Taman Sari Gunongan dan Pinto Khop
di Banda Aceh, Aceh
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Taman Sari Gunongan dan Pinto Khop: Simbol Cinta dan Warisan Kejayaan Kesultanan Aceh
Taman Sari Gunongan dan Pinto Khop merupakan salah satu situs sejarah paling ikonik di Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Situs ini bukan sekadar peninggalan arsitektural, melainkan monumen cinta, diplomasi politik, dan manifestasi estetika dari era keemasan Kesultanan Aceh Darussalam. Terletak di kompleks yang kini dikenal sebagai Taman Putroe Phang, situs ini menjadi saksi bisu kemegahan pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607β1636).
#
Asal-Usul Historis dan Latar Belakang Pendirian
Pembangunan Gunongan bermula dari kisah cinta romantis antara Sultan Iskandar Muda dengan permaisurinya, Putri Kamaliah, yang lebih dikenal dengan sebutan Putroe Phang (Putri Pahang). Sang putri adalah anak dari Sultan Pahang di Semenanjung Melayu yang dibawa ke Aceh setelah wilayah tersebut ditaklukkan oleh Sultan Iskandar Muda.
Dikisahkan bahwa Putroe Phang sering merasa kesepian dan merindukan kampung halamannya yang berbukit-bukit di Pahang. Untuk mengobati kerinduan sang permaisuri, Sultan Iskandar Muda memerintahkan pembangunan sebuah taman sari yang dilengkapi dengan sebuah bangunan berbentuk gunung buatan yang disebut "Gunongan". Pembangunan ini diperkirakan berlangsung pada awal abad ke-17, sebagai bagian dari kompleks istana Darud Dunya yang sangat luas dan megah pada masanya.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi Gunongan
Gunongan memiliki arsitektur yang sangat unik dan tidak ditemukan di bagian lain Nusantara. Bangunan ini memiliki tinggi sekitar 9,5 meter dengan bentuk oktagonal (segi delapan) yang menyerupai bunga mekar atau gunung karang. Arsitekturnya mencerminkan perpaduan gaya lokal dengan pengaruh Hindu-Buddha yang masih kental secara estetika, meskipun dibangun dalam konteks kesultanan Islam.
Struktur Gunongan terdiri dari tiga tingkat yang semakin mengecil ke atas. Setiap tingkat dihubungkan oleh tangga sempit yang dapat dinaiki hingga ke puncak. Secara visual, dinding-dindingnya berwarna putih bersih (hasil restorasi modern) dengan ornamen-ornamen yang menyerupai kelopak bunga. Di bagian puncaknya, terdapat sebuah tiang atau pilar yang melambangkan kemegahan dan titik fokus dari taman tersebut.
Konstruksi aslinya menggunakan susunan batu gunung, batu kapur, dan perekat tradisional yang sangat kuat, sehingga bangunan ini tetap berdiri kokoh meskipun Aceh telah diguncang berbagai bencana alam, termasuk gempa bumi dan tsunami dahsyat tahun 2004.
#
Pinto Khop: Gerbang Penghubung Eksklusif
Tidak jauh dari Gunongan, terdapat struktur penting lainnya yang disebut Pinto Khop (Pintu Kupiah). Pinto Khop adalah gerbang atau pintu masuk yang menghubungkan istana (Darud Dunya) dengan area taman pemandian permaisuri. Gerbang ini memiliki desain lengkung yang menyerupai bentuk kupiah atau mahkota, dihiasi dengan ukiran relief yang sangat halus dan detail.
Secara fungsional, Pinto Khop adalah area transisi yang sangat pribadi. Di sinilah tempat sang putri beristirahat setelah mandi di sungai Krueng Daroy yang mengalir di sisi taman. Pada dinding Pinto Khop, terdapat motif flora yang melambangkan keindahan dan kesucian. Gerbang ini menjadi bukti kecanggihan seni ukir batu masyarakat Aceh pada masa itu yang mampu menggabungkan estetika visual dengan fungsi ruang yang intim.
#
Signifikansi Budaya dan Kehidupan Istana
Pada masa jayanya, Taman Sari Gunongan bukan hanya tempat rekreasi. Area ini berfungsi sebagai pusat kegiatan kebudayaan dan spiritual keluarga kerajaan. Di sekitar Gunongan, terdapat sebuah struktur batu datar yang disebut "Peterana Batu", yang diyakini sebagai tempat duduk Sultan atau permaisuri saat menyaksikan pertunjukan seni atau sekadar menikmati udara sore.
Selain itu, terdapat "Isak-isak", sebuah lorong bawah tanah yang menurut legenda menghubungkan istana dengan Gunongan, meskipun keberadaan lorong ini secara arkeologis masih menjadi subjek penelitian lebih lanjut. Sungai Krueng Daroy yang mengalir di sampingnya dirancang sedemikian rupa dengan bendungan kecil untuk menciptakan suasana sejuk dan suara gemericik air yang menenangkan, menciptakan ekosistem taman formal yang menyerupai konsep Paradise Garden dalam tradisi Islam.
#
Tokoh Penting dan Periode Sejarah
Tokoh sentral dalam sejarah situs ini adalah Sultan Iskandar Muda, penguasa terbesar Aceh yang membawa kesultanan mencapai puncak kejayaan dalam bidang militer, ekonomi, dan sastra. Kehadiran Putroe Phang sendiri memberikan pengaruh besar pada hukum adat di Aceh. Pepatah Aceh yang terkenal, "Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Kanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana", menunjukkan betapa besarnya peran sang putri dalam penyusunan aturan-aturan keraton (kanun).
Situs ini tetap dipertahankan oleh penerus-penerus Sultan, termasuk menantunya, Sultan Iskandar Thani, yang terus memperindah area taman sari. Namun, seiring runtuhnya kekuasaan kesultanan akibat kolonialisme Belanda pada akhir abad ke-19, sebagian besar kompleks istana Darud Dunya hancur, menyisakan Gunongan dan Pinto Khop sebagai struktur utama yang selamat.
#
Pelestarian dan Restorasi
Taman Sari Gunongan dan Pinto Khop saat ini berada di bawah perlindungan Balai Pelestarian Kebudayaan. Upaya restorasi telah dilakukan beberapa kali untuk menjaga keaslian struktur batu dan membersihkan lumut yang dapat merusak material bangunan. Meskipun lingkungan di sekitarnya telah berubah menjadi kawasan urban Banda Aceh, pemerintah daerah tetap menjaga area ini sebagai ruang terbuka hijau dan situs cagar budaya.
Situs ini juga menjadi salah satu objek wisata sejarah utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin mempelajari masa lalu Aceh. Keberadaannya yang tetap utuh setelah tsunami 2004 dianggap oleh masyarakat setempat sebagai keajaiban dan bukti ketangguhan arsitektur masa lalu.
#
Fakta Unik dan Simbolisme
Satu fakta unik dari Gunongan adalah fungsinya sebagai tempat bermain (rekreasi) yang dirancang secara vertikal. Di masa lalu, permaisuri dan dayang-dayangnya akan mendaki tingkat-tingkat Gunongan sebagai simulasi mendaki gunung yang sebenarnya.
Secara simbolis, Gunongan adalah manifestasi dari "Gunung Meru" dalam kosmologi kuno yang diadaptasi ke dalam budaya Islam Aceh sebagai simbol stabilitas dan kedekatan dengan pencipta. Sementara Pinto Khop menyimbolkan perlindungan dan privasi kaum perempuan di lingkungan istana.
Hingga hari ini, Taman Sari Gunongan dan Pinto Khop berdiri sebagai monumen abadi yang merangkum kelembutan cinta di tengah kerasnya sejarah peperangan, serta menjadi pengingat bahwa Aceh pernah memiliki peradaban yang sangat maju dalam hal tata kota dan arsitektur lanskap.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Banda Aceh
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Banda Aceh
Pelajari lebih lanjut tentang Banda Aceh dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Banda Aceh