Situs Sejarah

Monumen Trikora

di Bitung, Sulawesi Utara

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul Historis dan Periode Pendirian

Pembangunan Monumen Trikora berakar pada komando yang dikumandangkan oleh Presiden Soekarno pada 19 Desember 1961 di Yogyakarta, yang dikenal sebagai Tri Komando Rakyat (Trikora). Isi komando tersebut adalah membatalkan pembentukan "Negara Papua" buatan Belanda, mengibarkan bendera Merah Putih di Irian Barat, dan bersiap untuk mobilisasi umum.

Bitung dipilih sebagai lokasi monumen ini karena posisi geostrategisnya selama periode 1961-1962. Pada masa itu, Pelabuhan Bitung dan perairan di sekitar Pulau Lembeh berfungsi sebagai pangkalan aju (forward base) utama bagi armada Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dan pasukan pendarat. Pembangunan monumen ini diprakarsai untuk mengenang jasa para pahlawan yang berangkat dari titik terluar Sulawesi ini menuju medan laga di Irian Barat. Konstruksi monumen dilakukan secara bertahap, dengan renovasi besar-besaran yang mempercantik tampilannya pada era 1980-an dan awal 2000-an untuk mempertegas fungsinya sebagai objek wisata sejarah.

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Monumen Trikora menampilkan gaya modernis-monumental yang sarat simbolisme nasionalisme. Struktur utamanya didominasi oleh pilar tinggi yang menjulang ke langit, melambangkan tekad bulat bangsa Indonesia yang tak tergoyahkan. Di puncak atau bagian utama monumen, terdapat replika Pesawat Douglas B-26 Invader, sebuah pesawat pengebom yang memainkan peran vital dalam operasi udara selama konflik tersebut.

Keunikan konstruksi ini terletak pada integrasi antara elemen militer dan estetika lokal. Di sekitar dasar monumen, terdapat relief-relief yang dipahat dengan detail, menggambarkan kronologi perjuangan rakyat dan TNI, mulai dari rapat-rapat persiapan hingga pendaratan pasukan di rimba Papua. Material yang digunakan didominasi oleh beton bertulang dengan lapisan batu alam pada beberapa bagian, memberikan kesan kokoh dan tahan terhadap korosi air laut yang bersifat abrasif karena lokasinya yang tepat berada di bibir pantai Pulau Lembeh.

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait

Monumen ini menandai fase "Operasi Mandala" yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Soeharto (yang kemudian menjadi Presiden RI ke-2). Bitung saat itu berubah menjadi kota militer. Selat Lembeh yang tenang menjadi tempat berlabuhnya KRI Macan Tutul, KRI Macan Kumbang, dan KRI Harimau sebelum mereka bertolak ke Laut Aru.

Salah satu fakta sejarah unik yang melekat pada lokasi ini adalah keterkaitannya dengan peristiwa heroik Pertempuran Laut Aru. Meskipun pertempuran terjadi di Maluku, koordinasi logistik dan pergerakan intelijen banyak bersumber dari komando yang berada di wilayah utara Sulawesi ini. Monumen ini menjadi titik pengingat bahwa pembebasan Irian Barat bukan hanya milik mereka yang berada di garis depan, tetapi juga hasil dari mobilisasi besar-besaran di pangkalan-pangkalan pendukung seperti Bitung.

Tokoh Penting dan Kaitan Periodik

Beberapa tokoh nasional memiliki keterkaitan erat dengan narasi yang dibangun di Monumen Trikora. Selain Soekarno sebagai pemberi komando dan Soeharto sebagai Panglima Komando Mandala, nama Komodor Yos Sudarso sangat kental terasa auranya di sini. Meski beliau gugur di Laut Aru, semangatnya diabadikan dalam setiap inci narasi sejarah di monumen ini.

Dalam konteks periodik, monumen ini mewakili era Perang Dingin, di mana Indonesia berada di tengah konfrontasi antara blok Barat (didukung Belanda) dan pengaruh blok Timur. Keberadaan pesawat pengebom di monumen ini juga mengingatkan pada bantuan alutsista dari Uni Soviet yang saat itu menjadikan kekuatan militer Indonesia salah satu yang terkuat di belahan bumi selatan.

Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Sebagai salah satu Situs Sejarah unggulan di Sulawesi Utara, Monumen Trikora berada di bawah pengawasan Pemerintah Kota Bitung melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Status preservasinya saat ini tergolong baik, meskipun tantangan utama berasal dari faktor alam seperti kelembapan tinggi dan paparan garam laut.

Restorasi besar terakhir dilakukan untuk memperbaiki aksesibilitas bagi wisatawan, termasuk pembangunan tangga yang lebih representatif, area plaza di sekitar monumen untuk kegiatan upacara, serta pembersihan badan pesawat yang menjadi ikon utama. Pemerintah daerah juga telah menambahkan lampu-lampu sorot sehingga pada malam hari, monumen ini tetap terlihat megah dari daratan Bitung (seberang pulau), berfungsi sebagai mercusuar sejarah yang tak pernah padam.

Kepentingan Budaya dan Edukasi

Bagi masyarakat lokal Bitung dan Pulau Lembeh, Monumen Trikora bukan sekadar objek wisata, melainkan identitas daerah. Setiap tahun, lokasi ini sering digunakan sebagai tempat upacara hari besar nasional seperti Hari Pahlawan atau HUT TNI. Secara edukatif, monumen ini menjadi laboratorium sejarah bagi para pelajar di Sulawesi Utara untuk memahami bahwa kemerdekaan dan keutuhan wilayah Indonesia dicapai melalui pengorbanan yang nyata.

Keberadaan monumen ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Pulau Lembeh. Wisatawan yang datang untuk menyelam (diving) di Selat Lembeh seringkali menyempatkan diri melakukan wisata sejarah ke monumen ini, menciptakan sinergi antara wisata alam dan wisata edukasi (heritage tourism).

Fakta Unik: Lokasi yang Strategis

Satu hal yang jarang diketahui adalah bahwa lokasi Monumen Trikora dipilih karena dari titik ini, pemandangan ke arah laut lepas sangat terbuka. Pada masa perang, posisi ini digunakan sebagai titik pantau untuk mengawasi pergerakan kapal-kapal yang keluar masuk Selat Lembeh. Kini, posisi strategis tersebut memberikan nilai tambah bagi pengunjung, di mana mereka dapat menikmati panorama matahari terbenam dengan latar belakang Gunung Dua Sudara dan hiruk pikuk Pelabuhan Bitung, menjadikannya salah satu titik fotografi sejarah terbaik di Indonesia Timur.

Dengan segala narasi yang menyertainya, Monumen Trikora di Bitung berdiri melampaui fungsinya sebagai penanda geografis. Ia adalah manifestasi dari kedaulatan bangsa, sebuah pengingat abadi bahwa persatuan dari Sabang sampai Merauke adalah harga mati yang diperjuangkan dengan darah, keringat, dan strategi yang matang dari tanah Sulawesi Utara.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Kelurahan Mawali, Kecamatan Lembeh Selatan, Kota Bitung
entrance fee
Gratis / Sukarela
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Bitung

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Bitung

Pelajari lebih lanjut tentang Bitung dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Bitung