Situs Sejarah

Monumen Perang Dunia II (Paray)

di Biak Numfor, Papua

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Monumen Perang Dunia II (Paray): Jejak Epik Pertempuran Pasifik di Tanah Biak

Kabupaten Biak Numfor, yang terletak di Teluk Cendrawasih, Papua, menyimpan salah satu memori kolektif paling kelam sekaligus heroik dari Perang Pasifik. Di antara sekian banyak peninggalan sejarah yang tersebar di pulau ini, Monumen Perang Dunia II yang terletak di Desa Paray, Distrik Biak Kota, berdiri sebagai pengingat bisu atas drama kemanusiaan dan strategi militer yang mengubah peta politik dunia pada pertengahan abad ke-20.

#

Latar Belakang Sejarah dan Pendirian

Monumen Perang Dunia II di Paray bukan sekadar struktur beton biasa. Lokasi pembangunannya dipilih karena signifikansi geografisnya yang krusial selama kampanye militer Sekutu untuk merebut kembali wilayah Pasifik Barat Daya dari tangan Kekaisaran Jepang. Monumen ini secara resmi dibangun atas kerja sama antara Pemerintah Indonesia melalui Pemerintah Daerah Kabupaten Biak Numfor dengan Pemerintah Jepang.

Pembangunan monumen ini dimulai pada awal 1990-an dan diresmikan pada 24 Maret 1994 oleh Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi saat itu, Joop Ave, bersama dengan perwakilan dari Pemerintah Jepang. Pendirian monumen ini didasari oleh semangat rekonsiliasi dan penghormatan terhadap ribuan nyawa yang gugur dalam pertempuran sengit yang dikenal dengan "Battle of Biak" (Pertempuran Biak) pada tahun 1944.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Monumen Paray mengusung gaya minimalis modern dengan sentuhan simbolisme yang kuat. Struktur utamanya terdiri dari dinding beton melengkung yang menyerupai benteng atau perlindungan, melambangkan pertahanan dan perlindungan. Di bagian tengah, terdapat sebuah prasasti besar yang memuat teks dalam tiga bahasa: Indonesia, Jepang, dan Inggris.

Material yang digunakan didominasi oleh batu alam dan beton berkualitas tinggi untuk menghadapi korosi udara laut, mengingat lokasinya yang tepat berada di pinggir pantai Paray. Salah satu fitur unik dari konstruksi ini adalah adanya "ruang doa" atau area terbuka di bagian tengah yang menghadap langsung ke arah laut lepas. Area ini dirancang sedemikian rupa agar cahaya matahari dapat masuk secara maksimal, melambangkan harapan dan kedamaian. Di sekitar monumen, terdapat taman yang tertata rapi yang memberikan suasana tenang dan kontemplatif bagi para pengunjung.

#

Signifikansi Sejarah: Pertempuran Biak 1944

Monumen ini berdiri di atas tanah yang menjadi saksi bisu salah satu pertempuran paling berdarah dalam Perang Dunia II. Pada Mei hingga Agustus 1944, Jenderal Douglas MacArthur meluncurkan Operasi Horlicks dengan tujuan merebut Biak. Biak sangat krusial bagi Sekutu karena keberadaan tiga lapangan udara (Mokmer, Borokoe, dan Sorido) yang dapat digunakan untuk membombardir posisi Jepang di Filipina dan Palau.

Pertempuran di sekitar Paray melibatkan taktik perang hutan dan gua yang sangat ekstrem. Pasukan Jepang di bawah komando Letnan Jenderal Takuzo Numata menggunakan taktik bertahan di dalam gua-gua alam (seperti Gua Jepang atau Gua Binsari) dan bunker-bunker tersembunyi di sepanjang pesisir Paray. Sekutu, yang didominasi oleh Divisi Infanteri ke-41 Amerika Serikat, harus menghadapi perlawanan gigih yang mengakibatkan ribuan korban jiwa di kedua belah pihak. Diperkirakan lebih dari 6.000 tentara Jepang tewas dalam upaya mempertahankan pulau ini, sementara ribuan tentara Amerika mengalami luka-luka dan gugur.

#

Tokoh Penting dan Peristiwa Terkait

Nama Jenderal Douglas MacArthur sangat melekat dengan sejarah tempat ini sebagai otak di balik strategi "Loncatan Katak" (Leapfrogging) yang menjadikan Biak sebagai batu loncatan utama. Di pihak Jepang, sosok Kolonel Naoyuki Kuzume dikenal sebagai komandan lapangan yang memimpin pertahanan di Biak dengan sangat disiplin sebelum akhirnya melakukan ritual bunuh diri (Seppuku) setelah menyadari kekalahan markasnya.

Fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa di sekitar area Paray, pernah terjadi penggunaan tank pertama dalam skala besar di teater perang Pasifik. Pertempuran tank-lawan-tank antara tank Tipe 95 Ha-Go milik Jepang dan tank M4 Sherman milik Amerika terjadi tidak jauh dari lokasi monumen ini, menandai intensitas konflik yang luar biasa di tanah Papua.

#

Pelestarian dan Status Restorasi

Sebagai situs sejarah yang diakui secara internasional, Monumen Perang Dunia II Paray mendapatkan perhatian khusus dalam hal pelestarian. Pemerintah Kabupaten Biak Numfor secara rutin melakukan pemeliharaan fisik, termasuk pengecatan ulang dan pembersihan area dari vegetasi liar.

Upaya restorasi juga didukung oleh yayasan-yayasan dari Jepang yang secara berkala mengunjungi situs ini untuk melakukan upacara penghormatan. Setiap beberapa tahun, dilakukan pembersihan prasasti agar teks sejarah di dalamnya tetap terbaca oleh generasi mendatang. Pemerintah pusat Indonesia juga telah memasukkan kawasan ini dalam daftar cagar budaya yang dilindungi, mengingat nilainya sebagai aset diplomasi internasional dan edukasi sejarah.

#

Makna Kultural dan Religi

Bagi masyarakat lokal Biak, monumen ini bukan hanya objek wisata, tetapi juga simbol kedamaian. Masyarakat setempat menghormati area ini karena dianggap sebagai tempat peristirahatan para arwah yang terlibat perang. Seringkali, pada peringatan berakhirnya Perang Dunia II, dilakukan ritual adat atau doa bersama yang melibatkan tokoh agama lintas iman.

Bagi keluarga veteran perang dari Jepang, Monumen Paray memiliki nilai religius yang sangat tinggi. Mereka menganggap kunjungan ke monumen ini sebagai ziarah suci untuk menjemput atau mendoakan arwah leluhur mereka yang tulang-belulangnya masih banyak tersimpan di gua-gua sekitar Biak. Di belakang monumen, terdapat sebuah ruangan kecil menyerupai columbarium yang digunakan untuk menyimpan sementara sisa-sisa peninggalan atau benda-benda kenangan sebelum dipulangkan ke negara asal.

#

Kesimpulan

Monumen Perang Dunia II (Paray) di Biak Numfor adalah monumen yang menjembatani masa lalu yang kelam dengan masa depan yang penuh perdamaian. Keberadaannya di tepi pantai yang indah menciptakan kontras yang tajam antara keindahan alam Papua dengan kebrutalan perang masa lalu. Melalui arsitekturnya yang kokoh dan narasi sejarahnya yang mendalam, monumen ini terus mengedukasi dunia bahwa perdamaian adalah harta yang paling berharga bagi umat manusia. Kunjungan ke situs ini bukan sekadar wisata sejarah, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang harga sebuah kemerdekaan dan pentingnya menjaga rekonsiliasi antarbangsa.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Anggraidi, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor
entrance fee
Sukarela / Rp 10.000
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 18:00

Tempat Menarik Lainnya di Biak Numfor

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Biak Numfor

Pelajari lebih lanjut tentang Biak Numfor dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Biak Numfor