Situs Sejarah

Museum Daerah Kalabahi

di Alor, Nusa Tenggara Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Peradaban Nusa Kenari: Sejarah dan Eksistensi Museum Daerah Kalabahi

Museum Daerah Kalabahi bukan sekadar gedung penyimpanan benda kuno; ia adalah "jantung" memori kolektif masyarakat Alor di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Terletak di pusat kota Kalabahi, museum ini berfungsi sebagai gerbang utama bagi siapa saja yang ingin memahami kompleksitas sejarah, keragaman etnis, dan keunikan tradisi di Kepulauan Alor yang dijuluki sebagai "Pulau Seribu Moko".

#

Asal-Usul dan Periode Pendirian

Pembangunan Museum Daerah Kalabahi berawal dari kesadaran kolektif para tokoh adat dan pemerintah daerah Alor pada akhir tahun 1990-an. Saat itu, banyak artefak berharga milik suku-suku di Alor mulai hilang, rusak, atau dijual ke luar negeri karena kurangnya wadah pelestarian yang representatif. Secara resmi, museum ini mulai dirintis dan diperkuat keberadaannya pada awal tahun 2000-an di bawah naungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Alor.

Pendirian museum ini bertujuan untuk menyatukan fragmen-fragmen sejarah dari 15 hingga 20 kelompok etnik yang tersebar di Alor dan Pantar. Pentingnya keberadaan museum ini juga didorong oleh status Alor sebagai wilayah perbatasan yang secara historis menjadi titik temu perdagangan antara wilayah barat Nusantara dengan wilayah timur, serta pengaruh kekuasaan Kesultanan Ternate dan pengaruh kolonial Portugis serta Belanda.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara visual, Museum Daerah Kalabahi mengadopsi gaya arsitektur yang memadukan unsur modern fungsional dengan sentuhan lokal. Gedung ini dirancang dengan struktur yang kokoh untuk melindungi koleksi dari kelembapan udara laut yang tinggi di Kalabahi. Salah satu ciri khas yang menonjol adalah penggunaan elemen atap yang menyerupai bentuk rumah adat Alor (Lopo), yang melambangkan perlindungan dan kesatuan.

Interior museum dibagi menjadi beberapa ruang pameran utama yang disusun secara tematis. Pencahayaan di dalam ruangan diatur sedemikian rupa untuk menonjolkan detail pada artefak logam, terutama Moko. Tata letak ruangannya dirancang agar pengunjung dapat mengikuti alur sejarah Alor secara kronologis, mulai dari masa prasejarah, masa kerajaan-kerajaan kecil, masa kolonial, hingga era kemerdekaan Indonesia.

#

Signifikansi Sejarah dan Koleksi Moko

Signifikansi utama Museum Daerah Kalabahi terletak pada koleksi "Moko"-nya. Moko adalah genderang perunggu berbentuk silinder yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas sosial masyarakat Alor selama berabad-abad. Museum ini menyimpan berbagai jenis Moko dengan motif yang beragam, mulai dari motif Dongson yang berasal dari Vietnam Utara hingga motif lokal yang dibuat di kemudian hari.

Dalam sejarah Alor, Moko berfungsi sebagai alat tukar (mata uang), mas kawin (belis), dan simbol status sosial. Keberadaan Moko di museum ini membuktikan bahwa sejak zaman prasejarah, penduduk Alor telah menjalin hubungan perdagangan internasional yang luas. Fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa beberapa Moko di museum ini dianggap memiliki kekuatan magis oleh masyarakat setempat dan dahulunya hanya boleh dikeluarkan pada upacara-upacara tertentu yang dipimpin oleh tetua adat.

#

Tokoh dan Periode Penting

Museum ini mendokumentasikan masa pemerintahan raja-raja di Alor, seperti Kerajaan Kui, Kerajaan Batulolong, dan Kerajaan Alor (Baranusa). Foto-foto tua dan silsilah para raja (Raja-Raja Alor) dipajang sebagai penghormatan terhadap struktur sosial tradisional yang pernah berjaya sebelum sistem pemerintahan modern diterapkan.

Selain itu, museum ini juga mencatat sejarah penyebaran agama di Alor. Salah satu koleksi yang paling monumental adalah Al-Qur'an tertua di Asia Tenggara yang terbuat dari kulit kayu. Meskipun Al-Qur'an tersebut seringkali disimpan di Desa Alor Besar karena alasan sakralitas adat, Museum Daerah Kalabahi menyediakan informasi historis yang mendalam mengenai bagaimana kitab suci tersebut sampai ke Alor pada abad ke-16 melalui para pedagang dan penyiar agama dari Maluku.

#

Pelestarian dan Upaya Restorasi

Sebagai lembaga konservasi, Museum Daerah Kalabahi menghadapi tantangan besar dalam menjaga benda-benda logam dan kayu dari korosi serta pelapukan. Pemerintah daerah Alor, bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), secara berkala melakukan pendataan dan perawatan fisik koleksi.

Upaya restorasi tidak hanya dilakukan pada fisik bangunan, tetapi juga pada sistem dokumentasi. Digitalisasi data koleksi mulai dilakukan agar informasi sejarah Alor dapat diakses oleh peneliti dari seluruh dunia. Selain itu, museum ini sering menjadi pusat kegiatan edukasi bagi sekolah-sekolah di Alor melalui program "Museum Masuk Sekolah", guna menanamkan rasa bangga terhadap identitas lokal pada generasi muda.

#

Kepentingan Budaya dan Religi

Bagi masyarakat Alor, Museum Daerah Kalabahi bukan sekadar objek wisata, melainkan rumah bagi "jiwa" nenek moyang mereka. Banyak artefak yang disimpan di sini, seperti pakaian adat dari serat kayu (ka), anyaman khas, dan peralatan perang tradisional, yang mencerminkan kecerdasan lokal dalam beradaptasi dengan alam kepulauan yang berbukit-bukit.

Secara religius, museum ini mencerminkan harmoni antara penganut agama Islam, Kristen Protestan, dan Katolik di Alor melalui koleksi-koleksi yang menunjukkan masa transisi dari kepercayaan animisme (pemujaan terhadap kekuatan alam) menuju agama-agama Abrahamik. Hal ini memperkuat semboyan masyarakat Alor, "Iya Gura" (Kita Satu), yang menjadi fondasi perdamaian di wilayah tersebut.

#

Fakta Sejarah Unik

Salah satu fakta unik yang tersimpan di museum ini adalah sejarah "Perang Alor" melawan Belanda yang terjadi di awal abad ke-20. Museum menyimpan sisa-sisa peninggalan perjuangan rakyat Alor yang gigih mempertahankan wilayahnya. Selain itu, terdapat catatan mengenai hubungan unik antara masyarakat pesisir dan masyarakat pegunungan di Alor yang seringkali dimediasi melalui pertukaran hasil laut dan hasil bumi di pasar-pasar barter tradisional, yang jejak alat tukarnya tersimpan rapi di lemari kaca museum.

Dengan mengunjungi Museum Daerah Kalabahi, pengunjung tidak hanya melihat benda mati, tetapi merasakan denyut kehidupan peradaban Nusa Tenggara Timur yang tangguh, toleran, dan kaya akan nilai-nilai filosofis yang masih relevan hingga hari ini. Museum ini tetap berdiri tegak sebagai penjaga gawang sejarah di ufuk timur Indonesia.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Diponegoro, Kalabahi, Kota Pantar, Kabupaten Alor
entrance fee
Rp 5.000 - Rp 10.000
opening hours
Senin - Jumat, 08:00 - 15:00

Tempat Menarik Lainnya di Alor

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Alor

Pelajari lebih lanjut tentang Alor dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Alor