuno yang terbuat dari batu bata merah khas Majapahit masih terlihat jelas. Struktur ini biasanya terdiri dari kolam atau area pemandian yang dikelilingi oleh dinding-dinding batu. Beberapa bagian mungkin masih menampilkan ukiran-ukiran sederhana atau pola geometris yang menunjukkan keahlian seni pada masa itu. Pengunjung dapat membayangkan bagaimana tempat ini digunakan untuk ritual penyucian diri atau upacara keagamaan pada zaman dahulu. Keberadaan mata air yang masih mengalir menjadi bukti kehidupan yang terus berdenyut di situs bersejarah ini.
  • Artefak Arkeologis: Di sekitar area petirtaan, seringkali ditemukan berbagai fragmen arkeologis. Ini bisa berupa pecahan gerabah, keramik kuno, batu berukir, bahkan sisa-sisa struktur bangunan lainnya yang menunjukkan bahwa situs ini dulunya merupakan kawasan yang lebih luas dan memiliki fungsi penting. Artefak-artefak ini, meskipun mungkin tidak dipamerkan secara formal, memberikan petunjuk berharga tentang teknologi, seni, dan aktivitas sehari-hari masyarakat Majapahit. Bagi para arkeolog amatir atau siswa sejarah, menemukan atau mengamati fragmen-fragmen ini bisa menjadi pengalaman yang sangat memuaskan.
  • Suasana Mistis dan Sakral: Banyak pengunjung melaporkan merasakan aura ketenangan dan kedamaian saat berada di Petirtaan Jajag. Suasana yang sedikit terpencil, dikelilingi oleh pepohonan rindang, menambah kesan sakral pada situs ini. Beberapa orang percaya bahwa tempat ini memiliki energi spiritual yang kuat, menjadikannya lokasi yang cocok untuk meditasi atau perenungan. Kehadiran mata air alami yang jernih seringkali dikaitkan dengan kesucian dan kehidupan, semakin memperkuat nuansa mistis situs ini.
  • Koneksi dengan Legenda Lokal: Petirtaan Jajag seringkali dikaitkan dengan berbagai legenda dan cerita rakyat setempat. Cerita-cerita ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, menambah lapisan narasi pada situs ini, menjadikannya lebih dari sekadar peninggalan fisik. Mendengarkan cerita-cerita ini dari penduduk lokal dapat memberikan perspektif yang lebih kaya tentang makna dan peran petirtaan ini dalam masyarakat tradisional.
  • Potensi Edukatif: Bagi pelajar, mahasiswa, dan siapa saja yang tertarik belajar sejarah, Petirtaan Jajag adalah laboratorium sejarah terbuka. Situs ini memungkinkan pengunjung untuk melihat langsung bukti fisik dari peradaban Majapahit, melampaui apa yang bisa dibaca dari buku. Ini adalah kesempatan untuk menghubungkan teori sejarah dengan realitas arkeologis, merangsang pemikiran kritis dan apresiasi terhadap warisan budaya.
  • Keindahan Alam yang Menyelimuti: Meskipun fokus utamanya adalah sejarah, lokasi Petirtaan Jajag seringkali dikelilingi oleh pemandangan alam pedesaan yang asri. Pepohonan hijau, udara segar, dan suara alam menciptakan lingkungan yang menyenangkan untuk dijelajahi. Ini menjadikan kunjungan ke petirtaan ini sebagai pengalaman yang menyegarkan baik secara spiritual maupun fisik.

Dengan kombinasi antara relik sejarah yang otentik, suasana yang khas, dan potensi edukatifnya, Petirtaan Jajag menawarkan pengalaman yang tak terlupakan bagi setiap pengunjung yang datang.

Tips Perjalanan & Logistik

Merencanakan kunjungan ke Petirtaan Jajag, Banyuwangi, akan memastikan pengalaman yang lancar dan menyenangkan. Berikut adalah beberapa tips penting mengenai logistik dan persiapan:

  • Aksesibilitas dan Transportasi:
  • Lokasi: Petirtaan Jajag terletak di Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Jaraknya tidak terlalu jauh dari pusat kota Banyuwangi.
  • Kendaraan Pribadi: Cara termudah untuk mencapai situs ini adalah dengan menggunakan kendaraan pribadi (mobil atau motor). Ikuti arah menuju Kecamatan Gambiran, kemudian cari petunjuk menuju Desa Jajag atau Petirtaan Jajag. Jalan menuju lokasi umumnya cukup baik, namun ada kemungkinan beberapa ruas jalan di desa mungkin lebih sempit atau kurang mulus.
  • Transportasi Umum: Jika menggunakan transportasi umum, Anda bisa naik bus dari Terminal Banyuwangi menuju arah Jember atau kota lain yang melewati Kecamatan Gambiran. Dari jalan raya, Anda mungkin perlu melanjutkan perjalanan dengan ojek atau menyewa kendaraan lokal untuk mencapai lokasi petirtaan.
  • Penyewaan Kendaraan: Tersedia pilihan untuk menyewa motor atau mobil di Banyuwangi jika Anda tidak membawa kendaraan sendiri. Ini memberikan fleksibilitas lebih dalam menjelajahi area sekitar.
  • Waktu Terbaik untuk Berkunjung:
  • Musim: Musim kemarau (sekitar April hingga Oktober) umumnya lebih disukai karena cuaca cenderung lebih kering dan cerah, memudahkan akses dan eksplorasi. Namun, petirtaan ini tetap bisa dikunjungi sepanjang tahun.
  • Jam Kunjungan: Tidak ada jam operasional resmi yang ketat untuk situs bersejarah seperti ini. Namun, disarankan untuk berkunjung pada pagi hari atau sore hari untuk menghindari terik matahari siang dan menikmati suasana yang lebih tenang. Hindari berkunjung saat hari sudah gelap.
  • Durasi Kunjungan: Alokasikan waktu sekitar 1-2 jam untuk menjelajahi Petirtaan Jajag dan sekitarnya. Jika Anda ingin merenung atau berinteraksi dengan penduduk lokal, Anda bisa menambah waktu.
  • Akomodasi:
  • Di Banyuwangi: Pilihan akomodasi terbaik adalah menginap di kota Banyuwangi atau daerah sekitarnya. Terdapat berbagai jenis penginapan, mulai dari hotel berbintang, guesthouse, hingga homestay, yang dapat disesuaikan dengan anggaran Anda.
  • Dekat Lokasi: Pilihan akomodasi langsung di dekat Petirtaan Jajag mungkin terbatas. Namun, Anda bisa mencari penginapan sederhana atau rumah penduduk yang menawarkan konsep homestay di pedesaan sekitar Gambiran atau Jajag.
  • Perlengkapan yang Dibawa:
  • Pakaian Nyaman: Kenakan pakaian yang nyaman dan sopan, terutama jika Anda berencana untuk mendekati area petirtaan. Bawa juga topi atau payung untuk melindungi dari sinar matahari.
  • Sepatu yang Tepat: Gunakan sepatu yang nyaman untuk berjalan, karena Anda mungkin perlu berjalan di medan yang tidak rata atau sedikit berlumpur, terutama setelah hujan.
  • Air Minum dan Camilan: Bawa persediaan air minum yang cukup, terutama jika Anda berkunjung saat cuaca panas. Camilan ringan juga bisa membantu menjaga energi.
  • Kamera: Jangan lupa membawa kamera untuk mengabadikan momen dan keindahan situs bersejarah ini.
  • Obat-obatan Pribadi: Bawa obat-obatan pribadi jika Anda memiliki kebutuhan khusus.
  • Etika dan Hormat:
  • Jaga Kebersihan: Buang sampah pada tempatnya. Jaga kelestarian situs dengan tidak merusak atau mengambil bagian dari peninggalan.
  • Hormati Lingkungan: Perlakukan situs bersejarah dengan penuh hormat. Hindari suara keras yang dapat mengganggu ketenangan tempat ini atau penduduk sekitar.
  • Izin (Jika Diperlukan): Meskipun umumnya terbuka untuk umum, jika Anda berencana melakukan penelitian mendalam atau kegiatan khusus, sebaiknya hubungi pihak berwenang setempat atau juru pelihara situs jika ada.
  • Informasi Tambahan:
  • Biaya Masuk: Umumnya, tidak ada biaya masuk yang signifikan untuk situs arkeologi seperti Petirtaan Jajag. Namun, mungkin ada biaya parkir kendaraan.
  • Pemandu Lokal: Jika tersedia, pertimbangkan untuk menggunakan jasa pemandu lokal. Mereka dapat memberikan informasi sejarah dan cerita rakyat yang lebih mendalam tentang situs ini.

Dengan persiapan yang matang, kunjungan Anda ke Petirtaan Jajag akan menjadi pengalaman yang berharga dan penuh makna, menggali kekayaan sejarah Majapahit di Banyuwangi.

Kuliner & Pengalaman Lokal

Menjelajahi Petirtaan Jajag tidak lengkap rasanya tanpa mencicipi kekayaan kuliner dan merasakan pengalaman lokal yang ditawarkan oleh Banyuwangi. Wilayah ini memiliki cita rasa khas yang mencerminkan perpaduan budaya Jawa, Madura, dan Bali, serta pengaruh dari kekayaan hasil laut dan pertaniannya. Setelah menapaki jejak sejarah Majapahit, memanjakan lidah dengan hidangan lokal adalah cara sempurna untuk melengkapi petualangan Anda.

Kuliner Khas Banyuwangi:

  • Sego Cawuk: Ini adalah salah satu hidangan paling ikonik dari Banyuwangi. Sego cawuk terdiri dari nasi putih yang disiram dengan kuah santan gurih bercampur bumbu khas, disajikan dengan berbagai macam lauk seperti pindang (ikan pindang), sambal, dan terkadang tambahan sayuran seperti terong atau timun. Rasanya yang unik dan kaya rempah menjadikannya wajib dicoba.
  • Rujak Soto: Perpaduan unik antara rujak sayur (biasanya kangkung dan tauge) dengan kuah soto ayam yang gurih. Rasa segar dari rujak berpadu harmonis dengan kehangatan dan kekayaan rasa soto, menciptakan sensasi rasa yang tak terlupakan. Ini adalah contoh bagaimana Banyuwangi berani berinovasi dengan cita rasa tradisional.
  • Sate Buntel: Berbeda dari sate pada umumnya, sate buntel terbuat dari daging cincang yang dibalut dan dibentuk melingkar pada tusuk sate, kemudian dibakar. Daging yang digunakan biasanya kambing atau sapi. Teksturnya yang lembut dan bumbu yang meresap membuatnya sangat lezat.
  • Nasi Tempong: Hidangan sederhana namun menggugah selera. Nasi hangat disajikan dengan lauk seperti ikan goreng atau ayam goreng, dan yang paling penting adalah sambal terasi yang pedas dan segar. Dinamakan 'tempong' karena konon rasa pedas sambalnya bisa membuat 'menampar' lidah.
  • Ikan Bakar Khas Banyuwangi: Mengingat Banyuwangi memiliki garis pantai yang panjang, hidangan laut segar selalu menjadi primadona. Ikan bakar yang dibumbui dengan rempah-rempah khas dan dibakar di atas arang memberikan aroma yang menggoda dan rasa yang lezat.
  • Kopi Lanang: Banyuwangi juga terkenal dengan kopi berkualitasnya. Kopi Lanang, yang bijinya hanya satu dalam satu buah kopi ceri, memiliki rasa yang unik dan aroma yang kuat. Menyeruput secangkir kopi lanang di pagi hari atau sore hari bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Pengalaman Lokal:

  • Interaksi dengan Penduduk Lokal: Masyarakat Banyuwangi dikenal ramah dan terbuka. Berinteraksi dengan penduduk lokal, terutama di sekitar Desa Jajag, dapat memberikan wawasan tentang kehidupan sehari-hari, tradisi, dan cerita-cerita menarik tentang sejarah daerah tersebut. Jangan ragu untuk bertanya dan berbincang.
  • Mengunjungi Pasar Tradisional: Kunjungi pasar tradisional di sekitar Gambiran atau Banyuwangi kota untuk merasakan denyut nadi kehidupan lokal. Anda bisa melihat berbagai macam hasil bumi segar, rempah-rempah, serta mencicipi jajanan pasar tradisional.
  • Menyaksikan Kesenian Lokal: Jika beruntung, Anda mungkin bisa menyaksikan pertunjukan seni tradisional Banyuwangi, seperti Tari Gandrung atau musik patrol. Kesenian ini seringkali ditampilkan pada acara-acara khusus atau festival.
  • Menjelajahi Desa Sekitar: Setelah dari Petirtaan Jajag, luangkan waktu untuk menjelajahi desa-desa di sekitarnya. Anda akan menemukan pemandangan pedesaan yang asri, sawah hijau, dan kehidupan masyarakat yang tenang. Ini adalah kesempatan untuk merasakan Banyuwangi yang otentik, jauh dari keramaian.
  • Belajar tentang Pertanian Lokal: Banyuwangi dikenal sebagai daerah pertanian yang subur. Anda mungkin bisa melihat perkebunan kopi, kakao, atau lahan pertanian lainnya yang menjadi tulang punggung perekonomian lokal.

Memadukan kunjungan ke situs bersejarah dengan eksplorasi kuliner dan pengalaman budaya lokal akan memberikan gambaran yang utuh dan mendalam tentang Banyuwangi, menjadikannya sebuah perjalanan yang kaya dan tak terlupakan.

Kesimpulan

Petirtaan Jajag di Banyuwangi lebih dari sekadar sebuah situs arkeologi; ia adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan masa lalu yang gemilang, khususnya era Kerajaan Majapahit. Keberadaannya di ujung timur Jawa Timur menjadi saksi bisu kejayaan, spiritualitas, dan tradisi masyarakat kuno. Mengunjungi petirtaan ini memberikan kesempatan langka untuk menapaki jejak sejarah secara langsung, merasakan aura mistis yang menyelimutinya, dan merenungkan warisan budaya yang tak ternilai. Dari struktur batunya yang kokoh hingga artefak yang tersebar, setiap elemen di Petirtaan Jajag bercerita tentang peradaban yang pernah berjaya. Ditambah lagi dengan keindahan alam Banyuwangi yang mempesona dan kekayaan kuliner lokal yang menggoda, kunjungan ke Petirtaan Jajag menjanjikan pengalaman yang holistik dan mendalam. Ini adalah ajakan bagi para pecinta sejarah, budaya, dan petualangan untuk menemukan permata tersembunyi ini, menggali akar sejarah bangsa, dan mengapresiasi kekayaan warisan Nusantara yang patut dilestarikan untuk generasi mendatang.

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?