Pendahuluan
Indonesia adalah sebuah permadani budaya yang ditenun dengan benang-benang keberagaman yang luar biasa. Salah satu ekspresi budaya yang paling menyentuh dan universal di kepulauan ini adalah tradisi makan bersama. Di Indonesia, makan bukan sekadar aktivitas biologis untuk memenuhi rasa lapar; ia adalah sebuah ritual sosial, sebuah pernyataan persaudaraan, dan manifestasi dari filosofi 'Gotong Royong'. Dari ujung barat di Pontianak, Kalimantan Barat, hingga ke pulau dewata Bali di timur, tradisi makan bersama seperti Saprahan dan Megibung menjadi pilar identitas komunitas yang masih lestari hingga hari ini.
Tradisi makan bersama atau 'communal dining' di Indonesia memiliki berbagai nama dan tata cara yang unik di setiap daerah. Di Jawa kita mengenal 'Kembul Bujana' atau 'Liwetan', di Sumatera Barat ada 'Bajamba', namun Saprahan dan Megibung menonjol karena kompleksitas etiket dan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya. Fenomena ini mencerminkan bagaimana masyarakat Indonesia menghargai kesetaraan. Saat duduk bersila di lantai, tanpa kursi yang membedakan tinggi rendahnya jabatan, semua orang berada pada level yang sama. Tidak ada sekat antara si kaya dan si miskin, antara pejabat dan rakyat jelata. Semua tangan menjangkau nampan yang sama, berbagi berkah yang sama.
Artikel ini akan membawa Anda menelusuri lorong waktu dan rasa, membedah bagaimana Saprahan Melayu Pontianak dan Megibung Bali bukan sekadar tentang mengisi perut, melainkan tentang menjaga harmoni kosmos dan sosial. Kita akan mengeksplorasi bagaimana pariwisata budaya kini mulai melirik tradisi ini sebagai pengalaman autentik yang dicari oleh wisatawan mancanegara maupun domestik yang ingin merasakan denyut nadi kehidupan masyarakat lokal yang sesungguhnya.
Sejarah & Latar Belakang
Akar Budaya Saprahan di Pontianak
Saprahan berasal dari kata 'saprah' yang berarti berhampar, merujuk pada cara penyajian makanan di atas lantai dengan menggunakan kain alas atau taplak. Tradisi ini berakar kuat dalam kebudayaan Melayu, khususnya di Kesultanan Kadriyah Pontianak. Secara historis, Saprahan merupakan cara Sultan menjamu tamu-tamunya, baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat biasa. Nilai utama dari Saprahan adalah 'Adab', sebuah konsep sopan santun yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam yang menyatu dengan adat Melayu.
Dalam lintasan sejarah, Saprahan menjadi alat diplomasi sosial. Di Pontianak, tradisi ini digunakan dalam acara pernikahan, khitanan, atau perayaan hari besar keagamaan. Setiap elemen dalam Saprahan memiliki simbolisme. Misalnya, jumlah orang dalam satu kelompok saprahan yang idealnya berjumlah enam orang. Angka enam ini melambangkan Rukun Iman dalam agama Islam, menunjukkan bahwa aktivitas duniawi seperti makan pun harus dilandasi oleh fondasi spiritual yang kuat.
Asal-Usul Megibung di Karangasem, Bali
Beranjak ke timur, kita menemukan Megibung yang lahir di ujung timur Pulau Bali, tepatnya di Kerajaan Karangasem. Tradisi ini diperkenalkan oleh Raja Karangasem, I Gusti Anglurah Ketut Karangasem, sekitar tahun 1614 Saka (1692 Masehi). Saat itu, Karangasem sedang melakukan ekspansi wilayah ke Lombok. Sang Raja, yang dikenal bijaksana, ingin menciptakan rasa kebersamaan dan kesetaraan di antara para prajuritnya tanpa memandang kasta.
Kata 'Megibung' berasal dari kata 'gibung' yang berarti berbagi satu sama lain. Raja duduk melingkar bersama para prajuritnya untuk makan bersama dari satu wadah besar yang disebut 'selaka' atau nampan. Inisiatif ini sangat revolusioner pada zamannya, mengingat sistem kasta di Bali biasanya membatasi interaksi sosial yang intim seperti makan bersama. Megibung berhasil mematahkan batasan tersebut dan memperkuat solidaritas militer yang kemudian bertransformasi menjadi identitas budaya masyarakat Karangasem hingga saat ini.
Kedua tradisi ini, meski terpisah jarak ribuan kilometer dan latar belakang agama yang berbeda, memiliki benang merah yang sama: penghapusan strata sosial demi persatuan. Keduanya lahir dari keinginan pemimpin untuk merangkul rakyatnya dan menciptakan stabilitas sosial melalui media yang paling dasar, yaitu makanan.
Daya Tarik Utama
Estetika Visual dan Ritual Saprahan
Daya tarik utama Saprahan terletak pada ketertiban dan estetika penyajiannya. Bayangkan sebuah ruangan besar di mana puluhan kain putih atau bermotif bunga dihamparkan di lantai. Di atas setiap kain, terdapat nampan besar yang dikelilingi oleh piring-piring kecil berisi lauk-pauk berwarna warni.
Menu wajib dalam Saprahan Melayu Pontianak meliputi:
1. Nasi Kebuli atau Nasi Putih: Sebagai sumber karbohidrat utama.
2. Semur Daging: Daging sapi yang dimasak dengan kecap dan rempah manis.
3. Sayur Dal: Kacang-kacangan yang dimasak dengan kuah santan kuning.
4. Pajeri Nanas atau Terong: Masakan asam manis pedas yang memberikan kesegaran.
5. Sambal Raja: Sambal khas yang menggugah selera.
6. Air Serbat: Minuman merah dari rempah-rempah yang berfungsi menetralkan lemak.
Keunikan lainnya adalah 'Adab Makan'. Sebelum makan dimulai, ada petugas yang membawa 'ketel' (teko air) dan serbet untuk mencuci tangan tamu. Orang tertua dalam kelompok biasanya dipersilakan mengambil nasi pertama kali sebagai bentuk penghormatan.
Dinamika Sosial dalam Megibung
Megibung menawarkan pengalaman yang lebih dinamis dan komunal. Satu kelompok Megibung disebut 'Sela', yang terdiri dari 5 hingga 8 orang. Mereka duduk melingkar mengelilingi sebuah 'Gibe' atau nampan berisi gundukan nasi putih yang dikelilingi oleh berbagai macam lauk khas Bali.
Menu Megibung biasanya sangat kaya akan rempah (Basa Gede):
- Lawar: Campuran sayur, daging cincang, dan kelapa parut.
- Sate Lilit: Daging yang dililitkan pada batang serai atau bambu.
- Urutan: Sosis tradisional Bali.
- Komoh: Sup kaldu daging yang gurih.
- Sambal Tuwung: Sambal terong yang pedas.
Aturan main dalam Megibung sangat ketat untuk menjaga kebersihan. Nasi diambil dengan tangan kanan, lalu dibentuk menjadi bola kecil (dikepal) sebelum dimasukkan ke mulut. Dilarang menjatuhkan sisa makanan kembali ke nampan bersama. Jika seseorang sudah kenyang, ia tidak boleh langsung meninggalkan tempat, melainkan harus menunggu anggota lain dalam satu 'Sela' selesai makan. Ini adalah latihan kesabaran dan empati yang luar biasa.
Tips Perjalanan & Logistik
Menuju Pontianak (Saprahan)
Untuk merasakan Saprahan, waktu terbaik adalah saat perayaan Hari Jadi Kota Pontianak (setiap tanggal 23 Oktober) di mana Festival Saprahan diadakan secara besar-besaran.
- Transportasi: Bandara Internasional Supadio (PNK) melayani penerbangan dari Jakarta, Surabaya, dan Kuching. Dari bandara, Anda bisa menggunakan taksi daring menuju pusat kota.
- Lokasi Terbaik: Rumah Adat Melayu Kalimantan Barat di Jalan Sultan Syahrir adalah tempat paling autentik untuk menyaksikan atau memesan sesi Saprahan.
- Etiket: Kenakan pakaian yang sopan (Baju Kurung untuk wanita dan Telok Belanga untuk pria sangat disarankan). Selalu gunakan tangan kanan saat makan dan pastikan kaki tidak menjulur ke arah makanan (duduk bersila untuk pria, bersimpuh untuk wanita).
Menuju Karangasem (Megibung)
Megibung paling sering ditemui dalam upacara adat di Karangasem seperti Dewa Yadnya atau Pitra Yadnya. Namun, sekarang banyak restoran di Bali yang menawarkan paket Megibung.
- Transportasi: Karangasem berjarak sekitar 2-3 jam perjalanan darat dari Bandara I Gusti Ngurah Rai (DPS). Disarankan menyewa mobil pribadi karena transportasi umum ke Bali Timur terbatas.
- Lokasi Terbaik: Desa Tenganan Pegringsingan atau pusat kota Amlapura. Restoran seperti Bali Asli di Gelumpang menawarkan pengalaman Megibung dengan pemandangan Gunung Agung yang spektakuler.
- Biaya: Paket Megibung di restoran berkisar antara Rp 150.000 hingga Rp 500.000 per orang, tergantung kemewahan menu.
- Tips: Jangan ragu untuk bergabung dengan warga lokal jika Anda diundang saat ada upacara di pura. Orang Bali sangat terbuka, asalkan Anda berpakaian adat (sarung dan selendang) dan mengikuti instruksi mereka.
Kuliner & Pengalaman Lokal
Pengalaman makan bersama di Indonesia bukan hanya tentang rasa di lidah, tapi tentang 'Rasa' di hati. Di Pontianak, setelah makan Saprahan, biasanya akan dilanjutkan dengan tradisi 'Berbalas Pantun'. Ini adalah seni sastra lisan di mana tamu dan tuan rumah saling melempar puisi lama yang jenaka namun penuh nasihat. Wisatawan seringkali terpukau dengan kecepatan berpikir masyarakat Melayu dalam merangkai kata secara spontan.
Di Bali, Megibung seringkali diiringi oleh diskusi ringan tentang masalah desa atau rencana upacara berikutnya. Ini adalah momen di mana keputusan-keputusan penting komunitas seringkali lahir. Mencicipi Lawar yang segar dengan bumbu yang kuat sambil mendengar candaan para tetua desa memberikan kedalaman pengalaman yang tidak akan didapatkan di restoran cepat saji.
Bagi pecinta kuliner ekstrem atau autentik, Megibung adalah pintu masuk untuk mengenal variasi bumbu Bali yang belum terjamah industri. Anda akan merasakan perbedaan antara Lawar Merah (menggunakan darah segar) dan Lawar Putih. Di sisi lain, Saprahan akan memperkenalkan Anda pada kelembutan bumbu Melayu yang dipengaruhi oleh budaya Arab dan India, namun tetap memiliki karakter lokal yang kuat melalui penggunaan nanas dan rempah hutan Kalimantan.
Kesimpulan
Melalui Saprahan dan Megibung, kita belajar bahwa makanan adalah bahasa universal yang mampu meruntuhkan tembok pemisah. Di Pontianak, Saprahan adalah tarian adab dan penghormatan dalam bingkai Melayu Islam. Di Bali, Megibung adalah simfoni kebersamaan dan kesetaraan dalam naungan tradisi Hindu. Keduanya adalah harta karun takbenda yang menjadikan Indonesia destinasi wisata budaya yang tak tertandingi.
Menghadiri ritual makan bersama ini adalah cara terbaik untuk memahami jiwa bangsa Indonesia. Jika Anda mencari lebih dari sekadar foto pemandangan, datanglah dan duduklah melingkar. Ambil nasi Anda, bagikan lauknya, dan rasakan bagaimana kehangatan persaudaraan mengalir melalui setiap suapan. Di atas selembar kain atau nampan perak, Anda bukan lagi orang asing; Anda adalah bagian dari keluarga besar nusantara.
*
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Apakah orang non-Muslim boleh ikut Saprahan?
Tentu saja. Saprahan adalah tradisi budaya yang sangat inklusif. Nilai-nilai Islam yang terkandung di dalamnya justru mengajarkan untuk memuliakan tamu tanpa memandang latar belakang agamanya.
2. Apakah ada opsi vegetarian untuk Megibung?
Secara tradisional, Megibung didominasi daging. Namun, di restoran-restoran modern di Bali, Anda bisa memesan 'Vegetarian Megibung' yang mengganti daging dengan tahu, tempe, dan berbagai olahan sayur tanpa mengurangi esensi bumbu aslinya.
3. Berapa lama durasi makan bersama ini?
Biasanya berlangsung antara 45 hingga 90 menit, termasuk ritual pembukaan, proses makan, hingga percakapan santai setelah makan.
4. Apakah tradisi ini masih dilakukan oleh generasi muda?
Ya, terutama di acara pernikahan. Di Pontianak, kompetisi Saprahan antar sekolah sering diadakan untuk menjaga minat generasi muda terhadap budaya leluhur mereka.