Benteng Makes
di Belu, Nusa Tenggara Timur
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Benteng Makes: Saksi Bisu Kejayaan Kerajaan Dirun di Perbatasan Belu
Benteng Makes bukan sekadar tumpukan batu karang tua yang membisu di puncak bukit. Situs sejarah yang terletak di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur ini merupakan simbol kedaulatan, ketangguhan militer tradisional, dan pusat peradaban suku Bunaq di masa lampau. Berdiri kokoh di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, benteng ini menawarkan narasi panjang mengenai pertahanan wilayah perbatasan dan struktur sosial masyarakat Timor.
#
Asal-Usul Historiografi dan Periode Pembentukan
Secara historis, Benteng Makes didirikan pada masa kejayaan Kerajaan Dirun, salah satu kerajaan tradisional terkemuka di wilayah Belu. Meskipun penanggalan pastinya sulit dipastikan karena kurangnya catatan tertulis dari era pra-kolonial, tradisi lisan (tatar) masyarakat lokal menyebutkan bahwa benteng ini telah berfungsi jauh sebelum kedatangan bangsa Portugis dan Belanda secara masif di Pulau Timor.
Benteng ini dibangun sebagai respons terhadap kebutuhan pertahanan dari serangan suku-suku lawan maupun ancaman ekspansi kekuatan asing. Nama "Makes" sendiri dalam bahasa lokal merujuk pada aspek kekuatan atau kekokohan. Lokasinya yang berada di puncak bukit merupakan pilihan strategis militer yang brilian pada zamannya, memungkinkan para prajurit Kerajaan Dirun memantau pergerakan musuh dari segala penjuru, termasuk dari wilayah yang sekarang menjadi negara Timor Leste.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi Unik
Berbeda dengan benteng-benteng peninggalan kolonial yang menggunakan semen atau material batubata, Benteng Makes menunjukkan kearifan lokal dalam arsitektur pertahanan. Struktur utamanya terbuat dari susunan batu karang dan batu alam yang disusun secara vertikal dan berlapis tanpa bahan perekat kimiawi. Teknik susun batu ini dikenal sangat kuat karena memanfaatkan berat jenis batu dan sistem penguncian alami.
Benteng Makes memiliki keunikan berupa tujuh lapis tembok pertahanan. Setiap lapis memiliki fungsi spesifik, mulai dari baris terluar sebagai pemantau hingga lapis terdalam yang dianggap sebagai area paling sakral. Di dalam kompleks benteng, terdapat struktur serupa mezanin dan tempat-tempat duduk batu yang diatur secara melingkar, menunjukkan bahwa tempat ini tidak hanya berfungsi sebagai instalasi militer, tetapi juga sebagai ruang sidang adat. Di bagian tengah benteng, terdapat sebuah pohon beringin tua yang akarnya telah menyatu dengan susunan batu, menambah kesan magis dan purba pada situs ini.
#
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting
Benteng Makes menjadi saksi bisu dari berbagai pergolakan di tanah Timor. Salah satu peristiwa sejarah yang paling menonjol adalah peran benteng ini dalam menghadapi upaya aneksasi wilayah oleh kekuatan kolonial. Karena letaknya yang berada di garis perbatasan (garis imajiner yang kemudian menjadi batas antara Timor Barat dan Timor Leste), benteng ini menjadi titik krusial dalam negosiasi wilayah dan titik pertahanan terakhir bagi Kerajaan Dirun.
Situs ini juga terkait erat dengan masa transisi perpindahan kekuasaan dari pengaruh Portugis ke Belanda di wilayah Timor bagian barat. Benteng Makes seringkali menjadi tempat persembunyian yang aman bagi para pejuang lokal karena medannya yang sulit dijangkau oleh artileri berat pasukan kolonial. Struktur tujuh lapis tembok tersebut terbukti efektif dalam menghalau serangan infanteri, menjadikannya salah satu benteng tradisional yang paling sulit ditembus di wilayah Nusa Tenggara Timur.
#
Tokoh Penting dan Struktur Pemerintahan Adat
Tokoh sentral yang identik dengan keberadaan Benteng Makes adalah Dasi Manu, seorang pemimpin atau Raja Dirun yang dikenal memiliki kharisma dan kekuatan spiritual besar. Di bawah kepemimpinannya, Benteng Makes mencapai puncak fungsinya sebagai pusat pemerintahan. Dalam struktur sosial masyarakat Dirun, benteng ini juga menjadi tempat bagi para "Meo" atau ksatria perang untuk melakukan ritual sebelum berangkat ke medan laga.
Para leluhur suku Bunaq menganggap benteng ini sebagai "Isin" atau tubuh dari identitas kolektif mereka. Setiap lapis tembok kabarnya dijaga oleh kelompok klan tertentu, yang menunjukkan adanya pembagian tugas militer yang sangat terorganisir berdasarkan garis keturunan atau suku.
#
Makna Budaya dan Religi
Bagi masyarakat Belu, khususnya warga Desa Dirun, Benteng Makes adalah situs yang sangat sakral. Di dalam area benteng terdapat "Ksadan", yakni tempat pemujaan atau altar batu yang digunakan untuk memberikan persembahan kepada leluhur. Hingga saat ini, ritual adat masih sering dilakukan di lokasi ini, terutama saat upacara syukur panen atau permintaan perlindungan bagi desa.
Salah satu fakta unik adalah keberadaan makam-makam kuno di dalam kompleks benteng. Makam-makam ini bukan sekadar tempat peristirahat terakhir, melainkan simbol bahwa para leluhur tetap menjaga benteng tersebut meski telah tiada. Adanya larangan-larangan adat (pemali) tertentu saat memasuki benteng menunjukkan bahwa nilai religius situs ini masih dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat.
#
Status Preservasi dan Upaya Konservasi
Saat ini, Benteng Makes telah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya oleh pemerintah. Meskipun sempat mengalami kerusakan akibat faktor cuaca dan pertumbuhan vegetasi yang tidak terkendali di sela-sela batu, upaya restorasi mulai dilakukan secara bertahap. Pemerintah Kabupaten Belu bersama Dinas Kebudayaan NTT terus berupaya mempromosikan situs ini sebagai destinasi wisata sejarah unggulan.
Tantangan utama dalam pelestarian Benteng Makes adalah lokasinya yang berada di daerah terpencil dan risiko erosi tanah. Namun, keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam menjaga kebersihan dan keaslian situs menjadi kunci keberlangsungan benteng ini. Pembangunan akses jalan dan fasilitas penunjang di sekitar Desa Dirun terus ditingkatkan agar para peneliti maupun wisatawan dapat mempelajari kehebatan arsitektur pertahanan tradisional Timor ini tanpa merusak struktur aslinya.
#
Kesimpulan
Benteng Makes adalah monumen ketangguhan masyarakat Belu yang melintasi zaman. Dari susunan tujuh lapis batu karangnya, kita dapat belajar tentang kecerdasan strategi militer, kerumitan struktur sosial, dan kedalaman penghormatan terhadap leluhur. Sebagai bagian dari identitas Nusa Tenggara Timur, Benteng Makes bukan hanya peninggalan masa lalu, melainkan warisan hidup yang terus memberikan inspirasi tentang kedaulatan dan persatuan di tanah perbatasan.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Belu
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kami