Situs Sejarah

Mesjid tertua di Alor (Masjid Jami Babshul Hikmah)

di Alor, Nusa Tenggara Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Syiar Islam di Nusa Kenari: Sejarah Masjid Jami Babshul Hikmah

Masjid Jami Babshul Hikmah bukan sekadar tempat ibadah; ia adalah monumen hidup yang merekam awal mula masuknya Islam di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Terletak di Desa Lerabaing, Kecamatan Alor Barat Daya, masjid ini memegang predikat sebagai masjid tertua di tanah Alor. Keberadaannya menjadi bukti autentik betapa kuatnya jalinan sejarah antara kesultanan-kesultanan di Nusantara dengan masyarakat di wilayah timur Indonesia.

#

Asal-Usul dan Periodisasi Pendirian

Sejarah Masjid Jami Babshul Hikmah berakar pada abad ke-16, tepatnya sekitar tahun 1522. Berdasarkan catatan lisan yang diwariskan turun-temurun serta bukti peninggalan sejarah, masjid ini didirikan oleh seorang penyiar agama Islam bernama Sultan Gogo yang berasal dari Ternate, Maluku Utara. Kedatangan Sultan Gogo ke Alor tidak hanya membawa misi perdagangan, tetapi juga misi dakwah yang damai.

Pada masa itu, wilayah Alor dipimpin oleh Raja Baololong I. Kehadiran Sultan Gogo disambut dengan tangan terbuka, yang kemudian berujung pada diterimanya Islam sebagai agama resmi di lingkungan kerajaan. Pembangunan masjid ini menandai tonggak awal transformasi sosial-religius di wilayah Lerabaing, yang saat itu menjadi pusat kekuasaan dan gerbang masuknya pengaruh luar ke Pulau Alor.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi Tradisional

Secara arsitektural, Masjid Jami Babshul Hikmah mencerminkan perpaduan gaya lokal Alor dengan pengaruh arsitektur Islam Nusantara yang sederhana namun sarat makna. Struktur asli masjid ini menggunakan material yang sepenuhnya berasal dari alam sekitar. Keunikan utamanya terletak pada penggunaan kayu-kayu hutan yang sangat kuat, seperti kayu jati dan kayu cendana, yang konon tidak membusuk meski telah berusia ratusan tahun.

Atap masjid awalnya berbentuk tumpang (meru) yang terbuat dari alang-alang, mencerminkan adaptasi terhadap iklim tropis dan estetika lokal. Salah satu elemen paling ikonik adalah tiang penyangga utama (saka guru) yang berjumlah empat buah. Tiang-tiang ini tidak hanya berfungsi sebagai penopang beban bangunan, tetapi juga melambangkan empat sahabat Nabi Muhammad SAW. Teknik penyambungan kayu pada masa itu belum menggunakan paku besi, melainkan sistem pasak kayu yang presisi, menunjukkan kecanggihan pertukangan tradisional pada abad ke-16.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Masjid Jami Babshul Hikmah memiliki nilai sejarah yang tak ternilai karena menyimpan salah satu benda paling keramat di Alor: Al-Qur'an tertua di Asia Tenggara yang terbuat dari kulit kayu. Al-Qur'an ini dibawa langsung oleh Sultan Gogo dan masih tersimpan dengan baik di lingkungan masjid. Kitab suci ini ditulis tangan di atas kertas kulit kayu dengan tinta alami yang hingga kini warnanya masih dapat terlihat jelas.

Selama berabad-abad, masjid ini menjadi saksi bisu berbagai peristiwa sejarah, mulai dari masa keemasan kerajaan-kerajaan lokal hingga masa penjajahan kolonial Belanda dan Portugis. Ketika wilayah sekitar Alor mengalami konflik atau tekanan dari pihak luar, masjid ini sering kali berfungsi sebagai benteng spiritual dan tempat berkumpulnya para pemuka adat untuk mengambil keputusan penting bagi keselamatan warga.

#

Tokoh dan Korelasi Sejarah

Selain Sultan Gogo, sosok Raja Baololong I merupakan figur kunci dalam sejarah masjid ini. Melalui kebijakannya, Islam dapat berkembang secara harmonis tanpa menghapus tatanan adat yang sudah ada. Hubungan antara Ternate (sebagai pusat kekuasaan Islam di timur) dengan Alor terjalin erat melalui masjid ini, yang menjadikan Lerabaing sebagai titik penting dalam jalur perdagangan rempah-rempah dan penyebaran agama.

Dalam naskah-naskah kuno, disebutkan bahwa pembangunan masjid ini juga dibantu oleh lima orang bersaudara dari Ternate yang menyertai perjalanan Sultan Gogo. Mereka menetap di Alor dan keturunannya hingga kini masih memegang peran penting sebagai pengurus masjid (Marbot) dan penjaga Al-Qur'an kulit kayu secara turun-temurun, menjaga garis keturunan (genealogi) yang tak terputus sejak lima abad silam.

#

Status Pelestarian dan Upaya Restorasi

Sebagai Situs Cagar Budaya, Masjid Jami Babshul Hikmah telah mengalami beberapa kali renovasi untuk menjaga kekokohannya. Meskipun dindingnya kini telah mendapat sentuhan permanen (tembok), struktur dasar dan orientasi kiblatnya tetap dipertahankan sesuai aslinya. Pemerintah Kabupaten Alor bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) terus berupaya melakukan konservasi, terutama pada benda-benda pusaka di dalamnya.

Salah satu tantangan terbesar dalam pelestarian adalah menjaga Al-Qur'an kulit kayu agar tidak rusak oleh kelembapan udara. Saat ini, benda bersejarah tersebut disimpan dalam kotak kaca khusus dengan pengaturan suhu tertentu, namun tetap dapat dilihat oleh wisatawan atau peneliti yang berkunjung dengan izin khusus dari pemuka adat setempat.

#

Signifikansi Budaya dan Keagamaan

Bagi masyarakat Lerabaing dan Alor pada umumnya, Masjid Jami Babshul Hikmah adalah simbol identitas. Keberadaan masjid ini membuktikan bahwa Islam di NTT memiliki akar yang sangat dalam dan selalu hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain. Dalam tradisi lokal, terdapat upacara-upacara adat tertentu yang dilakukan di lingkungan masjid, terutama saat memperingati hari besar Islam seperti Maulid Nabi atau Idul Fitri.

Masjid ini juga menjadi pusat pembelajaran agama tradisional di mana nilai-nilai toleransi dan persaudaraan "Piring Makan Satu" (sebuah filosofi kerukunan di Alor) terus diajarkan. Keunikan sejarahnya menarik minat banyak peneliti sejarah, arkeolog, hingga wisatawan religi dari berbagai belahan dunia yang ingin melihat langsung jejak awal peradaban Islam di ujung timur Nusantara.

Sebagai penutup, Masjid Jami Babshul Hikmah bukan sekadar bangunan tua yang berdiri di pesisir Alor. Ia adalah narasi tentang keberanian, iman, dan akulturasi budaya. Melindungi masjid ini berarti menjaga ingatan kolektif bangsa tentang keragaman sejarah yang membentuk Indonesia hari ini. Melalui tiang-tiang kayunya yang tua dan lembaran-lembaran Al-Qur'an kulit kayunya, kita diingatkan bahwa sejarah adalah guru terbaik untuk masa depan.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Desa Alor Besar, Kecamatan Pantar Barat Laut, Kabupaten Alor
entrance fee
Gratis / Infaq
opening hours
Setiap hari, 04:00 - 20:00 (Waktu shalat)

Tempat Menarik Lainnya di Alor

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Alor

Pelajari lebih lanjut tentang Alor dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Alor