Benteng Marlborough
di Bengkulu, Bengkulu
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Kolonialisme Inggris di Pantai Barat Sumatra: Sejarah Lengkap Benteng Marlborough
Benteng Marlborough, atau yang secara lokal dikenal sebagai Fort Marlborough, berdiri kokoh di pesisir utara Kota Bengkulu sebagai monumen bisu kejayaan kolonialisme Inggris di Nusantara. Sebagai benteng peninggalan Inggris terbesar di Asia Tenggara, situs ini bukan sekadar tumpukan batu bata, melainkan simbol persaingan global antara East India Company (EIC) milik Inggris dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) milik Belanda demi menguasai jalur rempah-rempah.
#
Latar Belakang dan Pendirian (1714–1719)
Sejarah Benteng Marlborough bermula dari kegagalan Inggris mempertahankan eksistensi mereka di Banten setelah terusir oleh Belanda pada tahun 1682. Mencari alternatif pelabuhan lada, EIC mendarat di Bengkulu (saat itu disebut Bencoolen) pada tahun 1685. Awalnya, Inggris membangun Fort York pada tahun yang sama. Namun, lokasi Fort York dianggap tidak strategis dan tidak sehat karena berada di rawa-rawa yang menjadi sarang malaria.
Pada tahun 1714, di bawah kepemimpinan Gubernur Joseph Collett, pembangunan benteng baru dimulai di atas sebuah bukit karang di tepi pantai yang lebih sehat dan strategis. Benteng ini dinamakan "Marlborough" untuk menghormati John Churchill, Adipati Marlborough pertama, seorang jenderal besar Inggris yang terkenal karena kemenangannya dalam Perang Suksesi Spanyol. Pembangunan fisik utama diselesaikan sekitar tahun 1719, menciptakan sebuah struktur pertahanan yang hampir mustahil ditembus pada masanya.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi
Benteng Marlborough memiliki gaya arsitektur militer Inggris abad ke-18 yang sangat khas, dengan denah menyerupai kura-kura jika dilihat dari udara. Bentuk ini bukan tanpa alasan; desain "stella" atau bintang ini memungkinkan para penjaga melakukan pengintaian ke segala arah tanpa ada titik buta (blind spot).
Struktur utama benteng dibangun menggunakan batu bata merah yang direkatkan dengan campuran kapur, pasir, dan putih telur sebagai perekat tradisional yang terbukti sangat kuat menahan gempa bumi yang sering mengguncang Bengkulu. Luas kompleks benteng mencapai sekitar 44.100 meter persegi dengan dinding setebal 1 hingga 3 meter.
Di sekeliling benteng terdapat parit pertahanan yang dalam, yang dulunya dapat digenangi air untuk menghalau serangan darat. Pintu masuk utama terletak di sisi timur, berupa jembatan angkat yang menghubungkan bagian luar dengan gerbang utama yang berbentuk melengkung (arch). Di dalam kompleks, terdapat berbagai fasilitas fungsional seperti barak prajurit, gudang persenjataan, ruang tahanan, kantor administrasi, hingga gereja kecil.
#
Peristiwa Bersejarah dan Perlawanan Rakyat
Meskipun dirancang sebagai benteng pertahanan yang kuat, sejarah Marlborough penuh dengan drama penyerangan. Salah satu peristiwa paling monumental adalah pemberontakan rakyat Bengkulu pada tahun 1719. Ketidakpuasan penduduk lokal terhadap monopoli lada dan sikap angkuh pejabat EIC memicu serangan besar-besaran yang dipimpin oleh Pangeran Jenggalu dan Pangeran Sungai Lemau. Serangan ini begitu hebat hingga memaksa seluruh garnisun Inggris untuk mengungsi ke Madras, India, dan membiarkan benteng ini kosong selama beberapa tahun sebelum akhirnya Inggris kembali pada 1724.
Peristiwa penting lainnya adalah pembunuhan Residen Thomas Parr pada tahun 1807. Parr dikenal sebagai pemimpin yang kejam dan tidak menghormati adat istiadat setempat. Ia tewas mengenaskan di kediamannya, yang memicu kemarahan Inggris dan berujung pada penghancuran desa-desa di sekitar benteng sebagai bentuk pembalasan.
#
Tokoh Penting dan Periode Transisi
Nama besar yang paling erat kaitannya dengan Benteng Marlborough adalah Sir Thomas Stamford Raffles. Ia menjabat sebagai Letnan Gubernur Bengkulu (1818–1824). Di benteng inilah Raffles merancang strategi untuk mendirikan Singapura sebagai pelabuhan bebas guna menyaingi dominasi Belanda di Selat Malaka. Selama masa tinggalnya, Raffles juga melakukan penelitian botani yang berujung pada penemuan bunga raksasa Rafflesia arnoldii.
Keberadaan Inggris di Bengkulu berakhir dengan ditandatanganinya Perjanjian London (Anglo-Dutch Treaty) pada tahun 1824. Inggris menyerahkan Bengkulu kepada Belanda sebagai pertukaran untuk Malaka. Sejak saat itu, Benteng Marlborough berpindah tangan ke Belanda (1825–1942), lalu sempat diduduki Jepang (1942–1945), hingga akhirnya menjadi markas Polri dan TNI setelah kemerdekaan Indonesia.
#
Status Pelestarian dan Fungsi Saat Ini
Saat ini, Benteng Marlborough dikelola oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII sebagai Cagar Budaya Nasional. Upaya restorasi terus dilakukan untuk menjaga keaslian struktur bangunan dari ancaman abrasi laut dan kelembapan tinggi. Pemugaran besar-besaran pernah dilakukan pada tahun 1977-1984 oleh pemerintah Indonesia untuk mengembalikan estetika benteng ke bentuk aslinya.
Benteng ini kini berfungsi sebagai museum sejarah dan destinasi wisata edukasi utama di Bengkulu. Di dalamnya, pengunjung dapat melihat ruang-ruang penjara yang gelap, meriam-meriam besi yang menghadap ke Samudra Hindia, serta nisan-nisan tua pejabat Inggris yang tertanam di dinding atau lantai benteng. Salah satu daya tarik unik adalah keberadaan "bastion" yang menawarkan pandangan panorama langsung ke arah Pantai Panjang.
#
Fakta Unik dan Signifikansi Budaya
Benteng Marlborough memiliki beberapa fakta unik yang jarang ditemukan di benteng lain di Indonesia. Pertama, benteng ini memiliki sistem sirkulasi udara yang sangat baik di dalam ruangan bawah tanahnya, menunjukkan kecanggihan teknik sipil Inggris pada masa itu. Kedua, terdapat jembatan lengkung yang unik di sisi dalam yang menghubungkan antar bangunan, yang sering menjadi objek fotografi bagi wisatawan.
Secara budaya, Benteng Marlborough menjadi pengingat bahwa Bengkulu pernah menjadi titik penting dalam geopolitik dunia. Keberadaan bahasa Inggris yang sempat mempengaruhi dialek lokal dan diperkenalkannya tanaman perkebunan tertentu adalah warisan tak benda yang bermuara dari aktivitas di benteng ini. Bagi masyarakat Bengkulu, Marlborough adalah simbol ketangguhan leluhur mereka yang berani melawan kekuatan kolonial berskala global demi kedaulatan tanah kelahiran.
Dengan berdiri kokoh selama lebih dari tiga abad, Benteng Marlborough tetap menjadi salah satu contoh arsitektur militer terbaik di dunia yang masih terawat, menyimpan ribuan cerita tentang lada, darah, kekuasaan, dan diplomasi di pesisir barat Sumatra.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Bengkulu
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Bengkulu
Pelajari lebih lanjut tentang Bengkulu dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Bengkulu