Festival Tabut (Pusat Kebudayaan)
di Bengkulu, Bengkulu
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Filosofi dan Jejak Sejarah Tabut di Bengkulu
Pusat Kebudayaan ini berpijak pada tradisi Tabut yang dibawa oleh para pekerja bangunan asal Madras, India, yang mendampingi Inggris saat membangun Benteng Marlborough pada abad ke-17. Tradisi ini awalnya merupakan ritual berkabung atas wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Hussain bin Ali, dalam pertempuran Karbala. Di Bengkulu, ritual ini bertransformasi menjadi identitas lokal yang unik melalui sentuhan seni lokal.
Sebagai pusat kebudayaan, Festival Tabut menjalankan peran ganda: sebagai penjaga kesakralan ritual bagi Kerukunan Keluarga Tabut (KKT) dan sebagai panggung kreativitas bagi masyarakat umum. Struktur organisasi di pusat ini memastikan bahwa setiap aspek dari prosesi sepuluh hari—mulai dari Mengambil Tanah hingga Tabut Terbuang—dijalankan dengan ketelitian historis yang tinggi.
Program Pelestarian Seni Pertunjukan Tradisional
Pusat Kebudayaan ini secara rutin menyelenggarakan program pelatihan dan pertunjukan seni yang menjadi tulang punggung kebudayaan Bengkulu. Salah satu fokus utamanya adalah musik Doll. Doll adalah alat musik perkusi berbentuk drum besar yang terbuat dari bonggol pohon kelapa dan ditutup kulit sapi. Di pusat kebudayaan ini, generasi muda diajarkan berbagai teknik pukulan Doll yang khas, seperti:
1. Suwena: Ritme yang digunakan dalam suasana duka atau tenang.
2. Tam-tam: Irama yang penuh semangat dan cepat, biasanya digunakan dalam perlombaan.
3. Suwari: Ritme yang digunakan untuk mengiringi tarian atau prosesi jalan.
Selain musik Doll, pusat kebudayaan ini menjadi wadah bagi pengembangan Tari Piring Bengkulu dan Tari Ganau. Program-program ini tidak hanya mengajarkan gerakan, tetapi juga filosofi di balik setiap gestur, memastikan bahwa seni pertunjukan tersebut tetap memiliki jiwa asli meskipun dipentaskan di panggung modern.
Kriya dan Arsitektur Tabut: Warisan Ketelatenan
Salah satu keunikan yang paling menonjol dari Pusat Kebudayaan Festival Tabut adalah workshop pembuatan bangunan Tabut itu sendiri. Tabut adalah struktur bertingkat menyerupai menara atau keranda hias yang terbuat dari bambu, kayu, rotan, dan dihiasi dengan kertas krep warna-warni serta lampu hias.
Di pusat kebudayaan ini, para pengrajin senior atau "Maestro Tabut" menurunkan keahliannya kepada pemuda-pemuda Bengkulu. Proses pembuatannya sangat spesifik, melibatkan teknik anyaman bambu yang rumit dan seni dekorasi yang disebut bunga kertas. Ada dua jenis Tabut yang menjadi fokus edukasi:
- Tabut Sakral: Yang dibuat oleh keluarga keturunan asli dengan aturan-aturan adat yang ketat.
- Tabut Pembangunan: Yang dibuat oleh instansi atau masyarakat umum sebagai bentuk partisipasi budaya dan estetika.
Workshop ini bertujuan agar teknik pertukangan tradisional ini tidak punah dan tetap relevan sebagai produk ekonomi kreatif bagi masyarakat setempat.
Edukasi dan Keterlibatan Masyarakat
Pusat Kebudayaan Festival Tabut tidak beroperasi sebagai institusi yang eksklusif. Sebaliknya, ia berfungsi sebagai laboratorium sosial bagi warga Bengkulu. Program edukasi yang ditawarkan mencakup:
1. Sekolah Budaya Tabut: Program mingguan bagi siswa sekolah dasar hingga menengah untuk mempelajari sejarah Bengkulu dan dasar-dasar seni tradisional.
2. Diskusi Budaya (Seminar): Mengundang sejarawan dan budayawan untuk membahas relevansi nilai-nilai Tabut dalam kehidupan modern, seperti nilai kepahlawanan, kesabaran, dan gotong royong.
3. Literasi Budaya: Penyediaan arsip dan dokumentasi visual mengenai evolusi Festival Tabut dari masa ke masa, yang dapat diakses oleh peneliti dan turis.
Keterlibatan masyarakat juga terlihat dalam persiapan logistik festival. Ibu-ibu di sekitar pusat kebudayaan seringkali dilibatkan dalam pembuatan hidangan tradisional yang disajikan selama ritual, menciptakan ekosistem ekonomi mikro yang berbasis pada kearifan lokal.
Festival Tabut: Puncak Manifestasi Budaya
Setiap tanggal 1 hingga 10 Muharram, pusat kebudayaan ini menjadi pusat gravitasi pariwisata Bengkulu. Festival Tabut telah diakui sebagai salah satu agenda nasional dalam Kharisma Event Nusantara oleh Kementerian Pariwisata. Selama sepuluh hari, pusat kebudayaan mengkoordinasikan rangkaian acara yang sangat spesifik:
- Upacara Mengambil Tanah: Simbol penciptaan manusia dari tanah.
- Duduk Penja: Pencucian benda-benda yang dianggap sakral.
- Menjara: Pawai pertempuran musik Doll antar kelompok.
- Arak Jari-Jari dan Arak Sorban: Prosesi simbolis yang membawa replika bagian tubuh pahlawan Karbala.
- Tabut Bersanding: Puncak pameran di mana puluhan bangunan Tabut raksasa dipajang berjajar di lapangan utama, menciptakan pemandangan yang spektakuler.
Event ini bukan sekadar tontonan, melainkan ajang diplomasi budaya di mana tamu-tamu internasional sering hadir untuk melihat bagaimana tradisi Persia-India berakulturasi sempurna dengan budaya Melayu Bengkulu.
Peran dalam Pembangunan Kebudayaan Lokal
Pusat Kebudayaan Festival Tabut memainkan peran krusial dalam memposisikan Bengkulu di peta budaya global. Dengan adanya pusat ini, seniman lokal memiliki ruang untuk bereksperimen tanpa meninggalkan akar tradisi. Hal ini mendorong lahirnya "Seni Kontemporer berbasis Tradisi", di mana musik Doll dikombinasikan dengan instrumen modern seperti gitar elektrik atau saksofon, namun tetap mempertahankan pola ritme asli.
Selain itu, pusat ini menjadi motor penggerak bagi industri kerajinan tangan lainnya, seperti Batik Besurek (batik khas Bengkulu dengan motif kaligrafi Arab yang estetik). Seringkali, motif-motif pada bangunan Tabut menginspirasi desain-desain baru pada kain Besurek, menciptakan sinergi antar cabang seni yang berbeda.
Pelestarian Warisan di Era Digital
Menyadari tantangan zaman, Pusat Kebudayaan Festival Tabut kini mulai merambah ke dunia digital. Mereka melakukan digitalisasi naskah-naskah kuno terkait silsilah keluarga Tabut dan mendokumentasikan setiap langkah ritual dalam bentuk video berkualitas tinggi. Ini dilakukan agar generasi milenial dan Gen Z tetap merasa memiliki (sense of belonging) terhadap budaya mereka melalui platform yang mereka gunakan sehari-hari.
Pusat kebudayaan ini juga berfungsi sebagai kurator bagi para pelaku UMKM yang ingin menjual merchandise bertema Tabut, memastikan bahwa penggunaan simbol-simbol budaya tetap menghormati nilai-nilai sakral yang ada.
Kesimpulan
Festival Tabut (Pusat Kebudayaan) di Bengkulu adalah bukti nyata bahwa tradisi tidak harus statis untuk tetap bertahan. Melalui kombinasi antara penghormatan terhadap ritual kuno, pendidikan yang terstruktur, dan inovasi seni pertunjukan, pusat kebudayaan ini berhasil menjaga identitas Bengkulu tetap teguh di tengah arus modernisasi. Ia adalah tempat di mana tanah, bambu, dan kertas krep disulap menjadi simbol perlawanan terhadap kelupaan sejarah, sekaligus menjadi panggung kegembiraan bagi seluruh rakyat Bengkulu.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Bengkulu
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Bengkulu
Pelajari lebih lanjut tentang Bengkulu dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Bengkulu