Gua Jepang (Abyab Binsari)
di Biak Numfor, Papua
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-usul dan Penamaan Abyab Binsari
Sebelum kedatangan tentara Jepang, gua ini dikenal oleh masyarakat lokal suku Biak dengan nama "Abyab Binsari". Dalam bahasa setempat, Abyab berarti gua, sementara Binsari merujuk pada sosok "nenek tua". Menurut legenda masyarakat Desa Ambai, dahulu ada seorang nenek tua yang tinggal di dalam gua tersebut. Namun, setelah tentara Jepang masuk dan menduduki wilayah Biak pada tahun 1942, keberadaan nenek tersebut menghilang secara misterius, dan fungsi gua berubah total dari tempat perlindungan alami menjadi markas militer yang strategis.
Karakteristik Arsitektur dan Pemanfaatan Ruang
Gua Jepang (Abyab Binsari) adalah sebuah gua karst (batu gamping) yang sangat luas. Secara arsitektural, gua ini memiliki struktur bertingkat dengan lorong-lorong yang saling terhubung. Panjang total lorong gua ini diperkirakan mencapai beberapa kilometer, yang konon menembus hingga ke pesisir pantai Parai.
Selama masa pendudukan Jepang (1942β1944), tentara Jepang melakukan modifikasi besar-besaran terhadap interior gua tanpa mengubah struktur alami batu karangnya secara drastis. Mereka membangun sekat-sekat dari kayu dan beton untuk menciptakan ruang-ruang fungsional, antara lain:
1. Pusat Komando: Ruang luas yang digunakan oleh para perwira tinggi untuk menyusun strategi perang.
2. Barak Prajurit: Lorong-lorong yang mampu menampung hingga 3.000 tentara sekaligus.
3. Gudang Logistik: Tempat penyimpanan amunisi, senjata, dan bahan makanan.
4. Rumah Sakit Darurat: Ruang khusus untuk merawat tentara yang terluka dalam pertempuran di sekitar Bandara Mokmer (sekarang Bandara Frans Kaisiepo).
Keunikan gua ini terletak pada lubang ventilasi alami di bagian atas yang memberikan pencahayaan serta sirkulasi udara, menjadikannya benteng pertahanan yang sangat ideal dan sulit dideteksi oleh pengintai udara Sekutu pada masa itu.
Signifikansi Sejarah: Pertempuran Biak 1944
Gua Abyab Binsari memegang peranan kunci dalam "Pertempuran Biak" yang pecah pada Mei hingga Juni 1944. Biak dianggap strategis oleh Jenderal Douglas MacArthur karena keberadaan tiga landasan pacu pesawat yang dibangun Jepang. Bagi Jepang, mempertahankan Biak berarti menghambat gerak maju Sekutu menuju Filipina dan Jepang.
Di bawah komando Kolonel Naoyuki Kuzume, tentara Jepang menggunakan taktik "pertahanan dalam" (deep defense). Alih-alih melawan Sekutu di pantai, mereka membiarkan pasukan Amerika Serikat mendarat dan kemudian menjebak mereka dalam perang gerilya dari dalam gua-gua karang, termasuk Abyab Binsari. Strategi ini sempat membuat pasukan Divisi ke-41 Amerika Serikat kewalahan karena posisi Jepang yang terlindungi di bawah tanah.
Peristiwa Tragis Pemusnahan
Puncak sejarah kelam gua ini terjadi pada 21 Juni 1944. Setelah menyadari bahwa menyerang gua secara langsung melalui lorong-lorong sempit akan memakan banyak korban jiwa, pasukan Sekutu di bawah pimpinan Jenderal Robert L. Eichelberger mengambil tindakan ekstrem.
Mereka menjatuhkan sekitar 850 galon bensin ke dalam lubang ventilasi gua dan menembakkan drum-drum bahan bakar serta granat fosfor. Ledakan hebat terjadi, memicu kebakaran besar di dalam gua yang berlangsung selama beberapa hari. Diperkirakan sekitar 3.000 tentara Jepang tewas terpanggang atau mati lemas karena kekurangan oksigen di dalam Abyab Binsari. Peristiwa ini menandai berakhirnya perlawanan terorganisir Jepang di Biak dan menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam palagan Pasifik.
Tokoh Terkait dan Peninggalan Arkeologis
Tokoh sentral dalam situs ini adalah Kolonel Naoyuki Kuzume, komandan Resimen Infanteri ke-222 Jepang. Meskipun ia tidak tewas di dalam gua (ia melakukan ritual seppuku atau bunuh diri terhormat di lokasi lain di Biak setelah kekalahan), perintahnya untuk menjadikan gua sebagai pusat pertahanan terakhir telah mengubah nasib ribuan prajuritnya.
Hingga saat ini, pengunjung masih dapat melihat sisa-sisa peninggalan perang yang otentik di dalam dan sekitar gua, seperti:
- Selongsong peluru dan sisa-sisa senjata mesin.
- Peralatan makan, botol minuman, dan helm baja yang sudah berkarat.
- Bangkai kendaraan militer dan suku cadang pesawat yang dikumpulkan di area museum kecil di depan mulut gua.
- Tulang-belulang tentara yang ditemukan selama proses pembersihan situs pada masa lalu.
Status Preservasi dan Restoran
Saat ini, Gua Jepang (Abyab Binsari) dikelola sebagai situs cagar budaya oleh Pemerintah Kabupaten Biak Numfor. Upaya restorasi telah dilakukan, terutama pada akses jalan, tangga menuju dasar gua, dan pencahayaan statis di dalam lorong utama. Sebuah monumen peringatan juga didirikan untuk menghormati para korban perang.
Pemerintah Jepang, melalui yayasan veteran perang, secara rutin mengunjungi situs ini untuk melakukan upacara penghormatan dan pengumpulan sisa-sisa kerangka prajurit melalui program repatriasi tulang-belulang yang disepakati antara pemerintah Indonesia dan Jepang.
Nilai Budaya dan Edukasi
Bagi masyarakat lokal Biak, Gua Abyab Binsari memiliki nilai sakral dan historis yang tinggi. Gua ini menjadi pengingat akan masa sulit di mana warga lokal dipaksa menjadi tenaga kerja (romusha) untuk memperkuat pertahanan Jepang. Secara edukatif, situs ini berfungsi sebagai laboratorium sejarah hidup bagi generasi muda untuk memahami dampak destruktif dari peperangan dan pentingnya perdamaian global.
Secara mistis, beberapa masyarakat setempat masih meyakini keberadaan energi spiritual di dalam gua, mengingat banyaknya nyawa yang melayang secara tragis di tempat tersebut. Hal ini menambah dimensi kedalaman budaya pada situs, di mana sejarah militer bersinggungan dengan kepercayaan lokal.
Penutup
Gua Jepang (Abyab Binsari) bukan sekadar destinasi wisata gelap (dark tourism). Ia adalah monumen bisu yang merangkum kegeniusan taktik militer, penderitaan manusia, dan ketangguhan alam. Berdiri di dasar gua yang dingin sembari menatap ke arah lubang cahaya di langit-langit, pengunjung diajak untuk merenungkan kembali sejarah panjang yang membentuk identitas Biak sebagai "Kota Karang" yang pernah menjadi poros penting dalam penentuan jalannya sejarah dunia di abad ke-20.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Biak Numfor
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Biak Numfor
Pelajari lebih lanjut tentang Biak Numfor dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Biak Numfor