Situs Sejarah

Meriam Kuno Honisuit

di Bengkulu Selatan, Bengkulu

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul Historis dan Masa Pendirian

Keberadaan Meriam Kuno Honisuit berakar pada dinamika kekuasaan kolonial Inggris dan Belanda di wilayah Bengkulu. Meskipun Bengkulu lama dikenal sebagai wilayah kekuasaan Inggris (EIC) melalui Traktat London 1824, Meriam Honisuit justru memiliki keterkaitan erat dengan teknologi persenjataan Eropa abad ke-19 yang kemudian digunakan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Berdasarkan catatan sejarah dan inskripsi yang terdapat pada badan meriam, senjata berat ini diperkirakan diproduksi pada masa keemasan industri artileri Eropa. Meriam ini dibawa ke wilayah Manna, Bengkulu Selatan, sebagai bagian dari sistem pertahanan pantai untuk menghalau serangan bajak laut serta kapal-kapal asing yang mencoba merongrong monopoli perdagangan lada dan komoditas hutan di wilayah selatan Bengkulu. Penempatannya di titik strategis Manna menunjukkan betapa pentingnya wilayah ini sebagai lumbung logistik dan wilayah penyangga bagi pusat pemerintahan di Fort Marlborough.

Karakteristik Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara teknis, Meriam Kuno Honisuit adalah mahakarya metalurgi masa lalu. Meriam ini memiliki dimensi yang sangat masif dibandingkan dengan meriam-meriam lapangan (field guns) pada umumnya. Panjang larasnya mencapai lebih dari 3 meter dengan diameter lubang moncong yang mampu menampung bola meriam besi berukuran besar.

Material utama penyusunnya adalah besi tuang (cast iron) berkualitas tinggi yang tahan terhadap korosi air laut—sebuah inovasi penting mengingat letaknya yang berada di dekat pesisir. Salah satu keunikan arsitektural dari Meriam Honisuit adalah adanya ornamen atau simbol khusus pada bagian pangkal (breech) meriam. Di sana terdapat ukiran angka tahun dan lambang produsen yang merujuk pada pabrik senjata di Eropa. Struktur larasnya menunjukkan transisi dari teknologi meriam kuno yang diisi dari depan (muzzle-loader) menuju efisiensi desain yang lebih modern di zamannya. Landasan atau kereta meriam (carriage) yang asli mungkin telah hancur dimakan usia, namun saat ini meriam tersebut diletakkan di atas fondasi beton permanen yang dirancang untuk menahan beban tonase meriam yang luar biasa berat.

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait

Meriam Honisuit menjadi saksi bisu dari berbagai pergolakan di Bengkulu Selatan. Salah satu peristiwa paling signifikan yang dikaitkan dengan keberadaan meriam ini adalah masa pendudukan Jepang di Indonesia (1942–1945). Meskipun meriam ini berasal dari era kolonial sebelumnya, pasukan Jepang sempat memanfaatkan Meriam Honisuit sebagai bagian dari sistem pertahanan udara dan pantai mereka (kaigun) di wilayah Manna.

Bagi masyarakat lokal, Meriam Honisuit bukan hanya alat perang, melainkan simbol perlawanan. Ada narasi sejarah yang menyebutkan bahwa meriam ini digunakan untuk memberikan peringatan dini bagi penduduk desa saat kapal-kapal asing mendekati muara sungai atau pantai Manna. Suara dentumannya yang konon bisa terdengar hingga puluhan kilometer menjadi penanda kedaulatan wilayah Bengkulu Selatan.

Tokoh dan Periode Penting

Situs ini tidak lepas dari pengaruh tokoh-tokoh lokal dan pejabat kolonial yang pernah bertugas di Residentie Benkoelen. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, pemindahan dan penempatan Meriam Honisuit diawasi oleh pejabat militer yang bertanggung jawab atas keamanan pesisir barat. Namun, dalam memori kolektif masyarakat Manna, meriam ini sering dikaitkan dengan keberanian para pejuang lokal yang berusaha merebut persenjataan canggih ini dari tangan penjajah pada masa revolusi kemerdekaan.

Periode Perang Dunia II menjadi babak krusial bagi Honisuit. Ketika pasukan Jepang mendarat di Bengkulu, mereka melakukan reposisi terhadap meriam-meriam besar untuk memperkuat garis pertahanan mereka dari serangan balik Sekutu. Honisuit tetap berada di posisinya, menjadi saksi transisi kekuasaan dari Belanda ke Jepang, hingga akhirnya jatuh ke tangan pejuang kemerdekaan Indonesia.

Status Pelestarian dan Upaya Restorasi

Saat ini, Meriam Kuno Honisuit telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh pemerintah daerah Bengkulu Selatan di bawah naungan Balai Pelestarian Kebudayaan. Lokasinya yang kini berada di pusat kota Manna membuatnya mudah diakses oleh wisatawan dan peneliti. Upaya restorasi secara berkala dilakukan, terutama dalam hal pembersihan karat dan pengecatan ulang dengan bahan khusus untuk menjaga integritas logam besi tuangnya.

Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan telah membangun area taman di sekitar meriam untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Pagar pembatas dipasang untuk mencegah vandalisme, mengingat nilai sejarahnya yang tak ternilai. Meskipun telah berusia ratusan tahun, kondisi fisik meriam masih tergolong sangat baik dan utuh, menunjukkan kualitas pembuatan yang luar biasa pada masanya.

Urgensi Budaya dan Identitas Lokal

Bagi masyarakat Bengkulu Selatan, Meriam Honisuit telah bertransformasi dari instrumen penghancur menjadi ikon identitas budaya. Nama "Honisuit" sendiri memiliki keunikan fonetik yang sering dikaitkan dengan istilah teknis militer asing yang kemudian diserap ke dalam lidah lokal. Situs ini sering menjadi pusat edukasi bagi siswa sekolah di Bengkulu untuk mempelajari sejarah perjuangan daerah.

Secara kultural, meriam ini dianggap sebagai "penjaga" kota Manna. Keberadaannya memberikan rasa bangga bagi warga lokal bahwa daerah mereka pernah memiliki peran strategis dalam peta pertahanan maritim nusantara. Keberadaan Honisuit memperkuat narasi bahwa Bengkulu bukan sekadar wilayah pengasingan (seperti tempat pengasingan Bung Karno), tetapi juga wilayah yang memiliki kesiapan militer dan teknologi yang maju pada masanya.

Fakta Unik dan Penutup

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa Meriam Honisuit merupakan salah satu dari sedikit meriam di Sumatera yang memiliki kembaran di tempat lain, namun Honisuit tetap menjadi yang terbesar di wilayahnya. Beratnya yang mencapai satuan ton membuatnya hampir mustahil untuk dipindahkan tanpa peralatan modern, yang memicu spekulasi tentang kecanggihan teknik logistik masyarakat dan militer masa lampau dalam menempatkan meriam tersebut di posisinya sekarang.

Dengan segala kemegahan dan sejarah yang menyertainya, Meriam Kuno Honisuit tetap berdiri kokoh di Bengkulu Selatan. Ia adalah pengingat akan masa lalu yang penuh gejolak, sekaligus menjadi mercusuar harapan bagi pelestarian sejarah bangsa di masa depan. Mengunjungi situs ini berarti berjalan melintasi waktu, merasakan getaran bubuk mesiu dan deru ombak Samudra Hindia yang pernah mencoba menantang keperkasaan sang Honisuit.

📋 Informasi Kunjungan

address
Bundaran Kantor Bupati Bengkulu Selatan, Kota Manna
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, 24 jam

Tempat Menarik Lainnya di Bengkulu Selatan

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Bengkulu Selatan

Pelajari lebih lanjut tentang Bengkulu Selatan dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Bengkulu Selatan